Pemkab Sleman Perkuat Komitmen Pelayanan dan Optimalisasi BPHTB untuk Kesejahteraan Masyarakat

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik serta optimalisasi pendapatan daerah melalui penguatan sinergi pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Koordinasi dan Evaluasi Penerimaan BPHTB serta Sosialisasi Pembebasan BPHTB bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dihadiri Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Ballroom The Rich Jogja Hotel, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan, meliputi PPAT, notaris, Kantor Pertanahan, serta OPD, guna mengoptimalkan penerimaan BPHTB tahun 2026 sekaligus memberikan pemahaman terkait kebijakan pembebasan BPHTB bagi MBR.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman, Harda Kiswaya menyampaikan bahwa koordinasi dengan seluruh stakeholder menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung kelancaran pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan pemerintah.

​“Saya minta ada perubahan paradigma pelayanan. Aturan harus kita tegakkan, jangan bermain-main. Kalau secara aturan boleh, segera selesaikan. Kalau tidak boleh, segera beri jawaban dengan cepat agar masyarakat mendapatkan kepastian,” ujarnya.

​Lebih lanjut, Harda menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menghadirkan pelayanan yang transparan dan bebas dari biaya tambahan di luar ketentuan resmi.

​“Saya tegaskan, tidak ada uang sepeser pun untuk urusan tata ruang karena di sana memang tidak ada retribusinya. Fokus kita adalah kolaborasi yang bersih antara Pemerintah Kabupaten, KPP Pratama, BPN, dan IPPAT agar pembangunan di Sleman berjalan baik,” tegas Harda.

Sementara itu, Kepala BKAD Kabupaten Sleman, Abu Bakar dalam laporannya menyampaikan bahwa target penerimaan BPHTB tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp400 miliar. Hingga 27 April 2026, realisasi penerimaan mencapai Rp81,1 miliar atau sebesar 20,27 persen, sehingga diperlukan penguatan sinergi dengan seluruh stakeholder guna mencapai target yang telah ditetapkan.

“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat membantu keluarga yang kurang mampu atau yang membutuhkan, sekaligus mendorong optimalisasi penerimaan BPHTB melalui peningkatan sinergi, validasi data transaksi, serta pemanfaatan sistem e-BPHTB yang telah terintegrasi dengan Kantor Pertanahan,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, guna memastikan optimalisasi pendapatan daerah berjalan selaras dengan peningkatan kualitas pelayanan bagi seluruh lapisan masyarakat.




Jelang Iduladha, Wabup Sleman Pastikan Ketersediaan dan Kesehatan Hewan Kurban Aman

Sleman – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa memastikan ketersediaan dan kesehatan hewan kurban dalam kondisi aman. Hal tersebut disampaikan usai meninjau Kelompok Ternak Karya Tunggak Nyamplung dan Pasar Hewan Ambarketawang, Selasa (5/5/2026). Turut mendampingi, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Kepala Perwakikan BI DIY, Kepala Deputi Bank Indonesia, beserta jajaran.

Berdasarkan hasil pemantauan, Danang menyampaikan terdapat kenaikan harga hewan kurban berkisar antara hingga . Meski demikian, jumlah ternak yang tersedia juga mengalami peningkatan sekitar 10 persen menjelang Iduladha.

Data sementara menunjukkan ketersediaan sapi kurban berjumlah ekor, kambing sejumlah ekor dan domba ekor. Sedangkan estimasi kebutuhan ternak sapi sebesar ekor, kambing ekor, dan domba ekor.

“Untuk mencukupi kekurangan stok bisa dari kelompok ternak di kampung, pasar tiban, dan pembelian langsung dari luar daerah,” jelas Danang.

Terkait kesehatan hewan kurban, Danang memastikan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan telah melakukan pemantauan dan kerja sama dengan pertugas Puskeswan setempat, seperti pemberian vaksin dan pemeriksaan fisik hewan kurban. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencegah kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan juga penyakit Antraks.

“Insya Allah untuk sapi aman. Tapi karena hewan kurban ini juga ada pendatangan sapi dari luar daerah, ini yang harus kita pantau terus,” tandasnya.

Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto, menambahkan pihaknya telah melakukan pencegahan Antraks dengan pemberian vaksin, khususnya untuk hewan kurban di wilayah perbatasan dengan Gunungkidul, yakni Kalurahan Gayamharjo dan Kalurahan Sambirejo Kapanewon Prambanan.

“Kalau untuk vaksinasi PMK kita ulang enam bulan sekali. Secara umum pencegahan kita juga dengan menyemprot truk dan sapi ketika masuk ke pasar hewan, kemudian pemeriksaan hewan ketika masuk juga wajib dilakukan,” papar Rofiq.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Danang sekaligus mengajak masyarakat khususnya panitia kurban, untuk mengganti plastik dengan besek atau anyaman bambu sebagai kemasan daging kurban. Ia berharap, langkah ini dapat mengurangi permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Sleman. Terlebih lagi, Kabupaten Sleman juga memiliki 197 pengrajin anyaman bambu yang siap untuk menyuplai kebutuhan kemasan.

“Monggo kita gunakan besek sebagai bentuk kepedulian kita menjaga lingkungan Kabupaten Sleman agar semakin nyaman,” pungkas Danang.




Masifkan Program Ananda Bersinar, BNNK Sleman Sosialisasi Anti Narkoba di Global Islamic School 3

Sleman — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman terus memperkuat upaya perlindungan generasi muda dari ancaman narkotika melalui program sekolah. Bekerja sama dengan Global Islamic School (GIS) 3 Yogyakarta, BNNK Sleman menyelenggarakan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dalam rangkaian upacara bendera di lapangan sekolah setempat, Senin (4/5/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 156 siswa jenjang SD dan SMP beserta jajaran guru ini mengusung metode unik, di mana perwakilan BNNK Sleman hadir sebagai pembina upacara. Kepala Subbag Umum BNNK Sleman, Dayu Purnama, dalam amanatnya menekankan bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik pendidikan yang mengedepankan nilai budi pekerti sekaligus kewaspadaan terhadap bahaya narkoba yang semakin nyata.

Dayu Purnama memperingatkan para siswa mengenai fenomena perkembangan narkoba saat ini, terutama pola peredaran yang sering kali menggunakan bujuk rayu melalui pemberian makanan atau minuman dari orang asing. Ia mengajak para siswa untuk selalu waspada, rajin belajar, serta patuh kepada orang tua dan guru sebagai kunci utama meraih cita-cita tanpa terjerumus sebagai penyalahguna narkoba. Melalui strategi Ananda Bersinar, BNNK Sleman berupaya memastikan aksi nasional anti narkotika dimulai dari anak-anak.

Kepala BNNK Sleman, Teguh Tri Prasetya, menjelaskan bahwa kehadiran institusinya sebagai pembina upacara di sekolah-sekolah merupakan langkah konkret untuk memasifkan program Ananda Bersinar atau Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai Dari Anak Bersih Narkoba. Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi benteng utama atau Sekolah Bersinar yang mampu melindungi siswa agar tetap menjadi generasi hebat dan berprestasi.

“Siswa sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Melalui program pembina upacara ini, kami ingin memastikan mereka menjadi generasi hebat tanpa narkoba. Harapannya, setiap sekolah di Sleman benar-benar menjadi sekolah yang bersih dari narkoba melalui edukasi yang terus menerus,” ujar Teguh Tri Prasetya memberikan keterangan.

Pihak Global Islamic School 3 Yogyakarta menyambut hangat inisiatif ini sebagai langkah perlindungan bagi para siswanya. Koordinator Humas GIS 3 Jogja, Ide Oktavaga Fillosebi, menyatakan bahwa kehadiran BNNK Sleman memberikan wawasan baru bagi para siswa mengenai pentingnya menjaga diri dari peredaran gelap narkotika sejak dini.

“Kami sangat menyambut baik program pembina upacara dari BNNK Sleman untuk mensosialisasikan P4GN dan Ananda Bersinar. Kerja sama antara GIS 3 Jogja dan BNNK Sleman diharapkan dapat terus ditingkatkan ke depannya untuk bersama-sama mendampingi generasi penerus bangsa meraih masa depan yang gemilang,” kata Ide Oktavaga Fillosebi.




Perkuat Tata Kelola Perusahaan Daerah, Bupati Sleman Lantik Dewan Pengawas PDAM Tirta Sembada

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan tata kelola perusahaan daerah melalui penguatan struktur organisasi. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, secara resmi melantik Sukarmin sebagai Dewan Pengawas PDAM Tirta Sembada di Kantor PDAM Sleman, Senin (4/5/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan perusahaan daerah tersebut berjalan lebih transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Acara pelantikan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa serta Direktur Utama PDAM Tirta Sembada, Bernadus Edy Nugroho. Dalam prosesi tersebut, Harda Kiswaya menegaskan bahwa posisi Dewan Pengawas bukan sekadar jabatan formal, melainkan fungsi strategis untuk mengawal Direksi dalam menjalankan visi perusahaan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat secara luas.

Harda Kiswaya meminta agar Dewan Pengawas yang baru dilantik dapat memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan berbagai tantangan penyediaan air minum di masa depan. Ia berharap pengawasan dilakukan secara konstruktif sehingga mampu memacu inovasi di internal Perumda Air Minum Tirta Sembada.

“Dengan adanya dewan pengawas ini harus betul-betul memberikan manfaat bagi perusahaan dan warga. Lakukan pengawasan secara konstruktif, berikan masukan yang solutif, serta dorong inovasi agar Perumda Air Minum Tirta Sembada mampu menjawab tantangan ke depan yang semakin kompleks,” ujar Harda Kiswaya saat memberikan pengarahan.

Penunjukan Sukarmin yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) dinilai sebagai langkah taktis untuk menciptakan sinergi antarlembaga. Harda menjelaskan bahwa infrastruktur penyediaan air minum sangat berkaitan erat dengan pembangunan infrastruktur publik lainnya yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum. Dengan keterkaitan tersebut, diharapkan pembangunan sistem penyediaan air minum di Sleman dapat berjalan lebih terintegrasi dan efisien.

“Kenapa kami menunjuk dari Dinas PU, karena infrastruktur PDAM itu bergandengan erat dengan kegiatan di PU. Sinergi ini sangat penting agar pengelolaan air minum kita memiliki pondasi infrastruktur yang kuat. Kami harap hasilnya bisa semakin berkualitas dan jangkauan pelayanannya semakin merata,” tambah Harda Kiswaya menjelaskan alasan penunjukan tersebut.

Selain penguatan internal, Bupati juga menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia mengingatkan bahwa profesionalisme seluruh jajaran PDAM akan diuji melalui kepuasan masyarakat selaku pelanggan. Oleh karena itu, kolaborasi yang solid antara Dewan Pengawas, Direksi, dan staf lapangan mutlak diperlukan untuk menjaga kinerja perusahaan tetap prima dalam melayani warga Sleman.




Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Dalami Metode ISLAH di Sekolah Air Hujan Sleman

Sleman — Mahasiswa program studi Sosiologi kini dituntut tidak hanya piawai dalam mengulas teori sosial, tetapi juga harus mampu merespons persoalan nyata di tengah masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh dua mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Arifah Fajri Kusumastuti dan Najwa Mayasaro Sayyidati, yang terjun langsung mempelajari pengolahan air hujan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Senin (4/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas mahasiswa dalam mendalami isu sosiologi lingkungan yang kian relevan dengan kondisi zaman. Pengolahan air hujan menjadi fokus utama karena berkaitan erat dengan problematika akses air bersih dan keberlanjutan sumber daya alam yang sering kali memicu dinamika sosial di masyarakat. Melalui praktik ini, mahasiswa diharapkan dapat melihat bagaimana teknologi lingkungan berinteraksi dengan struktur sosial warga.

Dalam sesi pembelajaran tersebut, keduanya mendalami metode ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Teknologi ini merupakan sistem sederhana namun efektif untuk memanen, menyaring, dan menyimpan air hujan sehingga layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode ini dinilai menjadi solusi alternatif yang paling masuk akal bagi masyarakat untuk menghadapi ancaman keterbatasan air bersih di masa depan.

“Pengolahan air hujan kami pilih sebagai media pembelajaran karena relevansinya dengan isu krisis air bersih yang semakin nyata di berbagai wilayah. Pengalaman belajar langsung di lapangan seperti ini memberikan pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya sekadar membaca teori di bangku kuliah,” ujar Najwa Mayasaro Sayyidati di sela-sela kegiatannya.

Sementara itu, Arifah Fajri Kusumastuti menekankan bahwa keberhasilan penerapan teknologi lingkungan seperti ISLAH tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga pada faktor penerimaan sosial. Ia melihat peran sosiolog sangat penting dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat agar teknologi tersebut dapat diadopsi menjadi budaya baru dalam memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Kamaludin, menjelaskan bahwa ISLAH sebenarnya dirancang lebih dari sekadar inovasi teknis. Menurutnya, ISLAH adalah gerakan perubahan pola pikir atau mindset masyarakat terhadap air hujan yang selama ini sering terbuang percuma. Ia memberikan materi komprehensif mulai dari tahapan penampungan, proses filtrasi, hingga teknik pemanfaatan hasil olahan air agar aman dikonsumsi.

“Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek akses air bersih dan sanitasi layak. Mahasiswi diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan solusi nyata di tengah masyarakat. Kesadaran memanfaatkan air hujan harus dibangun sebagai bagian dari budaya hidup berkelanjutan,” ungkap Kamaludin dengan penuh semangat.

Integrasi antara ilmu sosiologi dan praktik pelestarian lingkungan ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang adaptif dan solutif. Dengan memahami metode ISLAH, para mahasiswa diharapkan memiliki bekal strategis untuk mendorong kemandirian komunitas dalam menjaga ketahanan air secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)