27 Pasang Calon Pengantin di Depok Ikuti Program Caping

Sleman — Kesadaran akan pelestarian lingkungan kini mulai ditanamkan sejak dini dalam fondasi rumah tangga di wilayah Kapanewon Depok. Sebanyak 27 pasangan calon pengantin (catin) mengikuti program Calon Pengantin Peduli Lingkungan (Caping) yang dipusatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (6/5/2026). Program ini mewajibkan para pasangan yang akan menikah untuk melakukan aksi nyata bagi alam sebelum mereka melangkah ke pelaminan.

Dalam pelaksanaannya, puluhan pasangan tersebut diajak melakukan berbagai aksi konservasi mulai dari penebaran benih ikan di perairan lokal hingga penanaman pohon. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap pernikahan tidak hanya sah secara administrasi dan agama, tetapi juga memiliki dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem di lingkungan sekitar.

Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Depok, Sunhaji, menjelaskan bahwa Caping merupakan program unggulan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman. Ia menegaskan bahwa program ini bukan sekadar formalitas tambahan, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menanamkan nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan berkeluarga. Dengan cara ini, setiap pasangan diharapkan memahami bahwa menjaga keharmonisan alam merupakan bagian integral dari tanggung jawab manusia.

“Caping menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap lingkungan sekaligus ikhtiar membangun masa depan yang lebih baik. Melalui program ini, pasangan calon pengantin diharapkan memiliki kesadaran ekologis sejak awal membangun keluarga. Kami ingin mereka memahami bahwa membangun rumah tangga yang sakinah juga berarti harus peduli terhadap kelestarian bumi tempat mereka tinggal nantinya,” ujar Sunhaji di sela kegiatan.

Lebih lanjut, Sunhaji menambahkan bahwa implementasi nilai-nilai ramah lingkungan ini penting untuk diinternalisasi oleh generasi muda. KUA Depok berupaya mendorong lahirnya budaya baru di mana momen pernikahan menjadi simbol kepedulian terhadap krisis lingkungan yang tengah terjadi. Dengan melakukan aksi nyata seperti menanam pohon, pasangan catin secara simbolis sedang menanam kebaikan untuk masa depan anak cucu mereka kelak.

Melalui program berkelanjutan ini, Kementerian Agama Kabupaten Sleman berharap lahirnya keluarga-keluarga baru yang memiliki literasi lingkungan yang kuat. Inisiatif Caping diharapkan dapat menginspirasi wilayah lain untuk mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam setiap aspek layanan publik, sehingga gerakan pelestarian alam menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat secara luas. (Athiful/KIM Depok)




Targetkan Sleman Tuntas Sampah 2029, DLH Dorong Pembentukan Pengelola Mandiri di 1.212 Padukuhan

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mempercepat langkah strategis untuk mengatasi krisis sampah daerah dengan mendorong terbentuknya Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di seluruh wilayah. Program ini menjadi tumpuan utama dalam mewujudkan visi “Sleman Tuntas Sampah” yang ditargetkan merambah hingga padukuhan pada tahun 2029 mendatang.

Sebagai bagian dari upaya sosialisasi kebijakan tersebut, DLH Sleman menggelar pertemuan koordinasi yang menyasar wilayah Kapanewon Moyudan pada Rabu (6/5/2026). Agenda yang berlangsung di Ruang Rapat Abhinaya ini dihadiri oleh jajaran Lurah se-Kapanewon Moyudan, para Dukuh, Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S), serta penggiat lingkungan setempat. Pertemuan ini menjadi krusial mengingat permasalahan sampah di Sleman sudah dalam tahap yang membutuhkan penanganan luar biasa dari tingkat akar rumput.

Perwakilan DLH Sleman, Vitasari, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rapor kinerja pengelolaan sampah di Sleman yang menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Data mencatat kinerja pengelolaan pada tahun 2022 berada di angka 63 persen, namun merosot tajam menjadi 42 persen pada 2023, dan kembali turun menjadi 24 persen pada 2024. Meskipun pada tahun 2025 terdapat kenaikan tipis menjadi 26 persen, kondisi ini tetap dianggap sebagai peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Rapor kinerja pengelolaan di Sleman dari tahun ke tahun yang mengalami penurunan ini menjadi alarm bagi kita semua untuk memperkuat pengelolaan sampah langsung di tingkat padukuhan. Keputusan yang diambil harus cepat dan tepat karena sampah yang tidak terkelola akan merusak lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan warga,” ujar Vitasari di hadapan peserta sosialisasi.

Lebih lanjut, Vitasari menjelaskan bahwa pembentukan KPSM di setiap padukuhan telah masuk dalam Program Strategis Bupati Sleman melalui RPJMD 2025-2029. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah daerah untuk menjamin pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan. Target utamanya adalah memastikan setiap rumah tangga dapat mengolah sampahnya secara mandiri atau melalui kelompok kecil, sehingga beban pembuangan ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara drastis.

“KPSM diharapkan mampu mengelola sampah langsung dari sumbernya, mengurangi pembuangan ke luar wilayah, dan yang terpenting adalah menciptakan nilai ekonomi bagi warga melalui pengolahan sampah organik maupun anorganik. Kita ingin di tahun 2029, seluruh padukuhan di Sleman sudah memiliki sistem pengelolaan mandiri yang mapan,” tegas Vitasari.

Gayung bersambut, Panewu Moyudan, Dwi Agung Maryoto, menyatakan kesiapan wilayahnya untuk mendukung target tersebut. Saat ini, di wilayah Moyudan telah berdiri Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) yang menaungi 30 KPSM aktif. Pihaknya juga telah memperkuat struktur pengawasan dengan membentuk Pendamping Kawasan dan menempatkan petugas P3S baik di tingkat kapanewon maupun kalurahan untuk memastikan program berjalan sinkron.

“Kami menyadari bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri. Selain membentuk tim pendamping, kami juga telah melakukan kolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta untuk mencari solusi teknologi pengolahan yang tepat. Semoga upaya kolektif ini bisa menjadi jawaban atas permasalahan sampah di Moyudan dan mendukung target Sleman secara luas,” tutur Dwi Agung Maryoto menutup keterangannya. (Giek/KIM Moyudan)




Tim Futsal Kapanewon Depok Amankan Medali Perunggu di Porkab Sleman 2026

Sleman — Tim futsal Kapanewon Depok sukses menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Sleman 2026. Skuad kebanggaan warga Depok ini berhasil mengamankan juara ketiga dan membawa pulang medali perunggu setelah menunjukkan performa konsisten dengan menjunjung tinggi sportivitas di sepanjang turnamen, Rabu (6/5/2026).

Capaian ini menjadi salah satu potret keberhasilan pembinaan olahraga di tingkat wilayah. Keberhasilan tim futsal meraih podium tidak lepas dari kerja keras kolektif yang melibatkan para atlet, pelatih, hingga jajaran ofisial. Dukungan strategis serta pendampingan intensif dari KONI Kapanewon Depok selama kompetisi berlangsung dinilai menjadi faktor krusial yang menjaga mental bertanding para pemain.

Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh anggota tim atas dedikasi dan semangat juang yang tidak kenal lelah. Menurutnya, prestasi ini merupakan buah manis dari kedisiplinan dan kekompakan yang telah dipupuk sejak masa persiapan. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim pelatih yang telah membimbing para atlet dengan penuh tanggung jawab hingga mencapai target yang diharapkan.

“Terima kasih atas perjuangan, kerja keras, dan semangat luar biasa yang telah diberikan oleh seluruh pemain dan ofisial. Prestasi ini adalah kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kapanewon Depok. Kami berharap ini menjadi langkah awal sekaligus motivasi untuk meraih pencapaian yang jauh lebih tinggi di masa mendatang,” ujar Rakhmat Harinawan saat memberikan keterangan terkait keberhasilan timnya.

Selain aspek teknis di lapangan, penghargaan juga diberikan kepada KONI Kapanewon Depok atas komitmennya dalam memfasilitasi pembinaan atlet. Sinergi antara pemerintah wilayah dan lembaga olahraga ini diharapkan terus berlanjut guna mencetak bibit-bibit unggul yang mampu mengharumkan nama Depok di level yang lebih luas. Program pembinaan yang terukur diyakini akan melahirkan atlet-atlet yang tidak hanya mahir secara skill, tetapi juga memiliki karakter sportivitas yang kuat.

Prestasi medali perunggu ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para atlet muda di wilayah Depok untuk terus meningkatkan kemampuan diri. Dengan keberhasilan tim futsal ini, Kapanewon Depok optimis dapat terus bersaing secara kompetitif dalam berbagai cabang olahraga lainnya di masa depan, sekaligus memperkuat identitas wilayah sebagai gudang atlet berprestasi di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Keluarga, TP PKK Donoharjo Jalani Monitoring dan Evaluasi Kabupaten

Sleman — Tim Penggerak (TP) PKK Kalurahan Donoharjo berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan kelembagaan. Komitmen ini ditunjukkan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang diselenggarakan oleh TP PKK Kabupaten Sleman di Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (6/5/2026). Agenda ini bertujuan untuk memastikan 10 Program Pokok PKK berjalan optimal dan selaras dengan kebijakan pemerintah daerah hingga pusat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pemeriksaan administratif, tetapi juga ruang pembinaan berkelanjutan bagi para kader di tingkat kalurahan. Melalui evaluasi ini, TP PKK Donoharjo diharapkan dapat mempertahankan tertib administrasi sekaligus mempertajam implementasi program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan dasar keluarga di wilayahnya.

Ketua TP PKK Donoharjo, Tri Rahayu, menjelaskan bahwa momentum evaluasi ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana program yang direncanakan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada pelaporan di atas kertas, tetapi juga pada dampak nyata di lapangan. Menurutnya, refleksi pasca-evaluasi akan menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan dan inovasi program ke depan.

“Kegiatan ini menjadi sarana refleksi bagi PKK Donoharjo untuk mengukur capaian program sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu ditingkatkan. Setelah adanya monev ini, kami dapat memastikan bahwa seluruh kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan arah kebijakan yang ditetapkan, baik dari kabupaten maupun pusat. Kami ingin program PKK benar-benar menjadi solusi bagi permasalahan keluarga di Donoharjo,” ujar Tri Rahayu di sela kegiatan.

Dalam penilaian tersebut, TP PKK Donoharjo menonjolkan beberapa inovasi unggulan, di antaranya program Ketapangmas atau Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat. Program ini mendorong warga memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk budidaya tanaman pangan guna memenuhi gizi keluarga secara mandiri. Selain itu, program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) juga menjadi perhatian karena dinilai efektif dalam menggerakkan ekonomi rumah tangga melalui pengembangan usaha mikro.

Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya, menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi ini dilakukan bukan untuk mencari kekurangan, melainkan sebagai bentuk pendampingan dari kabupaten kepada pengurus di tingkat bawah. Ia berharap sinergi antara pengurus kalurahan dan para kader semakin solid untuk menyukseskan program-program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Monitoring dan evaluasi ini kami lakukan untuk melihat progres kegiatan sekaligus mencari formula yang tepat agar program kerja dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kami ingin memastikan bahwa program PKK benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah kalurahan dan para kader, kita bisa mewujudkan keluarga yang mandiri dan berkualitas,” tegas Parmilah Harda Kiswaya.

Secara keseluruhan, pelaksanaan monev ini mencakup pemeriksaan terhadap pelaporan kegiatan, dokumentasi, hingga validasi inovasi program. Dengan adanya evaluasi rutin, diharapkan TP PKK Donoharjo mampu terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang dinamis serta memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan sosial di wilayah Sleman melalui semangat gotong royong. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Sutarto Agus Raharjo Konsisten Bangun Kemandirian Informasi di Seyegan

Sleman — Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali membingungkan masyarakat, muncul sosok pegiat literasi yang memilih berjuang dari lingkup terkecil, yakni kampung. Sutarto Agus Raharjo, seorang warga Margomulyo, Seyegan, Sleman, menjadikan dunia tulis-menulis sebagai jalan pengabdian untuk menguatkan partisipasi warga dalam menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat.

Agus mulai meniti perannya di Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Margoraras Seyegan sejak tahun 2014. Kesadarannya muncul dari kegelisahan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek atau penerima informasi pasif, melainkan harus mampu menjadi pelaku komunikasi publik yang mandiri. Sejak tahun 2017, ia dipercaya menahkodai KIM Margoraras sebagai mitra strategis Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendiseminasikan kebijakan pembangunan dan pelayanan publik.

Baginya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis secara teknis, melainkan alat untuk membangun masyarakat yang kritis dan peduli terhadap perkembangan daerahnya. Kegemarannya membaca buku bertema lingkungan hidup dan sastra sejak masa muda turut membentuk karakter penulisannya yang mendalam namun tetap dekat dengan kebutuhan warga di tingkat kalurahan maupun padukuhan.

“Saya ingin terus menulis sampai kapan pun dan ingin menggerakkan komunitas literasi di kampung melalui wadah KIM ini. Menulis adalah cara kita mendokumentasikan sejarah kecil di wilayah kita sendiri agar bisa diketahui oleh khalayak luas secara akurat,” ujar Sutarto Agus Raharjo saat ditemui di Café Ayom-Ayem, Sleman, Rabu (6/5/2026).

Dalam mengembangkan organisasinya, Agus kerap berkaca pada keberhasilan KIM di wilayah lain, seperti KIM Depok Raya yang memiliki banyak kontributor berita. Ia terobsesi membawa semangat produktivitas tersebut ke wilayah Seyegan agar potensi-potensi lokal, mulai dari kegiatan sosial hingga pembangunan infrastruktur, dapat terekspos secara maksimal ke media publik.

Ia sering memotivasi rekan-rekan di wilayahnya agar mau terjun langsung menjadi wartawan warga. Menurutnya, jika sebuah wilayah memiliki banyak penulis, maka arus informasi dari bawah ke atas akan berjalan lebih dinamis. Hal ini penting agar aspirasi dan prestasi warga di tingkat akar rumput tidak luput dari perhatian pemerintah maupun masyarakat luas.

“Saya sering menyampaikan ke pihak Kapanewon Seyegan bahwa KIM di daerah lain seperti Depok bisa memiliki lima sampai tujuh penulis berita aktif sehingga banyak sekali informasi yang terekspos. Kita di Seyegan harus bisa seperti itu, memiliki banyak sumber daya manusia yang cakap jurnalistik agar wilayah kita semakin dikenal dan informatif,” kata Agus menambahkan.

Kehadiran sosok seperti Agus menjadi elemen krusial bagi ekosistem informasi di Kabupaten Sleman. KIM tidak hanya berfungsi sebagai penyalur berita, tetapi juga sebagai penggerak komunikasi sosial yang sehat. Melalui komitmen sederhana untuk terus membaca, menulis, dan menggerakkan warga, Agus membuktikan bahwa kekuatan informasi dapat dibangun dari semangat literasi yang tumbuh subur di tingkat kampung. (Athiful/KIM Depok)