Pentingnya NIB bagi Perkembangan Pelaku Usaha

Sleman – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sleman melalui program Sambang Sambung menggelar layanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku usaha FORKOM UMKM Kapanewon Berbah, Rabu (20/5/2026) di Pendopo Kepanjen Kapanewon Berbah.

Kepala DPMPTSP Kabupaten Sleman, Triana Wahyuningsih, menjelaskan bahwa program Sambang Sambung merupakan inovasi jemput bola untuk mendekatkan layanan kepada pelaku usaha yang belum memiliki NIB. Program tersebut telah berjalan sejak tahun 2023 dengan melibatkan berbagai OPD pembina UMKM seperti BAZNAS, Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi, dan Dinas Pertanian.

Menurut Triana, NIB bukan sekadar nomor identitas usaha, melainkan pintu masuk bagi pelaku usaha untuk memperoleh legalitas dan berbagai fasilitas pengembangan usaha.

“Dengan memiliki NIB, pelaku usaha dapat mengurus izin lanjutan seperti PIRT, sertifikat halal, serta memperoleh akses pelatihan, pendampingan, hingga permodalan dari pemerintah maupun perbankan,” jelasnya.

NIB diterbitkan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Adapun syarat pendaftaran NIB perorangan meliputi NIK KTP, NPWP bila ada, alamat email dan nomor ponsel aktif, serta data usaha seperti nama usaha dan jenis usaha.

Dalam kegiatan tersebut, DPMPTSP bekerja sama dengan BAZNAS Sleman, FORKOM Kabupaten Sleman, dan FORKOM UMKM Kapanewon Berbah.

Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman, Kriswanto, menyampaikan bahwa kepemilikan NIB akan mempermudah pelaku usaha memperoleh pendampingan dan akses bantuan modal usaha. Ia menjelaskan bahwa BAZNAS juga menyiapkan hibah modal usaha berbasis kelompok.

Menurutnya, kelompok usaha minimal beranggotakan lima orang dan setiap anggota akan memperoleh hibah modal sebesar Rp1 juta yang dikelola bersama. Program tersebut akan dievaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan usaha para penerima manfaat.

“Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan para penerima zakat atau mustahik dapat berkembang menjadi pelaku usaha mandiri bahkan menjadi muzaki atau pembayar zakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua FORKOM Kabupaten Sleman, Ardi Sehami, menyambut baik kegiatan tersebut karena membantu pelaku usaha memperoleh legalitas usaha melalui NIB.

“Semoga dengan adanya NIB, pelaku usaha semakin semangat dalam mengembangkan usahanya,” katanya. (Kusnadi – KIM Berbah)




Condongcatur Perkuat Ketahanan Pangan melalui Peningkatan Kapasitas GAPOKTAN

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus memperkuat sektor ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas GAPOKTAN Tani Makmur di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan ini diikuti 96 peserta yang terdiri dari unsur GAPOKTAN Tani Makmur, kelompok tani, kelompok ternak, Kelompok Wanita Tani (KWT), Forum UMKM Condongcatur, pengurus BUMKal Nyawiji, serta pamong Kalurahan Condongcatur.

Peningkatan kapasitas menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Isti Fajaroh, serta Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Purwati Widaningsih.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke Telaga Menjer dan dilanjutkan sesi peningkatan kapasitas di kawasan Panama Resto Garung Wonosobo dengan latar perkebunan teh dataran tinggi.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar wisata, melainkan sarana transfer ilmu, pengalaman, dan inspirasi bagi petani, peternak, serta pelaku UMKM.

“Melalui kegiatan ini peserta memperoleh pembelajaran lapangan, termasuk pengembangan kebun teh dan sentra Umbi Yakon di Wonosobo,” ujarnya.

Reno juga mengapresiasi semangat kelompok tani dan kelompok ternak di Condongcatur yang terus mengembangkan sektor pertanian di tengah karakter wilayah yang semakin urban.

“Condongcatur adalah desa rasa kota, namun identitas desa harus tetap dijaga melalui pertanian, meski dilakukan di lahan terbatas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok yang baru, Purwati Widaningsih mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi membangun wilayah.

Ia juga mengapresiasi konsistensi Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui kelompok tani, kelompok ternak, dan KWT. Menurutnya, pelestarian sumber daya air dan pengelolaan sampah rumah tangga juga menjadi perhatian penting di wilayah perkotaan seperti Condongcatur.

Di sisi lain, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh menilai Condongcatur sebagai salah satu wilayah yang cukup maju dalam pengembangan urban farming dengan terbentuknya 18 KWT di seluruh padukuhan.

“Ini capaian luar biasa dan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain,” katanya.

Ia juga mendorong kelompok ternak di Condongcatur untuk berkembang menuju peternakan semi modern berbasis energi terbarukan, termasuk pengembangan biogas.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momen perpisahan bagi Isti Fajaroh yang telah mengabdi di Kapanewon Depok selama 14 tahun sejak 2012. Suasana haru mewarnai acara saat penyerahan kenang-kenangan dari berbagai kelompok masyarakat.

Usai kegiatan utama, peserta melanjutkan kunjungan edukatif ke sentra Umbi Yakon di Dusun Kaliurip, Wonosobo. Pengelola sentra, Antok, menjelaskan bahwa Umbi Yakon memiliki prospek ekonomi dan kesehatan yang menjanjikan karena kaya serat pangan dan baik untuk membantu mengontrol gula darah.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap kelompok masyarakat di bidang pertanian, peternakan, dan UMKM semakin solid, inovatif, dan adaptif menghadapi tantangan pembangunan wilayah perkotaan tanpa meninggalkan identitas desa yang produktif dan mandiri. (Wasana/KIM Depok)




GERUDUK Permudah Layanan Adminduk Warga Padukuhan Joho

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama Kapanewon Depok kembali menghadirkan inovasi pelayanan administrasi kependudukan melalui program GERUDUK (Gerakan Update Adminduk Dusun), yang dilaksanakan di Padukuhan Joho, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan ini dihadiri Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok Benjamin Dalung beserta jajaran, Kaur Tata Laksana Kalurahan Condongcatur beserta staf, Dukuh Joho, serta kader Jakadara (Kader Adminduk Depok Agar Tertib dan Tertata) Padukuhan Joho yang turut membantu jalannya pelayanan kepada masyarakat.

Program ini merupakan upaya mendekatkan pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya tertib administrasi kependudukan. Layanan utama yang diberikan ialah aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), serta perubahan elemen data pada Kartu Keluarga (KK).

Tercatat, sebanyak 43 warga melakukan aktivasi IKD, sementara 13 layanan lainnya berupa perubahan elemen data KK, seperti pembaruan data pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, hingga data golongan darah.

Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Benjamin Dalung, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur atas inisiatif dan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan administrasi kependudukan yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur atas inisiatif dan program GERUDUK ini. Program jemput bola seperti ini sangat baik untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran warga dalam tertib administrasi kependudukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kaur Tata Laksana Kalurahan Condongcatur, Andree Setiawan, menyampaikan bahwa masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pelaksanaan program GERUDUK Dusun tersebut.

“Warga sangat antusias dengan adanya kegiatan GERUDUK ini. Ada yang datang untuk konsultasi administrasi kependudukan, aktivasi IKD, hingga melakukan perubahan data KK. Pelayanan jemput bola seperti ini sangat membantu masyarakat karena lebih dekat dan mudah diakses,” jelasnya.

Andree menambahkan, program GERUDUK akan terus dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah Kalurahan Condongcatur. Pada bulan Juni mendatang, kegiatan serupa direncanakan akan digelar di Padukuhan Pringwulung dan Manukan, kemudian dilanjutkan ke padukuhan lainnya hingga menjangkau enam padukuhan di Kalurahan Condongcatur.

“Harapannya masyarakat dapat memanfaatkan layanan ini dengan baik karena pelayanan hadir lebih dekat di tengah warga. Dengan data penduduk yang terus diperbarui, masyarakat juga semakin peduli terhadap identitas pribadinya sehingga ke depan dapat tercipta tertib adminduk di Kalurahan Condongcatur,” tandas Andree.

Pada kesempatan yang sama, Dukuh Joho, Retnaningsih, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Pemerintah Kapanewon Depok, serta para kader Jakadara, atas terselenggaranya kegiatan sisir administrasi kependudukan tersebut.

“Kegiatan ini sangat membantu masyarakat dalam mengakses layanan administrasi kependudukan, khususnya untuk updating data warga. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memfasilitasi kebutuhan warga melalui pelayanan jemput bola ini,” ungkapnya.

Melalui program GERUDUK, Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan Kapanewon Depok menunjukkan komitmen dalam menghadirkan pelayanan publik yang cepat, mudah, dan dekat dengan masyarakat, sekaligus mendorong terwujudnya administrasi kependudukan yang tertib dan akurat di tingkat padukuhan (Wasana / KIM Depok)




DLH Sleman Dorong Terwujudnya Sleman Bebas Sampah 2029

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman terus mendorong terwujudnya program strategis Sleman Resik, Sleman Bebas Sampah 2029. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat sekaligus mempercepat pelaksanaan program tersebut.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni pembentukan Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S) di setiap kapanewon dan kalurahan di wilayah Kabupaten Sleman.

“Salah satu tujuan P3S adalah membentuk Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan,” ujar Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Sleman, Fitasari Ayu Wardani, saat Sosialisasi Pengelolaan Sampah di Ruang Gumregah Kapanewon Berbah, Selasa (19/5/2026).

Fitasari menjelaskan, di Kabupaten Sleman terdapat padukuhan dan belum seluruhnya memiliki KPSM. Bahkan, masih banyak padukuhan yang belum memiliki kelompok pengelola sampah mandiri. Selain itu, terdapat pula KPSM yang sudah terbentuk namun kondisinya kurang optimal, seperti berhenti beroperasi maupun berjalan tidak stabil.

Menurutnya, P3S memiliki tugas yang cukup berat, mulai dari mengaktifkan kembali KPSM yang vakum, mendampingi kelompok yang belum stabil, hingga membentuk kelompok baru di padukuhan yang belum memiliki KPSM.

“Namun, para anggota P3S sebelumnya telah dibekali berbagai persiapan sehingga diharapkan mampu menangani berbagai persoalan di lapangan sesuai kapasitas dan tugasnya,” jelasnya.

Fitasari juga menyampaikan bahwa pascapenutupan TPA Piyungan telah memunculkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa menggunakan pola “bayar-angkut-buang”, kini masyarakat dituntut melakukan pemilahan sampah guna mengurangi residu yang terbuang.

Ia menambahkan, meskipun Kabupaten Sleman telah memiliki tiga Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di Kalasan, Turi, dan Minggir, kapasitasnya masih belum mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.

“Untuk menekan residu sampah yang terbuang, maka pemilahan sampah dari sumbernya menjadi sangat penting,” tandas Fitasari.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah plastik karena berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan, serta menekankan pentingnya pelaporan dalam pengelolaan sampah.

“Asap hasil pembakaran plastik mengandung zat dioksin yang dapat memicu kanker dan berbahaya bagi kesehatan. Untuk pelaporan, DLH Sleman telah menyiapkan instrumen pelaporan data pengumpulan sampah melalui aplikasi SiosEstu,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Berbah, Ringgo Anthoni Surya, mewakili Panewu Berbah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menuturkan bahwa perkembangan pembangunan dan pertumbuhan perumahan di wilayah Berbah berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk sekaligus volume sampah yang dihasilkan.

“Untuk itu, kami memohon kerja sama semua pihak dalam pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan Berbah yang bersih dan nyaman sebagai tempat tinggal masyarakat,” ujarnya.

P3S Kapanewon Berbah, Siti Maryamah atau yang akrab disapa Yaya juga menyampaikan komitmen P3S di Kapanewon Berbah dan empat kalurahan untuk bekerja maksimal sesuai tugas dan kapasitas dalam mendampingi pengelolaan sampah.

Ia pun mengajak pemerintah kapanewon, kalurahan, maupun padukuhan untuk terus bersinergi dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik di wilayah Berbah. (Kusnadi – KIM Berbah)




KPSM Maguwoharjo Olah Sampah Saset Jadi Barang Bernilai

Sleman – Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Kalurahan Maguwoharjo menggelar demonstrasi pemanfaatan sampah saset menjadi barang bernilai guna, di Gedung Pertemuan TPQ Pasekan, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti pengurus KPSM dari 20 padukuhan di wilayah Kalurahan Maguwoharjo.

Ketua KPSM Maguwoharjo, Suwanti, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah kemasan saset yang selama ini sulit terurai dan kerap menjadi persoalan lingkungan.

“Sampah saset sebenarnya masih bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna apabila dikelola dengan baik. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah tidak selalu harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan contoh langsung pemanfaatan saset bekas kopi instan, pop ice, energen, dan kemasan sejenis untuk dibuat menjadi berbagai produk, seperti tempat tisu, tas ransel, tikar, dan barang kerajinan lainnya.

Suwanti menjelaskan, demonstrasi tersebut tidak hanya bertujuan memberi keterampilan teknis kepada pengurus KPSM, tetapi juga mendorong setiap padukuhan agar dapat mengembangkan gerakan pengelolaan sampah secara mandiri.

Menurutnya, pengurus KPSM di tingkat padukuhan memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap pemilahan dan pemanfaatan sampah.

Ia menambahkan, pengolahan sampah saset menjadi barang berguna juga dapat menjadi langkah kecil untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan. Selain itu, kegiatan tersebut dapat membuka peluang kreativitas dan pemberdayaan masyarakat apabila dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat bagi Kabupaten Sleman, terutama dalam menghadapi persoalan sampah. Dari tingkat kalurahan, kami ingin ikut berkontribusi mengurangi sampah dan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Semoga gerakan ini dapat terus berkembang di setiap padukuhan,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)