Tekan Angka Gangguan Mental di Wilayah Urban, Kalurahan Condongcatur Perkuat Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur mengambil langkah proaktif dalam merespons dinamika sosial wilayah perkotaan yang kian kompleks dengan menyelenggarakan Penyuluhan Sosial Kesehatan Jiwa. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Wacanaloka, Kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur, Sleman, Senin (11/5/2026), bertujuan untuk memutus rantai stigma negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sekaligus mendeteksi dini risiko depresi di masyarakat.

Karakteristik wilayah Kapanewon Depok, khususnya Condongcatur, dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap permasalahan kesehatan mental akibat tekanan ekonomi dan sosial yang dinamis. Kepala Bidang Dinas Sosial DIY, Tri Susilastuti, menegaskan bahwa kompleksitas masalah di wilayah urban ini secara langsung berkorelasi dengan peningkatan potensi gangguan jiwa, sehingga diperlukan kesadaran kolektif untuk melakukan pencegahan sejak dini.

Narasumber dari PRYYAKUM, Ayum Wrediningtyas, memaparkan data yang menunjukkan angka risiko gangguan jiwa di wilayah Depok tergolong tinggi. Ia menyoroti fenomena depresi pada kelompok usia muda yang saat ini menjadi perhatian serius karena berisiko besar meningkat menjadi gangguan jiwa berat jika tidak segera ditangani. Sinyal psikologis seperti kecemasan berlebih, perubahan emosi yang drastis, hingga gangguan tidur harus menjadi kewaspadaan bersama.

“Depresi pada anak muda saat ini menjadi perhatian serius karena sangat berisiko meningkat menjadi gangguan jiwa. Gejala awal yang patut diwaspadai meliputi kecemasan berlebih, mudah marah atau muring, serta gangguan tidur. Ini adalah sinyal psikologis dari tubuh kita yang harus segera direspon. Kesehatan jiwa bukan hanya urusan individu, tapi memengaruhi kesejahteraan masyarakat secara luas. Kita harus terus bersemangat dan berkolaborasi untuk menekan angka gangguan jiwa ini,” ujar Ayum Wrediningtyas.

Selain deteksi dini, fokus penyuluhan ini juga mengarah pada penguatan Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat (RBM). Pendekatan ini dinilai efektif untuk memberdayakan ODGJ secara medis, sosial, dan ekonomi agar mereka dapat kembali diterima di tengah lingkungan tanpa diskriminasi. Ayum menekankan bahwa stigma negatif yang selama ini melekat pada ODGJ harus dihilangkan melalui edukasi yang berkelanjutan.

Anggota DPRD Provinsi DIY, Muslimatun, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan arahan mengenai pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan sosial yang paripurna harus mencakup pemenuhan kebutuhan material, sosial, hingga spiritual. Menurutnya, peran legislatif sangat krusial dalam mendukung program kesehatan jiwa melalui fungsi penganggaran dan pembentukan aturan daerah yang inklusif.

“Tujuan utama kita adalah memastikan masyarakat tidak hanya bertahan hidup, tetapi mampu berkembang secara layak dan memiliki standar kehidupan yang bermanfaat. Melalui fungsi penganggaran di APBD dan pengawasan program di lapangan, kami berkomitmen memastikan kebijakan sosial dan kesehatan jiwa ini berjalan efektif hingga ke tingkat akar rumput agar tercipta lingkungan yang peduli pada kesehatan mental,” tegas Muslimatun.

Melalui sinergi antara pemerintah kalurahan, Dinas Sosial, lembaga legislatif, dan masyarakat, Condongcatur diharapkan menjadi pelopor wilayah yang inklusif bagi penyandang gangguan kesehatan jiwa. Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut pada aksi nyata pendampingan masyarakat untuk menciptakan ketahanan mental yang kuat di era modern. (Lidya/KIM Depok)




Tekan Kriminalitas Jalanan, Samapta Polsek Gamping Perketat Patroli Malam di Jalur Utama

Sleman — Jajaran Samapta Polsek Gamping meningkatkan intensitas pengawasan wilayah melalui patroli mobiling dan stasioner guna mengantisipasi tindak kejahatan jalanan. Personel kepolisian menyisir sepanjang Jalan Wates hingga Jalan Siliwangi atau Ring Road Barat Gamping sejak Minggu malam (10/5/2026) hingga dini hari untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.

Fokus patroli kali ini menyasar titik-titik rawan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), kawasan pertokoan, objek vital, hingga area yang minim penerangan. Dengan menggunakan kendaraan dinas, petugas bergerak menyisir ruas jalan utama untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan, sekaligus memberikan rasa aman bagi warga yang masih beraktivitas di malam hari.

Kapolsek Gamping, Bowo Susilo, menegaskan bahwa langkah preventif ini sangat krusial untuk mencegah tindak kriminalitas seperti pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), hingga pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Kehadiran fisik petugas di lapangan diharapkan mampu menjadi penghalang bagi siapa pun yang berniat melakukan aksi kriminal di wilayah hukum Polsek Gamping.

“Kehadiran polisi di lapangan pada jam-jam rawan dinilai sangat penting untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan. Langkah tersebut menjadi bentuk komitmen kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan lingkungan secara menyeluruh agar masyarakat merasa terlindungi,” ujar Bowo Susilo saat memberikan keterangan terkait pengamanan wilayah.

Selain mengantisipasi tindak pidana, petugas juga melakukan pemantauan ketat untuk mencegah gangguan ketertiban lainnya, seperti aksi balap liar, tawuran antar kelompok, hingga konsumsi minuman keras di tempat umum. Pemeriksaan situasi dilakukan secara humanis dengan mengedepankan pendekatan persuasif kepada setiap warga yang ditemui guna menghindari potensi keributan yang dapat mengganggu kenyamanan publik.

Panit 1 Samapta Polsek Gamping, Johan Priyatno, menambahkan bahwa patroli malam ini akan terus ditingkatkan secara berkala sebagai bentuk pelayanan prima kepolisian. Pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama saat memarkirkan kendaraan atau ketika harus melintasi jalur yang sepi pada dini hari. Sinergi antara warga dan aparat menjadi kunci utama dalam menjaga lingkungan agar tetap terbebas dari berbagai bentuk kejahatan.

“Melalui adanya patroli rutin, semoga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dengan lebih tenang. Di sisi lain, para pelaku kejahatan akan berpikir ulang untuk melakukan aksinya karena meningkatnya pengawasan aparat kepolisian di titik-titik strategis. Kami meminta warga segera melapor jika menemukan aktivitas yang mencurigakan di lingkungan mereka,” tutur Johan Priyatno. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Cetak Pemimpin Masa Depan, Pemkab Sleman Perkuat Kapasitas Pemuda Ngaglik dan Cangkringan

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemuda dan Olahraga terus berupaya melahirkan sosok pemimpin muda yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga karakter yang komunikatif dan inspiratif. Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan Organisasi Kepemudaan (OKP) bertajuk “Menjadi Pemimpin Muda, Komunikatif, dan Inspiratif. Jauhi Narkoba dan Minuman Keras” yang diselenggarakan di Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 40 perwakilan pemuda dari Kapanewon Ngaglik dan Cangkringan ini menjadi bagian dari strategi penguatan kapasitas generasi muda sebagai agen perubahan. Program ini merupakan inisiatif yang lahir dari pokok-pokok pikiran anggota DPRD Kabupaten Sleman, Timbul Saptowo, sebagai bentuk kepedulian terhadap pemberdayaan potensi pemuda di wilayah Sleman.

Sabarudin dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman menekankan bahwa posisi pemuda sangat strategis karena mereka adalah pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa mendatang. Dengan jumlah populasi pemuda di Kabupaten Sleman yang mencapai sekitar 240 ribu orang, pembinaan yang terarah menjadi kunci agar potensi besar tersebut dapat dikonversi menjadi kontribusi produktif bagi daerah.

“Pemuda hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Oleh karena itu, pergunakan masa muda kalian sebaik-baiknya untuk mengasah kemampuan dan kapasitas diri. Kegiatan ini juga menjadi sarana penting untuk membentuk jiwa korsa, membangun kebersamaan, kekompakan, serta kerja sama antarpemuda yang solid,” ujar Sabarudin saat memberikan arahan kepada para peserta.

Selain fokus pada aspek kepemimpinan, para peserta juga diberikan bekal penting mengenai gaya hidup sehat. Sabarudin berpesan agar generasi muda Sleman menjaga integritas diri dengan menjauhi narkoba dan minuman keras yang dapat menghancurkan masa depan. Ia mendorong para pemuda untuk lebih fokus pada konsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga sebagai fondasi utama dalam menjalankan aktivitas kepemimpinan di tengah masyarakat.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini tidak hanya diisi dengan penyampaian teori di dalam ruangan. Rangkaian kegiatan diawali dengan peningkatan kapasitas melalui aktivitas outbound dan team building yang dipandu oleh instruktur berpengalaman. Metode ini dipilih agar para peserta dapat langsung mempraktikkan cara berkomunikasi yang efektif, pengambilan keputusan dalam kelompok, hingga keberanian berbicara di depan publik.

Melalui pembinaan yang komprehensif ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap para peserta dapat pulang ke wilayah masing-masing dengan semangat baru. Mereka diharapkan mampu menjadi magnet inspirasi bagi lingkungan sekitarnya serta berperan aktif dalam memajukan organisasi kepemudaan di tingkat lokal dengan karakter yang kuat dan jiwa kepemimpinan yang matang. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Tingkatkan Keamanan Lingkungan, MyRepublic Pasang Empat Unit CCTV di Pintu Masuk Padukuhan Sombangan

Sleman — Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, kini memperketat sistem keamanan wilayah melalui pemasangan teknologi pengawasan digital. Langkah ini terwujud berkat kolaborasi antara warga setempat dengan penyedia layanan internet MyRepublic di bawah naungan Sinar Mas yang memberikan bantuan berupa empat unit kamera pengawas (CCTV) di titik-titik strategis pintu masuk padukuhan, Minggu (10/5/2026).

Pihak MyRepublic yang diwakili oleh Praditya atau yang akrab disapa Adit menjelaskan bahwa pengadaan perangkat keamanan ini merupakan bentuk kompensasi atas kerja sama pengembangan jaringan internet di wilayah tersebut. Awalnya, kompensasi direncanakan dalam bentuk dana tunai, namun atas kesepakatan jajaran ketua RT, RW, Sub Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan Dukuh Sombangan, bantuan dialihkan menjadi barang yang memiliki manfaat keamanan jangka panjang bagi seluruh warga.

Adit menekankan bahwa sinergi antara korporasi dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan infrastruktur digital di lapangan. Dengan adanya komunikasi yang baik, kedua belah pihak dapat saling memberikan manfaat, baik dari sisi akses informasi maupun perlindungan fasilitas umum.

“Pemasangan ini merupakan hasil kolaborasi nyata perusahaan dengan warga. Kami sangat mengapresiasi inisiatif pengurus lingkungan yang memilih perangkat keamanan untuk kepentingan bersama. Kami juga memohon bantuan warga untuk ikut mengawasi dan menjaga jaringan internet yang sudah kami pasang agar tetap berfungsi optimal tanpa kendala,” ujar Praditya saat memantau proses instalasi.

Dukuh Sombangan, Agus Sartono, memberikan apresiasi tinggi atas realisasi bantuan tersebut. Menurutnya, pemasangan CCTV di setiap sudut masuk padukuhan merupakan solusi modern untuk memantau pergerakan orang yang keluar masuk wilayahnya. Hal ini dianggap sangat penting untuk menciptakan rasa aman bagi warga serta menjadi alat bukti digital apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Agus menyatakan bahwa warga berkomitmen untuk menjaga fasilitas yang telah diberikan dan siap bekerja sama dalam pemeliharaan jaringan teknologi di wilayah Sombangan. Ia berharap langkah preventif ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam memanfaatkan kerja sama dengan pihak ketiga demi kepentingan ketertiban umum.

“Kami berharap dengan pemasangan CCTV ini bisa meminimalisir tindak kejahatan di lingkungan kami. Ini adalah sarana penting untuk memantau setiap aktivitas di pintu masuk padukuhan. Kami bersama warga akan secara optimal melakukan pengawasan jaringan dan siap segera melaporkan ke pihak MyRepublic apabila di kemudian hari terjadi kerusakan atau gangguan teknis,” tegas Agus Sartono. (Giek/KIM Moyudan)




Mitigasi Kekeringan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kembangkan Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Berbasis Masyarakat

Sleman — Ancaman bencana kekeringan yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim mendorong munculnya inovasi pengelolaan sumber daya air secara mandiri. Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman kini tengah menggencarkan metode Instalasi Lumbung Air Hujan (ISLAH) yang dipadukan dengan teknologi elektrolisa sebagai langkah nyata mitigasi krisis air bersih berbasis masyarakat dan pelaku usaha.

Langkah konservasi ini menarik minat pelaku usaha lokal, salah satunya Umi Farida, pengusaha Bolu Susu di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman. Sebagai bentuk nyata pengurangan risiko bencana, ia telah memasang instalasi pengelolaan air hujan di tiga lokasi berbeda. Di kediamannya, Minggu (10/5/2026), Umi menjelaskan bahwa instalasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga liter yang berfungsi sebagai cadangan air bersih saat musim kemarau tiba.

Menurut Umi Farida, kebutuhan akan solusi penyimpanan air bersih semakin mendesak di tengah ancaman krisis air yang mulai dirasakan di berbagai daerah. Dengan menggandeng SAH Banyu Bening, ia berupaya mengubah persepsi bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan aset yang bisa dikelola secara bijak melalui sistem yang sederhana namun efektif.

“Metode ISLAH menjadi salah satu inovasi unggulan karena dinilai sederhana, mudah diterapkan, dan efektif dalam mendukung ketahanan air masyarakat. Sistem ini juga menjadi bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus solusi konkret menghadapi ancaman kekeringan. Kami berencana memperluas penerapan ISLAH ini ke jaringan usaha kami di Yogyakarta dan Surakarta secara bertahap sebanyak 15 unit,” ujar Umi Farida dengan antusias.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa metode ISLAH bekerja dengan cara menangkap air hujan dari atap rumah untuk dialirkan ke dalam tandon penyimpanan. Inovasi ini menjadi jawaban bagi wilayah yang mulai mengalami penurunan cadangan air tanah. Selain penampungan, pihaknya juga menerapkan teknologi elektrolisa, yakni proses pemisahan senyawa melalui arus listrik untuk meningkatkan kualitas air sehingga lebih aman dan layak untuk konsumsi domestik.

Sri Wahyuningsih menekankan bahwa selama ini air hujan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, air hujan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumur air tanah dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye kemandirian air yang dimulai dari skala rumah tangga hingga sektor industri.

“Sistem ini bekerja dengan cara menampung air hujan dari atap rumah untuk kemudian disimpan dalam tandon atau lumbung air sebagai cadangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis pengelolaan air, tetapi juga mampu membangun gerakan sosial yang mendorong terciptanya kehidupan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tutur Sri Wahyuningsih.

Melalui sinergi antara pusat edukasi dan pelaku usaha ini, pengelolaan air hujan diharapkan menjadi tren positif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Langkah tersebut membuktikan bahwa mitigasi bencana kekeringan dapat dimulai dengan tindakan sederhana namun berdampak luas bagi ketahanan air nasional di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)