Tingkatkan Keamanan Lingkungan, MyRepublic Pasang Empat Unit CCTV di Pintu Masuk Padukuhan Sombangan

Sleman — Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, kini memperketat sistem keamanan wilayah melalui pemasangan teknologi pengawasan digital. Langkah ini terwujud berkat kolaborasi antara warga setempat dengan penyedia layanan internet MyRepublic di bawah naungan Sinar Mas yang memberikan bantuan berupa empat unit kamera pengawas (CCTV) di titik-titik strategis pintu masuk padukuhan, Minggu (10/5/2026).

Pihak MyRepublic yang diwakili oleh Praditya atau yang akrab disapa Adit menjelaskan bahwa pengadaan perangkat keamanan ini merupakan bentuk kompensasi atas kerja sama pengembangan jaringan internet di wilayah tersebut. Awalnya, kompensasi direncanakan dalam bentuk dana tunai, namun atas kesepakatan jajaran ketua RT, RW, Sub Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan Dukuh Sombangan, bantuan dialihkan menjadi barang yang memiliki manfaat keamanan jangka panjang bagi seluruh warga.

Adit menekankan bahwa sinergi antara korporasi dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan infrastruktur digital di lapangan. Dengan adanya komunikasi yang baik, kedua belah pihak dapat saling memberikan manfaat, baik dari sisi akses informasi maupun perlindungan fasilitas umum.

“Pemasangan ini merupakan hasil kolaborasi nyata perusahaan dengan warga. Kami sangat mengapresiasi inisiatif pengurus lingkungan yang memilih perangkat keamanan untuk kepentingan bersama. Kami juga memohon bantuan warga untuk ikut mengawasi dan menjaga jaringan internet yang sudah kami pasang agar tetap berfungsi optimal tanpa kendala,” ujar Praditya saat memantau proses instalasi.

Dukuh Sombangan, Agus Sartono, memberikan apresiasi tinggi atas realisasi bantuan tersebut. Menurutnya, pemasangan CCTV di setiap sudut masuk padukuhan merupakan solusi modern untuk memantau pergerakan orang yang keluar masuk wilayahnya. Hal ini dianggap sangat penting untuk menciptakan rasa aman bagi warga serta menjadi alat bukti digital apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Agus menyatakan bahwa warga berkomitmen untuk menjaga fasilitas yang telah diberikan dan siap bekerja sama dalam pemeliharaan jaringan teknologi di wilayah Sombangan. Ia berharap langkah preventif ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam memanfaatkan kerja sama dengan pihak ketiga demi kepentingan ketertiban umum.

“Kami berharap dengan pemasangan CCTV ini bisa meminimalisir tindak kejahatan di lingkungan kami. Ini adalah sarana penting untuk memantau setiap aktivitas di pintu masuk padukuhan. Kami bersama warga akan secara optimal melakukan pengawasan jaringan dan siap segera melaporkan ke pihak MyRepublic apabila di kemudian hari terjadi kerusakan atau gangguan teknis,” tegas Agus Sartono. (Giek/KIM Moyudan)




Mitigasi Kekeringan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kembangkan Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Berbasis Masyarakat

Sleman — Ancaman bencana kekeringan yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim mendorong munculnya inovasi pengelolaan sumber daya air secara mandiri. Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman kini tengah menggencarkan metode Instalasi Lumbung Air Hujan (ISLAH) yang dipadukan dengan teknologi elektrolisa sebagai langkah nyata mitigasi krisis air bersih berbasis masyarakat dan pelaku usaha.

Langkah konservasi ini menarik minat pelaku usaha lokal, salah satunya Umi Farida, pengusaha Bolu Susu di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman. Sebagai bentuk nyata pengurangan risiko bencana, ia telah memasang instalasi pengelolaan air hujan di tiga lokasi berbeda. Di kediamannya, Minggu (10/5/2026), Umi menjelaskan bahwa instalasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga liter yang berfungsi sebagai cadangan air bersih saat musim kemarau tiba.

Menurut Umi Farida, kebutuhan akan solusi penyimpanan air bersih semakin mendesak di tengah ancaman krisis air yang mulai dirasakan di berbagai daerah. Dengan menggandeng SAH Banyu Bening, ia berupaya mengubah persepsi bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan aset yang bisa dikelola secara bijak melalui sistem yang sederhana namun efektif.

“Metode ISLAH menjadi salah satu inovasi unggulan karena dinilai sederhana, mudah diterapkan, dan efektif dalam mendukung ketahanan air masyarakat. Sistem ini juga menjadi bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus solusi konkret menghadapi ancaman kekeringan. Kami berencana memperluas penerapan ISLAH ini ke jaringan usaha kami di Yogyakarta dan Surakarta secara bertahap sebanyak 15 unit,” ujar Umi Farida dengan antusias.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa metode ISLAH bekerja dengan cara menangkap air hujan dari atap rumah untuk dialirkan ke dalam tandon penyimpanan. Inovasi ini menjadi jawaban bagi wilayah yang mulai mengalami penurunan cadangan air tanah. Selain penampungan, pihaknya juga menerapkan teknologi elektrolisa, yakni proses pemisahan senyawa melalui arus listrik untuk meningkatkan kualitas air sehingga lebih aman dan layak untuk konsumsi domestik.

Sri Wahyuningsih menekankan bahwa selama ini air hujan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, air hujan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumur air tanah dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye kemandirian air yang dimulai dari skala rumah tangga hingga sektor industri.

“Sistem ini bekerja dengan cara menampung air hujan dari atap rumah untuk kemudian disimpan dalam tandon atau lumbung air sebagai cadangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis pengelolaan air, tetapi juga mampu membangun gerakan sosial yang mendorong terciptanya kehidupan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tutur Sri Wahyuningsih.

Melalui sinergi antara pusat edukasi dan pelaku usaha ini, pengelolaan air hujan diharapkan menjadi tren positif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Langkah tersebut membuktikan bahwa mitigasi bencana kekeringan dapat dimulai dengan tindakan sederhana namun berdampak luas bagi ketahanan air nasional di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Jaga Kualitas Hidup Lansia, Komunitas Seroja Banyuraden Terapkan Empat Pilar Ikhtiar Sehat

Sleman — Kesehatan kelompok lanjut usia (lansia) kini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya populasi usia tua yang membutuhkan pendampingan fisik maupun mental secara khusus. Guna menjawab tantangan tersebut, Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) menggelar edukasi kesehatan bertajuk Empat Pilar Ikhtiar Sehat yang berlangsung di Pendapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (10/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung hangat ini menghadirkan Muthia Tsabita Rahmi sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, hingga penyakit jantung. Penurunan fungsi tubuh secara alami menuntut adanya langkah pencegahan dini melalui pola hidup yang terintegrasi antara kesehatan jasmani dan ketenangan rohani.

Muthia Tsabita Rahmi menjelaskan bahwa untuk mencapai kemandirian di usia senja, lansia harus menerapkan empat pilar utama, yaitu menutrisi raga melalui pola makan, menjaga kekuatan dengan pola gerak, memberikan waktu jeda lewat pola tidur, serta merawat kedamaian hati dengan pola pikir yang positif. Menurutnya, keempat elemen ini saling berkaitan dan menjadi fondasi agar kualitas hidup tetap terjaga meski fungsi fisik mulai menurun.

“Keempat pilar tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi utama agar lansia tetap sehat, mandiri, serta produktif di usia lanjut. Kita tidak bisa hanya fokus pada fisik, sementara pikiran terbebani stres, atau sebaliknya. Semuanya harus seimbang agar daya tahan tubuh tetap kuat menghadapi penyakit,” ujar Muthia Tsabita Rahmi di hadapan para anggota komunitas.

Pilar pertama, yaitu menutrisi raga, menekankan pada pengaturan asupan gizi seimbang yang kaya protein, vitamin, dan serat guna menjaga fungsi organ dan kesehatan tulang. Selain itu, pilar kedua berupa pola gerak tetap diperlukan melalui aktivitas fisik ringan seperti senam lansia atau berjalan kaki untuk menjaga kelenturan otot serta melancarkan peredaran darah. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko jatuh yang sering dialami oleh kaum lansia.

Lebih lanjut, pilar ketiga mengenai pola tidur yang berkualitas berperan besar dalam pemulihan sel-sel tubuh dan menjaga stabilitas emosi. Muthia mengingatkan bahwa lansia yang kurang istirahat akan lebih mudah mengalami kelelahan dan penurunan imunitas. Terakhir, pilar keempat adalah merawat kedamaian hati dengan selalu bersyukur dan berpikir positif, karena kondisi psikologis yang bahagia terbukti secara medis mampu meningkatkan semangat hidup dan kesehatan fisik secara keseluruhan.

“Tidur yang baik membantu tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak serta menjaga kestabilan emosi dan fungsi otak. Selain itu, saya menyarankan anggota komunitas Seroja untuk selalu menjaga pikiran yang positif dan penuh rasa syukur, karena ketenangan hati sangat memengaruhi kondisi fisik kita sehari-hari,” jelas Muthia menambahkan.

Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan konsultasi kesehatan langsung. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya manajemen kesehatan di usia lanjut mulai tumbuh pesat di masyarakat. Komunitas Seroja berharap program ini dapat menjadi model pembinaan lansia yang berkelanjutan agar mereka tetap berdaya dan bahagia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




PKK Margomulyo Gandeng Generasi Muda Perkuat Pengelolaan Sampah Padukuhan

Sleman — Kalurahan Margomulyo mulai melakukan langkah penyegaran dalam tata kelola sampah dengan mengincar keterlibatan aktif generasi muda. Langkah ini diambil guna menghidupkan kembali sejumlah Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) yang vakum serta memastikan keberlanjutan fasilitas lingkungan yang ada di tingkat padukuhan.

Hal tersebut menjadi poin utama dalam dialog pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Pokja IV PKK Kalurahan Margomulyo di Gedung Serbaguna, Minggu (10/5/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan anggota PKK dari 13 padukuhan yang berkomitmen mencari solusi atas penurunan aktivitas pengelolaan sampah di wilayah mereka. Ketua Tim Penggerak PKK Margomulyo, Sri Lestari, menegaskan bahwa edukasi pengelolaan sampah rumah tangga harus menjadi prioritas agar setiap keluarga mampu menangani limbahnya secara mandiri.

Narasumber kegiatan, Sutarto Agus, menjelaskan bahwa penguatan peran Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) adalah kunci untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan praktik nyata di lapangan. Menurutnya, P3S memiliki landasan hukum kuat untuk mendampingi warga dalam mengubah perilaku dari sekadar membuang sampah menjadi memilah dan mengolahnya sejak dari dapur.

“P3S hadir bukan hanya untuk menyampaikan aturan, tetapi mendampingi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Partisipasi warga menjadi kunci utama. Jika pengelolaan sampah dilakukan secara disiplin dari lingkungan masing-masing, maka beban sampah yang menuju ke tempat pengolahan akhir dapat ditekan secara signifikan,” ujar Sutarto Agus di hadapan para peserta.

Margomulyo sebenarnya memiliki infrastruktur yang cukup lengkap, mulai dari TPS3R, Depo Transfer Sampah, hingga delapan bank sampah berbasis inisiatif warga. Namun, tantangan besar muncul karena minimnya regenerasi pengurus, rendahnya antusiasme warga terhadap bank sampah, serta masih adanya praktik pembakaran sampah secara sembarangan. Kondisi inilah yang mendorong perlunya inovasi dari kalangan muda agar kelembagaan sampah menjadi lebih adaptif dan modern.

Dalam dialog tersebut, dipaparkan pula hasil pemetaan KPSM di 13 padukuhan yang menunjukkan adanya wilayah-wilayah tanpa kelompok pengelola aktif. Sutarto menekankan perlunya dukungan penuh pemerintah kalurahan untuk melakukan perubahan struktur kepengurusan dengan memasukkan tenaga-tenaga muda yang lebih energik dan paham teknologi.

“Tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Kita butuh tenaga muda yang inovatif untuk menggerakkan kembali bank sampah dan sedekah sampah yang sempat vakum. Tanpa keterlibatan mereka, sistem yang sudah ada akan sulit untuk bertahan lama,” kata Sutarto.

Sesi diskusi mengungkap bahwa minimnya dukungan dari tingkat RT/RW juga menjadi kendala lapangan. Melalui penguatan sinergi antara PKK, P3S, dan generasi muda, Kalurahan Margomulyo optimistis dapat membangun kembali budaya pengelolaan sampah yang sehat. Harapannya, integrasi antara kesadaran masyarakat dan keterlibatan kaum muda dapat menciptakan lingkungan yang bersih serta berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Ekonomi Umat, Komunitas TernakMU Turi Gagas Sistem Patungan untuk Budidaya Ayam Petelur

Sleman — Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas kini merambah ke sektor peternakan mikro di wilayah Kapanewon Turi. Komunitas TernakMU, yang merupakan wadah bagi peternak warga Muhammadiyah Turi, resmi menggelar pertemuan perdana pada Minggu (10/5/2026). Bertempat di rumah Akhmad Khairudin yang berlokasi di Garongan, Wonokerto, Turi, pertemuan ini menandai dimulainya gerakan crowdfunding atau pendanaan gotong royong untuk usaha microfarming ayam kampung petelur.

Gerakan di bawah binaan Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PCM Turi ini memfokuskan pengembangan pada jenis ayam kampung petelur Elba dan Kuntara 4. Melalui pola pendanaan bersama, TernakMU berupaya meringankan beban modal awal para anggota, mulai dari penyediaan bibit unggul, pengadaan pakan, hingga pembangunan kandang yang standar. Dengan sistem ini, warga yang memiliki keterbatasan modal tidak lagi berjalan sendiri, melainkan didukung oleh jaringan yang saling menguatkan.

Ketua TernakMU terpilih, Akhmad Khairudin, menyatakan bahwa komunitas ini dibentuk sebagai fondasi agar usaha peternakan warga dapat berjalan lebih tertib dan berkelanjutan. Selain mengurusi aspek finansial, komunitas ini juga berfungsi sebagai ruang belajar teknis bagi para peternak pemula agar mereka memiliki manajemen pakan dan kesehatan ternak yang baik.

“Pertemuan perdana ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarpeternak, tetapi juga menjadi momentum pembentukan struktur pengurus. Kami ingin menjadikan ternak kecil ini sebagai gerakan besar pemberdayaan ekonomi umat. Dengan semangat gotong royong, warga tidak perlu ragu memulai usaha karena ada sistem pendampingan dan pemantauan rutin terhadap perkembangan ternak mereka,” ujar Akhmad Khairudin di sela-sela kegiatan.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto, serta perwakilan Majelis Ekonomi, Agung, yang juga merupakan peternak praktis. Kehadiran para tokoh ini memperkuat aspek pendampingan teknis bagi para anggota. Komunitas ini juga merancang pertemuan rutin bulanan sebagai sarana evaluasi, di mana setiap anggota bisa berbagi kendala lapangan dan mendapatkan solusi terkait pencatatan produksi hingga strategi pemasaran hasil telur.

Konsep microfarming yang diusung dipilih karena sangat fleksibel, dapat memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah, dan cocok dikelola oleh skala keluarga. Pemilihan ayam jenis Elba dan Kuntara 4 dinilai strategis karena produktivitas telurnya yang tinggi, sehingga mampu mencukupi kebutuhan protein keluarga sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.

Melalui sinergi antara sistem arisan, pendampingan teknis, dan pengawasan berkala, TernakMU optimistis dapat mencetak peternak yang disiplin dan mandiri. Gerakan ini diharapkan menjadi model baru dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi dari tingkat akar rumput, membuktikan bahwa usaha skala kecil jika dikelola dengan kolektif dapat memberikan dampak manfaat yang luas. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)