SPS Sekar Melati Ngropoh Gelar Pentas Seni dan Tutup Tahun Ajaran 2025-2026

Sleman – SPS Sekar Melati Ngropoh, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan Tutup Tahun Ajaran 2025/2026 yang dirangkaikan dengan Pentas Seni. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Grand Sarila, Jalan Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan dihadiri oleh Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, Penilik PAUD Kapanewon Depok, Sih Ngatini, Penasehat SPS Sekar Melati, Mujiyono dan Siti Saudah, Dukuh sekaligus Pelindung SPS Sekar Melati Ngropoh, Nurdin Widodo, para pendidik, orang tua atau wali murid, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Al Thouvik Sofisalam menyampaikan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan perkembangan sosial anak. Menurutnya, menjadi pendidik PAUD bukanlah tugas yang ringan karena membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan dedikasi tinggi dalam mendampingi setiap anak dengan karakteristik yang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa kedekatan emosional antara anak dan guru sering kali sangat kuat. Namun demikian, kondisi tersebut tidak boleh membuat orang tua melepaskan tanggung jawab pengasuhan, melainkan justru menjadi momentum untuk mempererat kerja sama antara keluarga dan lembaga pendidikan.

“Program parenting perlu terus diefektifkan agar terjalin komunikasi dan kolaborasi yang baik antara sekolah dengan orang tua. Dengan demikian, pengasuhan anak dapat berjalan secara selaras sehingga tumbuh kembang, pembentukan karakter, dan potensi anak benar-benar berkembang secara optimal,” ujarnya.

Sementara itu, Penilik PAUD Kapanewon Depok, Sih Ngatini, menekankan pentingnya membangun kemitraan yang harmonis antara sekolah dan keluarga dalam mendidik anak sejak usia dini.

“Visi orang tua dan guru dalam pengasuhan anak harus menjadi sama. Ketika sekolah dan keluarga memiliki tujuan serta pola asuh yang sejalan, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang konsisten, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter maupun potensinya secara optimal,” tuturnya.

Ia juga mendorong setiap lembaga PAUD untuk terus menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan mutu layanan pendidikan serta menciptakan lingkungan belajar yang semakin berkualitas bagi anak-anak.

Rangkaian kegiatan diisi dengan berbagai penampilan pentas seni dari para peserta didik yang menampilkan kreativitas melalui tarian, lagu, dan pertunjukan lainnya. Suasana penuh keceriaan dan antusiasme tampak mewarnai acara, sementara para orang tua memberikan apresiasi atas keberanian dan perkembangan putra-putri mereka selama mengikuti proses pembelajaran.

Pada kesempatan tersebut, SPS Sekar Melati Ngropoh secara resmi melepas 21 anak didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat dan menjadi momen penuh haru sekaligus kebanggaan bagi para siswa, orang tua, dan tenaga pendidik.

SPS Sekar Melati Ngropoh merupakan salah satu dari 13 Satuan PAUD Sejenis (SPS) di Kalurahan Condongcatur. Saat ini lembaga tersebut memiliki 30 peserta didik yang dibimbing oleh empat pendidik tetap, dengan komitmen untuk terus menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, berkarakter, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Melalui kegiatan tutup tahun dan pentas seni ini, SPS Sekar Melati Ngropoh menegaskan pentingnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang positif. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi penerus yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Wasana / KIM Depok)




Sosialisasi GATI di Gandok Tekankan Pentingnya Keterlibatan Ayah dalam Keluarga

Sleman – Upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kualitas pengasuhan remaja terus digencarkan di Kalurahan Condongcatur. Melalui kegiatan Pembinaan Bina Keluarga Remaja (BKR) Padukuhan Gandok, digelar Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) berempat di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan ini dihadiri 50 peserta yang terdiri atas Penyuluh KB Kapanewon Depok, Dukuh Gandok, Kader BKR Gandok, serta para ayah yang memiliki anak usia remaja di wilayah Gandok. Kegiatan ini menjadi wadah edukasi mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah tantangan era digital dan perubahan sosial yang semakin dinamis.

Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam menekankan bahwa peran ayah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga mencakup pendampingan emosional, komunikasi yang hangat, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan sehari-hari anak.

“Kami berharap para ayah dapat meluangkan waktu untuk mendampingi anak saat belajar, mengantar ke sekolah, makan bersama sambil berdialog ringan, berolahraga bersama, hingga membangun komunikasi yang terbuka. Interaksi yang berkualitas, kemudahan akses komunikasi, dan tanggung jawab ayah merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda. Semoga materi hari ini dapat diimplementasikan di keluarga masing-masing,” ujarnya.

Materi sosialisasi disampaikan oleh perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta DIY, Utomo Budi Santoso. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) merupakan inisiatif nasional untuk mendorong keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tangguh, berkarakter, dan berdaya saing.  

Menurut Utomo, perkembangan teknologi, tingginya intensitas penggunaan gawai, serta berbagai tantangan seperti penyalahgunaan narkoba, perilaku berisiko, dan lemahnya komunikasi dalam keluarga menuntut kehadiran ayah yang lebih nyata, baik secara fisik maupun emosional.

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak kehilangan figur ayah dalam pengasuhan sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis, akademik, hingga perilaku sosialnya.

“Empat indikator utama Ayah Teladan, yaitu interaksi (paternal engagement), aksesibilitas (accessibility), tanggung jawab (responsibility), dan keterlibatan (involvement). Implementasinya dapat diwujudkan melalui aktivitas sederhana namun bermakna, seperti menemani anak belajar, makan bersama keluarga, berdialog dari hati ke hati, mengantar anak ke sekolah atau layanan kesehatan, serta melibatkan anak dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan,” pungkas Utomo.

Sementara itu, Pembina BKR Gandok sekaligus Penyuluh KB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah menyampaikan bahwa pola pengasuhan yang ideal membutuhkan kolaborasi antara ibu dan ayah.  

“Pengasuhan remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Kehadiran ayah dalam proses mendidik, membimbing, dan menjadi teladan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan masa depan anak. Sinergi kedua orang tua adalah kunci lahirnya keluarga yang berkualitas,” ungkapnya.

Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap nilai-nilai Gerakan Ayah Teladan Indonesia dapat diimplementasikan secara nyata di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kehadiran ayah yang aktif, komunikatif, dan penuh perhatian diyakini menjadi salah satu faktor penting dalam mencetak generasi yang sehat, berakhlak, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan. (Wasana / KIM Depok)




11 Peserta Maganghub Kemenaker Akhiri Tugas di PMI Sleman

Sleman- Sebanyak sebelas orang peserta Maganghub Kemenaker 2025–2026 resmi mengakhiri masa tugasnya di PMI Kabupaten Sleman. Para peserta tersebut berpamitan pada Senin (15/6/2026) sore dan membawa sejuta kenangan sebagai bekal untuk melanjutkan karier.

Pelepasan dilakukan di Markas PMI Sleman oleh Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, didampingi jajaran pengurus, Kepala Markas, Kepala Unit Donor Darah, serta Kepala Klinik Pratama PMI Sleman.

Dua peserta Maganghub Kemenaker, Rara dan Sasila, mewakili rekan-rekannya menyampaikan kesan bahwa pengalaman yang diperoleh selama magang melebihi ekspektasi. Pada awalnya, Rara mengaku sempat pesimis karena perbedaan program studi yang dijalani. Namun, suasana penerimaan yang hangat membuat mereka semakin optimistis dalam menjalankan tugas.

Seiring berjalannya waktu, mereka merasakan kehangatan dan rasa persaudaraan selama berada di PMI Sleman. Para peserta merasa telah menjadi bagian dari keluarga besar PMI. Bimbingan, arahan, dan dukungan dari mentor serta staf, termasuk saat menghadapi kesulitan tugas, sangat membantu dan mudah dipahami.

“Selama enam bulan di PMI Sleman, kami mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga. Terima kasih PMI Sleman, semoga semakin maju, berkembang, dan tetap mampu melayani masyarakat dengan baik,” ujar Rara.

Sementara itu, Operator Maganghub Kemenaker 2025–2026 PMI Sleman, Fachrul Wasis, menjelaskan bahwa Maganghub Kemenaker merupakan platform digital yang menghubungkan lulusan baru atau mahasiswa dengan instansi swasta maupun BUMN untuk program magang.

Program ini bertujuan menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja, sekaligus memberikan pengalaman bagi peserta magang serta kesempatan bagi instansi untuk melakukan seleksi calon tenaga kerja.

Fachrul menambahkan, pada batch 3 periode 16 Desember 2025 hingga 15 Juni 2026, tercatat sebanyak 251 pelamar mengikuti program magang di PMI Kabupaten Sleman. PMI membuka empat kualifikasi, yaitu Teknologi Bank Darah (TBD), Administrasi, Bidan, dan Perawat.

Dari hasil seleksi, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan 12 peserta, terdiri dari 5 orang Teknologi Bank Darah, 4 Administrasi, 1 Bidan, dan 2 Perawat. Namun, satu peserta dari kualifikasi TBD mengundurkan diri karena diterima di instansi lain, sehingga total peserta yang menyelesaikan program menjadi 11 orang.

Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menyampaikan bahwa PMI Sleman baru pertama kali mengikuti program Maganghub Kemenaker pada periode 2025–2026 setelah memperoleh informasi di tahap akhir pendaftaran. Dengan sigap, PMI Sleman melakukan proses pengajuan hingga akhirnya mendapatkan kesempatan tersebut.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta magang atas dedikasi dan kinerja selama bertugas.

“Selama masa magang, tidak ada laporan negatif, baik terkait pekerjaan maupun perilaku. Kami berterima kasih atas kesungguhan mereka. Semoga pengalaman ini menjadi modal berharga dalam berkarier di mana pun,” ujarnya.

 “Jika diberi kesempatan lagi, kami tentu berharap dapat kembali menerima peserta terbaik. Tidak perlu ragu memilih PMI Sleman, karena kami sudah melihat kualitas SDM-nya,” tandas Mafilindati. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




Panen Raya Jagung di TKD Sukoharjo Hasilkan 6,3 Ton per Hektare

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sukoharjo melaksanakan panen raya jagung di lahan Tanah Kas Desa (TKD) yang berada di Padukuhan Ngebo, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ketahanan Pangan (Ketapang) Kalurahan yang bertujuan meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset desa untuk kegiatan produktif.

Panen raya tersebut dihadiri oleh perwakilan Kapanewon Ngaglik, BPKal, pamong kalurahan, PPL, Polsek, Danramil, kelompok tani, KWT, tokoh masyarakat, petani penggarap lahan TKD, serta berbagai unsur terkait lainnya.

Hamparan tanaman jagung yang tumbuh subur menjadi bukti keberhasilan sinergi antara pemerintah kalurahan dan masyarakat dalam mengelola lahan desa secara produktif. Program serupa di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lurah Sukoharjo, Hadi Subronto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga masa panen.

Menurutnya, pemanfaatan TKD untuk budidaya jagung merupakan langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Ia menambahkan, lahan yang sebelumnya merupakan lahan tidur kini kembali produktif dengan hasil panen mencapai 6,3 ton per hektare dari total luas lahan 1,7 hektare, dan diharapkan dapat meningkat pada musim tanam berikutnya.

“Panen raya ini menjadi bukti bahwa lahan desa dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program ketahanan pangan. Ke depan, kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain mendukung ketersediaan pangan, hasil panen jagung ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani serta mendorong tumbuhnya sektor pertanian yang berkelanjutan di Kalurahan Sukoharjo. Keberhasilan panen ini juga menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi pertanian lokal melalui inovasi dan kerja sama yang kuat.

Melalui program Ketapang, Pemerintah Kalurahan Sukoharjo berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan lahan produktif, meningkatkan produktivitas pertanian, serta memperkuat kemandirian pangan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan.  (Eswe/ KIM Sukoharjo-Ngaglik)




Dolanan Rakyat, Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan untuk Generasi Muda

Sleman – Dolanan rakyat bukan sekadar permainan. Di dalamnya terkandung nilai sosial, budaya, pendidikan, dan kearifan lokal yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Hal tersebut disampaikan Ma’riatus Sholikhah, yang akrab disapa Mara, dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY.

Mara menyampaikan materi bertajuk “Pelestarian Kearifan Lokal Dolanan Rakyat” dalam Bimtek Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional yang digelar KPOTI Sleman, Selasa (16/6/2026) di Ruang Rukuns Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman.

Menurut Mara, dolanan rakyat memiliki lima ciri khas. Pertama, bersifat turun-temurun, yaitu diwariskan dari generasi ke generasi. Kedua, menggunakan alat sederhana yang memanfaatkan lingkungan sekitar, seperti batu, kayu, dan tanah.

“Ketiga, dimainkan secara berkelompok, tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama teman,” imbuhnya.

“Keempat, bermuatan lokal yang tercermin dari logat, aturan, dan cerita khas daerah. Kelima, mengutamakan kebersamaan, menekankan interaksi sosial, bukan sekadar adu kemampuan,” sambungnya.

Mara juga memaparkan berbagai nilai yang terkandung dalam dolanan rakyat. Dilihat dari sisi sosial, permainan ini menumbuhkan kerja sama, solidaritas, dan toleransi. Sedangkan dari sisi pendidikan, dolanan rakyat melatih strategi berpikir, kreativitas, pemecahan masalah, konsentrasi, dan ketelitian.

Sementara dari sisi budaya, dolanan rakyat menjadi identitas lokal sekaligus wujud kearifan tradisional. Adapun dari sisi fisik dan karakter, permainan ini dapat menjaga kebugaran serta mengasah koordinasi motorik, sekaligus membentuk kejujuran, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab.

“Kalau dipandang dari nilai fisik, dolanan rakyat membangkitkan kebugaran dan keterampilan motorik. Dari nilai karakter, anak belajar jujur, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab,” jelasnya.

Mara juga mengakui bahwa dolanan anak saat ini mulai terancam. Hal tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi dan permainan digital, berkurangnya ruang terbuka, perubahan pola interaksi sosial, minimnya pewarisan antargenerasi, serta kurangnya dokumentasi.

Mara memaparkan sejumlah strategi pelestarian yang dapat dilakukan, di antaranya dokumentasi dan publikasi naskah aturan permainan, penyelenggaraan festival dan kompetisi rutin, integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, pewarisan dalam keluarga, revitalisasi melalui komunitas, serta pemanfaatan teknologi seperti pembuatan konten dan video tutorial. Selain itu, penyediaan ruang bermain yang aman juga dinilai penting.

“Urgensi pelestarian ini jelas, yaitu menjaga identitas budaya, mendukung pendidikan karakter, memperkuat kohesi sosial, menjadi rekreasi yang sehat dan murah, serta menjadi sumber inspirasi industri kreatif dan pariwisata budaya,” ungkapnya.

“Dolanan rakyat harus kita hidupkan kembali. Sayang kalau anak-anak kita hanya mengenal Mobile Legends, tetapi tidak mengenal benthik,” pungkas Mara. (Giek / KIM Moyudan)