Perkuat Pendampingan Disabilitas Mental, Balai RSBKL Yogyakarta Sosialisasikan Prosedur Rehabilitasi di Condongcatur

Sleman — Penanganan penyandang disabilitas mental memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat di tingkat akar rumput. Guna memperkuat pemahaman tersebut, Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (RSBKL) Yogyakarta menggelar penyuluhan mengenai layanan kesejahteraan dan pendampingan psikososial di Ruang Wacanaloka, Kalurahan Condongcatur, Sleman, Senin (11/5/2026).

Hadir sebagai narasumber, pekerja sosial dari Balai RSBKL Bina Laras, Rudi Antoro, menjelaskan fungsi strategis lembaga tersebut dalam menangani Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Ia memaparkan bahwa RSBKL Yogyakarta memiliki dua unit layanan utama, yakni Bina Karya di Tegalrejo yang fokus pada pemberdayaan sosial, serta Bina Laras di Purwomartani yang khusus menangani rehabilitasi mental dengan kapasitas saat ini mencapai 200 orang.

Tugas utama Balai RSBKL adalah memberikan perlindungan, jaminan sosial, serta rehabilitasi bagi warga yang membutuhkan pemulihan psikososial. Namun, Rudi menekankan bahwa terdapat prosedur dan syarat tertentu agar calon PPKS dapat masuk ke balai, mulai dari batasan usia 17 hingga 59 tahun, rujukan resmi dari dinas sosial terkait atau pihak kalurahan, hingga adanya penanggung jawab keluarga.

“Kami memberikan pendampingan yang terintegrasi, namun keterlibatan masyarakat dalam proses awal sangat menentukan. Syarat utama bagi penyandang disabilitas mental adalah adanya surat keterangan jalan dari rumah sakit jiwa dan kesediaan untuk ditempatkan di balai. Ini penting agar proses rehabilitasi berjalan efektif dan terukur sesuai dengan kondisi masing-masing individu,” ujar Rudi Antoro di hadapan para kader kesehatan jiwa.

Penyuluhan ini secara khusus menyasar para Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan kader jiwa di wilayah Condongcatur. Tujuannya adalah memberikan pembekalan agar para relawan di lapangan memiliki standar prosedur yang jelas saat menemukan kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP). Dengan pemahaman yang baik mengenai peran RSBKL, para kader diharapkan dapat melakukan koordinasi lintas sektor bersama Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) secara lebih cepat dan akurat.

Selain aspek administratif, sosialisasi ini juga menekankan pentingnya pendampingan pascarawat jalan. Balai RSBKL berperan sebagai jembatan bagi penyintas agar mereka tidak hanya sehat secara medis, tetapi juga siap secara mental dan sosial untuk kembali ke tengah masyarakat. Keberadaan balai ini diharapkan menjadi solusi bagi keluarga yang memiliki keterbatasan dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan mental kronis.

“Kami berharap para kader yang bertugas di lapangan semakin paham bagaimana alur koordinasi dengan RSBKL. Jika ada permasalahan di wilayah, kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar warga yang menjadi sasaran program mendapatkan pelayanan yang tepat dan berkelanjutan. Mari kita pastikan bahwa setiap warga negara mendapatkan haknya atas perlindungan sosial yang layak,” pungkas Rudi Antoro. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Pusat Rehabilitasi YAKKUM Dorong Pemulihan Inklusif bagi ODGJ di Condongcatur

Sleman — Kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental terus diperkuat melalui pendekatan berbasis komunitas. Pusat Rehabilitasi YAKKUM bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar penyuluhan sosial mengenai kesehatan jiwa di Ruang Wacanaloka, Kalurahan Condongcatur, Sleman, Senin (11/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengikis stigma negatif serta mendorong peran aktif masyarakat dalam mendampingi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) maupun Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP).

Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran penting, termasuk Anggota DPRD DIY Sri Muslimatun, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial DIY Tri Susilastuti, Lurah Condongcatur, hingga para Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Fokus utama pertemuan ini adalah memberikan edukasi berkelanjutan mengenai pentingnya dukungan sosial agar para penyintas gangguan jiwa mendapatkan lingkungan yang suportif dan manusiawi untuk proses pemulihan mereka.

Narasumber dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Ayun Wredyningtyas, menjelaskan bahwa kesehatan jiwa masih menjadi persoalan besar yang sering terabaikan karena rendahnya pemahaman masyarakat. Merujuk pada Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 Pasal 76, ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu dan terjangkau tanpa harus menerima diskriminasi dari lingkungan sekitarnya.

“Kesehatan jiwa memerlukan perhatian bersama karena kesadaran masyarakat terkait depresi masih rendah. Kita perlu membangun Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat, di mana sumber daya lokal diberdayakan untuk memberikan dukungan medis, sosial, hingga ekonomi bagi mereka yang membutuhkan. Langkah ini sangat penting agar tercipta pembangunan kesehatan jiwa yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia,” ujar Ayun Wredyningtyas di hadapan para kader kesehatan.

Selain membahas faktor penyebab gangguan jiwa dan peran keluarga, Ayun juga menyoroti risiko kelelahan emosional atau burnout yang kerap dialami oleh para pengasuh ODGJ. Menurutnya, lingkungan yang peduli tidak hanya berfokus pada penyintas, tetapi juga memberikan ruang bagi para pengasuh agar tetap memiliki kesehatan mental yang stabil. Hal ini dinilai krusial agar proses pendampingan di tingkat keluarga dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam sesi dialog, perhatian khusus juga diberikan pada kondisi kesehatan mental generasi muda yang saat ini dinilai sangat rentan terhadap tekanan sosial dan psikologis. Ayun menekankan bahwa pola komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama agar remaja memiliki ruang untuk bercerita dan mendapatkan dukungan emosional yang tepat sebelum tekanan tersebut berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.

“Mental health bagi remaja saat ini sangat krusial karena mereka menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks. Perhatian keluarga dan lingkungan serta komunikasi yang baik adalah fondasi utama agar mereka merasa memiliki ruang aman untuk berbagi beban emosional. Kita harus memastikan mereka mendapatkan dukungan positif sejak dini agar tidak merasa sendirian menghadapi masalahnya,” tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi warga Condongcatur untuk lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan tidak ada lagi tindakan pengucilan terhadap penyintas gangguan jiwa, melainkan upaya bersama untuk merangkul dan membantu mereka kembali berdaya di tengah masyarakat. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Sapa Warga Condongcatur, Anggota DPRD DIY Tekankan Pentingnya Mencintai Diri Sendiri demi Ketahanan Keluarga

Sleman — Masalah kesehatan jiwa kini bukan lagi menjadi hal tabu, melainkan fondasi utama dalam membangun ketahanan keluarga di era digital yang penuh tekanan. Hal tersebut mengemuka dalam acara Penyuluhan Sosial Kesehatan Jiwa yang diselenggarakan oleh DPRD Provinsi DIY bekerja sama dengan Dinas Sosial DIY di Ruang Wacanaloka, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Senin (11/5/2026).

Hadir sebagai narasumber utama, anggota DPRD DIY, Muslimatun, membawa suasana penyuluhan menjadi hangat dan interaktif. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan kesehatan mental saat ini jauh lebih berat, terutama bagi para ibu dan generasi muda yang terpapar arus informasi tanpa henti. Menurutnya, gangguan kecemasan dan depresi sering kali bermula dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, sehingga kepekaan terhadap perubahan perilaku anggota keluarga menjadi sangat krusial.

Muslimatun mengajak para kader kesehatan dan tokoh masyarakat yang hadir untuk mulai menormalisasi pembicaraan mengenai beban mental. Ia berpendapat bahwa keterbukaan dalam berkomunikasi di dalam rumah adalah langkah awal pencegahan gangguan jiwa yang lebih berat.

“Kesehatan jiwa itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan tunggu sampai parah. Kalau kita merasa lelah secara mental, bicaralah. Jangan dipendam sendiri. Kita harus sadar bahwa meminta bantuan atau sekadar bercerita adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan,” ujar Muslimatun di hadapan puluhan peserta yang hadir.

Lebih lanjut, ia menyoroti konsep self-love atau mencintai diri sendiri sebagai syarat mutlak agar seseorang mampu memberikan kasih sayang yang berkualitas kepada anak dan pasangan. Muslimatun meyakini bahwa seorang ibu yang bahagia dan sehat secara mental akan secara otomatis menciptakan ekosistem rumah tangga yang harmonis dan stabil.

Sebagai wakil rakyat, Muslimatun menegaskan bahwa DPRD Provinsi DIY terus berkomitmen mengawal kebijakan yang pro terhadap kesehatan mental melalui tiga strategi utama. Langkah tersebut meliputi alokasi anggaran untuk program penyuluhan hingga tingkat kalurahan, mendorong optimalisasi layanan konsultasi psikologi yang terjangkau di Puskesmas, serta melakukan edukasi berkelanjutan untuk menghapus stigma negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari warga setempat yang selama ini merasa sungkan membicarakan isu kesehatan mental. Salah satu peserta, Nur, mengaku edukasi langsung dari legislator ini sangat membuka wawasan dan meruntuhkan anggapan bahwa masalah kejiwaan identik dengan kegilaan.

“Biasanya kita takut kalau bicara soal stres atau jiwa karena dianggap gila. Tapi penjelasan tadi sangat menyejukkan. Ternyata kuncinya adalah komunikasi di rumah dan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri sebelum mengurus orang lain,” ungkap Nur.

Melalui penyuluhan ini, diharapkan warga Condongcatur dan masyarakat DIY pada umumnya semakin peduli terhadap kesehatan mental sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kehadiran wakil rakyat dalam isu personal ini membuktikan bahwa pemerintah dan legislatif mulai menaruh perhatian serius pada kesejahteraan psikologis masyarakat sebagai modal pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Lidya/KIM Depok)




Pendidik PAUD Condongcatur Asah Kemampuan Lewat Workshop Mendongeng dan Literasi

Sleman — Upaya penguatan literasi dan pendidikan karakter anak usia dini terus digencarkan di tingkat kalurahan. Paguyuban TK PKK Kalurahan Condongcatur menggelar Workshop Mendongeng bagi pendidik PAUD yang berlangsung di ruang Sasana Wicara, Kantor Kalurahan Condongcatur, Sleman, Senin (11/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui metode bercerita yang edukatif dan menyenangkan.

Sebanyak 25 guru TK PKK dari seluruh wilayah Condongcatur antusias mengikuti pelatihan yang menghadirkan narasumber ahli, Liana Azizah. Dalam paparannya, Liana menekankan bahwa mendongeng bukan sekadar hiburan semata, melainkan instrumen pendidikan dan spiritual yang mendalam bagi perkembangan kognitif serta emosional anak. Teknik mendongeng yang interaktif dinilai jauh lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral dibandingkan metode pengajaran konvensional.

“Bercerita adalah lahan ibadah. Kata-kata yang disampaikan akan menjadi doa, sehingga penting bagi para pendidik untuk menanamkan nilai karakter kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Melalui dongeng, pesan-pesan kebaikan akan lebih mudah diserap dan membekas dalam ingatan anak hingga mereka dewasa nanti,” jelas Liana Azizah di hadapan para peserta.

Sejalan dengan semangat tersebut, Ibu PAUD sekaligus Ketua TP Posyandu Kalurahan Condongcatur, Dewi Nurlaila, memperkenalkan inovasi baru bernama program “Condongcatur Bertutur”. Inovasi ini dirancang sebagai gerakan masif untuk membangun budaya membaca dan bercerita sejak dini, baik dalam lingkup sekolah maupun keluarga. Dewi menekankan bahwa literasi anak harus didukung oleh pelayanan Posyandu yang terintegrasi dengan standar pelayanan minimal guna memastikan tumbuh kembang anak berjalan menyeluruh.

Menurut Dewi, keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di sekolah. Diperlukan sinergi yang kuat antara lingkungan pendidikan, peran aktif orang tua di rumah, serta dukungan masyarakat sekitar. Program “Condongcatur Bertutur” diharapkan menjadi payung besar bagi kolaborasi tersebut agar anak-anak di wilayahnya memiliki kecakapan komunikasi yang baik dan berkarakter kuat.

“Kami meluncurkan Condongcatur Bertutur sebagai gerakan bersama untuk membangun budaya membaca dan bercerita sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Kami percaya literasi anak hanya bisa tumbuh optimal jika ada kolaborasi erat antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar agar anak-anak Condongcatur tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, komunikatif, dan berkarakter,” ungkap Dewi Nurlaila.

Workshop ini berlangsung sangat interaktif, di mana para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik mendongeng ekspresif. Penggunaan media kreatif dan permainan suara menjadi fokus latihan untuk menarik perhatian anak didik. Melalui peningkatan kompetensi ini, para guru PAUD diharapkan mampu menciptakan suasana kelas yang lebih hidup, sehingga budaya literasi dapat tumbuh subur di Kalurahan Condongcatur secara berkelanjutan. (Wasana/KIM Depok)




Dominasi Kapanewon Depok, Borong Tiga Medali Emas dan Sabet Juara Umum Catur PORKAB Sleman 2026

Sleman — Kapanewon Depok mengukuhkan dominasinya di cabang olahraga catur pada Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Sleman 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung sengit selama tiga hari di Gedung OpRoom Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Depok sukses menyabet predikat juara umum setelah mengamankan tiga medali emas dari empat kategori yang dipertandingkan.

Perhelatan yang digelar mulai 8 hingga 10 Mei 2026 ini diikuti oleh delegasi pecatur terbaik dari 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman. Kategori yang diperlombakan meliputi beregu putra, beregu putri, perorangan putra, dan perorangan putri. Sejak babak awal, para atlet menunjukkan konsentrasi tinggi dan strategi mumpuni, namun tetap menjunjung tinggi semangat persaudaraan antardaerah.

Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Sleman, Nuradi Indrawijaya, menegaskan bahwa PORKAB merupakan instrumen penting untuk memetakan kualitas atlet di tingkat bawah. Menurutnya, kemenangan Depok adalah hasil dari pembinaan yang berkelanjutan, namun ia juga mencatat adanya talenta-talenta baru dari kapanewon lain yang mulai muncul ke permukaan.

“Pekan olahraga ini bukan hanya ajang kompetisi untuk mencari juara, tetapi juga ruang pembinaan dan sarana menggali potensi atlet daerah yang diharapkan mampu mengharumkan nama Kabupaten Sleman di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa olahraga catur terus berkembang dan mendapat tempat di hati masyarakat,” ujar Nuradi Indrawijaya saat acara penutupan, Minggu (10/5/2026).

Senada dengan hal tersebut, Ketua KONI Kabupaten Sleman, Haris Sutarta, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kompetisi yang berjalan tertib. Ia mengingatkan bahwa PORKAB tahun ini memiliki nilai strategis karena bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-110, sekaligus menjadi ajang seleksi menuju PORDA DIY XVIII yang akan digelar di Kabupaten Kulon Progo.

“Kami berharap Percasi Sleman dapat mempertahankan prestasi juara umum cabang catur serta meningkatkan perolehan medali pada PORDA mendatang. Kejuaraan ini menjadi pemanasan yang sangat baik untuk mengukur kesiapan mental dan teknik para atlet sebelum terjun ke level provinsi,” tegas Haris Sutarta.

Kemenangan mutlak Depok diraih melalui kategori beregu putra, serta dua gelar juara di sektor perorangan. Anawening Rahajeng menjadi yang terbaik di kategori perorangan putri, sementara Keny Horasino Bach sukses mengamankan podium utama di kategori perorangan putra. Satu kategori lainnya, yakni beregu putri, berhasil dimenangkan oleh Kapanewon Kalasan yang tampil mengejutkan mengungguli Sayegan dan Tempel.

Koordinator Wasit PORKAB Catur Sleman 2026, Achmad Ridlo, turut menyampaikan ucapan selamat kepada para peraih medali. Ia berharap hasil ini menjadi motivasi bagi seluruh pecatur Sleman untuk terus berlatih, mengingat persaingan di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta akan jauh lebih kompetitif. Seluruh medali dan penghargaan telah diserahkan pada acara penutupan yang sekaligus menjadi ajang evaluasi teknis bagi para pelatih dan ofisial. (Kusnadi/KIM Berbah)