Pelepasan Calon Jemaah Haji Sleman Diwarnai Suasana Haru, Bupati Harda Titip Doa untuk Kesejahteraan Daerah

Sleman — Suasana khidmat menyelimuti Serambi Masjid Agung Sleman saat Bupati Sleman, Harda Kiswaya, melepas secara resmi ratusan calon jemaah haji asal Kabupaten Sleman untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci tahun 2026. Sebanyak 354 calon jemaah haji yang masuk dalam rombongan awal dilepas dengan iringan doa dan pesan mendalam dari jajaran pemerintah daerah setempat, Minggu (26/4/2026).

Harda Kiswaya tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan syukurnya saat berdiri di hadapan para calon tamu Allah tersebut. Menurutnya, keberangkatan ini merupakan penantian panjang yang harus dijalani dengan kesabaran dan kesiapan fisik serta mental yang kuat. Pemerintah Kabupaten Sleman berharap seluruh jemaah dapat fokus beribadah dan menjaga nama baik daerah selama berada di Arab Saudi.

“Saya merasa sangat terharu dan tentunya penuh rasa syukur serta bahagia bisa berkesempatan melepas keberangkatan calon jemaah haji Kabupaten Sleman. Perjalanan ini adalah perjalanan suci, maka niatkanlah segalanya karena Allah SWT. Kami mendoakan agar seluruh rangkaian ibadah dapat dilaksanakan dengan lancar dan bapak ibu semua kembali ke tanah air sebagai haji mabrur,” ujar Harda Kiswaya dalam sambutannya.

Mengingat tantangan fisik yang cukup berat di Tanah Suci, Harda menitipkan pesan khusus terkait aspek kesehatan. Perbedaan cuaca yang ekstrem serta kepadatan jemaah dari seluruh dunia menuntut para jemaah untuk sangat disiplin dalam mengatur pola makan dan waktu istirahat. Ia meminta para pendamping kesehatan untuk terus memantau kondisi jemaah secara berkala agar tidak ada kendala medis yang mengganggu jalannya rukun haji.

Selain pesan keselamatan, Bupati juga menitipkan doa kepada para jemaah agar dipanjatkan saat berada di tempat-tempat mustajab di Mekkah dan Madinah. Ia berharap doa para jemaah dapat membawa keberkahan bagi Kabupaten Sleman agar senantiasa dijauhkan dari segala bencana serta tercipta masyarakat yang hidup dalam keadaan aman, tenteram, dan sejahtera.

“Kami titipkan doa agar pembangunan di Kabupaten Sleman dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat. Doakan agar kepemimpinan dan pelayanan publik di daerah kita selalu diberkahi kebaikan,” tambah Harda di sela-sela pelepasan.

Pada musim haji tahun 2026 ini, total calon jemaah haji asal Kabupaten Sleman mencapai orang. Jumlah tersebut dibagi ke dalam lima kelompok terbang (kloter) yang pemberangkatannya akan dilakukan secara bertahap melalui Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA). Sinergi antara kementerian agama dan pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan pelayanan haji tahun ini berjalan lebih nyaman dan terorganisir bagi seluruh warga Sleman.




Rayakan Hari Pers Nasional, Ribuan Warga Sleman Ikuti Jalan Sehat dan Aksi Donor Darah

Sleman — Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 di Kabupaten Sleman berlangsung meriah dengan keterlibatan ribuan warga dalam agenda jalan sehat dan aksi sosial. Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Pemda Sleman pada Minggu (26/4/2026) pagi ini menjadi momentum penguatan sinergi antara pemerintah, insan pers, dan masyarakat luas.

Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Paguyuban Wartawan Pemkab Sleman, PMI, dan Baznas ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto, melalui prosesi flag off. Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati Danang Maharsa, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah guna memberikan dukungan langsung terhadap peran strategis media di wilayah tersebut.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menekankan bahwa integritas dan objektivitas adalah napas utama bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Ia berharap pers tetap menjadi kompas yang mencerahkan di tengah derasnya arus informasi, sehingga masyarakat mampu memahami realitas sosial secara jernih dan tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

“Pemerintah Kabupaten Sleman terus membuka ruang kolaborasi yang luas dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers, dalam membangun daerah yang maju dan berdaya saing. Kita harus bergerak bersama dengan tetap menjaga akar nilai budaya serta kearifan lokal yang kita miliki,” ujar Harda Kiswaya di hadapan para peserta.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyoroti peran pers sebagai pilar demokrasi yang harus tetap merdeka dan bertanggung jawab. Baginya, peringatan HPN bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas fungsi media sebagai penyambung lidah antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.

“Saya berharap pers dapat menjadi jembatan yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Lebih dari itu, media harus mampu menjadi ruang bagi tumbuhnya kesadaran publik yang sehat dan konstruktif. Kegiatan jalan sehat dan donor darah hari ini adalah simbol bahwa kita semua melangkah seirama dalam semangat kebersamaan dan kepedulian sosial,” ungkap Danang Maharsa.

Antusiasme warga terlihat sangat tinggi, tidak hanya dalam mengikuti rute jalan sehat tetapi juga pada aksi donor darah yang mencatatkan hingga 150 pendaftar. Selain agenda olahraga dan sosial, acara ini turut menjadi ajang pemberdayaan ekonomi dengan kehadiran 50 UMKM binaan Dinas Koperasi dan UKM. Masyarakat juga memanfaatkan layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital yang disediakan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di lokasi acara.

Kemeriahan semakin lengkap dengan pembagian puluhan hadiah menarik di panggung utama, termasuk unit sepeda listrik dan berbagai perangkat elektronik bagi peserta yang beruntung. Melalui perpaduan antara edukasi literasi, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi ini, peringatan HPN di Sleman diharapkan mampu mempererat persaudaraan antarwarga sekaligus memperkokoh eksistensi pers yang profesional di daerah.




Perkuat Kelestarian Lingkungan, Wakil Bupati Sleman dan Menko Agus Harimurti Tanam Pohon di Ruas Tol Prambanan-Purwomartani

Sleman — Pembangunan infrastruktur berskala besar di Kabupaten Sleman kini kian mempertegas keberpihakannya pada kelestarian alam. Hal ini ditunjukkan melalui aksi penanaman pohon trembesi di Koridor Hijau ruas Tol Prambanan-Purwomartani yang dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, Sabtu (25/4/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari penguatan program nasional Ruang Terbuka Hijau dan Biru (RTHB) guna memastikan proyek strategis nasional seperti jalan tol tidak hanya mengejar fungsionalitas fisik, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem serta nilai estetika lingkungan. Penanaman pohon di sepanjang koridor tol diharapkan mampu menjadi paru-paru hijau yang mereduksi dampak polusi udara dari kendaraan bermotor.

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, dalam arahannya menyatakan bahwa penghijauan di koridor jalan tol adalah bagian tak terpisahkan dari gerakan Indonesia Asri yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik harus selalu berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis demi masa depan generasi mendatang.

“Harapannya, jika di sepanjang jalan tol di berbagai daerah di Indonesia ditumbuhi oleh pohon-pohon yang memiliki kapasitas penyerapan karbon dioksida yang baik, maka ini akan sangat membantu daerah untuk bisa mengurangi polusi serta tantangan ekologis yang kita hadapi hari ini. Kalau kita sayang pada anak cucu kita, ya kita harus lakukan aksi nyata ini secara serius,” ujar Agus Harimurti Yudhoyono saat memimpin jalannya penanaman.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif koridor hijau ini. Baginya, program ini sangat selaras dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman yang mewajibkan adanya sistem kompensasi penanaman pohon bagi setiap proyek pembangunan yang menggunakan lahan publik dan terpaksa melakukan penebangan pohon.

Danang Maharsa menilai kehadiran tol yang melintasi wilayah Sleman sebagai peluang untuk memperluas ruang terbuka hijau melalui bantuan pusat. Mengingat ruas jalan tol ini paling panjang melewati Sleman, ketersediaan vegetasi di sepanjang jalurnya akan menjadi kompensasi yang sebanding untuk mengganti pohon-pohon yang hilang selama masa konstruksi.

“Program koridor hijau ini sangat menarik. Karena ruas jalan tol ini paling panjang melewati Sleman, maka area yang belum bisa kita tanami secara mandiri bisa kita dorong melalui program bantuan dari kementerian. Ini menjadi solusi efektif untuk mengganti RTH yang terdampak pembangunan, sehingga Sleman tetap asri meskipun infrastrukturnya berkembang pesat,” ungkap Danang Maharsa setelah menanam bibit pohon trembesi.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini, pembangunan jalan tol di Yogyakarta tidak hanya diproyeksikan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan konektivitas, tetapi juga menjadi model pembangunan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir emisi gas rumah kaca serta memberikan kenyamanan visual bagi para pengguna jalan tol di masa depan.




Atasi Krisis Air Bersih, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Edukasi Jemaat GKJ Condongcatur

Sleman — Kesadaran akan pentingnya kemandirian air bersih terus digaungkan di tengah ancaman perubahan iklim dan penurunan muka air tanah. Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengajak jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condongcatur untuk mengubah cara pandang terhadap air hujan, dari sekadar fenomena alam menjadi berkat yang harus dikelola secara bijak.

Dalam kegiatan Persekutuan Warga Dewasa yang digelar di ruang ibadah GKJ Condongcatur, Depok, Sleman, Minggu (26/4/2026), Sri Wahyuningsih menekankan bahwa air hujan memiliki peran vital bagi keseimbangan ekosistem. Ia menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang mengabaikan potensi air hujan sebagai sumber air alternatif yang melimpah dan ramah lingkungan.

Sri Wahyuningsih menyoroti paradoks yang terjadi di masyarakat saat ini, di mana banyak warga tinggal di daerah dengan curah hujan tinggi namun tetap terbebani biaya tinggi untuk mendapatkan air layak konsumsi. Menurutnya, ketergantungan berlebih pada air tanah tanpa adanya upaya konservasi yang seimbang dapat memicu dampak lingkungan serius seperti kekeringan permanen di masa depan.

“Meskipun masyarakat hidup dan tinggal di daerah yang cukup tinggi curah hujannya, namun mereka masih harus mengeluarkan biaya besar untuk bisa mendapatkan air layak konsumsi. Padahal, jika dikelola dengan benar, air hujan adalah solusi gratis dan berkualitas yang disediakan alam,” ujar Sri Wahyuningsih di hadapan para jemaat.

Dalam sosialisasi tersebut, ia memperkenalkan konsep 5M yang dikembangkan SAH Banyu Bening, yakni Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Melalui metode pemanenan air hujan ini, setiap rumah tangga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersihnya sendiri tanpa merusak cadangan air tanah. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk meningkatkan ketahanan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian bumi.

“Pemanfaatan air hujan tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi. Dengan mengelola air hujan secara optimal, masyarakat dapat mengurangi biaya penggunaan air sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap krisis air bersih yang mulai melanda berbagai wilayah,” tambahnya.

Materi tersebut disambut hangat oleh jemaat yang antusias mendiskusikan teknis pengolahan air hujan di rumah masing-masing. Pengurus Komisi Warga Dewasa GKJ Condongcatur, Dwi Astuti, memberikan apresiasi atas edukasi ini dan menilai pesan tersebut sangat relevan untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan krisis air di masa mendatang.

Dwi Astuti menegaskan bahwa menjaga dan memanfaatkan air hujan dengan baik merupakan bentuk tanggung jawab moral yang nyata. Ia berharap jemaat dapat menindaklanjuti edukasi ini dengan aksi praktis di lingkungan rumah masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap ciptaan Tuhan.

“Semoga warga jemaat GKJ Condongcatur bisa menindaklanjuti dengan tindakan nyata. Kami semakin menyadari bahwa mensyukuri dan mengelola air hujan tidak hanya kegiatan pragmatis untuk memenuhi kebutuhan semata, namun juga merupakan bentuk tanggung jawab dalam memanfaatkan dan merawat segenap ciptaan-Nya,” pungkas Dwi Astuti. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Jelang Idul Adha, Donokerto Gelar Workshop Pengelolaan Qurban Profesional Sesuai Syariat

Sleman — Upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah qurban terus digencarkan oleh berbagai elemen masyarakat dan pemerintah di Kabupaten Sleman. Panitia Hari Raya Islam (PHRI) Kalurahan Donokerto bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Donokerto dan Masjid YTCS Kembangarum menggelar Workshop Pengelolaan Qurban Sesuai Syariat Islam yang berlangsung di Turi, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 90 peserta yang terdiri dari pengelola qurban dan takmir masjid ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya praktik pemotongan hewan di masyarakat yang belum sepenuhnya sesuai dengan tuntunan syariat. Workshop ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam agar ibadah qurban tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan dilaksanakan dengan standar profesionalitas yang tinggi dan sah secara agama.

Ketua Panitia, Agus Nugroho Setiawan, menegaskan bahwa esensi qurban terletak pada dimensi ketakwaan. Oleh karena itu, seluruh prosesnya mulai dari pemilihan hewan hingga distribusi harus merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini penting agar nilai ibadah tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

“Qurban bukan hanya tradisi, tetapi ibadah yang memiliki dimensi ketakwaan. Karena itu, harus dilaksanakan sesuai syariat. Kami ingin membekali para panitia agar mereka memiliki pemahaman yang benar, sehingga setiap tetes darah hewan yang dikurbankan benar-benar menjadi amal saleh yang sempurna,” ujar Agus Nugroho Setiawan di sela-sela kegiatan.

Materi workshop disampaikan oleh para ahli, termasuk perwakilan dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Agung Budiyanto. Ia menekankan pentingnya aspek kesehatan dan kriteria fisik hewan qurban. Hewan yang akan disembelih harus dipastikan memenuhi syarat umur, tidak mengalami cacat, serta dalam kondisi bugar. Menurutnya, memilih hewan terbaik adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pekurban dan panitia pelaksana.

Selain aspek kesehatan, peserta juga mendapatkan pelatihan teknis penyembelihan dari perwakilan Juleha Sleman, Husein Ardiyanto. Ia memaparkan bahwa penyembelihan harus dilakukan secara ihsan atau dengan cara yang baik, termasuk dalam hal teknik menajamkan pisau agar tidak menyakiti hewan secara berlebihan. Sementara itu, aspek hukum Islam atau fiqh qurban serta tata cara distribusi daging diulas oleh Darussalam, yang menekankan pentingnya keadilan dalam pembagian daging, terutama bagi kaum dhuafa.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan kita berbuat baik atas segala sesuatu, termasuk saat menyembelih. Proses penyembelihan harus dilakukan secara profesional dan cepat. Begitu juga dalam distribusi, bukan sekadar membagi daging, tetapi memastikan manfaat qurban dirasakan oleh mereka yang benar-benar berhak,” jelas Darussalam saat memberikan paparan fiqh.

Lurah Donokerto, Waluyo Jati, memberikan apresiasi tinggi terhadap sinergi antara pemerintah kalurahan dan masjid dalam menyelenggarakan edukasi ini. Ia berharap workshop ini mampu menciptakan standar baru pengelolaan qurban di seluruh masjid di wilayah Donokerto yang lebih tertib, higienis, dan efisien.

“Kami berharap kegiatan ini mampu menciptakan standar pengelolaan qurban yang lebih tertib, profesional, dan sesuai syariat di seluruh masjid di Donokerto. Dengan manajemen yang modern dan pemahaman agama yang kuat, pelaksanaan qurban ke depan akan memberikan manfaat maksimal bagi umat,” ungkap Waluyo Jati. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)