Polsek Gamping Intensifkan Patroli Sore Guna Bubarkan Aksi Balap Liar

Sleman — Menanggapi banyaknya aduan masyarakat terkait aktivitas terlarang yang mengganggu ketertiban umum, personel gabungan Unit Samapta dan Unit Lalu Lintas Polsek Gamping menggelar patroli intensif di kawasan Pasar Hewan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis sore (14/5/2026). Langkah preventif ini membidik pergerakan kelompok remaja yang kerap menjadikan jalan umum sebagai arena adu kecepatan.

Penyisiran yang berfokus di sepanjang Jalan Depok Mancasan ini dilakukan guna meminimalkan fatalitas kecelakaan lalu lintas serta menekan polusi suara akibat penggunaan knalpot tidak standar (brong). Kawasan sekitar Pasar Hewan Ambarketawang ditengarai menjadi titik kumpul strategis bagi para pelaku balap liar, terutama pada waktu menjelang petang.

Panit III Patroli Polsek Gamping, Aris Munandar, yang memimpin pergerakan di lapangan mengungkapkan bahwa para pelaku balap liar kerap bermain kucing-kucingan dengan petugas. Modus yang sering digunakan adalah dengan menyaru sebagai pengunjung warung atau sekadar nongkrong santai saat melihat mobil patroli kepolisian mendekat ke lokasi.

“Saat mengetahui adanya patroli polisi, mereka langsung membubarkan diri atau berpura-pura hanya duduk santai di warung maupun sekadar menikmati suasana sore di sekitar lokasi, bahkan ada yang terlihat meninggalkan area ketika petugas datang. Kami tidak akan terkecoh dan akan terus memantau titik-titik rawan ini karena aksi adu kecepatan ini sangat membahayakan keselamatan pengendara lain serta merusak kenyamanan warga sekitar,” ujar Aris Munandar di sela-sela kegiatan patroli.

Selama operasi berlangsung, petugas di lapangan mengedepankan pendekatan persuasif dengan membubarkan kerumunan pemuda serta memberikan edukasi hukum. Para pengendara usia muda diimbau untuk tidak menyalahgunakan fasilitas jalan raya menjadi sirkuit balapan ilegal yang dapat mengancam nyawa diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Ketegasan senada juga disampaikan oleh Kapolsek Gamping, Bowo Susilo. Pihaknya menyatakan tidak akan segan mengambil tindakan hukum yang berlaku jika upaya preventif dan imbauan humanis yang dilakukan oleh personelnya di lapangan tetap diabaikan oleh para pelaku.

“Aksi balap liar tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan pelaku maupun masyarakat umum. Apabila imbauan yang diberikan tidak dipatuhi, maka personel Polsek Gamping akan bertindak tegas dengan melakukan penilangan hingga penahanan kendaraan di mapolsek. Kami berkomitmen meningkatkan frekuensi patroli pada jam-jam rawan sore hingga malam hari demi memastikan situasi kamtibmas di wilayah Gamping tetap aman dan kondusif,” tegas Bowo Susilo. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Kalurahan Tahan Bencana, BPBD Sleman Gandeng Pengurus RW Gencarkan Edukasi Kesiapsiagaan Mandiri

Sleman — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman gencar memperkuat fondasi kesiapsiagaan bencana dari tingkat akar rumput dengan menyasar pengurus Rukun Warga (RW). Upaya ini diwujudkan melalui materi khusus bertajuk peran RW dalam mitigasi, pemetaan risiko, dan koordinasi yang disampaikan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) garapan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman di Oproom Dinas PMK Sleman, Rabu (13/5/2026).

Langkah edukasi ini dinilai sangat krusial mengingat letak geografis Kabupaten Sleman yang dikelilingi oleh berbagai potensi ancaman alam. Keberadaan Gunung Merapi yang aktif menempatkan wilayah ini pada risiko tinggi erupsi dan banjir lahar dingin. Selain itu, ancaman hidrometeorologi seperti tanah longsor, angin puting beliung, cuaca ekstrem, hingga potensi gempa bumi tektonik, kebakaran, kekeringan, dan serangan penyakit menular mengharuskan kesiapan logistik serta mental warga selalu berada di level tertinggi.

Perwakilan dari BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, menegaskan bahwa dampak kerusakan akibat bencana alam selalu menyasar lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Ketika sebuah bencana menerjang, ketidaksiapan di dalam rumah sering kali memicu kepanikan massal, kebingungan dalam mengambil keputusan darurat, risiko terpisah dari anggota keluarga saat proses evakuasi, hingga munculnya trauma psikologis yang mendalam. Oleh karena itu, keluarga harus diposisikan sebagai garda terdepan dalam sistem mitigasi.

“Bencana itu langsung memukul ketahanan keluarga, mulai dari hilangnya tempat tinggal hingga terputusnya kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan listrik. Untuk meminimalkan risiko tersebut, kesiapsiagaan harus dimulai dan dibangun dari dalam rumah masing-masing melalui langkah-langkah mitigasi yang mandiri,” ujar Uun Mardiyanto saat memaparkan materi di hadapan para peserta Bimtek.

Uun menjelaskan bahwa langkah sederhana yang wajib dipersiapkan oleh setiap kepala keluarga sebelum terjadi bencana adalah menyusun rencana evakuasi mandiri, menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting serta logistik darurat, dan membuat kesepakatan mengenai jalur komunikasi keluarga. Setiap anggota keluarga harus memahami peran dan tugas masing-masing secara detail. Latihan dan simulasi evakuasi mandiri secara rutin di rumah dinilai menjadi kunci agar seluruh anggota keluarga tidak gagap ketika menghadapi situasi kedaruratan yang sebenarnya.

Dalam rantai koordinasi kebencanaan, pengurus RW memegang peran yang sangat strategis karena posisinya yang paling dekat dengan aktivitas keseharian warga. RW bertugas sebagai penyambung lidah untuk melakukan sosialisasi, mendata kelompok rentan seperti lansia, difabel, dan anak-anak, serta membangun peta risiko di wilayahnya. Lebih dari itu, RW dituntut mampu mengorganisasi tim siaga lingkungan, menyusun rencana darurat tingkat kampung, serta memimpin pergerakan evakuasi warga untuk kemudian dilaporkan secara cepat kepada pihak berwenang saat bencana melanda.

Melalui sinergi dalam Bimtek ini, Dinas PMK Sleman berharap seluruh ketua RW yang telah mendapatkan pembekalan mampu mengaplikasikan ilmu mitigasi tersebut di lingkungan mereka. Penguatan kapasitas pengurus sela-sela birokrasi terbawah ini diharapkan menjadi ujung tombak yang tangguh dalam mewujudkan cita-cita besar Kabupaten Sleman, yakni membangun jaringan Kalurahan Tahan Bencana yang mandiri, responsif, dan tanggap darurat. (Giek/KIM Moyudan)




Kalurahan Sumbersari Gelar Tirakatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman

Sleman — Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, menggelar acara tirakatan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kamis malam (14/5/2026). Meski dilaksanakan dalam format yang sederhana karena keterbatasan anggaran, jalannya prosesi doa bersama ini tetap berlangsung khidmat dan penuh dengan makna refleksi.

Peringatan hari jadi tahun ini mengusung tema filosofis “Nggendhong Mikul Murih Rahayuning Sleman”. Slogan Jawa tersebut dimaknai sebagai komitmen bersama untuk saling merawat, membangun, serta memperkuat kepedulian sosial demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Kebersamaan antara birokrasi di tingkat desa dengan warga menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan.

Lurah Sumbersari, Sukadi, menjelaskan bahwa keterbatasan dana sama sekali tidak menyurutkan esensi dari malam tirakatan itu sendiri. Menurutnya, ruang hampa tanpa kemewahan seremonial justru menguatkan fokus utama acara, yaitu bermunajat kepada Tuhan dan mengenang jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar pemerintahan di bumi Sleman.

“Yang lebih penting adalah bermunajat, mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat. Mari kita hening sejenak untuk bersyukur atas perjalanan panjang dan keberkahan usia ke-110 tahun Kabupaten Sleman. Semoga Sleman lebih sejahtera dan maju. Tema tahun ini menegaskan pentingnya persatuan, gotong royong, dan sinergi antara pemerintah kalurahan dan seluruh komponen masyarakat untuk mencapai kemakmuran bersama,” ujar Sukadi dalam sambutannya.

Sukadi juga memanfaatkan momentum ini untuk membakar semangat para pamong desa dan warga agar terus merawat kearifan lokal. Ia mendorong adanya penguatan program pembangunan berbasis kemandirian ekonomi desa demi menciptakan situasi wilayah yang aman, nyaman, tentram (ayem), dan harmonis.

Langkah proaktif Pemerintah Kalurahan Sumbersari ini memanen apresiasi dari jajaran penentu kebijakan di tingkat kapanewon (kecamatan). Pemerintah Kapanewon Moyudan menilai langkah mandiri yang diambil oleh pihak kalurahan menunjukkan tingginya rasa kepemilikan dan nasionalisme lokal terhadap hari lahir daerahnya sendiri.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto, menyampaikan bahwa esensi dari sebuah hari jadi daerah harus ditarik pada koridor evaluasi kinerja pelayanan publik. Kekurangan pada masa lampau harus ditelaah kembali secara saksama agar aparatur pemerintah mampu melahirkan inovasi serta langkah-langkah strategis yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

“Kami atas nama Pemerintah Kapanewon Moyudan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Peringatan hari jadi Sleman adalah momen refleksi, bersyukur, dan memusatkan batin dalam doa untuk para pendiri wilayah. Jadikan kekurangan masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk berinovasi dan mengambil langkah strategis. Mari terus mendukung program pembangunan, menjaga semangat, dan menguatkan gotong royong,” tutur Agung Dwi Maryoto.

Sebagai puncak simbolis dari rasa syukur atas bertambahnya usia Kabupaten Sleman, acara diakhiri dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Lurah Sumbersari yang kemudian diserahkan kepada perwakilan tokoh masyarakat. Rangkaian malam tirakatan tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan secara khusyuk demi keselamatan, kedamaian, dan kemakmuran seluruh warga Sleman, khususnya di wilayah Sumbersari. (Giek/KIM Moyudan)




Atasi Masalah Lingkungan, Kader Jumantik Padukuhan Klinyo Inisiasi Pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri

Sleman — Kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan terus tumbuh dari tingkat akar rumput di wilayah Sleman barat. Langkah nyata ditunjukkan oleh para kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) Padukuhan Klinyo, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, yang menginisiasi pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) tingkat padukuhan. Sedikitnya 30 petugas Jumantik sepakat membangun kelembagaan ini sebagai solusi konkret mengatasi persoalan sampah domestik.

Kesepakatan strategis tersebut tercapai dalam pertemuan rutin kader Jumantik yang digelar di rumah Dukuh Klinyo, Sleman, Kamis (14/5/2026). Dalam pertemuan yang berlangsung interaktif tersebut, fokus utama pembahasan diarahkan pada urgensi pengolahan limbah rumah tangga berbasis masyarakat guna mengubah paradigma warga dari sekadar membuang sampah menjadi memilah sampah sejak dari sumbernya.

Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kalurahan Margoluwih, Suminah, yang hadir memberikan pengarahan, mendorong para kader untuk menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan membakar sampah atau membuangnya ke aliran sungai masih menjadi pekerjaan rumah yang serius dan merusak ekosistem.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Sampah anorganik bisa dipilah karena memiliki nilai ekonomis, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun ikan. Kalau sampah organik dikelola dengan baik menggunakan jugangan atau lubang sampah di pekarangan, hasil komposnya bisa dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani untuk media tanam di rumah masing-masing. Langkah kecil ini akan berdampak besar bagi kebersihan lingkungan kita,” ujar Suminah.

Selain memberikan edukasi teknis pengomposan mandiri, Suminah juga menekankan pentingnya estafet kepedulian kepada generasi muda. Menurutnya, gerakan kebersihan ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya pasokan energi kreatif dari organisasi kepemudaan setempat seperti Karang Taruna.

Gayung bersambut, rencana pembentukan KPSM ini mendapatkan lampu hijau dan dukungan penuh dari jajaran pemerintah padukuhan setempat. Pihak wilayah berkomitmen untuk memberikan fasilitas ruang dan regulasi agar program yang direncanakan, seperti sistem Bank Sampah maupun gerakan Sedekah Sampah, dapat segera dieksekusi secara legal dan terstruktur.

“Kami sangat mendukung pembentukan KPSM di Padukuhan Klinyo. Ke depan kami akan memfasilitasi pertemuan dengan Karang Taruna agar anak-anak muda juga ikut terlibat dalam pengelolaan sampah di wilayah ini. Sinergi antara kader senior dan pemuda sangat penting agar program ini berjalan berkelanjutan dan menciptakan lingkungan yang sehat,” kata Dukuh Klinyo, Jumono.

Selama ini, para kader Jumantik di Padukuhan Klinyo memang dikenal memiliki peran yang sangat strategis sebagai agen perubahan. Kedekatan emosional mereka dengan warga dalam kegiatan pemantauan jentik nyamuk berkala membuat edukasi baru mengenai pemilahan sampah ini diprediksi akan lebih mudah diterima. Gerakan swadaya ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya bertumpu pada program pemerintah, melainkan lahir dari partisipasi aktif masyarakat secara gotong royong. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Malam Tirakatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman di Condongcatur, Momentum Syukur atas Capaian Prestasi Nasional

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar malam tirakatan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman secara sederhana namun sarat akan makna khidmat. Kegiatan yang dipusatkan di Pendopo Kromoredjan Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis malam (14/5/2026), menjadi ruang refleksi sekaligus ajang unjuk capaian prestasi pembangunan wilayah.

Acara yang digelar berdasarkan Surat Edaran Pemerintah Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh jajaran penting, mulai dari Panewu Depok, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Condongcatur, pamong kalurahan, lembaga kemasyarakatan, pengelola BUMKal Nyawiji, hingga unsur TNI dan Polri setempat. Di sela-sela kekhusyukan doa, momentum ini dimanfaatkan untuk mengapresiasi kerja keras warga yang berhasil membawa nama daerah ke kancah nasional.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas keberhasilan Tim Penggerak Posyandu Kalurahan Condongcatur dan TP Posyandu Asparagus II yang sukses menyabet Juara I tingkat regional, dan kini berhak maju mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta di perlombaan tingkat nasional. Prestasi mentereng ini diraih berkat pemenuhan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan nilai tertinggi.

“Semoga Kabupaten Sleman semakin maju, guyub rukun, gemah ripah loh jinawi, dan semakin sejahtera warganya. Pencapaian di bidang kesehatan ini merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat. Selain itu, kami juga bersyukur karena Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Pringwulung sudah beroperasi sejak Januari lalu, serta unit usaha Pertashop kita di Padukuhan Pondok berhasil tercatat sebagai Pertashop terlaris nomor dua di Indonesia,” ujar Reno Candra Sangaji.

Apresiasi terhadap kemajuan dinamis di tingkat desa ini turut disuarakan oleh Panewu Depok, Rahmat Harinawan. Sebagai pejabat yang baru mengemban tugas selama satu bulan di wilayah Depok, ia meminta doa restu serta dukungan dari seluruh pamong kalurahan agar mampu menyelenggarakan pelayanan publik yang prima dan menciptakan situasi wilayah yang aman, nyaman, serta harmonis.

Dalam kesempatan tersebut, Rahmat Harinawan juga membacakan pidato sambutan resmi dari Bupati Sleman, Harda Kiswaya. Melalui sambutan tertulisnya, bupati menegaskan bahwa esensi dari malam tirakatan adalah sebuah laku prihatin dan introspeksi diri untuk menenangkan cipta, rasa, karsa, dan karya di hadapan Tuhan, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.

“Malam tirakatan ini memiliki makna luhur sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Sleman yang kini genap berusia 110 tahun. Pada momentum ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus hidup sederhana, menjunjung tinggi kejujuran, serta memperkuat semangat gotong royong demi mewujudkan Sleman yang maju dan adil, sesuai dengan tema Hari Jadi tahun ini yaitu Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman,” ucap Rahmat Harinawan saat membacakan amanat Bupati Sleman.

Slogan Jawa tersebut mengisyaratkan komitmen bersama antara aparatur pemerintah dan warga untuk saling memikul tanggung jawab tanpa menyerah demi keselamatan dan kesejahteraan daerah. Setelah pembacaan sambutan, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dukuh Gandok, Supriyono Atmojo.

Sebagai puncak simbolis rasa syukur, dilakukan prosesi pemotongan tumpeng oleh Lurah Condongcatur yang kemudian diserahkan langsung kepada Panewu Depok. Seluruh rangkaian acara tumpengan ditutup dengan ramah tamah, di mana para hadirin bersama-sama menikmati hidangan tradisional nasi gudangan lengkap dengan ingkung ayam Jawa dalam suasana hangat penuh kekeluargaan. (Wasana/KIM Depok)