Atasi Dampak Penutupan TPA Piyungan, TPS3R Makmur Mandiri Sleman Operasikan Mesin Pemilah Skala Industri

Sleman — Kebijakan penghentian operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan secara permanen terus memicu desentralisasi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Sebagai wilayah yang berada di koridor perbatasan langsung dan hanya berjarak lima kilometer dari TPA Piyungan, TPS3R Makmur Mandiri Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, kini bertransformasi mengadopsi mekanisasi teknologi tepat guna guna mengurai kedaruratan volume residu domestik.

Berdiri di atas lahan kas desa seluas meter persegi, fasilitas lingkungan yang dikelola di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Mandiri ini memikul tanggung jawab besar memproses sedikitnya 10 ton sampah per hari. Pasokan limbah masif tersebut berasal dari kepala keluarga yang menjadi pelanggan aktif di kawasan selatan Sleman tersebut.

Sebelum TPA Piyungan ditutup, manajemen pengelolaan terhitung lebih mudah karena seluruh residu sisa pemilahan dapat langsung dibuang ke hilir. Namun, pasca-penutupan, tumpukan sampah sempat menjadi persoalan pelik yang memaksa Pemerintah Kalurahan Sendangtirto dan pengelola BUMDes memutar otak untuk menemukan skema reduksi sampah yang cepat dan bernilai ekonomis. Langkah taktis kemudian diambil melalui pengadaan stimulus hibah unit mesin pemilah sampah otomatis dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Kehadiran mesin pemilah sampah dari pemerintah kabupaten melalui dinas terkait ini secara perlahan mulai mengurai backlog antrean sampah di TPS3R Makmur Mandiri. Meskipun sistem pengolahan ini belum bisa dikatakan sempurna seratus persen, namun alat mekanis ini memotong rantai waktu pemilahan manual secara signifikan,” ujar Penanggung Jawab Pengelolaan Sampah TPS3R Makmur Mandiri, Agus Hitami, saat memberikan keterangan di kompleks workshop Berbah pada Senin (1/6/2026).

Agus menguraikan, tantangan terbesar dalam operasionalisasi teknologi ini terletak pada kebutuhan pasokan daya listrik yang sangat besar. Mengingat rangkaian mesin pemilah digerakkan oleh dinamo listrik bertenaga besar, instalasi di lokasi wajib ditingkatkan menggunakan jaringan listrik khusus skala industri. Kebutuhan teknis inilah yang sempat membuat pengoperasian alat pemilah tersendat beberapa waktu lalu sebelum akhirnya mendapat intervensi kebijakan dari lurah setempat.

Peran aktif Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, sebagai pemangku kebijakan lokal dinilai sangat krusial dalam mempercepat koordinasi dengan penyedia daya listrik hingga mesin pemilah tersebut akhirnya resmi beroperasi penuh. Langkah ini didukung oleh kesiapan aspek sumber daya manusia di lapangan, di mana TPS3R Makmur Mandiri saat ini mempekerjakan 16 orang petugas terampil yang terbagi dalam dua kluster kerja.

Enam personel ditugaskan di bagian hulu untuk melakukan mobilitas pengambilan sampah ke rumah-rumah warga dengan mengandalkan armada satu unit truk, satu pikap, dan dua motor roda tiga. Sementara itu, sepuluh personel lainnya bersiaga di bagian hilir sebagai operator mesin pemilah, pengawas komposting, serta petugas pengemasan (packing) sampah anorganik yang memiliki nilai jual di pasar daur ulang.

Guna mengoptimalkan ruang penyimpanan gudang, pihak pengelola juga mengoperasikan alat pres hidraulis khusus yang digerakkan oleh dinamo listrik. Alat ini berfungsi untuk memadatkan sampah jenis duplek atau karton hingga menjadi satu paket kemasan padat seberat 40 kilogram.

“Dengan mempergunakan mesin pres hidraulis ini, kami bisa memperkecil volume ruang material anorganik secara drastis. Hal ini sangat mempermudah proses penyimpanan di gudang agar tidak memakan tempat, sekaligus mengefisiensikan kapasitas muat truk saat pengiriman ke pabrik daur ulang mitra kami,” kata Agus yang juga merupakan praktisi rekayasa teknologi mesin pengolah sampah lulusan Yayasan Dian Desa tersebut.

Sinergi antara pemanfaatan teknologi tepat guna, dukungan penuh regulasi kalurahan, dan ketelatenan para pekerja lapangan di Sendangtirto ini menjadi draf percontohan konkret bagi wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemandirian mengolah sampah dari level desa diharapkan mampu memutus ketergantungan pada TPA regional sekaligus menciptakan sirkular ekonomi baru yang bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat. (Kusnadi/KIM Berbah)




Dobrak Stigma Gengsi, Dukuh Muda di Moyudan Sleman Sukses Kelola Bisnis Ternak Domba Sirkular

Sleman — Profil pejabat kewilayahan di era modern kini kian dinamis dengan hadirnya representasi generasi muda yang adaptif dan produktif. Menepis anggapan bahwa perangkat desa hanya berfokus pada urusan birokrasi di balik meja, Rama Wikan Pratama, seorang pemuda berusia 24 tahun yang menjabat sebagai Dukuh Klisat, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, konsisten turun langsung ke lapangan untuk mengelola usaha peternakan domba miliknya.

Lini usaha peternakan tersebut sejatinya telah dirintis sejak tahun 2020, tepat setelah ia menyelesaikan pendidikan bangku SMA. Komitmen dan etos kerja yang tinggi membawa Rama terpilih menduduki jabatan struktural sebagai kepala padukuhan atau Dukuh Klisat pada Desember 2024. Kendati memikul tanggung jawab formal dalam pelayanan publik harian, ia menolak untuk meninggalkan sektor agribisnis yang telah membentuk kemandirian ekonominya sejak remaja.

Keputusan taktis untuk mempertahankan dua peran strategis ini membuahkan hasil signifikan, terutama dalam menangkap peluang pasar pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 H. Pada musim kurban pertengahan tahun ini, Rama sukses memasarkan dua puluh ekor domba dan kambing berkualitas super dengan harga berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta per ekor, yang mengindikasikan adanya lonjakan margin keuntungan hingga 30% jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.

“Mengapa kita harus memelihara rasa malu atau gengsi dalam bekerja? Selama seluruh proses usaha yang kita jalankan itu berada di koridor yang baik dan halal, tidak ada alasan sedikit pun untuk merasa minder. Justru melalui kandang ini, kami ingin membuktikan bahwa sektor peternakan rakyat memiliki prospek kapitalisasi ekonomi yang sangat riil dan menjanjikan, khususnya bagi para pemuda di kawasan perdesaan agar tidak berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota besar,” ujar Rama Wikan Pratama saat ditemui di sela-sela aktivitas sanitasi kandang komunal di Klisat pada Senin (1/6/2026).

Mengenai manajemen pakan harian, Rama memaparkan bahwa karakteristik geografis wilayah Sumbersari masih sangat mendukung ketersediaan hijauan melimpah. Lahan kosong dan pekarangan di sekitar pemukiman warga menyediakan pasokan rumput liar yang melimpah sehingga mampu menekan biaya operasional hulu secara signifikan.

Guna melakukan akselerasi peningkatan bobot dan menjaga imunitas ternak dari serangan penyakit, ia menerapkan metode kombinasi pakan sirkular. Pola penggemukan (fattening) mengombinasikan pakan alami dengan pakan tambahan berupa konsentrat pabrikan bersertifikat, sehingga kualitas daging domba yang dihasilkan memenuhi standar kelayakan hewan kurban nasional.

“Ketersediaan pakan hijau di wilayah kami sebenarnya melimpah ruah, sehingga sama sekali tidak merepotkan untuk urusan merumput harian. Namun, untuk mengejar target bobot optimal menjelang Iduladha, asupan nutrisi tambahan dari konsentrat tetap wajib diberikan secara teratur. Kami melihat serapan pasar untuk komoditas ini masih sangat terbuka lebar, mengingat tren permintaan hewan kurban di Moyudan terus mencatatkan kurva kenaikan yang linier dari tahun ke tahun,” kata Rama menjelaskan teknis pemeliharaannya.

Berdasarkan data draf kompilasi dari Pemerintah Kalurahan Sumbersari, angka penyembelihan hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini mencapai 165 ekor domba dan kambing di luar komoditas sapi, yang tersebar di belasan masjid dan musala wilayah setempat. Potensi pasar lokal yang besar tersebut memicu optimisme Rama untuk segera mengeksekusi rencana perluasan kapasitas kandang serta memperluas penetrasi jaringan pemasaran digital ke lingkup Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aksi nyata yang ditunjukkan oleh sang dukuh muda ini mendapat respons positif dan apresiasi tinggi dari para tokoh masyarakat Klisat. Pola kepemimpinan lapangan yang ditunjukkan Rama dinilai mampu menjadi figur teladan (role model) yang mendobrak stigma bahwa pekerjaan beternak itu kotor dan tidak bergengsi. Kehadirannya di tengah warga membuktikan bahwa jabatan pelayan publik justru menjadi pemantik untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan dan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat akar rumput. (Giek/KIM Moyudan)




Geliat Industri Rumahan Musiman Iduladha di Sleman, Jasa Olah Daging Kurban Jadi Abon Kebanjiran Order

Sleman — Momentum Hari Raya Iduladha tidak hanya membawa berkah keagamaan, tetapi juga memicu denyut ekonomi kreatif di sektor hilirisasi pangan berskala mikro. Di saat masyarakat menerima limpahan draf daging kurban, sebagian warga cerdas menangkap peluang bisnis dengan membuka jasa pengolahan daging sapi menjadi abon gurih yang siap saji dan memiliki daya simpan yang lama.

Fenomena bisnis musiman yang prospektif ini salah satunya ditekuni oleh pasangan suami istri, Sandi, di Dusun Tegal Domban, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Memanfaatkan momentum perayaan hari raya kurban, halaman rumah mereka disulap menjadi area produksi komunal guna memenuhi lonjakan pesanan dari warga yang ingin mengonversikan jatah daging kurbannya menjadi lauk praktis berkadar air rendah.

Sandi menjelaskan bahwa lini usaha jasa pembuatan abon daging sapi ini memiliki karakteristik durasi yang sangat pendek atau musiman. Operasional intensif biasanya hanya berlangsung efektif selama empat hari saja pasca-hari penyembelihan, mengingat setelah fase tersebut volume pasokan daging kurban di masyarakat mulai menurun drastis dan tidak lagi efisien untuk menutup biaya operasional kayu bakar dan tenaga kerja.

“Sehari-hari basis produksi utama kami sebenarnya adalah abon ayam dengan merek dagang Abon Miraos. Namun, begitu masuk musim Iduladha seperti sekarang, kami langsung mengalihkan fokus untuk membuka jasa pembuatan abon dari bahan daging sapi milik warga yang sangat ramai peminatnya. Dalam sehari, kami bisa mengeksekusi pengolahan hingga tiga puluh kilogram daging sapi murni berkat tingginya kepercayaan konsumen dari wilayah Tempel dan sekitarnya,” ujar Sandi di sela-sela aktivitas menggoreng abon di halaman rumahnya pada Senin (1/6/2026).

Sandi memaparkan bahwa teknis pembuatan abon sapi dengan kualitas premium menuntut ketelatenan dan standardisasi proses yang cukup rumit. Fase awal dimulai dari pemilihan daging yang wajib steril dari kandungan gajih atau lemak murni, yang kemudian direbus hingga empuk lalu ditumbuk secara manual agar serat-serat dagingnya terurai sempurna sebelum masuk ke wajan penggorengan bersama racikan bumbu rempah tradisional.

“Titik paling krusial yang menentukan keberhasilan tekstur dan rasa abon itu terletak pada fase penggorengan harian. Kami menggunakan wajan raksasa di atas tungku kayu bakar, di mana satu wajan mampu memuat lima kilogram daging. Kami mengoperasikan dua wajan sekaligus agar kapasitas sepuluh kilogram bisa selesai dalam sekali proses. Pola mekanisnya, selama setengah jam pertama saat minyak delapan liter mulai dipanaskan, adonan daging sama sekali tidak boleh diaduk sampai minyak benar-benar mendidih. Setelah fase itu, barulah adonan wajib diaduk tanpa henti selama tiga jam lamanya secara konstan karena jika lengah sedikit saja, serat daging akan langsung melekat di dasar wajan dan memicu kegosongan,” kata Sandi menjabarkan detail produksinya.

Sandi secara sengaja tetap mempertahankan penggunaan bahan bakar kayu tradisional dibandingkan beralih ke tabung gas modern. Selain faktor efisiensi biaya produksi, karakter api dari kayu bakar dinilai mampu menghasilkan hantaran panas yang maksimal dan merata, serta memberikan aroma asap khas (smoky) yang memperkuat cita rasa autentik abon sapi miliknya meskipun para pekerja harus tahan terhadap sengatan hawa panas tungku di udara terbuka.

Usai proses penggorengan selama berjam-jam selesai, draf abon yang telah matang berwarna cokelat keemasan tersebut langsung dimasukkan ke dalam mesin pemeras minyak (spinner). Langkah mekanis dengan cara diputar cepat ini sangat vital untuk mereduksi sisa kadar minyak hingga kering sempurna, sehingga komoditas abon sapi sirkular ini tidak mudah tengik dan siap didistribusikan kembali ke meja makan keluarga konsumen sebagai alternatif pangan sehat jangka panjang. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Cetak Hattrick Bersejarah, Drum Band MTsN 2 Sleman Rebut Piala Bergilir UNY Menjadi Piala Tetap

Sleman — Rekor baru dalam dunia seni pertunjukan musik tiup dan perkusi tingkat remaja sukses diukir oleh perwakilan pelajar Kabupaten Sleman. Tim Drum Band Gema Suara Masda besutan MTsN 2 Sleman berhasil menobatkan diri sebagai Juara Umum dalam ajang bergengsi Klasemen Senior Non Brass Marching Band Indonesia SMP/MTs Citra Derap Bahana (CDB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2026 yang puncaknya berlangsung pada Senin (1/6/2026).

Kemenangan ini terasa sangat monumental dan emosional karena menjadi raihan gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara berturut-turut oleh madrasah tersebut. Berdasarkan regulasi ketat kejuaraan nasional CDB UNY, keberhasilan mencetak hattrick prestasi ini membuat trofi bergilir yang diperebutkan oleh puluhan sekolah dari berbagai daerah tersebut kini resmi diserahkan untuk draf kepemilikan permanen atau menjadi piala tetap MTsN 2 Sleman.

Dominasi Gema Suara Masda di atas lantai kompetisi dibuktikan lewat penguasaan podium pada delapan kategori penilaian utama yang diawasi oleh dewan juri independen. Tim perwakilan Sleman ini sukses mengamankan predikat Juara Umum Tropi Piala Bergilir Menjadi Piala Tetap, Juara 1 General Effect, Juara 1 Field Commander, Juara 1 Konser, Juara 1 Color Guard, Juara 1 Analisis Musik, serta Juara Defile Klasemen Senior Combc 2026. Sementara untuk kategori Paramanandi, mereka harus puas menduduki posisi Juara 2 nasional.

“Alhamdulillah, sebuah kebanggaan luar biasa tim kita mampu meraih juara umum untuk yang ketiga kalinya di tingkat universitas negeri. Karena konsistensi raihan ketiga secara beruntun ini, piala bergilir yang sangat prestisius itu akhirnya sah menjadi piala tetap milik madrasah kami untuk tahun 2026. Ini bukan sekadar piala biasa, melainkan simbol draf perjuangan panjang anak-anak yang mengorbankan waktu luangnya untuk berlatih disiplin,” ujar Kepala MTsN 2 Sleman, Titik Susilowati, dengan mata berkaca-kaca menahan haru pasca-pengumuman pemenang.

Titik memaparkan, manajemen madrasah menerapkan pola pendampingan total selama masa persiapan yang memakan waktu berbulan-bulan. Unsur pimpinan sekolah turun langsung ke lapangan guna menunggui proses latihan berkala hingga larut malam demi memastikan pemenuhan gizi, motivasi mental, hingga jaminan keselamatan kepulangan para siswa ke rumah masing-masing dalam kondisi aman.

Kombinasi ketat antara keselarasan dentuman drum, akurasi tiupan alat musik tiup, serta konfigurasi estetis koreografi pasukan pengibar bendera (color guard) menjadi kunci keunggulan nilai mereka dari aspek general effect. Kompleksitas aransemen yang dibawakan menuntut tingkat fokus dan sinkronisasi motorik yang sangat tinggi dari puluhan personel yang terlibat di dalam lapangan.

“Keberhasilan makro ini mutlak tidak lepas dari konsistensi semangat dan kerja keras semua pihak tanpa terkecuali. Persiapan yang matang, latihan intensif yang menguras fisik, hingga pelaksanaan lomba berjalan dengan penuh rasa kebersamaan yang kokoh. Kompetisi marching band dengan jumlah personel massal seperti ini menuntut tingkat koordinasi kolektif yang sangat tinggi. Satu orang saja melakukan kesalahan ritme, maka fatal bagi keseluruhan nilai tim. Namun, anak-anak membuktikan bahwa mereka mampu memikul tanggung jawab besar itu,” kata Titik menambahkan analisis teknisnya.

Capaian legendaris ini diharapkan bertransformasi menjadi stimulus dan inspirasi positif bagi ekosistem pendidikan di Kabupaten Sleman agar terus memfasilitasi minat bakat siswa di luar ranah akademik formal. Manajemen sekolah menegaskan bahwa investasi pada pembentukan karakter, kedisplinan, dan mentalitas juara melalui unit kegiatan ekstrakurikuler terbukti ampuh melahirkan generasi muda yang tangguh, kompetitif, dan siap bersaing di level nasional.

“Kami menghaturkan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada seluruh personel tim drum band, jajaran pelatih profesional yang sabar, guru pendamping, serta persatuan orang tua murid yang telah memberikan dukungan moral maupun materil secara penuh tanpa henti. Raihan piala tetap ini adalah hadiah terindah dan torehan tinta emas bagi perjalanan sejarah madrasah kita tercinta,” tutur Titik Susilowati memungkasi kalimatnya dengan senyuman bangga. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Pancasila Hidup sebagai Ideologi Tangguh

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman sukses menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Pemerintah Daerah Sleman, Kabupaten Sleman, pada Senin pagi (1/6/2026). Momentum sakral ini dimanfaatkan otoritas daerah untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan serta meneguhkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pemersatu bangsa dalam menghadapi ancaman disrupsi global di era modern.

Bertindak selaku Inspektur Upacara yakni Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Agenda kenegaraan ini turut diikuti secara khidmat oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman. Prosesi pengibaran Bendera Merah Putih yang dikawal oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Sleman berjalan lancar tanpa hambatan di bawah atmosfer penuh semangat nasionalisme.

Dalam amanat Bupati Sleman yang dibacakan oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, ditegaskan bahwa dasar negara tidak boleh sekadar menjadi jargon politik tekstual, melainkan wajib diimplementasikan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara harian. Penjagaan terhadap nilai falsafah ini krusial agar kemajemukan masyarakat tetap berada dalam satu ikatan yang utuh dan harmonis.

“Melalui tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, yaitu Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, kita sedang memberikan pernyataan tegas kepada publik bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan internal bangsa kita saja, melainkan juga menjadi jawaban konkret bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Pancasila membawa Indonesia bertumbuh menjadi bangsa yang besar dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang saling menguatkan,” ujar Danang Maharsa saat membacakan draf amanat.

Danang menguraikan, tantangan paling nyata yang dihadapi oleh generasi muda saat ini adalah penetrasi arus globalisasi serta disrupsi digital yang bergerak sangat dinamis. Penguatan literasi digital berbasis ideologi negara menjadi benteng utama agar peradaban bangsa tidak tergerus oleh infiltrasi budaya asing yang tidak selaras dengan kepribadian ketimuran.

“Saat ini kita semua sedang berhadapan dengan tantangan globalisasi dan disrupsi digital yang luar biasa masif. Namun, kami optimistis, berbekal penempatan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup dan dipraktikkan dalam keseharian, bangsa Indonesia akan senantiasa mampu membuktikan ketangguhannya dalam melewati berbagai terpaan zaman,” kata Danang menambahkan.

Menariknya, pelaksanaan upacara tahun ini juga bertepatan dengan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pihak otoritas birokrasi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerukan gerakan pelestarian ekologi secara masif melalui internalisasi kearifan lokal Jawa, yaitu filosofi “Memayu Hayuning Bawono”. Konsep tersebut menekankan ajaran moral bahwa kelangsungan hidup manusia mutlak tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kondisi kelestarian lingkungan alam di sekitarnya.

“Bumi ini adalah rumah kita bersama, tempat di mana masa depan anak cucu kita digantungkan. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan alam ini dengan penuh rasa cinta. Melalui aksi nyata penanganan sampah dan penghijauan, mari kita wariskan lingkungan hidup yang sehat, hijau, dan layak huni untuk generasi mendatang di Kabupaten Sleman,” ujar Danang memungkasi pidatonya.