Tekan Risiko Stunting, Puskesmas Depok II Sisir Balita Bermasalah Gizi di Posyandu Condongcatur

Sleman — Pemantauan tumbuh kembang anak pada masa keemasan terus diperketat di tingkat hilir guna memastikan target zero stunting di Kabupaten Sleman dapat tercapai. Langkah preventif ini diwujudkan oleh tim medis Puskesmas Depok II dengan turun langsung melakukan penyisiran dan pemantauan intensif terhadap balita yang terindikasi mengalami gangguan pertumbuhan di Posyandu Tanjung II, Padukuhan Karangasem Gempol, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (18/5/2026).
Agenda rutin bulanan ini sengaja difokuskan untuk menyasar anak-anak bawah lima tahun (balita) yang dalam beberapa kali penimbangan menunjukkan tren grafik berat badan statis atau cenderung menurun. Selain melakukan pengukuran antropometri ulang yang meliputi berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, petugas juga membuka ruang konsultasi klinis bagi para ibu guna melacak riwayat penyakit penyerta pada anak.
Petugas Gizi Puskesmas Depok II, Dwi Anisa Purnamasari, menjelaskan bahwa intervensi gizi tidak akan berjalan efektif tanpa adanya perubahan perilaku pengasuhan di dalam keluarga. Oleh karena itu, skema jemput bola ke posyandu padukuhan ini dimanfaatkan untuk memberikan edukasi personal terkait pola pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang kaya akan protein hewani lokal.
“Balita yang memiliki permasalahan kesehatan atau berat badan tidak naik kami pantau langsung untuk edukasi dan sharing dengan orang tua terkait tumbuh kembangnya. Sering kali nafsu makan anak turun karena sisa infeksi ringan atau tekstur makanan yang kurang sesuai dengan usianya. Harapannya melalui pendampingan berkelanjutan ini, kondisi kesehatan anak lekas membaik, berat badannya kembali bertambah secara optimal, dan mereka terhindar dari risiko tengkes atau stunting,” ujar Dwi Anisa Purnamasari di sela-sela pemeriksaan fisik balita.
Kehadiran tim medis puskesmas di tengah-tengah masyarakat mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Posyandu Tanjung II, Tri Suhartati. Pihaknya mengaku sangat terbantu karena keterbatasan pengetahuan kader posyandu di tingkat dusun kini dapat terfasilitasi dengan kehadiran ahli gizi, sehingga rujukan medis bagi balita yang membutuhkan penanganan kedaruratan dapat diterbitkan secara lebih cepat.
Manfaat langsung dari program pemantauan ini juga dirasakan oleh para orang tua yang hadir memadati area posyandu. Salah seorang ibu balita, Edni, mengungkapkan bahwa ruang dialog tanpa jarak bersama petugas puskesmas ini membuat dirinya lebih percaya diri dalam mengolah menu MPASI harian dan tidak lagi panik ketika menghadapi anak yang melakukan gerakan tutup mulut (GTM).
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami para orang tua karena jadi bertambah pengetahuan dan wawasan tentang kesehatan serta perkembangan anak yang benar. Kami jadi tahu bahwa gemuk itu belum tentu sehat kalau menunya tidak seimbang. Melalui posyandu ini, kami diajarkan cara memantau kartu menuju sehat secara mandiri di rumah,” tutur Edni.
Sinergi antara kader pembangunan manusia di tingkat kalurahan dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama ini diharapkan mampu memperkuat basis data pemantauan status gizi anak secara riil di Condongcatur. Konsistensi edukasi dari rumah ke rumah ini diproyeksikan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif para orang tua untuk lebih tertib memeriksakan anaknya ke posyandu setiap bulan demi mencetak generasi muda Sleman yang sehat, cerdas, dan bebas dari ancaman malanutrisi kronis. (Tri Suhartati/KIM Depok)



