Sarasehan PADAS Bahas Teknik Melawak dan Upaya Pelestarian Budaya Dagelan

Sleman – Pekerjaan sebagai pelawak atau dhagelan bukanlah profesi yang mudah. Dibutuhkan kemampuan, kepekaan, dan proses belajar yang panjang agar seorang pelawak mampu menghibur sekaligus diterima oleh penonton.
Hal tersebut disampaikan salah satu seniman, KRT. Stefanus Prigel Siswanto atau yang akrab sapa Dalijo Angkring, selaku pembicara dalam Sarasehan Induk Organisasi Paguyuban Dagelan Sleman (PADAS), Kamis (4/6/2026), di Aula Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.
“Melawak itu pekerjaan yang ringkih. Tidak jarang orang mencoba tampil melawak, tetapi tidak berhasil. Sebagai contoh, jika melawak di pinggir jalan raya, suara kendaraan dan klakson bisa lebih dominan sehingga lawakannya kalah,” ujarnya.
Dalijo menekankan pentingnya seorang pelawak untuk terus belajar dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan, audiens, serta situasi dan waktu. Kepekaan sangat dibutuhkan untuk menarik perhatian penonton saat tampil. Materi, lelucon, ekspresi, maupun waktu penyampaian harus mampu disesuaikan dengan kondisi audiens tanpa meninggalkan ciri khas masing-masing pelawak.
“Ciri khas itu penting karena merupakan jati diri seorang pelawak. Melucu boleh, tetapi jangan sampai menyakiti. Hindari body shaming, menghina fisik, simbol negara, maupun hal-hal yang berkaitan dengan SARA,” tegasnya.
Selain Dalijo Angkring, kegiatan juga menghadirkan seniman dagelan, Wisben Antoro sebagai narasumber. Pada kesempatan itu, Wisben menyampaikan pentingnya membangun rasa percaya diri bagi seorang pelawak.
Ia menjelaskan bahwa bahan lawakan dapat diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman pribadi, pengalaman keluarga, kebiasaan sehari-hari, hingga pengalaman kegagalan hidup.
“Bahkan kesombongan, kesulitan hidup, maupun kegagalan bisa menjadi bahan lawakan. Yang terpenting adalah bagaimana mengemasnya menjadi hiburan yang sehat, etis, dan menghibur,” katanya.
Terkait program organisasi ke depan, Ketua PADAS, Suparno menyampaikan bahwa pihaknya berencana menyusun program pembinaan melalui penyelenggaraan lomba dagelan antarkapanewon di Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan seniman dan seniwati muda, yang mampu meneruskan tradisi dagelan sebagai budaya daerah.
“Dengan demikian, komitmen untuk mewariskan, menjaga, dan mengembangkan budaya dagelan sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Sleman dapat terus terwujud,” ujar Suparno. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)



