Marsiyem, Penyandang Disabilitas Tunanetra di Maguwoharjo yang Mandiri Lewat Usaha Telur Asin

Sleman — Keterbatasan fisik bukan merupakan penghalang bagi seseorang untuk tetap berdaya dan mandiri secara ekonomi. Hal ini dibuktikan secara nyata oleh Marsiyem, seorang penyandang disabilitas tunanetra asal Sambego, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, yang sukses membangun usaha produksi dan pemasaran telur asin secara mandiri.

Di tengah tantangan keterbatasan penglihatan, Marsiyem menunjukkan ketekunan luar biasa dalam mengelola usaha rumahannya. Dengan semangat pantang menyerah, ia mampu menjalankan proses produksi hingga memastikan produknya layak dikonsumsi dan mulai dikenal luas oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya. Kemandirian ini menjadi bukti bahwa semangat juang mampu melampaui hambatan fisik yang ada.

Marsiyem menjelaskan bahwa bahan baku telur bebek yang ia gunakan didatangkan langsung dari luar daerah untuk menjaga kualitas rasa. Dalam menjalankan usahanya, ia tidak hanya menunggu pembeli datang ke rumah, tetapi juga proaktif memanfaatkan berbagai kesempatan dan acara kemasyarakatan untuk memperkenalkan produk telur asin buatannya kepada khalayak yang lebih luas.

“Telur asin mentah ini kami kulakan langsung dari wilayah Kulon Progo untuk memastikan kualitasnya tetap terjaga. Saya juga kerap membawa produk telur asin ini setiap ada pertemuan warga atau event-event tertentu di desa agar masyarakat lebih mengenal dan bisa mencicipi hasilnya,” ujar Marsiyem saat membagikan pengalamannya dalam berwirausaha pada Senin (27/4/2026).

Keberhasilan Marsiyem dalam mengembangkan usaha ini tidak lepas dari dukungan moral dan tenaga yang diberikan oleh pihak keluarga. Dukungan tersebut menjadi pondasi penting yang menguatkan langkahnya dalam menembus pasar lokal. Sinergi antara semangat pribadi dan kepedulian keluarga ini menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana penyandang disabilitas memiliki ruang yang sama untuk berkarya.

Sosok Marsiyem kini menjadi simbol inspirasi bagi warga Sleman dan sekitarnya, membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dapat diraih oleh siapa saja yang memiliki kemauan keras. Kisahnya diharapkan mampu membuka mata masyarakat luas untuk terus memberikan dukungan serta membuka peluang usaha yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kondisi. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Pakar Kesehatan Tekankan Pentingnya Imunisasi Selama Masa Kehamilan

Sleman — Edukasi mengenai pentingnya imunisasi dalam masa kehamilan kini menjadi salah satu aspek paling krusial dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hal ini ditegaskan dalam forum kesehatan yang berlangsung di Aula Karsa, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (25/4/2026). Pemberian vaksin pada ibu hamil dinilai bukan sekadar prosedur medis, melainkan strategi perlindungan ganda bagi ibu dan bayi.

Pakar spesialis Obstetri dan Ginekologi, Khairina Hasifah, menjelaskan bahwa imunisasi pada ibu hamil memberikan perlindungan pasif kepada bayi sejak dalam kandungan hingga periode awal pascakelahiran. Meskipun vaksinasi idealnya dilakukan sebelum masa kehamilan, pemberian vaksin tertentu selama hamil tetap sangat dianjurkan dengan mempertimbangkan tingkat risiko paparan serta keamanan jenis vaksin yang digunakan.

Beberapa vaksin yang direkomendasikan secara medis meliputi Tdap untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis, serta vaksin influenza dan COVID-19 musiman. Selain itu, vaksin jenis non-hidup seperti hepatitis B dapat diberikan berdasarkan indikasi medis tertentu. Sebaliknya, vaksin hidup seperti MMR dan varicella ditegaskan tidak dianjurkan bagi ibu hamil karena adanya potensi risiko bagi janin.

“Imunisasi pada ibu hamil merupakan langkah preventif yang sangat efektif. Tidak hanya melindungi ibu dari risiko infeksi berat, tetapi juga memberikan perlindungan awal bagi bayi melalui transfer antibodi melalui plasenta. Ini merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang dimulai sejak masa kehamilan,” ujar Khairina Hasifah di hadapan peserta edukasi.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa vaksin influenza inaktif terbukti aman diberikan pada seluruh trimester kehamilan. Bagi ibu, vaksinasi ini mampu menurunkan risiko komplikasi berat dan kebutuhan rawat inap. Sementara bagi bayi, antibodi yang didapatkan dari ibu akan menjadi benteng pertahanan pada masa awal kehidupan, mengingat bayi baru lahir belum bisa menerima imunisasi secara langsung.

Khairina juga menggarisbawahi bahwa hambatan utama program ini sering kali muncul dari keraguan masyarakat akibat informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, tenaga kesehatan memiliki peran strategis untuk memberikan rekomendasi medis yang jelas serta mengintegrasikan layanan imunisasi ke dalam pemeriksaan kehamilan rutin.

“Edukasi yang tepat kepada ibu hamil dan keluarga menjadi kunci utama. Dengan informasi yang benar dan berbasis data ilmiah, ibu tidak perlu ragu lagi untuk mendapatkan vaksinasi yang direkomendasikan karena keamanannya bagi janin telah teruji secara ketat,” tambahnya.

Selain selama masa kehamilan, para ibu juga dianjurkan untuk melengkapi status vaksinasi mereka pada periode pascapersalinan, termasuk vaksin HPV yang aman diberikan meskipun dalam masa menyusui. Langkah komprehensif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kolektif dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi secara berkelanjutan di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Tanamkan Nilai Spiritual Sejak Dini, Puluhan Siswa TK Harapan Gandok Ikuti Manasik Haji di Condongcatur

Sleman — Upaya mengenalkan rukun Islam kelima dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak terus digencarkan oleh lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Sleman. Salah satunya melalui kegiatan manasik haji anak yang diselenggarakan oleh TK Harapan Gandok, Condongcatur, bertempat di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan edukatif ini diikuti oleh 66 siswa yang terdiri dari 33 laki-laki dan 33 perempuan. Dengan mengenakan pakaian ihram serba putih, para peserta didik tampak antusias mengikuti setiap rangkaian simulasi ibadah haji. Semangat dan keceriaan terpancar saat anak-anak mempraktikkan tahapan ibadah secara berkelompok, mulai dari niat hingga tahalul.

Kepala TK Harapan Gandok, Meini Tri Utami, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum pembentukan karakter dan pengenalan ibadah secara mendalam. Menurutnya, pemahaman mengenai tata cara pelaksanaan ibadah haji perlu disampaikan dengan metode yang menyenangkan agar mudah diserap oleh daya ingat anak-anak.

“Tujuan latihan manasik haji ini adalah untuk mengenalkan rukun Islam yang kelima kepada anak-anak sejak usia dini, sekaligus menanamkan nilai-nilai spiritual, kedisiplinan, serta kebersamaan kepada mereka. Dengan bimbingan yang tepat, anak-anak kita ajak memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji secara sederhana dan menyenangkan bagi dunia mereka,” ujar Meini Tri Utami di sela kegiatan.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kalurahan Condongcatur, Dewi Nurlaila. Dalam arahannya, ia memberikan apresiasi tinggi kepada pihak sekolah dan wali murid yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini. Ia menilai bahwa praktik manasik haji bukan sekadar aktivitas fisik mengenakan baju putih, melainkan sebuah investasi karakter jangka panjang.

“Manasik haji anak ini bukan sekadar seremonial memakai baju ihram saja, tetapi merupakan investasi karakter untuk mengenal agama lebih dekat. Melalui kegiatan ini, anak-anak dilatih untuk disiplin, belajar bersabar, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Baitullah dan pemahaman rukun Islam bersama teman sebaya sejak usia dini,” ungkap Dewi Nurlaila saat memberikan motivasi kepada para siswa.

Pelaksanaan manasik haji dibimbing langsung oleh Siti Hidayati yang dengan telaten mengarahkan setiap tahapan, mulai dari prosesi niat, wukuf, mabit, lempar jumroh, tawaf, sai, hingga tahalul. Dukungan sarana dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan koordinasi dari Dukuh Gandok, Supriyono Atmojo, turut memastikan acara berjalan lancar dan tertib hingga akhir.

Melalui simulasi ini, diharapkan para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang tata cara haji secara kognitif, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dengan dasar keimanan yang kokoh. Pihak sekolah berharap pengalaman spiritual ini dapat membekas dalam ingatan anak-anak dan memotivasi mereka untuk menyempurnakan rukun Islam di masa depan. (Wasana/KIM Depok)




Siswa SD Muhammadiyah Pakem Sabet Medali Emas di Kejuaraan Tapak Suci PDM Sleman

Sleman — Prestasi membanggakan kembali lahir dari generasi muda Kabupaten Sleman di bidang olahraga bela diri. Farras Parama, siswa kelas 5 SD Muhammadiyah Pakem, sukses meraih medali emas dalam kategori Usia Dini 2 (10–12 Tahun) Putra Kelas J pada ajang PDM Sleman Competition #3. Kejuaraan pencak silat Tapak Suci tersebut digelar di Sleman City Hall pada Jumat hingga Minggu, 24–26 April 2026.

Kompetisi berskala regional ini diikuti oleh sekitar 750 peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan perguruan Tapak Suci di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tengah persaingan yang cukup sengit, Farras menunjukkan performa yang konsisten. Ketepatan teknik, ketenangan saat bertanding, serta ketahanan fisik yang mumpuni menjadi faktor utama yang membawanya menempati podium tertinggi di kelasnya.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa pembinaan atlet sejak usia dini di sekolah, khususnya di SD Muhammadiyah Pakem, berjalan dengan terarah dan efektif. Bagi Farras, medali emas yang dikalungkan di lehernya merupakan hasil nyata dari kedisiplinan selama menjalani sesi latihan yang intensif serta penguatan mental sebelum memasuki arena pertandingan.

“Saya merasa senang dan bangga bisa mendapatkan medali emas ini. Latihannya memang terasa cukup berat, tetapi saya berusaha untuk tetap disiplin dan tidak menyerah. Ke depannya, saya ingin terus rajin berlatih agar bisa ikut kejuaraan yang tingkatnya lebih tinggi lagi,” ujar Farras usai menerima penghargaan dengan penuh semangat.

Rasa syukur juga disampaikan oleh orang tua Farras, M Husnaini, yang terus mendampingi putranya sepanjang kompetisi berlangsung. Menurutnya, kemenangan ini merupakan proses pembelajaran yang berharga bagi anak dalam memahami arti tanggung jawab dan kerja keras. Ia menilai kegiatan positif seperti Tapak Suci sangat efektif untuk membentuk karakter tangguh anak sekaligus menjauhkan mereka dari aktivitas negatif.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas prestasi ini. Perjuangan Farras selama latihan akhirnya terbayar dengan hasil yang membanggakan. Bagi kami, ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana anak belajar untuk konsisten dan disiplin dalam mengejar tujuannya. Dukungan keluarga akan terus kami berikan agar potensinya terus berkembang,” ungkap M Husnaini.

Ajang PDM Sleman Competition #3 sendiri memang dirancang untuk menjaring bibit-bibit atlet potensial yang diharapkan mampu mewakili daerah di tingkat nasional hingga internasional. Selain fokus pada prestasi fisik, kejuaraan ini juga menjadi sarana penanaman nilai-nilai karakter dan budi pekerti luhur melalui filosofi bela diri pencak silat.

Prestasi yang diraih oleh Farras Parama diharapkan menjadi pemantik inspirasi bagi siswa-siswi lain di Kabupaten Sleman untuk berani mengembangkan bakatnya. Dengan dukungan sinergis antara pihak sekolah, keluarga, dan lingkungan, generasi muda Sleman diproyeksikan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. (Athiful/KIM Depok)




Perluas Layanan Kaki Pengkor, RS UAD Sleman Gandeng Mentari ClubFoot Fasilitasi Pengobatan Gratis

Sleman — Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD) resmi memperkuat layanan kesehatan anak melalui audiensi program Mentari ClubFoot yang digelar pada Jumat (24/4/2026). Inisiatif yang digagas oleh Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan MiracleFeet ini bertujuan untuk memperluas akses penanganan kaki pengkor atau clubfoot bagi anak usia 0 hingga 5 tahun di wilayah Kabupaten Sleman.

Program ini mengedepankan metode Ponseti sebagai standar penanganan medis, yang meliputi proses pemasangan gips secara berkala, tindakan tenotomi, hingga penggunaan sepatu khusus atau brace. Kerja sama ini menjadi angin segar bagi orang tua yang memiliki anak dengan kondisi tersebut, karena selain jaminan medis, program ini juga menyentuh aspek kemudahan akses bagi masyarakat luas.

Direktur RS UAD, Asri Priyani Muryatiningsih, menjelaskan bahwa pihaknya akan mengoptimalkan seluruh sumber daya medis untuk mendukung keberhasilan program ini. Fokus utama rumah sakit adalah melakukan skrining dini secara masif melalui koordinasi antara bidan, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta dokter spesialis orthopedi untuk penanganan lanjutan.

“Kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam memastikan pelayanan kesehatan anak dapat diakses secara lebih luas, cepat, dan tepat. Kami ingin memastikan masyarakat yang membutuhkan penanganan kaki pengkor dapat terlayani sejak dini agar hasil tumbuh kembang anak lebih optimal,” ujar Asri Priyani Muryatiningsih di sela kegiatan tersebut.

Selain keunggulan layanan medis, program ini juga menawarkan solusi atas kendala finansial yang sering dihadapi keluarga pasien. RS UAD telah menyiapkan mekanisme bantuan pembiayaan yang terintegrasi, di mana pasien yang terdiagnosis akan difasilitasi proses registrasinya sebagai penerima manfaat. Seluruh biaya tindakan medis nantinya akan diklaim langsung melalui sistem Program Mentari ClubFoot.

“Dengan skema ini, masyarakat tidak perlu lagi khawatir terhadap beban biaya pengobatan yang mungkin muncul. Seluruh proses telah diintegrasikan dalam sistem bantuan yang terkoordinasi dengan baik, sehingga orang tua bisa lebih fokus pada proses penyembuhan buah hatinya,” tambahnya.

Koordinator Program Mentari ClubFoot, Khansa Maria Salsabila, menekankan bahwa visi utama kemitraan ini adalah menghilangkan hambatan geografis dan ekonomi dalam pelayanan kesehatan anak. Ia berkomitmen agar setiap anak di Kabupaten Sleman memiliki kesempatan yang sama untuk berjalan normal tanpa terkendala keterbatasan akses maupun biaya.

“Kami berkomitmen untuk memperluas jangkauan layanan agar tidak ada anak yang terlambat mendapatkan penanganan akibat keterbatasan akses maupun pembiayaan. Melalui kemitraan dengan RS UAD, kami ingin memastikan kualitas hidup anak-anak di Sleman meningkat melalui intervensi medis yang tepat sejak dini,” jelas Khansa Maria Salsabila.

Melalui sinergi ini, RS UAD dan Mentari ClubFoot berharap dapat menekan angka disabilitas akibat kaki pengkor yang tidak tertangani di wilayah Sleman. Langkah proaktif ini diharapkan menjadi model pelayanan kesehatan yang inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan generasi mendatang. (Athiful/KIM Depok)