Kabupaten Sleman Raih Peringkat Dua Pembiayaan Kreatif Terbaik se-Jawa Bali

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman sukses mengukuhkan posisinya sebagai salah satu daerah paling inovatif dalam tata kelola keuangan di tingkat nasional. Kabupaten Sleman berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia sebagai Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali dengan menduduki peringkat kedua untuk kategori Creative Financing atau Pembiayaan Kreatif.

Apresiasi berskala nasional tersebut diserahkan secara langsung dalam rangkaian acara malam penghargaan yang berlangsung khidmat di Hotel Marriott Yogyakarta, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Kamis (4/6/2026) malam. Keberhasilan ini menegaskan kemampuan Sleman dalam memecahkan kebuntuan fiskal daerah melalui draf skema pembiayaan alternatif yang tidak hanya bertumpu pada dana transfer pemerintah pusat.

Kategori pembiayaan kreatif ini menilai secara rigid kemampuan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya lokal dan menciptakan terobosan segar guna mendanai pembangunan infrastruktur serta layanan publik. Rangkaian indikator penilaiannya meliputi inovasi perluasan pajak dan retribusi daerah, profesionalisme pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga efektivitas pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta untuk menggerakkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, tim penilai independen juga menyoroti efisiensi tata kelola barang milik daerah, produktivitas Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), serta keberanian kepala daerah dalam menjalin kemitraan strategis melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Seluruh instrumen tersebut dikombinasikan dengan akselerasi digitalisasi sistem transaksi, transparansi tata kelola keuangan, serta konsistensi dalam mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).

“Kami merasa sangat bangga, terharu, sekaligus bersyukur atas apresiasi tinggi yang diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri kepada Kabupaten Sleman. Saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk teman-teman aparatur sipil negara dan seluruh elemen yang telah bekerja keras dan cerdas. Penghargaan ini harus menjadi draf motivasi bersama untuk terus meningkatkan tata kelola keuangan daerah, sehingga kemampuan pemkab untuk membangun wilayah dengan kekuatan mandiri semakin kokoh dan suatu hari nanti Sleman bisa benar-benar berdikari secara finansial,” ujar Bupati Sleman, Harda Kiswaya, saat memberikan tanggapan resmi pasca-menerima trofi penghargaan.

Di sisi lain, otoritas pembina pemerintah daerah menegaskan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan instrumen penting untuk merangsang iklim kompetisi yang sehat di lingkungan birokrasi. Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menjelaskan bahwa lembaganya menerapkan sistem pengawasan sirkular yang sangat ketat, di mana teguran tertulis hingga sanksi fiskal akan langsung dijatuhkan bagi daerah yang melanggar hukum atau serapan anggarannya rendah.

Oleh karena itu, penyerahan insentif prestasi ini diposisikan sebagai fungsi penyeimbang (reward) agar pemerintah daerah yang berkinerja tinggi mendapatkan draf pengakuan yang layak atas dedikasinya. Tito berharap skema pembiayaan kreatif yang dipertontonkan oleh Sleman dapat direplikasi oleh kota dan kabupaten lain di Indonesia demi memotong ketergantungan kronis terhadap APBN.

“Kali ini kita berikan apresiasi tinggi kepada daerah berprestasi supaya manajemen draf pengawasan ini berimbang antara sanksi dan penghargaan. Harapannya, langkah pemberian reward ini dapat memperkuat budaya kinerja yang berorientasi pada hasil, memicu motivasi kepemimpinan lapangan, serta memunculkan iklim kompetitif yang sehat antar-pemerintah daerah di seluruh penjuru tanah air,” ungkap Tito Karnavian dalam pidato kuncinya.

Selain dihadiri oleh jajaran petinggi Kementerian Dalam Negeri, malam penganugerahan akbar ini juga turut dihadiri oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, serta ratusan kepala daerah mulai dari tingkat gubernur hingga bupati dan wali kota se-Jawa Bali beserta pemangku kepentingan industri keuangan nasional. Kemenangan Sleman dalam draf pembiayaan kreatif ini diharapkan menjadi draf percontohan nasional mengenai bagaimana kemitraan strategis pihak ketiga mampu melahirkan pembangunan fasilitas publik yang megah tanpa membebani neraca utang daerah.




Cegah Konflik Sosial di Era Digital Dengan Lima Pilar Komunikasi Sehat

Sleman — Derasnya arus informasi di era digital tidak hanya mendekatkan yang jauh, tetapi juga berpotensi memicu keretakan sosial jika tidak diimbangi dengan etika berkomunikasi yang matang. Menyadari krusialnya persoalan tersebut, Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) menyelenggarakan kajian interaktif yang mengupas tuntas formula komunikasi harian bertempat di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu sore (7/6/2026).

Agenda pembinaan mental dan spiritual ini memosisikan komunikasi yang sehat sebagai fondasi paling utama dalam memelihara keharmonisan domestik di dalam keluarga maupun dalam interaksi sosial kemasyarakatan makro. Melalui kajian ini, dirumuskan lima pilar komunikasi santun berbasis nilai spiritual Islam yang dinilai sangat kontekstual untuk mereduksi ketegangan sosial akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial di era modern.

Narasumber kajian, Bambang Edi Susyanto, menguraikan bahwa hakikat komunikasi yang sehat sama sekali tidak terbatas pada aspek kelancaran berbicara atau kecakapan retorika semata. Esensi terdalam dari aktivitas sirkular ini justru terletak pada bagaimana cara seseorang mampu memahami, menghargai, dan merespons kawan bicaranya dengan menempatkan rasa hormat yang tinggi.

“Karakteristik pertama yang wajib ditegakkan dalam sebuah hubungan adalah perkataan yang jujur, objektif, dan benar atau dikenal sebagai Qaulan Sadidan. Setiap individu harus membiasakan diri menyampaikan pikiran dan perasaan secara terbuka tanpa menyembunyikan kebenaran, karena keterbukaan inilah yang menjadi draf dasar terbentuknya rasa saling percaya. Pilar kedua adalah selalu berkomitmen berkata yang baik atau Qaulan Ma’rufa untuk memicu energi positif di lingkungan sekitar,” ujar Bambang Edi Susyanto saat memaparkan materi di hadapan jamaah.

Bambang menjabarkan, penggunaan diksi dalam berinteraksi memegang kendali besar terhadap draf psikologis masyarakat. Kata-kata yang dirangkai dengan baik secara otomatis akan melahirkan rasa aman, menumbuhkan kepercayaan timbal balik, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga.

“Sebaliknya, ucapan yang kasar, sarkastik, menyakitkan, atau tidak bijaksana sangat rentan memicu kesalahpahaman, melahirkan konflik terbuka, bahkan melukai perasaan orang lain secara mendalam. Karena itu, membiasakan berkata yang baik merupakan bentuk penghormatan nyata kepada sesama manusia sekaligus cara paling konkret dalam menjaga kerukunan serta menciptakan lingkungan sosial yang sehat, produktif, dan positif,” kata Bambang menambahkan analisisnya.

Lebih lanjut, Bambang membedah karakteristik ketiga, yaitu pentingnya memiliki empati tinggi atau Qaulan Karima yang diwujudkan melalui kemampuan memahami sudut pandang dan perasaan orang lain sebelum melayangkan argumen. Sementara pilar keempat menuntut penerapan tutur kata yang lemah lembut atau Qaulan Layyinan yang menjunjung tinggi kesantunan bahasa tanpa ada draf tendensi menyudutkan pihak tertentu.

Adapun pilar kelima yang menjadi benteng pertahanan terakhir moralitas publik adalah komitmen penuh untuk menghindari perilaku ghibah maupun fitnah atau Qaulan Adzima. Upaya menjauhi tindakan membicarakan keburukan orang lain serta menghentikan penyebaran tuduhan tanpa fakta yang jelas dinilai sangat vital karena kedua perbuatan destruktif tersebut terbukti menjadi pemicu utama hancurnya rasa percaya di tengah masyarakat. Dalam ajaran Islam, khususnya Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12, tindakan merusak kehormatan sesama ini dilarang keras karena mencederai nilai kemanusiaan.

Realisasi kelima karakteristik komunikasi ini dinilai bertransformasi menjadi draf keterampilan hidup (life skill) yang wajib dikuasai oleh setiap generasi. Penegasan etika berbicara ini diharapkan mampu membentengi warga Banyuraden agar tetap cakap mempertahankan relasi sosial yang hangat, humanis, dan harmonis, meskipun sebagian besar pola komunikasi saat ini telah bergeser ke dalam ruang-ruang digital virtual yang rawan distorsi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Rayakan Kelulusan Siswa, SD Negeri Jamblangan Sleman Pentas Seni Karawitan

Sleman — Momentum kelulusan siswa sekolah dasar kini tidak lagi sekadar dirayakan secara seremonial di dalam ruang kelas yang kaku. Menunjukkan komitmen dalam memfasilitasi ruang berekspresi bagi generasi muda, SD Negeri Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, menggelar agenda Wisuda Purna Siswa yang dipadukan dengan Gelar Potensi Seni budaya secara terbuka di halaman sekolah setempat pada Sabtu (6/6/2026).

Langkah inovatif ini diambil sebagai wujud apresiasi kolektif atas kelulusan seluruh siswa kelas VI tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 28 anak. Berbeda dengan tradisi tahun-tahun sebelumnya, pelepasan kelulusan kali ini dikonversikan menjadi panggung unjuk bakat pelestarian budaya tradisional, lengkap dengan fasilitas panggung megah representatif yang diinisiasi dan didanai secara swadaya oleh paguyuban orang tua murid.

Kepala SD Negeri Jamblangan, Suparti, memaparkan laporan evaluasi akademik di mana rata-rata pencapaian nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) kolektif anak didiknya pada tahun ini menyentuh angka 244,67. Kendati secara akumulasi peringkat sektoral di tingkat kapanewon mengalami sedikit pergeseran, grafik nilai rata-rata murni yang ditorehkan oleh masing-masing individu siswa justru mencatatkan kurva kenaikan yang signifikan.

“Untuk perolehan nilai tertinggi siswa kami pada kelulusan tahun ini berhasil menyentuh angka 286,67, sedangkan untuk nilai terendah berada di angka 146,67. Fluktuasi angka ini menjadi bukti autentik bahwa semangat belajar anak-anak di rumah terus merangkak naik berkat adanya sinergi sirkular yang harmonis antara guru di sekolah, bimbingan orang tua, serta dukungan lingkungan masyarakat sekitar. Kami sengaja menyelenggarakan wisuda secara terbuka di lapangan luar agar anak-anak memiliki ruang mental yang cukup untuk merayakan draf keberhasilan akademiknya dengan penuh percaya diri setelah menempuh pendidikan dasar selama enam tahun,” ujar Suparti di hadapan jajaran komite sekolah dan tokoh masyarakat Seyegan.

Suparti menguraikan, kemeriahan acara juga diisi dengan parade penampilan seni tari daerah dan performa musik tradisional karawitan Jawa yang dibawakan secara apik oleh kolaborasi siswa dari kelas II hingga kelas V. Keberhasilan internalisasi seni adiluhung di lingkungan sekolah ini diakui lahir dari kontribusi aktif warga sekitar padukuhan yang secara sukarela meminjamkan dan memfasilitasi seperangkat alat gamelan perunggu lengkap sebagai media latihan mingguan para siswa.

“Seni karawitan yang disuguhkan oleh anak-anak di atas panggung hari ini merupakan produk nyata dari kerja sama sirkular yang sangat baik dengan warga Jamblangan. Kami sangat terbantu karena masyarakat di luar sekolah memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap draf pelestarian budaya sejak dini di tingkat sekolah dasar,” kata Suparti menambahkan.

Urgensi penguatan mentalitas anak di fase transisi menuju jenjang sekolah menengah menjadi sorotan utama otoritas pendidikan daerah. Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kapanewon Seyegan, Bambang Lipura, mengingatkan jajaran tenaga pendidik dan wali murid agar tidak terjebak pada draf standardisasi nilai akademik berbasis angka semata, melainkan wajib menempatkan fondasi karakter moral sebagai draf prioritas utama kelulusan.

“Tujuan fundamental dari seluruh rangkaian proses pendidikan itu bukan hanya sekadar mencetak kecerdasan kognitif atau mengantarkan anak didik lolos ke jenjang sekolah yang lebih tinggi semata, melainkan bagaimana kita mampu membentuk karakter spiritual, etika, dan akhlak luhur di dalam jiwa mereka. Anak-anak yang lulus hari ini harus dibekali mental yang kuat agar mampu menjaga nama baik almamater sekolah, kehormatan keluarga, serta marwah dirinya sendiri di mana pun mereka melanjutkan studi nantinya,” tutur Bambang Lipura saat memberikan wejangan kepada para wisudawan.

Sinergi apik antara pencapaian prestasi akademik dan ruang aktualisasi seni budaya ini diharapkan menjadi draf percontohan bagi satuan pendidikan lain di Sleman dalam mengemas agenda kelulusan yang edukatif, menghibur, dan bebas dari aksi konvoi negatif di jalan raya. Rangkaian pameran kreativitas ini ditutup dengan penyerahan samir wisuda dan gemuruh tepuk tangan kebanggaan dari seluruh orang tua murid yang menyaksikan anak-anak mereka siap melangkah ke gerbang pendidikan tingkat lanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Respons Krisis Iklim Dunia, Muhammadiyah DIY Luncurkan Manifesto Gerakan Ekologi Berkemajuan

Sleman — Arus modernisasi dan industrialisasi global yang memicu eksploitasi alam secara masif menuntut rekonstruksi etika lingkungan yang berakar pada nilai-nilai spiritual. Merespons tantangan ekologis tersebut, Majelis Lingkungan Hidup bersama Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Diskusi dan Bedah Buku “Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah” di Ruang Audio Visual Museum Muhammadiyah, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Rangkaian literasi ini diposisikan sebagai draf manifesto strategis untuk menggerakkan pelestarian alam berbasis teologi keislaman.

Agenda bedah buku komprehensif ini dihadiri oleh puluhan akademisi, aktivis lingkungan, praktisi literasi, serta perwakilan struktur daerah. Di antaranya tampak hadir Ketua MPI PDM Sleman Arief Hartanto bersama Sekretaris Wahdan Arifudin yang ikut membedah draf pemikiran para pakar lintas disiplin tersebut.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY, Afan Kurniawan, menegaskan bahwa potret kerusakan alam yang melanda dunia saat ini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena pencemaran lingkungan yang masif, penurunan keanekaragaman hayati secara drastis, hingga peningkatan frekuensi bencana ekologis menjadi bukti nyata adanya disharmoni relasi antara manusia dan alam sekitar yang harus segera diperbaiki melalui draf gerakan yang terstruktur.

“Melalui buku ini, kita diajak untuk kembali memahami secara mendalam bahwa draf menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai keislaman itu sendiri. Manusia yang diamanahkan sebagai khalifah di muka bumi memikul tanggung jawab teologis yang besar untuk melestarikan alam sebagai titipan suci. Konsep Ekologi Berkemajuan ini berjalan lurus dengan semangat Islam Berkemajuan yang tidak hanya berfokus pada draf pembangunan kapasitas manusia, melainkan juga pada jaminan keberlanjutan lingkungan hidup melalui ilmu pengetahuan dan kepedulian sosial,” ujar Afan Kurniawan.

Selaras dengan hal tersebut, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY, Sapardiyono, memaparkan data empiris mengenai ancaman krisis iklim yang melanda kawasan domestik. Menurutnya, mayoritas bencana alam yang terjadi belakangan ini bukan lagi fenomena siklus bumi murni, melainkan draf dampak langsung dari akumulasi perilaku destruktif manusia terhadap ekosistem.

“Berdasarkan draf catatan statistik, pada tahun 2024 saja telah terjadi peristiwa bencana di Indonesia, di mana sekitar 70 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan cuaca ekstrem. Realitas pahit ini membuktikan bahwa krisis lingkungan hidup adalah persoalan mendesak yang dipicu oleh perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan. Muhammadiyah memiliki infrastruktur sosial yang sangat strategis untuk menggerakkan, mendidik, serta meliterasi warga persyarikatan agar draf pelestarian lingkungan ini bertransformasi menjadi gaya hidup dan nilai yang dipraktikkan sehari-hari,” kata Sapardiyono menegaskan.

Dukungan terhadap draf pandangan ekologis ini juga mengalir dari pihak eksekutif. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melalui sambutan tertulisnya memberikan apresiasi tinggi terhadap terbitnya draf buku ini. Otoritas kota menilai karya ini sukses memotret korelasi kuat antara degradasi lingkungan dengan penurunan derajat kesehatan publik, termasuk ancaman terhadap kesehatan mental masyarakat urban.

“Kerusakan ekosistem yang buruk terbukti menjadi pemantik utama munculnya pelbagai kluster penyakit menular maupun tidak menular di perkotaan. Kami melihat buku ini menjadi draf panduan yang sangat komprehensif karena tidak hanya bicara soal pohon dan sampah, melainkan juga kedaulitan kesehatan manusia secara holistik,” demikian petikan draf sambutan tertulis Hasto Wardoyo.

Pada sesi diskusi interaktif yang dimoderatori oleh Ahmad Ahid Mudayana, pakar dari UAD, Warijan, menyoroti pentingnya draf internalisasi kurikulum hijau di lembaga pendidikan. Ia mendorong agar materi literasi lingkungan disisipkan ke dalam draf pembelajaran sekolah dan perguruan tinggi melalui pendekatan kreatif yang mampu menyentuh kesadaran generasi muda selaku pewaris masa depan ekologi.

Melengkapi perspektif tersebut, Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Ridho Al Hamdi, menggarisbawahi keunggulan buku ini yang ditulis menggunakan pisau analisis multidimensi. Masalah lingkungan, menurutnya, tidak bisa diselesaikan secara parsial melainkan harus melibatkan draf kontribusi seluruh disiplin ilmu tanpa terkecuali.

“Krisis ekologi bukan monopoli satu bidang sains saja. Kita harus melihat realitas lokal yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini, mulai dari krisis air bersih menahun di Gunungkidul, darurat draf pengelolaan sampah perkotaan, alih fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali, hingga draf ancaman kebencanaan yang melekat pada aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Seluruh elemen harus bersinergi melahirkan solusi taktis,” ujar Ridho Al Hamdi.

Sebagai konklusi, para narasumber menyepakati bahwa draf pembangunan berkelanjutan hanya akan menjadi slogan kosong jika tidak diimbangi dengan aksi nyata penyelamatan bumi. Pengarusutamaan gerakan ekologi komunal ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan sirkular antara pemanfaatan potensi ekonomi sumber daya alam dengan draf perlindungan lingkungan demi menjamin keselamatan generasi yang akan datang. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Dongkrak Stok Darah Sleman, PMI Depok Rapatkan Barisan Perkuat Jaringan Relawan Kemanusiaan

Sleman — Kebutuhan logistik medis berupa darah yang tinggi di wilayah urban menuntut respons cepat dari jajaran organisasi kemanusiaan tingkat tapak. Guna menjawab tantangan tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok menggelar Rapat Kerja Tahunan di Gedung Anglocita Tama, Kompleks Kantor Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (6/6/2026). Forum strategis ini difokuskan untuk mengevaluasi program kerja pasca-pandemi sekaligus menyusun draf intervensi kemanusiaan yang lebih masif untuk tahun mendatang.

Agenda evaluasi yang mempertemukan unsur birokrasi kapanewon, pengurus inti, hingga perwakilan Tenaga Sukarela (TSR) ini berfokus pada mitigasi kelangkaan stok darah di wilayah Sleman. Kapanewon Depok yang dikenal sebagai kawasan padat penduduk dan pusat pendidikan tinggi di Yogyakarta memikul tanggung jawab besar sebagai lumbung donor darah potensial.

Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi tanpa henti para relawan yang menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat. Mengingat instruksi langsung dari Bupati Sleman mengenai krusialnya pemenuhan kantong darah daerah, Rakhmat meminta PMI Depok tidak sekadar menjadi penyelenggara teknis, melainkan bertransformasi menjadi motor penggerak literasi donor darah.

“Kami sangat mengapresiasi semangat kemanusiaan tiada henti dan pengabdian tulus para relawan PMI Depok. Kegiatan kemanusiaan yang konsisten dilakukan selama ini sangat membantu masyarakat dan menjadi draf nyata dari semangat gotong royong sosial kita. Kebutuhan darah merupakan kebutuhan medis darurat yang sama sekali tidak bisa ditunda oleh birokrasi. Oleh karena itu, kami berharap PMI Depok terus semangat menggerakkan aksi donor darah massal dan memperluas kolaborasi dengan pemerintah kalurahan, lembaga pendidikan, serta komunitas kepemudaan,” ujar Rakhmat Harinawan saat membuka forum raker.

Dalam laporan performa organisasi, Ketua PMI Kapanewon Depok, Sussilistyaningsih, memaparkan catatan meluas mengenai sepak terjang pasukannya sepanjang tahun lalu. Kinerja PMI Depok tercatat sangat aktif mengamankan kluster kesehatan pada agenda makro nasional, mulai dari pengamanan arus mudik Lebaran di kawasan Ambarukmo Plaza, penjagaan Pos Natal dan Tahun Baru, hingga draf layanan pertolongan pertama pada pertandingan sepak bola liga nasional di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Kendati memiliki rekam jejak mobilitas yang tinggi, Sussilistyaningsih mengakui bahwa keterbatasan jumlah personel masih menjadi tantangan klasik di lapangan. Saat ini, organisasi kemanusiaan tersebut hanya disokong oleh sekitar 15 relawan aktif yang harus membagi waktu di tengah tingginya permintaan proteksi kesehatan dari publik.

“Bantuan operasional rutin sebesar empat juta rupiah per semester dari PMI Kabupaten Sleman sangat membantu keberlangsungan draf program kerja kami. Kami berkomitmen penuh menjaga akuntabilitas organisasi dengan menyampaikan laporan keuangan secara transparan dan berkala. Namun, untuk menghadapi tantangan ke depan, kami sangat membutuhkan regenerasi. Kami berharap semakin banyak elemen masyarakat, terutama mahasiswa dan pemuda, yang tergerak untuk bergabung menjadi relawan aktif agar jangkauan pelayanan kemanusiaan kita bisa jauh lebih optimal,” kata Sussilistyaningsih menjelaskan draf kebutuhan organisasi.

Konsistensi tata kelola administrasi dan keterbukaan publik yang ditunjukkan PMI Depok mendapat respons positif dari otoritas pembina di tingkat kapanewon. Staf Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh memberikan dukungan penuh terhadap program kerja PMI melalui skema sinergi lintas sektor.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran PMI Depok yang selama ini telah berkontribusi besar dalam menjaga draf keselamatan sosial. Jawatan Sosial Kapanewon Depok siap pasang badan untuk terus mendukung dan bersinergi agar program-program prioritas, seperti perluasan kampung donor darah dan penguatan kapasitas relawan untuk tahun anggaran mendatang, dapat terealisasi dengan baik demi kemaslahatan masyarakat luas,” ungkap Subekti Handayani. (Wasana/KIM Depok)