Peserta IGPA Batch 8 Dalami Pemanenan Air Hujan di SAH Banyu Bening Sleman

Sleman – Peserta Indonesian Green Principal Award (IGPA) Batch 8 melakukan kunjungan edukatif ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman. Kunjungan tersebut dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai pentingnya pemanenan dan pemanfaatan air hujan, sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup yang berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan pada Kamis (7/5/2026) tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para kepala sekolah baik di tingkat SD, SMP maupun SMA untuk melihat langsung praktik pengelolaan air hujan berbasis masyarakat.

Melalui program ini, peserta IGPA Batch 8 menyaksikan langsung instalasi pemanenan air hujan yang diterapkan di lingkungan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Mereka mempelajari teknik sederhana namun efektif dalam mengolah air hujan agar dapat dimanfaatkan secara aman dan berkelanjutan. Praktik lapangan tersebut menjadi pengalaman penting yang dapat diadaptasi di lingkungan sekolah masing-masing.

Peserta memperoleh penjelasan mengenai konsep dasar pemanenan air hujan, mulai dari proses penangkapan air dari atap bangunan, sistem penyaringan, penyimpanan, hingga pemanfaatannya untuk kebutuhan sehari-hari. Edukasi tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya ancaman krisis air bersih dan perubahan iklim.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa mereka datang untuk memahami secara langsung bagaimana air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan yang bernilai melalui konsep 5M, yaitu menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri.

“Konsep 5M menjadi dasar gerakan pemanfaatan air hujan yang selama ini kami kembangkan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman,” katanya.

Lebih lanjut, Wahyuningsih menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air alami yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari apabila dikelola dengan benar. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk mulai mandiri terhadap kebutuhan air bersih.

Selain itu, para kepala sekolah dikenalkan dengan inovasi penampungan air hujan melalui metode ISLAH (Instalasi Lumbung Air Hujan) beserta alat pengolahan air hujan menggunakan teknologi elektrolisa. Metode ini dirancang sebagai sistem penampungan air hujan yang dapat membantu masyarakat menyimpan cadangan air secara efektif untuk kebutuhan sehari-hari.

“Inovasi ini menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan krisis air bersih sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan,” sambungnya.

Dalam penjelasannya, Wahyuningsih mengatakan bahwa peralatan elektrolisa bekerja dengan memecah molekul air menjadi kandungan asam dan basa sehingga air dapat diolah sesuai kebutuhan.

Demonstrasi penggunaan alat elektrolisa ini menarik perhatian peserta karena memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mendukung kesehatan masyarakat.

Selama diskusi berlangsung, para peserta aktif bertanya mengenai pengolahan air hujan, manfaat kesehatan, hingga strategi penerapan konsep keberlanjutan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus refleksi atas pentingnya menjaga sumber daya air di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui kunjungan tersebut, peserta Indonesian Green Principal Award Batch 8 memperoleh pengetahuan baru, sekaligus inspirasi untuk menghadirkan perubahan nyata di lingkungan pendidikan. Pemanenan dan pemanfaatan air hujan dinilai menjadi langkah sederhana namun memiliki dampak besar dalam mendukung kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Literasi, SD Muhammadiyah Banyuraden Kunjungi Perpustakaan Istana Kepresidenan

Sleman – Kepala SD Muhammadiyah Banyuraden, Maria Ulfa menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi bagi peserta didik melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan edukatif.

Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga membangun wawasan, karakter, serta kesadaran sejarah pada diri siswa sejak dini.

“Siswa diajak memahami bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga membangun wawasan, karakter, dan kesadaran sejarah,” ujarnya, di Gedung Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta, pada Kamis (7/5/2026).

Maria Ulfa menambahkan, sekolah terus mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan perluasan wawasan peserta didik.

Ia berharap para siswa SD Muhammadiyah Banyuraden semakin termotivasi untuk gemar membaca, memperluas pengetahuan, serta memiliki kepedulian terhadap sejarah dan nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari pembentukan generasi yang cerdas dan berkarakter.

Kegiatan kunjungan tersebut menjadi sarana penguatan budaya literasi dan pembelajaran sejarah melalui pengenalan langsung terhadap koleksi buku, arsip, serta dokumentasi kebangsaan yang tersimpan di lingkungan istana.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa memperoleh penjelasan mengenai fungsi perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan sumber literasi yang menyimpan berbagai referensi sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

“Anak-anak kami dikenalkan dengan sejumlah koleksi buku, dokumentasi kenegaraan, serta arsip sejarah yang berkaitan dengan perjalanan pemerintahan Republik Indonesia. Selain itu, siswa diajak memahami pentingnya budaya membaca sebagai fondasi pembentukan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok)




IPM SMP Muhammadiyah 3 Depok Gelar Workshop Resensi Buku dan Public Speaking

Sleman – Kemampuan literasi dan komunikasi publik menjadi bekal penting bagi pelajar dalam menghadapi perkembangan era digital. Untuk memperkuat kemampuan tersebut, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 3 Depok (Mugadeta) Kabupaten Sleman menggelar Workshop Resensi Buku dan Public Speaking di Meeting Room, pada Jumat (8/5/2026).

Sekretaris Forum Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman, Athiful Khoiri, menekankan bahwa budaya literasi perlu dibangun tidak hanya melalui kebiasaan membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan menyampaikan kembali gagasan secara runtut kepada publik.

“Pelajar hari ini perlu memiliki kemampuan membaca yang baik sekaligus keterampilan berbicara yang terarah. Dua hal tersebut penting untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.

Pada sesi resensi buku, peserta dikenalkan pada teknik dasar mengulas buku secara sistematis, mulai dari memahami isi bacaan, menemukan pesan utama, hingga menyusun ulasan yang singkat namun menarik. Peserta juga diajak memahami pentingnya membaca secara mendalam agar mampu menghasilkan pandangan dan argumentasi yang kuat.

“Melalui resensi, pelajar belajar menyusun cara berpikir yang runtut. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menilai, lalu menyampaikan kembali isi buku dengan bahasa yang baik,” katanya.

Selain itu, dalam materi public speaking, peserta memperoleh pembekalan mengenai teknik komunikasi di depan umum, penguasaan vokal, pengelolaan rasa gugup, hingga cara menyampaikan pesan secara efektif kepada audiens.

Athiful menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan publik menjadi salah satu kompetensi penting bagi generasi muda, terutama di tengah arus informasi digital yang berkembang sangat cepat. Menurutnya, pelajar perlu dibiasakan menyampaikan gagasan secara santun, terstruktur, dan bernilai positif.

“Public speaking bukan hanya soal berbicara, tetapi bagaimana menyampaikan ide dengan jelas dan mampu memberi pengaruh baik kepada orang lain,” katanya.

Workshop berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif mengikuti sesi diskusi dan praktik singkat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya IPM Mugaedeta dalam menghadirkan ruang pengembangan diri bagi pelajar melalui kegiatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Melalui workshop tersebut, diharapkan para peserta dapat semakin termotivasi untuk mengembangkan budaya literasi, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta membangun karakter pelajar yang percaya diri, kritis, dan berkemajuan. (Giek / KIM Moyudan)




JISS 2 Jadi Ajang Kreativitas dan Unjuk Bakat Pelajar SMP-MTs Sleman

Sleman – Jelajah Inovasi SMP-MTs Sleman (JISS) yang diprakarsai Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sleman, berlangsung sukses pada 6-7 Mei 2026 di Sleman City Hall.

Pada tahun ini, kegiatan diikuti oleh 80 SMP dan MTs di Kabupaten Sleman, baik negeri maupun swasta. Masing-masing sekolah menampilkan berbagai produk unggulan serta hasil kreativitas siswa di stand yang telah disediakan.

Selain pameran, siswa juga menunjukkan bakatnya di atas panggung, dengan menampilkan tari klasik, tari kreasi, tari modern, hingga tarian budaya dari berbagai daerah nusantara. Selain itu, seni suara dan seni musik juga ikut meramaikan acara tersebut.

JISS bertujuan memberikan ruang bagi pelajar SMP-MTs di Sleman untuk berunjuk kreativitas, adu bakat, dan talenta, serta mengubah improvisasi menjadi karya yang bisa ditampilkan.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ponidi menyebut JISS 2 sebagai penampilan luar biasa.

“Setiap anak memiliki kecerdasan, setiap anak membawa keterampilan dan potensi. Selama dua hari ini anak-anak kita tampil maksimal, baik dalam produk, keterampilan, bakat, talenta, maupun perfoma,” ujarnya, saat penutupan acara, Kamis (7/5/2026).

“JISS ini diikuti 80 stand yang artinya baru 80 Sekolah. Harapan kami tahun depan tetap di gelar pada bulan Mei, bisa menampilkan pelajar dengan konsep One student One Perfomance, sehingga semua pelajar bisa terlibat langsung,” sambung Ponidi.

Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman pun iktu memberikan apresiasi atas terselenggaranya JISS 2 tahun 2026.

“Ini sebuah kolaborasi yang baik antara Sekolah, murid, dan orang tua. Mereka semua bangga atas penampilan anak. Orang tua juga mensupport, kalau tida bisa datang orangnya (wonge bahasa jawanya) mereka datang dengan uang,” tutur Ponidi. (Giek/ KIM Moyudan)




Simpan Pinjam RW 45 Kayen Perkuat Ekonomi dan Kebersamaan Warga

Sleman – Semangat gotong royong dan kebersamaan warga Padukuhan Kayen terus tumbuh melalui kegiatan Simpan Pinjam RW 45 Kayen, Condongcatur, Depok, Sleman periode 2026–2029. Program berbasis swadaya masyarakat ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus mendukung kemandirian ekonomi warga lintas RW di wilayah Kayen.

Pertemuan rutin Simpan Pinjam RW 45 yang digelar pada Kamis (7/5/2026) di Joglo Suratno ini tercatat telah memasuki pertemuan keempat sejak program tersebut berjalan.

Selain membahas administrasi simpan pinjam, warga juga memanfaatkan momentum tersebut untuk saling bertukar informasi, bercengkerama, serta memperkuat hubungan sosial antarwarga lintas RW di wilayah Kayen.

Ketua Simpan Pinjam RW 45 Kayen, Untung Maryanto mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan keuangan warga, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.

“Kami ingin Simpan Pinjam RW 45 ini menjadi sarana kebersamaan warga. Tidak sekadar pinjam meminjam, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, guyub rukun, dan saling membantu antarwarga,” ujarnya.

Sementara itu, Humas Simpan Pinjam RW 45 Kayen, Wasana menilai suasana nonformal dalam setiap pertemuan menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tersebut.

“Pertemuan dibuat santai dan terbuka agar semua anggota merasa nyaman. Bahkan warga lintas RW dapat saling mengenal lebih dekat sambil menikmati suasana kebersamaan di Joglo Suratno,” katanya.

Hingga 7 Mei 2026, jumlah anggota tercatat mencapai 97 orang yang berasal dari wilayah RW 43, RW 44, dan RW 45 Kayen Condongcatur.

Dalam mekanismenya, setiap anggota diwajibkan memiliki saham sebesar Rp500 ribu sebagai modal awal simpan pinjam. Selain itu, anggota juga diwajibkan membayar iuran rutin sebesar Rp50 ribu. Sementara tabungan tambahan dapat dilakukan secara bebas sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam ketentuan peminjaman, biaya administrasi ditetapkan sebesar 2% dengan sistem bunga tetap sebesar 1%. Pengurus juga menerapkan sejumlah aturan agar sistem berjalan sehat dan tertib, termasuk kewajiban pelunasan pinjaman sebelum masa tutup buku.

Program simpan pinjam ini dirancang berlangsung selama tiga tahun atau 30 kali pertemuan. Setelah masa tutup buku selesai, pengurus akan mengadakan pertemuan khusus untuk pembagian hasil usaha kepada anggota sesuai kesepakatan bersama. (Wasana / KIM Depok)