Bentengi Generasi Muda dari Hoaks, Forum KIM Sleman Matangkan Strategi Literasi Digital

Sleman — Derasnya arus disinformasi dan penyebaran berita bohong atau hoaks di platform digital menuntut adanya penguatan benteng literasi hingga ke tingkat akar rumput. Merespons tantangan krusial tersebut, Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman menggelar Rapat Koordinasi strategis yang dipusatkan di Griya Dhahar Taman Merdiko, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Senin (25/5/2026).

Agenda ini sebagai ruang bertukar gagasan antarpengurus untuk merumuskan formula komunikasi publik yang adaptif. KIM yang berbasis pada kekuatan komunitas diproyeksikan mampu menjadi garda terdepan dalam melakukan penyaringan informasi serta menjernihkan ruang digital dari paparan konten negatif yang mengancam stabilitas sosial.

Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Muhammad Arif Rahman, menegaskan bahwa kementerian dan pemerintah daerah menaruh perhatian besar pada penguatan kapasitas literasi digital para pengelola informasi publik di tingkat desa. Menurutnya, akurasi data dan kecepatan penanganan hoaks menjadi indikator utama keberhasilan komunikasi modern.

“Kami sedang menyiapkan program peningkatan kapasitas yang komprehensif bagi seluruh pengurus KIM yang sudah terintegrasi dan terdaftar resmi di platform nasional milik Kominfo. Program penguatan kompetensi digital dan tata kelola informasi masyarakat ini direncanakan berlangsung pada Juni atau Juli 2026 mendatang. Tantangan utama kita saat ini bukan sekadar menyebarkan berita, melainkan bagaimana melatih masyarakat agar memiliki daya kritis dalam memilah informasi yang benar, valid, dan bermanfaat di tengah banjir informasi media sosial,” ujar Muhammad Arif Rahman.

Urgensi diseminasi informasi yang sehat ini diamini oleh Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tempel, Aris Wibawa. Ia menilai bahwa strategi penangkalan hoaks akan jauh lebih efektif jika memanfaatkan jaringan komunikasi tertutup yang intensif digunakan oleh warga sehari-hari, seperti aplikasi pesan instan.

“Penyebaran informasi yang diproduksi oleh KIM Sembada hendaknya dapat disebarluaskan secara masif hingga ke tingkat akar rumput melalui kanal grup WhatsApp keluarga atau RT dan RW. Masyarakat tentu akan lebih mudah menerima dan memercayai pemberitaan dari pihak-pihak yang kompeten, dalam hal ini KIM Sembada dan lebih utama lagi kanal resmi Kominfo Sleman, sehingga kita dapat mempersempit ruang gerak penyebaran informasi palsu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Aris Wibawa menegaskan.

Di sisi lain, Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo Amir, mengungkapkan bahwa konsolidasi ini juga menjadi batu loncatan penting bagi kesiapan daerahnya yang ditunjuk untuk memegang estafet kepemimpinan regional. Sleman tengah bersiap mengemban amanat besar dalam waktu dekat.

“Kami ingin memastikan seluruh roda organisasi KIM di wilayah Sleman dapat berjalan lebih maksimal, aktif, dan inovatif dalam menjawab dinamika lokal. Terlebih lagi, saat ini Sleman sedang mempersiapkan diri sebagai tuan rumah pertemuan akbar Forum KIM se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini menjadi momentum emas bagi kita untuk membuktikan bahwa komunitas informasi berbasis warga mampu menjadi kekuatan sosial yang solid dalam pengelolaan dan transparansi informasi publik,” ucap Adnan Iman Nurtjahjo Amir memaparkan progres kepengurusannya.

Sebagai tuan rumah penyelenggara, Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, mengapresiasi tingginya dinamika diskusi dan komitmen yang ditunjukkan oleh perwakilan 17 kapanewon yang hadir. Guna mengonkretkan pergerakan di sektor ekonomi, dalam forum tersebut KIM Senyum Tempel juga meluncurkan produk literasi cetak berupa Buletin Edisi Mei 2026 bertajuk Buletin UMKM Kita, yang difokuskan sebagai media promosi gratis bagi pelaku usaha mikro setempat.

“Semoga dari Tempel lahir semangat baru untuk membawa Sleman semakin maju dan tangguh, khususnya dalam menghadapi hantaman informasi hoaks. KIM harus hadir dan memosisikan diri sebagai lembaga penjernih informasi di tengah masyarakat. Kami sendiri di Tempel terus menjaga ritme pergerakan ini melalui pertemuan koordinasi rutin pasca-tiga bulanan agar program kerja tetap berjalan berkesinambungan,” jelas Muryana.

Suasana rapat koordinasi berjalan dinamis saat memasuki sesi bedah kasus sosiologis organisasi. Perwakilan KIM Mlati, Y. Edi Setyoharjo, serta Agus Widayadi dari KIM Sleman, secara terbuka mengupas tantangan internal berupa fluktuasi keaktifan pengurus di lapangan. Guna mengatasi kejenuhan organisasi, Suripto dari KIM Ngaglik melemparkan gagasan taktis untuk mengaktifkan kembali unit koperasi KIM Sembada sebagai motor kemandirian finansial institusi.

Aspek regenerasi kepengurusan juga memicu perdebatan konstruktif terkait metode pendekatan terhadap kelompok pemuda. Tokoh KIM Tempel, Sadhono Hadi, mengusulkan pembuatan ruang aktualisasi formal berupa kompetisi jurnalistik tingkat pelajar untuk menjaring bakat-bakat baru dengan menggandeng jurnalis profesional sebagai dewan juri. Namun, pandangan adaptif disuarakan oleh Athiful dari KIM Depok yang menilai pendekatan struktural konvensional justru berisiko menjauhkan minat generasi baru.

“Kita tidak perlu terlalu memaksakan atau mendikte anak-anak muda untuk masuk ke dalam struktur formal KIM jika atmosfer organisasinya belum selaras dengan dunia mereka. Hal yang paling krusial adalah bagaimana kemasan dan performa digital KIM ini bisa tampil lebih kekinian, inklusif, nyaman, dan dekat dengan gaya hidup serta sosiologi komunikasi generasi Z maupun generasi Y. Ketika mereka merasa satu frekuensi, kolaborasi itu akan tercipta dengan sendirinya,” pungkas Athiful menganalisis perilaku audiens muda. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Cegah Kanibalisme Ikan, UKBAT Wonocatur Sleman Intensifkan Teknik Grading Benih Lele

Sleman — Manajemen pendederan yang ketat menjadi kunci utama dalam menekan risiko kerugian peternak akibat tingginya angka kematian bibit ikan. Menyikapi hal tersebut, Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur yang berbasis di Cangkringan, Kabupaten Sleman, secara konsisten menggalakkan penerapan teknik grading atau penyortiran ukuran benih ikan lele guna memacu pertumbuhan komoditas secara optimal dan seragam.

Langkah teknis ini dinilai sangat krusial mengingat karakteristik alamiah ikan lele yang agresif dan memiliki sifat kanibal yang tinggi pada fase bibit. Jika ukuran benih di dalam satu kolam tidak disortir secara berkala, ketimpangan ukuran akan memicu dominasi kelompok besar yang tidak hanya merebut jatah pakan, tetapi juga memangsa kelompok benih yang berukuran lebih kecil.

Pengelola UKBAT Wonocatur, Maryanto, menjelaskan bahwa esensi dari proses grading adalah menciptakan keadilan ruang gerak dan distribusi nutrisi di dalam ekosistem kolam. Melalui pemisahan yang terukur, persaingan pakan yang terlalu ketat antarbenih dapat dieliminasi secara total.

“Selain mencegah ketimpangan pertumbuhan, grading ini berfungsi langsung untuk menekan potensi kanibalisme yang kerap menjadi momok pada budidaya ikan lele, khususnya saat fase pendederan. Perbedaan ukuran tubuh yang terlalu mencolok dapat memicu benih yang besar untuk memangsa benih yang lebih kecil, sehingga mengakibatkan tingginya angka kematian atau mortalitas di tingkat peternak,” ujar Maryanto saat memberikan edukasi praktis kepada warga pada Minggu (24/5/2026).

Maryanto memaparkan bahwa proses penyortiran ini idealnya dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan laju pertumbuhan fisik benih. Dalam pelaksanaannya, pengelola memanfaatkan alat sortir mekanis sederhana yang dirancang khusus agar proses pemisahan dapat berjalan cepat, akurat, dan tidak memicu stres berlebihan pada ikan yang dapat menurunkan imunitas tubuhnya.

Ketelitian peternak dalam menjaga keseragaman ukuran ini diyakini menjadi fondasi utama keberhasilan usaha perikanan darat. Dengan dimensi tubuh ikan yang relatif seragam, efisiensi pemberian pakan dapat ditingkatkan karena sebaran nutrisi menjadi lebih merata ke seluruh populasi kolam, yang pada gilirannya mempercepat pencapaian bobot ideal.

Di samping itu, pengelompokan berdasarkan ukuran ini juga mempermudah para pembudidaya dalam menghitung manajemen logistik pakan serta menentukan batas ideal kepadatan tebar (stocking density) di masing-masing kolam penampungan. Tata kelola yang rapi membuat siklus produksi menjadi jauh lebih efisien dan terukur secara komersial.

“Penerapan grading yang disiplin terbukti mampu mendongkrak kualitas benih yang dihasilkan. Benih yang kondisi fisiknya sehat dan berukuran seragam jauh lebih diminati oleh pasar makro karena memiliki tingkat adaptasi lingkungan yang tinggi serta daya tumbuh yang sangat baik ketika memasuki fase pembesaran oleh pembudidaya di tahap berikutnya,” kata Maryanto menambahkan.

Melihat signifikansi dampak yang dihasilkan, UKBAT Wonocatur terus berkomitmen untuk mendampingi dan mendorong para pembudidaya pemula agar memahami urgensi manajemen pendederan sejak dini. Melalui edukasi yang terstruktur mengenai teknik grading yang rutin dan higienis, lembaga ini optimistis produktivitas bibit lele lokal akan terus merangkak naik, sekaligus memperkuat posisi Sleman sebagai sentra perikanan budidaya yang modern, efisien, dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




UKBAT Wonocatur Kembangkan Budidaya Lele Sistem Kocor di Sleman

Sleman — Upaya modernisasi sektor perikanan darat terus digulirkan guna mendongkrak produktivitas pangan di tingkat daerah. Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta yang gencar mengembangkan metode budidaya ikan lele (Clarias batrachus) menggunakan sistem kocor di kawasan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Metode inovatif ini dinilai menjadi salah satu formula paling efektif untuk melipatgandakan hasil panen sekaligus menjaga stabilitas kualitas lingkungan ekosistem perairan kolam. Melalui pemanfaatan debit air yang mengalir secara kontinu, sistem ini menawarkan solusi atas kendala klasik budidaya konvensional yang kerap terkendala oleh penurunan kualitas air dan tingginya angka kematian komoditas.

Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Budidaya Air Tawar Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, Diduk K Hendra, menjelaskan bahwa sistem kocor mengandalkan sirkulasi udara dan air yang bergerak secara teratur di dalam kolam pemeliharaan. Mekanisme ini menjamin ketersediaan pasokan oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang melimpah dan konstan untuk menopang metabolisme ikan.

“Sistem kocor ini mampu menekan tingkat stres pada ikan lele secara drastis karena air di dalam kolam terus mengalami pembaruan secara alami. Dengan kandungan oksigen terlarut dalam air yang stabil, kondisi fisik ikan menjadi jauh lebih sehat, nafsu makan meningkat tajam, dan risiko serangan penyakit yang sering menghantui para peternak dapat ditekan secara signifikan,” ujar Diduk K Hendra di hadapan perwakilan pengurus pondok pesantren se-Kabupaten Sleman pada Minggu (24/5/2026).

Diduk menambahkan, keunggulan mekanis dari sistem aliran ini terletak pada efisiensi pembersihan kolam secara otomatis. Aliran air yang bergerak konstan mampu mendorong limbah organik sisa pakan serta amoniak dari kotoran ikan keluar dari ekosistem kolam tanpa perlu dikuras secara manual. Hal ini membuat proses sanitasi menjadi jauh lebih praktis dan ramah tenaga kerja jika dibandingkan dengan kolam tradisional bersistem air tenang.

Berdasarkan pemetaan wilayah, implementasi teknologi sistem kocor ini dinilai sangat kompatibel dengan karakteristik geografis kawasan lereng Gunung Merapi seperti Cangkringan yang dianugerahi sumber mata air melimpah. Pasokan air yang bersih dan debit yang stabil dari alam menjadi modal utama yang menjamin keberhasilan sistem sirkulasi terpadu tersebut.

“Tidak hanya meningkatkan kuantitas produksi, sistem kocor ini terbukti mampu mempercepat masa panen ikan lele. Pertumbuhan bobot ikan yang lebih optimal membuat durasi pemeliharaan menjadi lebih singkat, sehingga perputaran arus modal usaha dapat berlangsung lebih cepat dan tentunya jauh lebih menguntungkan bagi para pembudidaya,” kata Diduk menambahkan kalkulasi bisnisnya.

Dampak positif dari penerapan teknologi sederhana ini langsung terlihat pada standarisasi produk hilir. Selain angka mortalitas ikan yang menurun drastis di bawah ambang batas normal, ukuran fisik lele yang dipanen juga memiliki tingkat keseragaman yang tinggi. Karakteristik komoditas yang seragam seperti inilah yang sangat dicari oleh jaringan pasar modern dan industri pengolahan karena memiliki nilai tawar serta harga jual yang jauh lebih kompetitif.

Melalui program kemitraan strategis ini, pemerintah daerah menaruh harapan besar agar adopsi teknologi terapan ini dapat memicu lahirnya kantong-kantong usaha perikanan rakyat yang produktif dan mandiri. Edukasi yang menyasar kelompok santri dan generasi muda ini diproyeksikan mampu mencetak wirausahawan baru di sektor agribisnis, sekaligus menjawab tantangan lonjakan kebutuhan konsumsi ikan nasional yang terus merangkak naik. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Ubah Limbah Jadi Rupiah, Bank Sampah Restu Ibu Sleman Dorong Penerapan Ekonomi Sirkular Berbasis Warga

Sleman — Di tengah kedaruratan tata kelola limbah domestik yang melanda wilayah perkotaan, gerakan swadaya di tingkat rukun warga menjadi tumpuan utama dalam menekan laju timbulan sampah. Merespons tantangan tersebut, Bank Sampah Restu Ibu Padukuhan Sambilegi Lor, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar aksi massal pengelolaan sampah berbasis masyarakat pada Minggu (24/5/2026).

Gerakan lingkungan ini dioptimalkan sebagai instrumen taktis untuk memangkas volume pembuangan sampah langsung dari hulu sekaligus mengedukasi warga mengenai tata cara pemilahan sampah organik dan anorganik dari dapur rumah tangga. Melalui mekanisme insentif, warga diajak untuk merombak perilaku lama yang sekadar membuang sampah, menjadi kebiasaan baru yang memilah dan menabung komoditas daur ulang.

Ketua Bank Sampah Restu Ibu, Elis, menegaskan bahwa eksistensi lembaga yang dipimpinnya memegang peranan krusial dalam mengurai sengkarut persoalan sampah di Kabupaten Sleman. Ia menilai intervensi pemerintah di sektor hilir seperti tempat pembuangan akhir tidak akan pernah cukup tanpa adanya komitmen pemilahan yang radikal dari tingkat keluarga.

“Bank sampah menjadi salah satu pilar penting dalam pengurangan sampah dari hulu. Melalui pemilahan sampah kering dan sistem tabungan ini, warga diajak melihat sampah bukan lagi sebagai limbah yang menjijikkan, tetapi sebagai barang yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi tinggi. Jika dari hulu sudah dipilah, beban pencemaran dan penumpukan di hilir otomatis akan berkurang drastis,” ujar Elis di sela-sela melayani penimbangan sampah warga.

Elis memaparkan bahwa mekanisme operasional Bank Sampah Restu Ibu berjalan dengan cara menghimpun aneka jenis sampah kering yang telah dipisahkan oleh warga secara mandiri, seperti botol plastik, kertas bekas, kardus, kaleng, hingga jenis logam bernilai lainnya. Setiap komoditas yang disetorkan kemudian ditimbang secara transparan dan dikonversikan menjadi saldo tunai yang dicatat di dalam buku tabungan nasabah, sehingga memberikan keuntungan finansial langsung bagi rumah tangga.

Pola insentif ini, lanjut Elis, merupakan pengejawantahan nyata dari konsep ekonomi sirkular berbasis komunitas. Material sisa konsumsi yang dahulu dianggap sebagai beban lingkungan kini berhasil diputar kembali ke dalam rantai pasok industri daur ulang, sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi tambah sekaligus menciptakan kebersihan lingkungan pemukiman.

Di samping keuntungan ekonomi, aktivitas ini juga terbukti efektif dalam memitigasi munculnya titik-titik pembuangan sampah liar di sudut-sudut kampung. Sampah domestik yang dibiarkan telantar tanpa tata kelola yang baik berisiko tinggi menyumbat jaringan drainase selokan, memicu bau tidak sedap, mencemari badan air tanah, hingga menjadi dalang utama munculnya genangan air dan banjir saat hujan melanda.

“Jika sampah dipilah dan dikumpulkan secara disiplin melalui bank sampah, lingkungan padukuhan otomatis menjadi jauh lebih bersih. Sampah tidak lagi dibuang sembarangan ke selokan, pinggir jalan, atau lahan kosong yang akhirnya dapat menimbulkan masalah baru bagi kesehatan masyarakat,” kata Elis menambahkan.

Lebih jauh, Elis memandang pergerakan bank sampah memiliki dimensi sosiologis yang luas sebagai ruang edukasi lingkungan lintas generasi. Di lokasi ini, warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mendapatkan keteladanan praktis mengenai pentingnya memikul tanggung jawab atas sampah yang diproduksi sendiri demi menjaga kelestarian bumi.

Melalui keberlanjutan gerakan ini, Bank Sampah Restu Ibu diharapkan mampu bertransformasi menjadi model percontohan pengolahan limbah mandiri yang dapat diadopsi oleh padukuhan-padukuhan lain di wilayah Sleman. Keterlibatan aktif warga dari unit terkecil diyakini menjadi kunci utama terwujudnya Kabupaten Sleman yang lebih bersih, sehat, dan mandiri secara ekologi maupun ekonomi. (Athiful/KIM Depok)




Green Kayen Sleman Sukses Bertransformasi Jadi Sentra Ekonomi Baru

Sleman — Kawasan ruang terbuka hijau Green Kayen yang terletak di Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, kini sukses bertransformasi menjadi episentrum baru bagi pergerakan ekonomi warga dan pusat kegiatan publik terpadu. Kehadiran deretan lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ramah lingkungan di lokasi tersebut terbukti ampuh menghidupkan iklim usaha lokal pasca-pemberian stimulan modal dari sektor swasta.

Kawasan yang awalnya hanya memiliki satu unit usaha Angkringan Green Kayen pada Oktober 2023 lalu, saat ini mengalami lonjakan kunjungan yang sangat signifikan dari masyarakat luas. Akselerasi perkembangan ini dipicu oleh realisasi bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank BPD DIY senilai Rp80 juta yang dikucurkan guna membangun infrastruktur fisik pendukung usaha mikro di kawasan bantaran hijau tersebut.

Bantuan dana tanggung jawab sosial korporasi tersebut dieksekusi oleh pihak pengelola dengan membangun lima unit lapak UMKM semi permanen serta satu bangunan sekretariat. Sejak rampung dibangun pada Oktober 2025, kawasan kuliner Green Kayen terus berkembang dinamis dengan bermunculannya aneka menu andalan baru seperti soto ayam dan mie ayam. Memasuki fase Mei 2026, variasi jajanan di lokasi ini kian semarak dengan hadirnya tenant Bakso Tusuk Payaman yang menjadi magnet baru bagi para pemburu kuliner lokal.

Suasana hidup dan ramainya kunjungan di area ruang publik ini terlihat jelas pada Minggu (24/5/2026). Selain dipadati oleh warga yang berburu kuliner dengan harga terjangkau di bawah rindangnya pepohonan, Green Kayen pada hari itu juga dipilih menjadi lokasi pelaksanaan agenda skala besar bertajuk WEDAY UGM 2026 yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup. Event bertema pelestarian alam tersebut dimeriahkan dengan kompetisi permainan tradisional seperti egrang dan bakiak yang diikuti peserta dengan penuh antusiasme.

Pengembangan Green Kayen sebenarnya telah diinisiasi sejak awal tahun 2023. Pada Januari 2023, bangunan pendopo lama milik Pemerintah Kalurahan Condongcatur dipindahkan secara utuh ke lokasi ini untuk difungsikan sebagai fasilitas utama pertemuan warga. Selanjutnya, pada April 2024, infrastruktur keagamaan berupa Mushola Green Kayen resmi diselesaikan dan mulai digunakan perdana untuk menjamin kenyamanan beribadah para pengunjung yang beraktivitas di lokasi terbuka hijau tersebut.

Pengelola Green Kayen, Dhadang Hermawan, mengonfirmasi bahwa saat ini kawasan yang dikelolanya telah memperluas fungsi sosiologisnya. Green Kayen kini tidak lagi sekadar menjadi destinasi wisata kuliner murah, melainkan telah berevolusi menjadi ruang publik multi-aktivitas yang ramah bagi berbagai lintas komunitas dan institusi pendidikan tinggi di Yogyakarta.

“Pendopo Green Kayen yang merupakan aset pindahan dari Pendopo Lama Kalurahan Condongcatur ini alhamdulillah sekarang rutin dimanfaatkan masyarakat untuk bermacam-macam kegiatan. Area ini kerap disewa oleh kampus-kampus besar seperti UGM, UNY, UAD, hingga UTY untuk agenda makrab mahasiswa, outbound ringan, dan camping. Selain itu, kelompok masyarakat juga sering menggunakannya untuk acara syawalan, pengajian, pertemuan trah keluarga, hingga perayaan ulang tahun komunitas sepeda dan motor,” ujar Dhadang Hermawan saat memberikan keterangan di lokasi panggung utama.

Dhadang menambahkan, untuk menunjang kenyamanan kegiatan berskala massal, pengelola telah melengkapi Green Kayen dengan fasilitas sanitasi yang mumpuni, berupa enam unit kamar mandi yang tersebar di samping pendopo dan area mushola, serta area tanah lapang yang representatif untuk kegiatan luar ruangan. Kendati demikian, pihak pengelola menegaskan bahwa cetak biru pengembangan Green Kayen akan terus digulirkan ke depan demi menyempurnakan kualitas pelayanan publik di sektor pariwisata berbasis lingkungan ini.

“Harapan kami ke depan, fasilitas dan sarana penunjang di Green Kayen dapat terus kami tambah dan tingkatkan lagi agar semakin nyaman. Untuk merealisasikan hal itu, kami membuka pintu kerja sama selebar-lebarnya bagi instansi pemerintah maupun perusahaan swasta lainnya yang ingin menyalurkan dukungan dana CSR demi pengembangan kawasan ini agar lebih tertata, lengkap, dan representatif,” kata Dhadang memaparkan rencana strategisnya.

Pihak pengelola juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pemangku kepentingan yang sejak awal berkomitmen mengawal pertumbuhan kawasan ini, mulai dari manajemen Bank BPD DIY, Larissa Aesthetic Center, hingga Pemerintah Kalurahan Condongcatur yang memberikan ruang legalitas pemanfaatan lahan publik secara produktif. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam upaya membangkitkan ekonomi kerakyatan berbasis kelestarian ruang terbuka hijau yang berkelanjutan. (Wasana/KIM Depok)