Lestarikan Tradisi Jawa di Era Modern, DPC PPY Tempel Gembleng Profesionalisme Panatacara

Sleman — Upaya menjaga kelestarian budaya Jawa di era modern tidak dapat berjalan optimal tanpa adanya penguatan tata kelola organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Semangat tersebut melandasi pergelaran Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Tempel yang berlangsung khidmat di Pendopo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Kamis malam (14/5/2026).

Pertemuan ini menjadi forum strategis bagi seluruh jajaran pengurus untuk merumuskan arah program kerja organisasi untuk periode 2026–2029. Fokus utama yang diusung adalah mengukuhkan kembali peran vital panatacara (pembawa acara adat Jawa) sebagai pilar pelestarian adat, tata tradisi, dan kebudayaan luhur di tengah dinamika perubahan sosial masyarakat yang serbacepat.

Ketua DPC PPY Tempel, Sih Budi Daryanto, menegaskan bahwa para praktisi kepanatacaraan saat ini dituntut untuk tidak hanya sekadar menguasai pakem budaya, melainkan juga harus adaptif terhadap kemajuan zaman. Dinamika ini memerlukan program kerja yang terarah agar eksistensi profesi ini tetap mendapat tempat di hati generasi muda.

“Panatacara bukan sekadar pemandu acara biasa, tetapi juga penjaga tata nilai, etika, dan kebudayaan masyarakat. Karena itu, organisasi harus terus meningkatkan kompetensi anggota agar tetap relevan dan dipercaya masyarakat luas. Rakercab ini menjadi momentum penting bagi kami untuk menyusun program kerja yang lebih terarah, terukur, dan memberi manfaat nyata,” ujar Sih Budi Daryanto di sela-sela memimpin jalannya rapat kerja.

Guna mewujudkan hal tersebut, DPC PPY Tempel berkomitmen memperkuat program kerja internal melalui pelatihan kepanatacaraan rutin yang memadukan teori mendalam dan praktik lapangan. Selain itu, pembenahan tata kelola administrasi organisasi dan registrasi keanggotaan menjadi prioritas untuk mencetak kader-kader baru yang profesional sekaligus memahami akar budaya lokal mereka secara komprehensif.

Langkah penguatan kapasitas ini mendapat dukungan penuh dari unsur penasihat organisasi. Penasihat DPC PPY Tempel, Abdullah Shodiq, menyampaikan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memutus rantai kepunahan tradisi lokal akibat derasnya arus globalisasi.

“Budaya akan tetap hidup dan lestari jika proses regenerasinya berjalan dengan baik. Karena itu, program kaderisasi dan pembinaan intensif terhadap generasi muda menjadi hal yang sangat krusial bagi kami, agar nilai-nilai luhur budaya Jawa tidak terputus begitu saja pada generasi saat ini,” ungkap Abdullah Shodiq dalam sesi pandangan umum.

Rakercab ini juga sekaligus menjadi ajang konsolidasi internal untuk mengukuhkan jajaran pengurus baru periode 2026–2029 yang kini dinakhodai oleh Sih Budi Daryanto selaku Ketua, Estri Putantri sebagai Sekretaris, dan Wakini sebagai Bendahara. Kinerja mereka juga akan disokong oleh sejumlah divisi khusus mulai dari bidang organisasi, pendidikan dan latihan (diklat), hingga divisi hubungan masyarakat.

Apresiasi tinggi turut disuarakan oleh Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, yang bertindak sebagai pelindung paguyuban. Pemerintah kapanewon menilai keberadaan PPY memiliki kontribusi konkret dalam menjaga kohesi sosial, merawat semangat gotong royong, serta menumbuhkan kepedulian di tengah masyarakat.

“Paguyuban seperti PPY memiliki peran penting menjaga nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Kami berharap Rakercab ini mampu melahirkan program nyata yang bermanfaat bagi warga serta memperkuat sinergi antara organisasi masyarakat dengan pemerintah kapanewon. Kemajuan wilayah tidak bisa berjalan sendiri, melainkan butuh kolaborasi erat agar tercipta lingkungan yang harmonis, maju, dan berdaya saing,” tutur Rasyid Ratnadi Sosiawan. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Refleksi Kenaikan Yesus Kristus, Umat Paroki Nandan Diajak Jadi Pembawa Damai di Era Digital

Sleman — Ratusan umat Katolik memadati Gereja Paroki Santo Alfonsus Maria de Liguori Nandan, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Kamis (14/5/2026). Peribadatan yang dimulai pukul WIB ini berlangsung penuh sukacita, khidmat, dan khusyuk dengan iringan lagu-lagu liturgis yang dibawakan oleh kelompok koor dari Lingkungan Kututegal.

Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus yang dirayakan oleh umat Katolik di seluruh dunia ini memuat esensi penting mengenai penyertaan Tuhan melalui kasih dan Roh Kudus setelah Ia bangkit dari kematian. Di tengah laju perkembangan zaman yang serbacepat, momentum keagamaan ini sekaligus menjadi refleksi bersama bagi umat untuk menghadapi tantangan era digital. Penggunaan teknologi yang tidak bijak dinilai rentan melunturkan kepedulian sosial serta memicu maraknya penyebaran berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian di tengah masyarakat.

Pastor Paroki Nandan yang memimpin perayaan ekaristi tersebut, Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, dalam khotbahnya menjelaskan bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke surga tidak boleh diartikan sebagai momen perpisahan yang meninggalkan kesedihan. Sebaliknya, peristiwa tersebut merupakan penyerahan estafet tugas suci kepada para murid untuk melanjutkan karya keselamatan di dunia melalui tindakan nyata yang membawa kedamaian.

“Kenaikan Yesus bagi para murid adalah suatu estafet tugas di dunia ini di mana Yesus sudah menyelesaikannya. Tuhan Yesus naik meninggalkan manusia, namun para murid tidak merasa kehilangan karena mereka mempunyai pengharapan yang ganda, bahwa penolong yang lain akan diutus serta Tuhan Yesus sendiri akan datang kembali. Hal ini membuka jalan keselamatan dan harapan baru bagi umat beriman,” ujar Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi di hadapan para jemaat.

Ia juga mengingatkan bahwa status sebagai murid Yesus harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berselancar di dunia maya. Umat Katolik diharapkan mampu memanfaatkan gawai dan platform digital sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, pengampunan, serta pengharapan yang menguatkan sesama, bukan justru menjadi bagian dari konflik sosial.

Melalui perayaan yang penuh kebersamaan ini, seluruh jemaat yang hadir dari berbagai lingkungan di Paroki Nandan diajak untuk mempererat tali persaudaraan lintas iman di wilayah Sleman. Kehadiran aktif umat menjadi bukti bahwa semangat iman tetap hidup dan adaptif terhadap tantangan zaman. Perayaan ekaristi pun diakhiri dengan berkat penutup dan perutusan agar umat siap menjadi saksi kasih dan membawa terang di tengah keluarga serta masyarakat luas. (Edy/KIM Pijar Mlati)




Perluas Akses Transportasi Massal, Trans Jogja Jalur 13 Resmi Diperpanjang hingga Margoluwih Seyegan

Sleman — Kabar gembira bagi masyarakat di wilayah Sleman bagian barat yang mendambakan kemudahan mobilitas menuju pusat kota. Layanan bus transid massal Trans Jogja Jalur 13 kini resmi memperpanjang jangkauan operasionalnya hingga Stadion TGP Margoluwih, Kapanewon Seyegan. Langkah strategis ini diambil guna memperluas konektivitas dan memberikan alternatif transportasi publik yang murah serta aman bagi warga di wilayah penyangga.

Perluasan rute tersebut dipaparkan secara detail dalam kegiatan sosialisasi Penanganan Aset Prasarana Angkutan yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) DIY di GOR Kalurahan Margoluwih, Sleman, Rabu (13/5/2026). Kebijakan memperpanjang trayek yang semula hanya melayani rute Godean–Malioboro ini disambut dengan penuh suka cita oleh jajaran pemerintah kalurahan, pelaku usaha mikro, hingga warga setempat yang selama ini mengandalkan kendaraan pribadi.

Pamong Kalurahan Margoluwih, Jumono, mengungkapkan bahwa kehadiran armada bus kuning ini di wilayahnya akan memotong biaya transportasi harian warga secara signifikan. Akses langsung menuju kawasan perkotaan kini tidak lagi menjadi kendala jarak bagi masyarakat Seyegan.

“Antusiasme warga sangat besar karena akses menuju pusat kota kini semakin mudah dan terjangkau. Kehadiran Trans Jogja di Margoluwih ini merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat yang mendambakan angkutan umum yang andal untuk aktivitas kerja, sekolah, maupun berdagang,” ujar Jumono di sela-sela kegiatan sosialisasi.

Dengan adanya kebijakan baru ini, titik akhir perhentian Jalur 13 yang sebelumnya berada di kawasan Pusat Kuliner Belut Godean kini dipindahkan ke Stadion TGP Margoluwih. Guna menunjang operasional, Dishub DIY bersama instansi terkait mulai memasang fasilitas pendukung berupa rambu bus stop dan halte portabel di beberapa titik baru. Demi kelancaran lalu lintas dan keselamatan, penumpang dari arah Margoluwih yang hendak menuju Malioboro diimbau untuk tertib menunggu armada di rambu bus stop sisi utara jalan.

Dukungan penuh terhadap perluasan moda transportasi ini juga disuarakan oleh kalangan legislatif. Anggota Komisi C DPRD DIY, Haris Sugiharta, menilai bahwa pembukaan rute baru ini tidak sekadar memindahkan penumpang, melainkan memiliki multiplier efek terhadap roda perekonomian lokal di Sleman barat.

“Penambahan rute dan halte bukan sekadar layanan transportasi, tetapi bagian dari pemerataan pembangunan dan akses ekonomi warga. Ketika aksesibilitas terbuka, interaksi ekonomi antara wilayah penyangga seperti Seyegan dengan pusat kota akan berjalan lebih dinamis, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutur Haris Sugiharta.

Untuk menjamin keandalan layanan sepanjang tahun 2026, Direktur Utama PT Anindya Mitra Internasional (AMI) selaku operator, Priyatno Bambang Hernowo, menegaskan kesiapan armadanya. Pihaknya menyiagakan 116 armada aktif yang didukung oleh 12 armada cadangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di rute-rute gemuk, termasuk Jalur 13.

Operasional Trans Jogja Jalur 13 ini tetap melayani masyarakat mulai pukul WIB hingga WIB dengan tarif flat yang bersahabat. Di era digital ini, masyarakat juga dimudahkan karena dapat memantau pergerakan bus secara real-time, mengecek jadwal terkini, hingga melakukan pembayaran nontunai melalui aplikasi resmi Trans Jogja. Pihak Dishub DIY pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan fasilitas halte yang sudah dibangun agar kenyamanan bertransportasi tetap terjaga. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Hadiri Tahlilan Warga, Bupati Sleman Tekankan Pentingnya Menjaga Doa dan Silaturahmi

Sleman — Di tengah padatnya agenda pemerintahan, Bupati Sleman, Harda Kiswaya menunjukkan kepedulian dan empatinya dengan menghadiri acara tahlilan tiga harian atas wafatnya Aris Lukito, ayahanda dari Lurah Condongcatur. Acara doa bersama tersebut berlangsung khidmat di rumah duka kawasan Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, Rabu malam (13/5/2026).

Dalam takziah tersebut, Bupati Sleman hadir didampingi oleh Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Abu Bakar, serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Sukarmin. Kehadiran para pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman ini disambut hangat oleh jajaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga sekitar yang memadati rumah duka selepas salat Isya.

Saat memberikan sambutan, Harda menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya almarhum. Ia mengingatkan keluarga besar yang ditinggalkan untuk tetap tabah dan menjadikan momentum duka ini sebagai pemersatu ikatan kekeluargaan dengan cara merawat warisan kebaikan almarhum semasa hidup.

“Keluarga yang ditinggalkan agar senantiasa mendoakan almarhum, khususnya sehabis salat, menjaga tradisi ziarah kubur, serta terus mempererat silaturahmi keluarga. Kebaikan-kebaikan almarhum semoga dapat terus dilanjutkan dan menjadi amal jariyah. Kami mendoakan agar almarhum diampuni segala dosanya dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujar Harda di hadapan para jemaah tahlil.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mewakili keluarga besar almarhum menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran jajaran pemerintah kabupaten. Menurutnya, kedatangan pucuk pimpinan daerah ke rumah duka menjadi kekuatan moral tersendiri bagi keluarga dalam menghadapi masa-masa sulit pasca-kehilangan orang tua tercinta.

Reno juga membalas perhatian tersebut dengan memanjatkan doa kebaikan untuk kelancaran jalannya roda pemerintahan di tingkat kabupaten. Ia berharap keharmonisan hubungan antara pimpinan daerah dan aparatur di tingkat bawah dapat terus terjaga demi optimalnya pelayanan publik.

“Atas nama keluarga dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Bupati Sleman beserta jajaran. Kehadiran ini menjadi penguat dan bentuk perhatian yang sangat berarti bagi keluarga kami. Semoga Bapak Bupati Sleman selalu sehat, diberikan keberkahan, kelancaran, dan kemudahan dalam memimpin Kabupaten Sleman demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Reno Candra Sangaji.

Aksi sosial dan pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh Bupati Sleman ini mendapat apresiasi positif dari warga yang hadir. Kehadiran pejabat publik dalam momen-momen personal dinilai mampu meruntuhkan sekat birokrasi, sekaligus memperkuat sinergi emosional antara jajaran Pemkab Sleman dengan pemerintah kalurahan setempat hingga ke tingkat akar rumput. Acara tahlilan tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. (Wasana/KIM Depok)




Dinas PMK Sleman Gelar Bimtek RW: Perkuat Peran RW dalam Validasi Data Kemiskinan

Sleman – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) RW dengan tema Penguatan Pemahaman RW Sebagai Ujung Tombak Validasi dan Verifikasi Data. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (13/5/2026), di Ruang Oproom Dinas PMK Sleman.

Materi disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Surastono Ari Saptoto. Acara tersebut bertujuan memperkuat kapasitas RW dalam proses pemutakhiran data kemiskinan agar lebih akurat dan akuntabel.

Surastono menjelaskan Dasar Hukum Pemutakhiran Data Kemiskinan. Regulasi penetapan warga miskin / Keluarga miskin berdasarkan padamPergub DIY Nomor 63 Tahun 2023 tentang Pedoman Musyawarah Kelurahan/Kalurahan dalam proses usulan data terpadu Kesejahteraan Sosial. Selanjutnya Perda Sleman Nomor 5 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Kemiskinan.

“Dan yang ketiga yaitu Kep. Dinas Sosial Sleman No. 21/ tentang Juknis Pelaksanaan Musyawarah Padukuhan dan Musyawarah Kalurahan Pemutakhiran Data Kemiskinan Tahun 2025,” ujarnya.

Lebih lanjut Surastono menyebut yang bisa masuk Data Kemiskinan Sleman meliputi data kemiskinan diperuntukkan bagi penduduk Sleman, dibuktikan dengan KK dan KTP beralamat di Sleman, baik tinggal tetap, kontrak, maupun ngundang. Jika alamat domisili berbeda dengan KK/KTP, pengusulan tetap bisa dilakukan sesuai tempat tinggal saat ini.

Adapun kriteria utamanya ialah mencakup warga yang tidak memiliki tempat berteduh atau hidup berpindah-pindah tanpa bangunan permanen. Seluruh usulan wajib memenuhi kriteria kemiskinan Kementerian Sosial RI.

Surastono juga menjelaskan mekanisme Musyawarah Padukuhan dan Kalurahan (Musduk) yang diselenggarakan pemerintah kalurahan dengan melibatkan RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, perwakilan keluarga miskin, dan kader sosial. 

“Sedangkan Musyawarah Kalurahan (Muskal) diselenggarakan BPKal dengan melibatkan lurah, TPK, BPKal, Babinsa, Babinkamtibmas, pendamping PKH, TPSK, dan unsur masyarakat lainnya,” tandas Ari.

Ia pun menerangkan bahwa Musduk bertugas memutakhirkan data keluarga. Keluarga yang sebelumnya masuk data kemiskinan dan kondisinya tidak berubah akan diberi keterangan layak. Sementara untuk keluarga dengan perubahan data atau usulan baru, dilakukan verifikasi dan validasi lapangan, kemudian dimasukkan ke Sistem Informasi Penanggulangan Kemiskinan SIMNANGKIS.

“Seluruh KK usulan baru wajib diverifikasi dan dientri ke SIMNANGKIS. Sementara keluarga yang dinyatakan mampu, meninggal, atau pindah ke luar Sleman wajib dicoret dari sistem agar data di SK Bupati tetap valid,” ujar Ari.

Data yang valid menjadi dasar akses berbagai program pemerintah, di antaranya pendaftaran siswa baru jalur afirmasi. SMP Negeri hanya untuk KK miskin, SMA/SMK Negeri untuk KK miskin dan rentan miskin.

Kemudian untuk usulan beasiswa pendidikan dasar SD dan SMP, serta beasiswa mahasiswa Sleman Pintar bagi lulusan SMA/sederajat.

Selanjutnya di bidang Kesehatan, peserta BPJS Kesehatan dari pemerintah pusat untuk keluarga yang masuk data kemiskinan.

Pemerintah daerah pun berharap dengan peran aktif RW dalam validasi dan verifikasi, data kemiskinan Sleman menjadi lebih tepat sasaran sehingga bantuan dan program penanggulangan kemiskinan bisa sampai ke masyarakat yang membutuhkan. (Giek / KIM Moyudan)