Padukan Spiritual dan Lingkungan, Puluhan Kader Fatayat NU Jepara Belajar Budidaya Kelengkeng di Sleman

Sleman — Gerakan sosial keagamaan berbasis perempuan kini semakin aktif mengambil peran dalam isu pelestarian lingkungan dan kedaulatan pangan. Semangat ini ditunjukkan oleh puluhan kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) asal Tengguli, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang melakukan kunjungan kerja sekaligus tadabur alam di perkebunan kelengkeng milik Kelompok Tani Gumregah, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026).
Rombongan yang membawa sekitar 70 peserta tersebut sengaja memilih kawasan agrowisata Sleman utara sebagai lokasi studi tiru. Selain menyerap ilmu tata kelola pertanian berbasis komunitas, para kader badan otonom NU ini juga menggelar pengajian di tengah rindangnya hamparan pohon kelengkeng varietas New Kristal, menciptakan perpaduan antara refleksi teologis dan aksi nyata penyelamatan bumi di tengah ancaman perubahan iklim global.
Dalam sesi siraman rohani yang digelar di sela-sela petik buah, tokoh penggerak Fatayat NU, Nur Faizah, mengingatkan bahwa aktivitas merawat ekosistem pekarangan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Menanam pohon pelindung maupun tanaman pangan tidak sekadar urusan pemenuhan kebutuhan ekonomi domestik, melainkan bagian dari manifestasi iman dan ibadah sosial yang bernilai pahala jariyah.
“Keutamaan menanam pohon adalah mendapat pahala yang berlipat-lipat. Apa yang ditanam akan memberi manfaat bagi banyak makhluk hidup. Setiap pohon yang tertanam akan selalu berzikir kepada Allah SWT. Selain berzikir, pohon juga memberi manfaat bagi makhluk hidup lain, mulai dari manusia yang mengonsumsi buahnya hingga hewan ternak yang memanfaatkan daunnya. Oleh karena itu, mari kita jadikan gerakan penghijauan ini sebagai bagian dari gaya hidup kader Fatayat di rumah masing-masing,” ujar Nur Faizah.
Langkah taktis Fatayat NU Jepara yang melintasi batas provinsi untuk belajar pertanian ini dinilai menjadi pemantik bagi organisasi kemasyarakatan lain agar lebih peduli pada ketahanan pangan keluarga. Pengenalan teknik penanaman vegetatif, pemupukan organik, hingga manajemen pasca-panen yang dipelajari dari petani Sleman diharapkan dapat langsung dipraktikkan oleh para kader saat kembali ke daerah asal.
Ketua Kelompok Tani Gumregah Margorejo, Supriyo Widodo, mengaku sangat terkesan dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh organisasi perempuan pemuda NU tersebut. Kunjungan berskala besar dari luar daerah ini diakui menjadi suntikan motivasi bagi para petani lokal untuk terus mempertahankan lahan hijau mereka dari desakan alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman.
“Kunjungan ini menjadi kehormatan bagi kami. Ini merupakan salah satu kunjungan rombongan besar ke kebun kelengkeng kami. Terima kasih atas kebersamaan dan semangat yang dibawa rombongan Fatayat NU. Kami berharap kebun buah yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga ruang belajar bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan memperkuat fondasi ketahanan pangan berbasis komunitas,” tutur Supriyo Widodo. (SBD/KIM Senyum Tempel)



