Jaga Kualitas Hidup Lansia, Komunitas Seroja Banyuraden Terapkan Empat Pilar Ikhtiar Sehat

Sleman — Kesehatan kelompok lanjut usia (lansia) kini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya populasi usia tua yang membutuhkan pendampingan fisik maupun mental secara khusus. Guna menjawab tantangan tersebut, Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) menggelar edukasi kesehatan bertajuk Empat Pilar Ikhtiar Sehat yang berlangsung di Pendapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (10/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung hangat ini menghadirkan Muthia Tsabita Rahmi sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, hingga penyakit jantung. Penurunan fungsi tubuh secara alami menuntut adanya langkah pencegahan dini melalui pola hidup yang terintegrasi antara kesehatan jasmani dan ketenangan rohani.

Muthia Tsabita Rahmi menjelaskan bahwa untuk mencapai kemandirian di usia senja, lansia harus menerapkan empat pilar utama, yaitu menutrisi raga melalui pola makan, menjaga kekuatan dengan pola gerak, memberikan waktu jeda lewat pola tidur, serta merawat kedamaian hati dengan pola pikir yang positif. Menurutnya, keempat elemen ini saling berkaitan dan menjadi fondasi agar kualitas hidup tetap terjaga meski fungsi fisik mulai menurun.

“Keempat pilar tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi utama agar lansia tetap sehat, mandiri, serta produktif di usia lanjut. Kita tidak bisa hanya fokus pada fisik, sementara pikiran terbebani stres, atau sebaliknya. Semuanya harus seimbang agar daya tahan tubuh tetap kuat menghadapi penyakit,” ujar Muthia Tsabita Rahmi di hadapan para anggota komunitas.

Pilar pertama, yaitu menutrisi raga, menekankan pada pengaturan asupan gizi seimbang yang kaya protein, vitamin, dan serat guna menjaga fungsi organ dan kesehatan tulang. Selain itu, pilar kedua berupa pola gerak tetap diperlukan melalui aktivitas fisik ringan seperti senam lansia atau berjalan kaki untuk menjaga kelenturan otot serta melancarkan peredaran darah. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko jatuh yang sering dialami oleh kaum lansia.

Lebih lanjut, pilar ketiga mengenai pola tidur yang berkualitas berperan besar dalam pemulihan sel-sel tubuh dan menjaga stabilitas emosi. Muthia mengingatkan bahwa lansia yang kurang istirahat akan lebih mudah mengalami kelelahan dan penurunan imunitas. Terakhir, pilar keempat adalah merawat kedamaian hati dengan selalu bersyukur dan berpikir positif, karena kondisi psikologis yang bahagia terbukti secara medis mampu meningkatkan semangat hidup dan kesehatan fisik secara keseluruhan.

“Tidur yang baik membantu tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak serta menjaga kestabilan emosi dan fungsi otak. Selain itu, saya menyarankan anggota komunitas Seroja untuk selalu menjaga pikiran yang positif dan penuh rasa syukur, karena ketenangan hati sangat memengaruhi kondisi fisik kita sehari-hari,” jelas Muthia menambahkan.

Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan konsultasi kesehatan langsung. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya manajemen kesehatan di usia lanjut mulai tumbuh pesat di masyarakat. Komunitas Seroja berharap program ini dapat menjadi model pembinaan lansia yang berkelanjutan agar mereka tetap berdaya dan bahagia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




PKK Margomulyo Gandeng Generasi Muda Perkuat Pengelolaan Sampah Padukuhan

Sleman — Kalurahan Margomulyo mulai melakukan langkah penyegaran dalam tata kelola sampah dengan mengincar keterlibatan aktif generasi muda. Langkah ini diambil guna menghidupkan kembali sejumlah Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) yang vakum serta memastikan keberlanjutan fasilitas lingkungan yang ada di tingkat padukuhan.

Hal tersebut menjadi poin utama dalam dialog pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Pokja IV PKK Kalurahan Margomulyo di Gedung Serbaguna, Minggu (10/5/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan anggota PKK dari 13 padukuhan yang berkomitmen mencari solusi atas penurunan aktivitas pengelolaan sampah di wilayah mereka. Ketua Tim Penggerak PKK Margomulyo, Sri Lestari, menegaskan bahwa edukasi pengelolaan sampah rumah tangga harus menjadi prioritas agar setiap keluarga mampu menangani limbahnya secara mandiri.

Narasumber kegiatan, Sutarto Agus, menjelaskan bahwa penguatan peran Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) adalah kunci untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan praktik nyata di lapangan. Menurutnya, P3S memiliki landasan hukum kuat untuk mendampingi warga dalam mengubah perilaku dari sekadar membuang sampah menjadi memilah dan mengolahnya sejak dari dapur.

“P3S hadir bukan hanya untuk menyampaikan aturan, tetapi mendampingi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Partisipasi warga menjadi kunci utama. Jika pengelolaan sampah dilakukan secara disiplin dari lingkungan masing-masing, maka beban sampah yang menuju ke tempat pengolahan akhir dapat ditekan secara signifikan,” ujar Sutarto Agus di hadapan para peserta.

Margomulyo sebenarnya memiliki infrastruktur yang cukup lengkap, mulai dari TPS3R, Depo Transfer Sampah, hingga delapan bank sampah berbasis inisiatif warga. Namun, tantangan besar muncul karena minimnya regenerasi pengurus, rendahnya antusiasme warga terhadap bank sampah, serta masih adanya praktik pembakaran sampah secara sembarangan. Kondisi inilah yang mendorong perlunya inovasi dari kalangan muda agar kelembagaan sampah menjadi lebih adaptif dan modern.

Dalam dialog tersebut, dipaparkan pula hasil pemetaan KPSM di 13 padukuhan yang menunjukkan adanya wilayah-wilayah tanpa kelompok pengelola aktif. Sutarto menekankan perlunya dukungan penuh pemerintah kalurahan untuk melakukan perubahan struktur kepengurusan dengan memasukkan tenaga-tenaga muda yang lebih energik dan paham teknologi.

“Tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Kita butuh tenaga muda yang inovatif untuk menggerakkan kembali bank sampah dan sedekah sampah yang sempat vakum. Tanpa keterlibatan mereka, sistem yang sudah ada akan sulit untuk bertahan lama,” kata Sutarto.

Sesi diskusi mengungkap bahwa minimnya dukungan dari tingkat RT/RW juga menjadi kendala lapangan. Melalui penguatan sinergi antara PKK, P3S, dan generasi muda, Kalurahan Margomulyo optimistis dapat membangun kembali budaya pengelolaan sampah yang sehat. Harapannya, integrasi antara kesadaran masyarakat dan keterlibatan kaum muda dapat menciptakan lingkungan yang bersih serta berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Ekonomi Umat, Komunitas TernakMU Turi Gagas Sistem Patungan untuk Budidaya Ayam Petelur

Sleman — Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas kini merambah ke sektor peternakan mikro di wilayah Kapanewon Turi. Komunitas TernakMU, yang merupakan wadah bagi peternak warga Muhammadiyah Turi, resmi menggelar pertemuan perdana pada Minggu (10/5/2026). Bertempat di rumah Akhmad Khairudin yang berlokasi di Garongan, Wonokerto, Turi, pertemuan ini menandai dimulainya gerakan crowdfunding atau pendanaan gotong royong untuk usaha microfarming ayam kampung petelur.

Gerakan di bawah binaan Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PCM Turi ini memfokuskan pengembangan pada jenis ayam kampung petelur Elba dan Kuntara 4. Melalui pola pendanaan bersama, TernakMU berupaya meringankan beban modal awal para anggota, mulai dari penyediaan bibit unggul, pengadaan pakan, hingga pembangunan kandang yang standar. Dengan sistem ini, warga yang memiliki keterbatasan modal tidak lagi berjalan sendiri, melainkan didukung oleh jaringan yang saling menguatkan.

Ketua TernakMU terpilih, Akhmad Khairudin, menyatakan bahwa komunitas ini dibentuk sebagai fondasi agar usaha peternakan warga dapat berjalan lebih tertib dan berkelanjutan. Selain mengurusi aspek finansial, komunitas ini juga berfungsi sebagai ruang belajar teknis bagi para peternak pemula agar mereka memiliki manajemen pakan dan kesehatan ternak yang baik.

“Pertemuan perdana ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarpeternak, tetapi juga menjadi momentum pembentukan struktur pengurus. Kami ingin menjadikan ternak kecil ini sebagai gerakan besar pemberdayaan ekonomi umat. Dengan semangat gotong royong, warga tidak perlu ragu memulai usaha karena ada sistem pendampingan dan pemantauan rutin terhadap perkembangan ternak mereka,” ujar Akhmad Khairudin di sela-sela kegiatan.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto, serta perwakilan Majelis Ekonomi, Agung, yang juga merupakan peternak praktis. Kehadiran para tokoh ini memperkuat aspek pendampingan teknis bagi para anggota. Komunitas ini juga merancang pertemuan rutin bulanan sebagai sarana evaluasi, di mana setiap anggota bisa berbagi kendala lapangan dan mendapatkan solusi terkait pencatatan produksi hingga strategi pemasaran hasil telur.

Konsep microfarming yang diusung dipilih karena sangat fleksibel, dapat memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah, dan cocok dikelola oleh skala keluarga. Pemilihan ayam jenis Elba dan Kuntara 4 dinilai strategis karena produktivitas telurnya yang tinggi, sehingga mampu mencukupi kebutuhan protein keluarga sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.

Melalui sinergi antara sistem arisan, pendampingan teknis, dan pengawasan berkala, TernakMU optimistis dapat mencetak peternak yang disiplin dan mandiri. Gerakan ini diharapkan menjadi model baru dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi dari tingkat akar rumput, membuktikan bahwa usaha skala kecil jika dikelola dengan kolektif dapat memberikan dampak manfaat yang luas. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Atasi Masalah Sosial Sejak Dini, Dinas Sosial Sleman Dorong Pembentukan WKSBM di Padukuhan Bandung Kulon

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial terus berupaya memperkuat jaring pengaman sosial dengan mendorong tumbuhnya Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) hingga tingkat terkecil di padukuhan. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk meningkatkan kemandirian warga dalam menangani berbagai problematika sosial yang ada di lingkungannya sendiri.

Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung di rumah Dukuh Bandung Kulon, Ngatini, Kalurahan Tambakrejo, Kapanewon Tempel, Jumat malam (8/5/2026). Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Forum WKSBM Sleman, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), perangkat RT, RW, serta tokoh masyarakat setempat.

Ketua Forum WKSBM Sleman, Subiyanto, menjelaskan bahwa WKSBM merupakan sebuah sistem kerja sama pelayanan sosial yang dikelola sepenuhnya dari, oleh, dan untuk masyarakat. Melalui wadah ini, potensi lokal baik berupa donatur maupun relawan dihimpun untuk membantu warga yang masuk dalam kategori Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Menurutnya, tantangan sosial saat ini sangat kompleks karena tidak hanya menyangkut urusan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek psikologi dan perilaku.

“WKSBM merupakan kerja sosial dengan penuh keikhlasan, jangan mengharap imbalan apapun, tapi yakinlah kelak kita akan mendapat imbalan dari Allah SWT. Kita memerlukan kolaborasi yang kuat antara Dinas Sosial, pemerintah kalurahan, hingga tingkat padukuhan untuk memupuk solidaritas warga agar masalah sosial di tingkat akar rumput bisa segera tertangani tanpa harus selalu menunggu bantuan pusat,” ujar Subiyanto.

Senada dengan hal tersebut, narasumber sosialisasi, Roro Wulan, menekankan bahwa kunci kekuatan WKSBM terletak pada keterpaduan kelompok-kelompok pelayan sosial yang sudah ada di masyarakat. Ia mengibaratkan WKSBM seperti sapu lidi yang jika disatukan dalam sistem yang baik akan sangat efektif menyelesaikan masalah. Namun, ia mengingatkan agar para pengurus tetap menjunjung tinggi etika kerahasiaan data warga yang dibantu.

“Ibarat sapu lidi, beberapa kelompok pelayan sosial bekerja sama dalam sistem yang baik untuk menangani masalah sosial. Saya tegaskan kepada para pengurus nantinya, jaga kerahasiaan warga. Jangan beberkan masalah pribadi orang lain atau keluarganya di dalam rapat. Fokus kita adalah pada solusi pemberdayaan, seperti pelatihan olahan makanan dan pendampingan ekonomi,” tegas Roro Wulan.

Kehadiran WKSBM di Padukuhan Bandung Kulon disambut positif oleh tokoh agama setempat, Santoso. Ia mengungkapkan bahwa selama ini praktik gotong royong dan bantu-membantu antarwarga sebenarnya sudah berjalan secara alami, namun belum terwadahi secara formal dalam sistem WKSBM. Pihaknya berkomitmen untuk segera menindaklanjuti imbauan Dinas Sosial ini melalui pertemuan resmi seluruh warga padukuhan.

Setelah terbentuk nanti, pengurus WKSBM Bandung Kulon diminta segera melakukan pendataan terhadap potensi donatur serta memetakan warga yang membutuhkan pertolongan. Dengan adanya pendataan yang akurat, bantuan sosial diharapkan menjadi lebih tepat sasaran dan mampu menciptakan ketahanan sosial yang kuat di tingkat desa. (Giek/KIM Moyudan)




Sulap Ampas Kopi Jadi Solusi Pencemaran Air, Siswa MAN 4 Sleman Borong Penghargaan Nasional

Sleman — Limbah ampas kopi yang biasanya berakhir di tempat sampah berhasil diubah menjadi karya ilmiah bernilai tinggi oleh para siswa MAN 4 Sleman. Melalui inovasi riset lingkungan, tim sekolah tersebut sukses meraih penghargaan bergengsi dalam ajang nasional MIPA Road to Scientific Paper (MARS#13) yang diselenggarakan oleh FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (9/5/2026).

Tim yang menamakan diri Bluebegone ini beranggotakan Rizky Akbar Maulana, Faqih Achmad Pramudyanta, dan Rezyka Nur Safitri. Mereka melakukan penelitian mendalam yang dituangkan dalam karya berjudul “Efektivitas Kitosan Termodifikasi Limbah Ampas Kopi dari Coffeeshop di Yogyakarta untuk Adsorpsi Zat Warna Methylene Blue”. Hasil riset ini membuktikan bahwa ampas kopi mampu menjadi agen pembersih zat warna berbahaya yang kerap mencemari ekosistem air.

Berkat kreativitas tersebut, tim MAN 4 Sleman berhasil memborong tiga penghargaan sekaligus, yakni Gold Medal, Best Paper, dan Best Infografis. Dewan juri menilai penelitian ini unggul karena memberikan solusi praktis terhadap persoalan lingkungan dengan memanfaatkan limbah yang jumlahnya terus meningkat seiring menjamurnya kedai kopi di Yogyakarta.

Salah satu anggota tim, Rizky Akbar Maulana, mengaku sangat bersyukur atas pencapaian luar biasa ini. Ia menekankan bahwa proses riset telah memberikan perspektif baru bagi mereka dalam melihat sebuah masalah. “Kami banyak belajar dari proses penelitian ini, mulai dari kerja sama, berpikir kritis, hingga keberanian mempresentasikan ide di depan juri. Kami ingin membuktikan bahwa limbah di sekitar kita bisa bermanfaat jika diolah dengan tepat,” ujarnya di sela kegiatan presentasi.

Pembimbing tim, Puspa Nindro Mahayuwati, menyatakan rasa bangganya atas etos kerja para siswanya. Menurutnya, capaian ini menjadi penegasan bahwa pelajar madrasah memiliki daya saing yang tinggi serta mampu menghadirkan inovasi riset yang relevan dengan kebutuhan zaman. Capaian ini juga memperkuat posisi MAN 4 Sleman sebagai institusi yang fokus pada pengembangan budaya ilmiah.

Senada dengan hal tersebut, Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arief Makruf, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan anak didiknya. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah akan terus mendukung ekosistem riset agar para siswa memiliki karakter yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Pihaknya ingin menanamkan pola pikir bahwa riset bukan sekadar mengejar medali, melainkan upaya nyata untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Prestasi ini selaras dengan komitmen MAN 4 Sleman sebagai madrasah riset yang terus mendorong budaya ilmiah, inovasi, dan pengembangan potensi murid. Riset bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang membangun karakter berpikir kritis, kreatif, dan peduli terhadap persoalan di sekitar kita. Semoga ini menginspirasi siswa lain untuk berani berkarya,” tegas Ahmad Arief Makruf. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)