Masifkan Program Ananda Bersinar, BNNK Sleman Sosialisasi Anti Narkoba di Global Islamic School 3

Sleman — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman terus memperkuat upaya perlindungan generasi muda dari ancaman narkotika melalui program sekolah. Bekerja sama dengan Global Islamic School (GIS) 3 Yogyakarta, BNNK Sleman menyelenggarakan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dalam rangkaian upacara bendera di lapangan sekolah setempat, Senin (4/5/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 156 siswa jenjang SD dan SMP beserta jajaran guru ini mengusung metode unik, di mana perwakilan BNNK Sleman hadir sebagai pembina upacara. Kepala Subbag Umum BNNK Sleman, Dayu Purnama, dalam amanatnya menekankan bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik pendidikan yang mengedepankan nilai budi pekerti sekaligus kewaspadaan terhadap bahaya narkoba yang semakin nyata.

Dayu Purnama memperingatkan para siswa mengenai fenomena perkembangan narkoba saat ini, terutama pola peredaran yang sering kali menggunakan bujuk rayu melalui pemberian makanan atau minuman dari orang asing. Ia mengajak para siswa untuk selalu waspada, rajin belajar, serta patuh kepada orang tua dan guru sebagai kunci utama meraih cita-cita tanpa terjerumus sebagai penyalahguna narkoba. Melalui strategi Ananda Bersinar, BNNK Sleman berupaya memastikan aksi nasional anti narkotika dimulai dari anak-anak.

Kepala BNNK Sleman, Teguh Tri Prasetya, menjelaskan bahwa kehadiran institusinya sebagai pembina upacara di sekolah-sekolah merupakan langkah konkret untuk memasifkan program Ananda Bersinar atau Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai Dari Anak Bersih Narkoba. Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi benteng utama atau Sekolah Bersinar yang mampu melindungi siswa agar tetap menjadi generasi hebat dan berprestasi.

“Siswa sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Melalui program pembina upacara ini, kami ingin memastikan mereka menjadi generasi hebat tanpa narkoba. Harapannya, setiap sekolah di Sleman benar-benar menjadi sekolah yang bersih dari narkoba melalui edukasi yang terus menerus,” ujar Teguh Tri Prasetya memberikan keterangan.

Pihak Global Islamic School 3 Yogyakarta menyambut hangat inisiatif ini sebagai langkah perlindungan bagi para siswanya. Koordinator Humas GIS 3 Jogja, Ide Oktavaga Fillosebi, menyatakan bahwa kehadiran BNNK Sleman memberikan wawasan baru bagi para siswa mengenai pentingnya menjaga diri dari peredaran gelap narkotika sejak dini.

“Kami sangat menyambut baik program pembina upacara dari BNNK Sleman untuk mensosialisasikan P4GN dan Ananda Bersinar. Kerja sama antara GIS 3 Jogja dan BNNK Sleman diharapkan dapat terus ditingkatkan ke depannya untuk bersama-sama mendampingi generasi penerus bangsa meraih masa depan yang gemilang,” kata Ide Oktavaga Fillosebi.




Perkuat Tata Kelola Perusahaan Daerah, Bupati Sleman Lantik Dewan Pengawas PDAM Tirta Sembada

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan tata kelola perusahaan daerah melalui penguatan struktur organisasi. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, secara resmi melantik Sukarmin sebagai Dewan Pengawas PDAM Tirta Sembada di Kantor PDAM Sleman, Senin (4/5/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan perusahaan daerah tersebut berjalan lebih transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Acara pelantikan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa serta Direktur Utama PDAM Tirta Sembada, Bernadus Edy Nugroho. Dalam prosesi tersebut, Harda Kiswaya menegaskan bahwa posisi Dewan Pengawas bukan sekadar jabatan formal, melainkan fungsi strategis untuk mengawal Direksi dalam menjalankan visi perusahaan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat secara luas.

Harda Kiswaya meminta agar Dewan Pengawas yang baru dilantik dapat memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan berbagai tantangan penyediaan air minum di masa depan. Ia berharap pengawasan dilakukan secara konstruktif sehingga mampu memacu inovasi di internal Perumda Air Minum Tirta Sembada.

“Dengan adanya dewan pengawas ini harus betul-betul memberikan manfaat bagi perusahaan dan warga. Lakukan pengawasan secara konstruktif, berikan masukan yang solutif, serta dorong inovasi agar Perumda Air Minum Tirta Sembada mampu menjawab tantangan ke depan yang semakin kompleks,” ujar Harda Kiswaya saat memberikan pengarahan.

Penunjukan Sukarmin yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) dinilai sebagai langkah taktis untuk menciptakan sinergi antarlembaga. Harda menjelaskan bahwa infrastruktur penyediaan air minum sangat berkaitan erat dengan pembangunan infrastruktur publik lainnya yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum. Dengan keterkaitan tersebut, diharapkan pembangunan sistem penyediaan air minum di Sleman dapat berjalan lebih terintegrasi dan efisien.

“Kenapa kami menunjuk dari Dinas PU, karena infrastruktur PDAM itu bergandengan erat dengan kegiatan di PU. Sinergi ini sangat penting agar pengelolaan air minum kita memiliki pondasi infrastruktur yang kuat. Kami harap hasilnya bisa semakin berkualitas dan jangkauan pelayanannya semakin merata,” tambah Harda Kiswaya menjelaskan alasan penunjukan tersebut.

Selain penguatan internal, Bupati juga menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia mengingatkan bahwa profesionalisme seluruh jajaran PDAM akan diuji melalui kepuasan masyarakat selaku pelanggan. Oleh karena itu, kolaborasi yang solid antara Dewan Pengawas, Direksi, dan staf lapangan mutlak diperlukan untuk menjaga kinerja perusahaan tetap prima dalam melayani warga Sleman.




Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Dalami Metode ISLAH di Sekolah Air Hujan Sleman

Sleman — Mahasiswa program studi Sosiologi kini dituntut tidak hanya piawai dalam mengulas teori sosial, tetapi juga harus mampu merespons persoalan nyata di tengah masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh dua mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Arifah Fajri Kusumastuti dan Najwa Mayasaro Sayyidati, yang terjun langsung mempelajari pengolahan air hujan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Senin (4/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas mahasiswa dalam mendalami isu sosiologi lingkungan yang kian relevan dengan kondisi zaman. Pengolahan air hujan menjadi fokus utama karena berkaitan erat dengan problematika akses air bersih dan keberlanjutan sumber daya alam yang sering kali memicu dinamika sosial di masyarakat. Melalui praktik ini, mahasiswa diharapkan dapat melihat bagaimana teknologi lingkungan berinteraksi dengan struktur sosial warga.

Dalam sesi pembelajaran tersebut, keduanya mendalami metode ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Teknologi ini merupakan sistem sederhana namun efektif untuk memanen, menyaring, dan menyimpan air hujan sehingga layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode ini dinilai menjadi solusi alternatif yang paling masuk akal bagi masyarakat untuk menghadapi ancaman keterbatasan air bersih di masa depan.

“Pengolahan air hujan kami pilih sebagai media pembelajaran karena relevansinya dengan isu krisis air bersih yang semakin nyata di berbagai wilayah. Pengalaman belajar langsung di lapangan seperti ini memberikan pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya sekadar membaca teori di bangku kuliah,” ujar Najwa Mayasaro Sayyidati di sela-sela kegiatannya.

Sementara itu, Arifah Fajri Kusumastuti menekankan bahwa keberhasilan penerapan teknologi lingkungan seperti ISLAH tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga pada faktor penerimaan sosial. Ia melihat peran sosiolog sangat penting dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat agar teknologi tersebut dapat diadopsi menjadi budaya baru dalam memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Kamaludin, menjelaskan bahwa ISLAH sebenarnya dirancang lebih dari sekadar inovasi teknis. Menurutnya, ISLAH adalah gerakan perubahan pola pikir atau mindset masyarakat terhadap air hujan yang selama ini sering terbuang percuma. Ia memberikan materi komprehensif mulai dari tahapan penampungan, proses filtrasi, hingga teknik pemanfaatan hasil olahan air agar aman dikonsumsi.

“Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek akses air bersih dan sanitasi layak. Mahasiswi diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan solusi nyata di tengah masyarakat. Kesadaran memanfaatkan air hujan harus dibangun sebagai bagian dari budaya hidup berkelanjutan,” ungkap Kamaludin dengan penuh semangat.

Integrasi antara ilmu sosiologi dan praktik pelestarian lingkungan ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang adaptif dan solutif. Dengan memahami metode ISLAH, para mahasiswa diharapkan memiliki bekal strategis untuk mendorong kemandirian komunitas dalam menjaga ketahanan air secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sanggar Widya Pramana Banyuraden Cetak Regenerasi Dalang Muda

Sleman — Seni tradisi wayang kulit terus berupaya mencari celah untuk tetap eksis di tengah kepungan budaya modern. Sebagai langkah nyata menjaga kelestarian tersebut, Sanggar Widya Pramana Banyuraden menginisiasi pelatihan dalang intensif bagi generasi muda. Kegiatan ini menjadi ruang belajar strategis sekaligus upaya regenerasi agar akar budaya lokal tidak terputus dari generasi penerus.

Pelatihan atau pasinaon dalang ini dipusatkan di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden pada Senin (4/5/2026). Ketua Sanggar Widya Pramana, Aryo Tejo, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada transfer keterampilan teknis mendalang, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi para peserta. Para siswa atau yang akrab disebut cantrik diperkenalkan pada nilai-nilai filosofis dalam setiap lakon wayang yang sarat akan pesan moral dan etika.

“Hal ini menjadi penting mengingat seni pedalangan bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan medium pendidikan budaya yang sangat dalam. Kami ingin anak-anak muda ini memiliki pondasi karakter yang kuat melalui kearifan lokal yang terkandung dalam dunia pewayangan,” ujar Aryo Tejo di sela-sela kegiatan.

Aryo menyadari bahwa minat generasi muda terhadap seni tradisional bisa menurun jika tidak ada pendekatan yang relevan. Oleh karena itu, sanggar mengemas pelatihan ini secara interaktif dan adaptif, termasuk dengan memanfaatkan media digital untuk menarik perhatian peserta. Dalam proses belajar, para peserta mendapatkan materi dasar yang mencakup teknik vokal, penguasaan karakter tokoh wayang, hingga pengolahan cerita agar tetap komunikatif bagi penonton masa kini.

Instruktur pelatihan, Damar Asmoro, memberikan materi yang komprehensif mulai dari olah suara hingga aspek musikalitas gamelan. Menurutnya, seorang dalang masa depan harus memiliki kombinasi kecerdasan intelektual dan spiritual untuk bisa menghidupkan karakter wayang di atas panggung. Ia menekankan bahwa menjadi dalang berarti memikul tanggung jawab untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat secara menarik.

“Menjadi dalang membutuhkan kombinasi antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Seorang dalang dituntut mampu memahami alur cerita, menghidupkan karakter, sekaligus menyampaikan pesan moral kepada penonton secara komunikatif dan menarik. Kami ingin mereka tidak hanya piawai menggerakkan wayang, tapi juga mampu menyentuh hati penontonnya,” jelas Damar Asmoro.

Inisiatif ini mendapat apresiasi luas dari warga Banyuraden. Banyak orang tua yang melihat pelatihan ini sebagai alternatif kegiatan edukatif yang produktif bagi anak-anak mereka di luar jam sekolah. Selain mengisi waktu dengan hal positif, pelatihan ini secara perlahan menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap identitas budaya sendiri di tengah gempuran tren global.

Regenerasi pelaku seni menjadi kunci utama agar wayang kulit tetap hidup dan relevan bagi masyarakat. Melalui langkah konsisten dari Sanggar Widya Pramana, generasi muda diharapkan tidak hanya berhenti sebagai penonton, melainkan mampu menjadi pelaku aktif yang menjamin keberlangsungan warisan budaya bangsa di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




18 Siswa MAN 4 Sleman Siap Berkompetisi di Ajang FIKSI 2026

Sleman — MAN 4 Sleman kembali menunjukkan komitmennya sebagai madrasah riset dengan menerjunkan 18 siswa terbaiknya untuk berkompetisi dalam Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) tahun 2026. Sebanyak sembilan tim yang didampingi oleh tiga pembimbing ini telah menyelesaikan tahap krusial berupa penyusunan dan pengunggahan proposal rencana usaha ke situs resmi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

Koordinator IT sekaligus pembimbing lomba, Nira Intan Sari, menjelaskan bahwa persiapan intensif telah dilakukan sejak Maret lalu, mulai dari sosialisasi kepada para siswa hingga pemenuhan dokumen persyaratan teknis. Pada tahun ini, MAN 4 Sleman memfokuskan keikutsertaan mereka pada dua bidang usaha strategis yang memiliki potensi pengembangan tinggi di masa depan.

“Tahun ini kami fokus pada dua bidang, yakni satu rencana usaha di bidang Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian dan delapan tim di bidang seni rupa untuk Desain Komunikasi Visual. Seluruh berkas administrasi, mulai dari proposal, surat tugas, hingga surat rekomendasi sudah kami unggah. Kami melihat semangat yang luar biasa dari para siswa untuk bersaing di ajang bergengsi ini dan berharap mereka bisa meraih hasil yang maksimal,” ujar Nira Intan Sari saat ditemui di Laboratorium Komputer madrasah setempat, Senin (4/5/2026).

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi para siswa dan guru pembimbing yang telah bekerja keras mempersiapkan diri. Ia menekankan bahwa keikutsertaan dalam ajang nasional seperti FIKSI merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk mengasah mentalitas wirausaha dan inovasi, melampaui sekadar mengejar kemenangan.

“Apresiasi untuk seluruh peserta yang telah berjuang. Saya berpesan agar tetap semangat meraih hasil terbaik, namun ingatlah bahwa hasil bukanlah tujuan utama. Hal yang paling berharga adalah proses dan kesungguhan kalian dalam berlaga. Kami berharap seluruh civitas akademika memberikan dukungan penuh agar prestasi tahun-tahun sebelumnya dapat terulang kembali di tahun ini,” kata Ahmad Arif Makruf.

Arif juga mengingatkan bahwa persaingan dalam FIKSI 2026 akan sangat ketat mengingat banyaknya sekolah dan madrasah unggulan yang ikut serta. Terlebih, ajang yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI tahun ini mengusung semangat integrasi tiga pilar utama, yaitu ekonomi hijau, ekonomi kreatif, dan ekonomi digital. Hal ini menuntut para siswa untuk tidak hanya kreatif dalam ide bisnis, tetapi juga peduli pada keberlanjutan lingkungan dan kemajuan teknologi.

Melalui partisipasi ini, MAN 4 Sleman berharap para siswa mampu menjadi inspirasi bagi rekan-rekan lainnya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan yang berbasis riset dan inovasi digital. Semangat para siswa ini diharapkan menjadi modal kuat untuk membawa nama baik daerah di tingkat nasional. (Edy/KIM Sumber Bowara Moyudan)