Percasi Sleman Bidik Bibit Unggul Melalui PORKAB 2026

Sleman — Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Sleman resmi memulai perburuan atlet muda berbakat melalui ajang Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Sleman 2026. Kejuaraan cabang olahraga catur ini dibuka secara resmi oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Agung Armawanta, mewakili Bupati Sleman di Aula OpRoom Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Jumat (8/5/2026).

Turnamen yang berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Mei 2026 ini diikuti oleh perwakilan dari 17 kapanewon untuk kategori putra dan 10 kapanewon untuk kategori putri. Ajang ini menjadi sangat strategis karena berfungsi sebagai kawah candradimuka dalam menyaring potensi baru yang akan memperkuat kontingen Sleman pada level yang lebih tinggi.

Ketua Pelaksana Kegiatan PORKAB Cabor Catur, Suranto, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari pemerintah daerah, KONI, dan para sponsor. Ia berharap kompetisi ini berjalan lancar dan mampu melahirkan pecatur-pecatur andal yang siap mengharumkan nama daerah.

“Semoga pertandingan Catur PORKAB Sleman 2026 berjalan lancar serta menghasilkan potensi baru atlet catur Kabupaten Sleman. Kami berharap muncul talenta yang bisa diproyeksikan untuk jenjang prestasi yang lebih luas,” ujar Suranto saat memberikan laporan kegiatan.

Ketua KONI Kabupaten Sleman, Haris Sutarta, menegaskan bahwa catur merupakan salah satu cabang olahraga andalan Sleman dalam mendulang medali. Prestasi catur Sleman tercatat sangat gemilang pada Porda DIY tahun 2025 di Gunungkidul, di mana mereka berhasil melampaui target dengan raihan 7 medali emas dari target awal 5 emas. Capaian ini turut mengantarkan Sleman meraih predikat juara umum Porda sebanyak empat kali berturut-turut.

“Kabupaten Sleman mempunyai keinginan bisa lima kali juara Porda berturut-turut. Kesuksesan catur selama ini menjadi bukti bahwa pola pembinaan di Sleman berjalan dengan baik. Kita memiliki kebanggaan luar biasa atas prestasi Shafira Devi Harfesa yang kini diakui sebagai Woman International Master. Ini harus menjadi motivasi bagi atlet lainnya untuk mengikuti jejak prestasi Shafira hingga ke tingkat dunia,” ungkap Haris Sutarta memberikan semangat kepada para atlet.

Pemerintah Kabupaten Sleman menaruh harapan besar agar PORKAB kali ini menjadi langkah awal persiapan menuju Porda DIY ke-XVII di Kulon Progo. Meskipun atlet andalan Sleman, Shafira Devi Harfesa, absen dalam PORKAB kali ini karena tengah mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas), kehadirannya sebagai simbol kesuksesan pembinaan Percasi Sleman diharapkan mampu memacu adrenalin para peserta.

Agung Armawanta dalam sambutannya menekankan bahwa untuk mempertahankan posisi juara umum, diperlukan kerja keras dan sinergi dari seluruh cabang olahraga, termasuk catur. Menurutnya, PORKAB adalah momentum emas untuk menemukan “Shafira-Shafira baru” yang siap bertarung di kancah internasional.

“Harapannya pada PORKAB Sleman 2026 akan muncul banyak atlet baru yang mengikuti jejak Shafira sampai kancah internasional. Kami ingin catur kembali memberikan kontribusi medali yang signifikan untuk mengejar target juara umum ke-5 bagi Kabupaten Sleman. Selamat bertanding dan selalu jaga sportivitas agar atlet catur Sleman bisa mendunia,” tutur Agung Armawanta sebelum membuka secara resmi jalannya pertandingan. (Kusnadi/KIM Berbah)




Dorong Pertanian Modern, Titiek Soeharto Serap Aspirasi Petani Seyegan Bersama Universitas Janabadra

Sleman — Sinergi antara kebijakan legislatif, pendampingan akademisi, dan praktik lapangan menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah. Semangat kolaborasi ini tercermin dalam agenda serap aspirasi masa reses yang digelar Anggota DPR RI Komisi IV, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, di Pendopo Joglo Tani, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Sleman, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang dengar pendapat antara wakil rakyat dan konstituennya, tetapi juga melibatkan institusi pendidikan tinggi. Kehadiran Rektor Universitas Janabadra (UJB), Risdiyanto, bersama jajaran Fakultas Pertanian UJB mempertegas komitmen dunia akademik untuk turun langsung mendampingi petani dalam mengadopsi teknologi pertanian modern dan pemberdayaan berbasis riset.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, para petani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Luwih Mandiri menyampaikan sejumlah tantangan di lapangan. Mereka menyoroti mendesaknya kebutuhan infrastruktur dan alat mesin pertanian (alsintan) guna meningkatkan efisiensi kerja di tengah keterbatasan tenaga kerja manusia. Beberapa usulan prioritas yang mengemuka antara lain bantuan combine harvester untuk percepatan panen padi, kendaraan angkut roda tiga untuk distribusi hasil bumi, serta pengadaan bibit buah unggul.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Titiek Soeharto menyatakan kesiapannya untuk mengawal aspirasi tersebut ke tingkat pusat melalui jalur kebijakan di Komisi IV. Ia menekankan bahwa dukungan sarana dan prasarana merupakan instrumen vital agar petani tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas secara ekonomi melalui produktivitas yang lebih tinggi.

“Bagi kelompok tani maupun KWT yang membutuhkan dukungan sarana dan prasarana, silakan segera mengirimkan proposal resmi. Kami berkomitmen untuk mengawal aspirasi ini demi kesejahteraan petani di Yogyakarta. Sinergi antara pemerintah pusat, perguruan tinggi, dan kelompok tani sangat penting agar pembangunan sektor pertanian berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran,” tegas Titiek Soeharto di hadapan para petani.

Dukungan serupa juga datang dari Universitas Janabadra. Risdiyanto menyatakan bahwa pihaknya siap memposisikan diri sebagai mitra strategis yang menjembatani inovasi teknologi dengan kebutuhan nyata di lahan pertanian. Menurutnya, Fakultas Pertanian UJB memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pendampingan berkelanjutan agar ekosistem pertanian di Sleman semakin mandiri dan modern.

“Fakultas Pertanian UJB siap menjadi mitra strategis petani melalui pendampingan, penelitian, dan penerapan teknologi pertanian modern. Kami ingin hasil-hasil riset di kampus dapat diaplikasikan secara nyata untuk membantu bapak-ibu petani meningkatkan hasil panennya,” ungkap Risdiyanto.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Titiek Soeharto bersama pimpinan UJB turut meninjau gerai UMKM Margoluwih dan mengunjungi Kebun Kelengkeng PWR (Wisata Petik Buah) yang dikelola oleh Joglo Tani. Sebagai simbol keberhasilan kolaborasi lahan produktif, dilakukan aksi petik buah kelengkeng bersama. Kunjungan ini memperlihatkan bahwa diversifikasi komoditas melalui perkebunan buah memiliki potensi besar sebagai penopang ekonomi warga di luar sektor tanaman pangan utama.

Melalui masa reses ini, Titiek Soeharto yang membidangi sektor pertanian, lingkungan hidup, dan pangan terus bergerak ke berbagai wilayah di Sleman guna memetakan persoalan krusial seperti distribusi pupuk, irigasi, hingga dampak perubahan iklim. Diharapkan, keterpaduan langkah antara legislatif dan akademisi ini mampu melahirkan solusi konkret bagi kedaulatan pangan nasional dari tingkat desa. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo Optimalkan Peran Jaga Warga sebagai Mediator Konflik

Sleman — Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, terus memperkokoh sistem keamanan dan ketahanan sosial berbasis masyarakat melalui penguatan peran kelompok Jaga Warga. Dalam rapat koordinasi yang digelar di Aula Lantai 2 Kalurahan Lumbungrejo, Jumat (8/5/2026), semangat gotong royong ditegaskan kembali sebagai fondasi utama dalam menjaga harmoni sosial di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Forum ini dihadiri oleh jajaran perangkat kalurahan, pengurus Jaga Warga tingkat kalurahan, serta seluruh ketua Jaga Warga tingkat padukuhan se-Lumbungrejo. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyelaraskan persepsi mengenai tugas pokok fungsi Jaga Warga sebagai mitra strategis pemerintah di tingkat akar rumput, sekaligus mengevaluasi kondisi keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah setempat.

Jogoboyo Lumbungrejo, Nugroho Subagyo, menekankan bahwa Jaga Warga memegang peran krusial sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik sosial di masyarakat. Selain menangani perselisihan, kelompok ini bertugas menjadi penyambung aspirasi warga kepada Dukuh serta menjadi motivator untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengamanan lingkungan.

“Kami berharap seluruh unsur di Lumbungrejo bisa terus bersinergi untuk menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang semakin kondusif. Jaga Warga tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus menjadi gerakan bersama. Kelompok ini adalah mediator ketika ada konflik sosial, dan mereka memiliki kewenangan mengundang pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan secara musyawarah,” ujar Nugroho Subagyo.

Sebagai langkah teknis untuk mempercepat arus informasi, para ketua Jaga Warga kini dihimpun dalam kanal komunikasi digital guna memastikan koordinasi berjalan efektif selama 24 jam. Nugroho juga menyambut baik usulan pertemuan rutin lintas padukuhan untuk memperkuat silaturahmi serta berbagi pengalaman dalam menangani kendala lapangan yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Al Hakim, memberikan apresiasi atas kondisi ketertiban di wilayahnya yang relatif kondusif, termasuk saat momentum malam takbiran lalu. Namun, ia memberikan catatan mengenai pentingnya peningkatan kapasitas anggota agar mampu membedakan antara persoalan sosial umum dengan ranah pribadi masyarakat. Menurutnya, ketajaman dalam memilah masalah akan menentukan ketepatan solusi yang diambil agar tidak memicu gesekan baru.

“Jaga Warga harus bisa memilah mana persoalan sosial yang menjadi kepentingan bersama dan mana yang bersifat pribadi. Penanganannya tentu berbeda. Kami ingin setelah koordinasi ini, kemampuan dan kapasitas anggota semakin meningkat sehingga mampu menjalankan tugas secara maksimal, termasuk dalam mengedukasi warga agar tidak terjerumus pada tindakan negatif,” tegas M. Misbah Al Hakim.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya dukungan keberlanjutan kegiatan, termasuk dari sisi pembiayaan. Di Lumbungrejo, beberapa padukuhan telah menunjukkan kemandirian melalui kearifan lokal dalam mendukung biaya keamanan lingkungan secara swadaya. Model keamanan berbasis komunitas ini dinilai semakin relevan untuk menghadapi perubahan sosial yang cepat, dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, hingga unsur perempuan secara aktif. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Tekankan Pentingnya Alarm Moral dan Pendidikan Berbasis Kasih Sayang

Sleman — Maraknya kasus kekerasan dan kelalaian dalam pengasuhan anak akhir-akhir ini menjadi sorotan tajam dunia pendidikan. Guru Besar Bidang Evaluasi Pendidikan UIN Sunan Kalijaga, Suwadi, menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi refleksi mendalam bagi lingkungan pendidikan maupun keluarga agar kejadian serupa tidak terus terulang. Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan di Sasana Anglocita Tama, Kantor Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (8/5/2026).

Suwadi mengungkapkan bahwa persoalan pengasuhan anak saat ini bukan sekadar urusan hukum formal, melainkan indikasi adanya krisis akhlak dan pendidikan yang serius. Ia menekankan bahwa fondasi utama pendidikan anak harus diletakkan di atas nilai amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab moral yang kuat. Menurutnya, lembaga pendidikan tidak boleh terjebak dalam aspek administratif semata, namun harus mengutamakan keselamatan dan perkembangan batin anak.

“Kasus pengasuhan anak yang terjadi saat ini harus menjadi alarm moral bagi umat. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat administratif atau berorientasi bisnis semata, tetapi harus mengedepankan nilai rahmah dan amanah. Pengasuhan bukan sekadar menjaga anak agar diam, tetapi mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan. Pendidikan tanpa rahmah hanya akan melahirkan generasi yang terluka secara psikologis,” ujar Suwadi di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan era digital dan revolusi industri 4.0 yang mengubah pola interaksi dalam keluarga. Ketergantungan pada teknologi dan cepatnya perubahan sosial sering kali mengikis kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda tetap memiliki kompas moral yang jelas di tengah derasnya arus informasi.

Dalam perspektif Islam, Suwadi menjelaskan bahwa setiap anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga lahir dan batinnya. Guru, pengasuh, maupun pengelola lembaga pendidikan memikul tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan lingkungan belajar tetap aman dan memanusiakan manusia. Ia mendorong adanya penguatan sistem pendidikan yang memprioritaskan pembinaan akhlak bagi para pengasuh serta pendampingan intensif bagi keluarga muda dalam hal pola asuh.

Ia juga mengajak organisasi keagamaan seperti MUI untuk lebih proaktif dalam melakukan edukasi parenting Islami. Menurutnya, peran tokoh agama sangat strategis untuk melakukan tindakan preventif sebelum terjadi masalah sosial. Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang tumbuh kembang yang sehat bagi anak-anak.

“Akhlak jauh lebih penting daripada sekadar fasilitas gedung yang mewah. Pendidikan harus melahirkan generasi yang kuat secara moral, spiritual, dan sosial agar mereka siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Mari kita bangun budaya kasih sayang dalam lingkungan pendidikan kita untuk menjamin masa depan mereka,” pungkas Suwadi menutup pemaparannya. (Athiful/KIM Depok)




Peserta IGPA Batch 8 Dalami Pemanenan Air Hujan di SAH Banyu Bening Sleman

Sleman – Peserta Indonesian Green Principal Award (IGPA) Batch 8 melakukan kunjungan edukatif ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman. Kunjungan tersebut dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai pentingnya pemanenan dan pemanfaatan air hujan, sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup yang berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan pada Kamis (7/5/2026) tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para kepala sekolah baik di tingkat SD, SMP maupun SMA untuk melihat langsung praktik pengelolaan air hujan berbasis masyarakat.

Melalui program ini, peserta IGPA Batch 8 menyaksikan langsung instalasi pemanenan air hujan yang diterapkan di lingkungan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Mereka mempelajari teknik sederhana namun efektif dalam mengolah air hujan agar dapat dimanfaatkan secara aman dan berkelanjutan. Praktik lapangan tersebut menjadi pengalaman penting yang dapat diadaptasi di lingkungan sekolah masing-masing.

Peserta memperoleh penjelasan mengenai konsep dasar pemanenan air hujan, mulai dari proses penangkapan air dari atap bangunan, sistem penyaringan, penyimpanan, hingga pemanfaatannya untuk kebutuhan sehari-hari. Edukasi tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya ancaman krisis air bersih dan perubahan iklim.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa mereka datang untuk memahami secara langsung bagaimana air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan yang bernilai melalui konsep 5M, yaitu menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri.

“Konsep 5M menjadi dasar gerakan pemanfaatan air hujan yang selama ini kami kembangkan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman,” katanya.

Lebih lanjut, Wahyuningsih menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air alami yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari apabila dikelola dengan benar. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk mulai mandiri terhadap kebutuhan air bersih.

Selain itu, para kepala sekolah dikenalkan dengan inovasi penampungan air hujan melalui metode ISLAH (Instalasi Lumbung Air Hujan) beserta alat pengolahan air hujan menggunakan teknologi elektrolisa. Metode ini dirancang sebagai sistem penampungan air hujan yang dapat membantu masyarakat menyimpan cadangan air secara efektif untuk kebutuhan sehari-hari.

“Inovasi ini menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan krisis air bersih sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan,” sambungnya.

Dalam penjelasannya, Wahyuningsih mengatakan bahwa peralatan elektrolisa bekerja dengan memecah molekul air menjadi kandungan asam dan basa sehingga air dapat diolah sesuai kebutuhan.

Demonstrasi penggunaan alat elektrolisa ini menarik perhatian peserta karena memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mendukung kesehatan masyarakat.

Selama diskusi berlangsung, para peserta aktif bertanya mengenai pengolahan air hujan, manfaat kesehatan, hingga strategi penerapan konsep keberlanjutan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama sekaligus refleksi atas pentingnya menjaga sumber daya air di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Melalui kunjungan tersebut, peserta Indonesian Green Principal Award Batch 8 memperoleh pengetahuan baru, sekaligus inspirasi untuk menghadirkan perubahan nyata di lingkungan pendidikan. Pemanenan dan pemanfaatan air hujan dinilai menjadi langkah sederhana namun memiliki dampak besar dalam mendukung kehidupan yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)