SMP Muhammadiyah 2 Prambanan Perkuat Karakter Siswa

Sleman – Penguatan karakter siswa menjadi perhatian penting dalam pembinaan peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Kabupaten Sleman, Selasa (19/5/2026).

Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk siswa yang cerdas, santun, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial.

Kepala SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Eko Priyantoro, mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk perilaku siswa agar mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai nilai Pancasila serta nilai luhur bangsa Indonesia.

“Pendidikan harus membentuk siswa agar mampu berpikir baik, berhati baik, dan berperilaku baik. Karakter yang kuat menjadi bekal penting bagi siswa dalam kehidupan di sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan karakter perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pembiasaan olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar nilai-nilai positif dapat tumbuh secara konsisten dalam diri peserta didik.

Eko menjelaskan, guru memiliki peran penting sebagai teladan sekaligus fasilitator dalam membangun budaya sekolah yang tertib, santun, dan bertanggung jawab.

Melalui keteladanan tersebut, siswa diharapkan mampu memahami nilai karakter bukan hanya sebagai nasihat, tetapi sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter siswa, katanya, juga perlu diperkuat melalui nilai-nilai luhur dan budaya lokal.

Dengan cara itu, peserta didik di Kabupaten Sleman diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Eko pun menekankan tiga hal penting yang perlu dibudayakan siswa. Pertama, etika berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang baik dan santun.

Kedua, etika mengontrol diri dengan membiasakan sikap merawat, bukan merusak. Ketiga, etika menempatkan diri dengan menggunakan setiap fasilitas sesuai fungsi dan kegunaannya.

“Hal-hal sederhana seperti berbicara santun, menjaga fasilitas sekolah, dan menggunakan sesuatu sesuai fungsinya merupakan bagian dari pendidikan karakter yang harus dibiasakan sejak dini,” katanya.

Eko menambahkan, pembiasaan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi perlu dibangun melalui proses yang berkelanjutan. Sekolah menjadi ruang penting untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap saling menghargai antarsesama.

Melalui penguatan karakter tersebut, Eko berharap peserta didik SMP Muhammadiyah 2 Prambanan mampu tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik, disiplin, menghargai sesama, serta mampu berkontribusi positif bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Donor Darah Rutin PMI Depok Himpun 50 Kantong Darah di Condongcatur

Sleman – PMI Kapanewon Depok bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan PMI Kabupaten Sleman kembali menggelar kegiatan donor darah rutin triwulan kedua tahun 2026, Selasa (19/5/2026), di Ruang Wacanaloka Kalurahan Condongcatur.

Donor darah rutin ini dilaksanakan setiap tiga bulan sekali dan kali ini bertepatan dengan program pelayanan terpadu “SEMANIS MADU” (Selasa Melayani Semua, Mudah dan Terpadu) di Pendopo Kalurahan Condongcatur. Masyarakat dapat mengakses berbagai layanan publik dalam satu lokasi, seperti perpanjangan SIM, layanan Samsat, BNN Sleman, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga donor darah.

PMI Kabupaten Sleman menerjunkan lima petugas Unit Donor Darah (UDD) dengan dukungan empat bed donor dan 60 kantong darah. Dari total 60 peserta yang hadir, sebanyak 50 orang berhasil mendonorkan darahnya, sedangkan 10 peserta lainnya belum memenuhi syarat kesehatan.

Rincian darah yang terkumpul meliputi 11 kantong golongan A, 26 kantong golongan B, 12 kantong golongan O, dan 1 kantong golongan AB.

Ketua PMI Kapanewon Depok, Sussilistyaningsih mengatakan bahwa donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya membantu menjaga ketersediaan stok darah.

“Donor darah bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan stok darah, tetapi juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan semangat kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, PMI Kapanewon Depok terus mengajak berbagai instansi dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah sukarela.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Polda DIY, Polsek jajaran Depok, Puskesmas Depok, Lanud Adisutjipto, Akademi Angkatan Udara, Koramil 11, Yonif 403, serta sejumlah mitra lainnya.

Selain mendukung ketersediaan stok darah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari Program Lada Manis (Layanan Darah Sleman Gratis), yaitu program Pemerintah Kabupaten Sleman bersama PMI Sleman untuk memberikan layanan darah gratis bagi warga ber-KTP Sleman yang membutuhkan transfusi darah.

Humas Condongcatur, Wasana menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan ruang kolaborasi sosial yang memperkuat kepedulian dan semangat gotong royong masyarakat.

“Kami mengapresiasi seluruh mitra, relawan, dan warga yang terus mendukung kegiatan kemanusiaan ini,” ungkapnya.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan, mitra, dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan kemanusiaan tersebut. PMI Kapanewon Depok bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur berencana kembali menggelar donor darah rutin pada Agustus 2026 mendatang. (Wasana / KIM Depok)




Psikolog UGM Tekankan Pendampingan Gawai Sehat bagi Anak

Sleman – Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sylvi Dewajani, menekankan pentingnya pendampingan penggunaan gawai secara sehat dalam tumbuh kembang anak. Hal itu disampaikannya dalam acara Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional, Senin (18/5/2026), di Gedung Pracimasana Lantai 2 Komplek Kepatihan Danurejan, Yogyakarta.

Menurutnya, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Namun, penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, emosi, sosial, dan kemampuan konsentrasi anak.

Sylvi menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya anak semakin dekat dengan teknologi, tetapi juga minimnya literasi digital orang tua dan anak. Kondisi tersebut membuat peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam memberi arahan, membuat aturan, serta mendampingi anak saat menggunakan gawai.

“Gawai adalah alat. Jangan sampai anak justru diperalat oleh gawai,” tegasnya.

Sylvi menjelaskan, penggunaan gawai yang tidak terarah dapat memunculkan sejumlah risiko, mulai dari kecanduan, menurunnya aktivitas fisik, melemahnya kepekaan sosial, gangguan konsentrasi, hingga paparan konten negatif seperti perundungan siber, pornografi, kekerasan, dan pelecehan seksual daring.

Ia menekankan bahwa pendampingan tidak cukup dilakukan dengan larangan. Orang tua perlu membangun komunikasi sejak awal, memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan anak, serta menyusun aturan penggunaan gawai secara konsekuen dan konsisten.

Sylvi juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan aktivitas anak. Anak perlu tetap memiliki ruang untuk bergerak, bermain, bersosialisasi, mengelola emosi, berpikir, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

“Anak membutuhkan aktivitas yang sehat secara fisik, mental, emosi, dan sosial. Karena itu, penggunaan gawai harus diimbangi dengan kegiatan nyata yang mendukung tumbuh kembangnya,” jelasnya.

Sylvi turut memaparkan aturan penggunaan gawai sesuai usia. Anak usia 0–2 tahun sebaiknya tidak diberikan gawai dan lebih diarahkan pada stimulasi motorik, sensorik, komunikasi langsung, serta interaksi tatap muka. Untuk usia 3–5 tahun, penggunaan gawai perlu dibatasi, didampingi penuh, dan diarahkan pada konten pendidikan serta stimulasi perkembangan.

Sementara itu, anak usia 6–12 tahun dapat menggunakan gawai untuk kebutuhan sekolah, kreativitas, dan literasi dasar dengan pengawasan orang dewasa. Pada usia remaja, pengawasan tetap diperlukan, terutama terkait media sosial, keamanan data, jejak digital, dan risiko layanan digital.

Ia menambahkan, orang tua perlu mengenali media sosial yang digunakan anak, terlibat dalam diskusi tentang informasi yang sedang berkembang, serta menyepakati aplikasi yang boleh dan tidak boleh digunakan. Aturan tersebut sebaiknya berbentuk panduan bersama, bukan sekadar larangan sepihak.

Melalui pendampingan yang tepat, penggunaan gawai dapat diarahkan menjadi sarana belajar, komunikasi, dan kreativitas. Dengan demikian, anak tetap mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kontak sosial, empati, dan keseimbangan tumbuh kembangnya. (Athiful/KIM Depok)




Kapanewon Depok Gelar Bimtek DASHAT untuk Perkuat Edukasi Gizi di Kampung KB

Sleman – Kapanewon Depok Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Edukasi Gizi melalui Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (19/5/2026), di Ruang Rapat Anglocitatama, Kapanewon Depok.

Acara yang diikuti oleh perwakilan kader dari Kalurahan Caturtunggal, Maguwoharjo, dan Condongcatur ini, bertujuan meningkatkan pemahaman kader terkait pelaksanaan program DASHAT sebagai salah satu upaya percepatan penurunan stunting melalui edukasi gizi keluarga.

Acara dibuka dengan sambutan dari Koordinator PKB-PLKB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah yang menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor, serta peran aktif kader dalam mendukung program pencegahan stunting di masyarakat.

“Kader menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada keluarga sasaran. Melalui program DASHAT diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang,” ungkapnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh PKB Depok, Ika Novi Astuti mengenai rencana pelaksanaan Program Bimtek Gizi melalui DASHAT di Kampung KB. Dalam paparannya, Ika menjelaskan mekanisme pelaksanaan kegiatan serta tahapan edukasi gizi kepada keluarga sasaran.

Ia mengatakan bahwa dalam program tersebut, setiap kalurahan akan ditentukan lima padukuhan sebagai sampel pelaksanaan kegiatan. Sasaran di padukuhan sampel tersebut nantinya akan dipantau selama enam bulan terkait pola konsumsi makanan bergizi, meliputi makanan pokok atau karbohidrat, lauk-pauk, sayur, dan buah.

“Pemantauan dilakukan untuk mengetahui apakah konsumsi menu bergizi keluarga sasaran sudah sesuai atau belum, sehingga dapat dilakukan pendampingan dan evaluasi secara berkelanjutan,” paparnya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai teknis pendampingan keluarga sasaran, pemantauan pola konsumsi, hingga pelaporan hasil kegiatan sebagai bagian dari upaya pembiasaan konsumsi makanan bergizi di masyarakat.

Peran serta kader sangat dibutuhkan agar program ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Para kader diharapkan mampu menjadi pendamping sekaligus motivator bagi keluarga sasaran dalam menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang.

Melalui kegiatan ini diharapkan para kader dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di wilayah masing-masing serta menjadi agen perubahan dalam mendukung terwujudnya keluarga sehat, bergizi, dan bebas stunting di Kapanewon Depok. (Tri Suhartati – KIM Depok)




Dispora Sleman Perkuat Karakter Pelajar Berbasis Budaya SMP Muhammadiyah 1 Prambanan

Sleman – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan advokasi pemuda bertema Pemuda Berkarakter dan Berbudaya, di SMP Muhammadiyah 1 Prambanan, Senin, (18/5/2026).

Kegiatan ini diikuti 100 siswa kelas VII, VIII, dan IX, sebagai upaya menanamkan karakter positif sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa, khususnya budaya Jawa.

Kepala Bidang Pembinaan Kepemudaan Dispora Kabupaten Sleman, Trining Diah Pawestri, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat pembinaan karakter generasi muda sejak usia sekolah.

Menurutnya, pelajar tidak hanya perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga harus dibekali nilai moral, etika, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

“Melalui kegiatan ini, Dispora Sleman ingin mendorong para pelajar agar tumbuh menjadi generasi muda yang berkarakter, santun, percaya diri, dan memiliki kepedulian terhadap budaya,” ujarnya.

Menurutnya, budaya Jawa mengajarkan nilai-nilai luhur seperti tata krama, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga ucapan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Diah menambahkan, bahwa penguatan karakter dan budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelajar tidak tercerabut dari akar budayanya di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.

“Generasi muda Kabupaten Sleman harus mampu menjadi pribadi yang adaptif terhadap perubahan, namun tetap berpegang pada nilai-nilai karakter dan budaya yang baik,” katanya.

Semula kegiatan ini ditargetkan khusus bagi siswa kelas IX. Namun, karena dinilai memiliki manfaat besar dalam membentuk karakter peserta didik, sasaran kegiatan diperluas untuk seluruh jenjang kelas.

“Dengan demikian, semakin banyak siswa memperoleh wawasan, pengalaman, dan pemahaman mengenai pentingnya karakter serta budaya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Prambanan, Daswati Rofiatun Sahifah, menjelaskan bahwa kegiatan advokasi pemuda ini menjadi sarana penting untuk membekali siswa agar tumbuh sebagai calon pemuda yang berkarakter positif dan memiliki kepedulian terhadap budaya daerah.

“Nilai-nilai budaya Jawa sejatinya mampu membentuk karakter yang baik, menekan perilaku negatif, sekaligus menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap budaya bangsa,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa memperoleh penguatan mengenai nilai-nilai kehidupan dalam budaya Jawa yang sarat makna pendidikan karakter. Sejumlah ungkapan Jawa, seperti “ajining diri gumantung ana ing lathi” dan “ajining raga gumantung ana ing busana,” menjadi pengingat pentingnya menjaga tutur kata, sikap, perilaku, dan penampilan dalam kehidupan sosial.

Selain mendapatkan materi tentang nilai-nilai budaya, para siswa juga diajak memahami praktik tata krama dalam budaya Jawa. Mereka dikenalkan cara bersalaman yang sopan saat bertemu orang yang lebih tua, etika bersikap dalam pergaulan, hingga pengenalan rasukan atau busana adat khas Yogyakarta dan Solo.

“Kegiatan berlangsung aktif dan menarik. Para siswa antusias mengikuti setiap sesi, termasuk saat dikenalkan tembang dolanan Jawa yang mengandung pesan moral, nilai kebersamaan, serta pembelajaran karakter bagi anak dan remaja,” paparnya.

Melalui kegiatan ini, ujar Daswati, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga kuat secara karakter dan memiliki akar budaya yang kokoh.

“Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pengalaman berharga bagi siswa SMP Muhammadiyah 1 Prambanan. Nilai-nilai karakter, tata krama, dan kecintaan terhadap budaya yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)