Bhabinkamtibmas Banyuraden Gaungkan Pesan Kamtibmas dan Gerakan Ibu Memanggil Lewat Karawitan

Sleman – Seni budaya tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan pelestarian warisan leluhur, melainkan bisa dijadikan media edukasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat, pesan-pesan positif lebih mudah diterima dan dipahami oleh berbagai kalangan.

Upaya tersebut dilakukan Bhabinkamtibmas Banyuraden, Aipda Suyanto, saat menyambangi warga yang sedang berlatih karawitan di Rumah Seni Dowangan, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (19/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia memanfaatkan momentum kebersamaan masyarakat untuk menyampaikan berbagai pesan kamtibmas secara humanis dan komunikatif.

Aipda Suyanto menekankan bahwa kegiatan sambang merupakan bagian dari tugas kepolisian dalam membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menyerap informasi yang berkembang di lingkungan. Dengan hadir langsung di tengah aktivitas warga, polisi dapat menjalin komunikasi yang lebih efektif dan menciptakan hubungan yang harmonis.

Menurutnya, kelompok seni karawitan memiliki peran strategis sebagai wadah interaksi sosial masyarakat lintas usia. Oleh karena itu, kegiatan seni budaya dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan keamanan lingkungan, pencegahan tindak kriminalitas, maupun pembinaan generasi muda.

Dalam dialog bersama para peserta karawitan, Aipda Suyanto mengajak masyarakat untuk mendukung program Gerakan Ibu Memanggil sebagai implementasi Peraturan Bupati Sleman Nomor 45 Tahun 2020 tentang Jam Rumah/Jam Istirahat Anak.

“Gerakan ini sebagai upaya membangun kepedulian keluarga terhadap aktivitas anak-anak dan remaja, terutama pada malam hari mulai pukul hingga WIB demi memperkuat pengawasan orang tua agar anak terhindar dari pergaulan bebas, kejahatan jalanan, maupun aktivitas negatif lainnya,” tandasnya.

Lebih lanjut, Aipda Suyanto menjelaskan bahwa peran ibu dan keluarga sangat penting dalam membentuk karakter anak. Melalui komunikasi yang intensif, pengawasan yang baik, serta pemberian perhatian yang cukup, orang tua dapat mengarahkan anak-anak agar terhindar dari perilaku negatif seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan minuman keras, tawuran, hingga tindakan yang berpotensi melanggar hukum.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dengan mengaktifkan kembali budaya gotong royong dan saling mengingatkan antarwarga. Menurutnya, keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat kepolisian saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah kegiatan seni karawitan mendapat sambutan positif dari warga. Mereka menilai penyampaian pesan kamtibmas melalui pendekatan budaya terasa lebih akrab, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa mengurangi suasana kekeluargaan yang terjalin selama kegiatan berlangsung.

“Perpaduan kegiatan sambang dengan pelestarian seni budaya lokal, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keamanan lingkungan. Sinergi antara kepolisian, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mendukung Gerakan Ibu Memanggil serta menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda,” ujar Aipda Suyanto menutup keterangannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SD Muhammadiyah Condongcatur Susun Biografi dan Sejarah Sekolah

Sleman – SD Muhammadiyah Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, resmi memulai penyusunan buku biografi kepemimpinan dan sejarah institusi sebagai upaya pengarsipan dokumen sejarah lokal.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban publik sekaligus penataan literasi mengenai transformasi tata kelola pendidikan modern di wilayah setempat.

Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur, Sulasmi mengatakan bahwa kodifikasi sejarah ini memuat esensi perjuangan kolektif para perintis serta dialektika perkembangan sekolah sejak masa awal pendirian.

Menurutnya, rekam jejak institusi yang semula berstatus kelas jauh hingga berhasil berevolusi menjadi satuan pendidikan rujukan nasional perlu diabadikan secara komprehensif, faktual, dan akuntabel.

“Dokumentasi tertulis ini tidak sekadar merekam kronologi formal, melainkan menginternalisasikan nilai-nilai integritas, persistensi, dan resiliensi manajerial dalam menghadapi dinamika pembaruan kelembagaan,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya, Kabupaten Sleman, Athiful Khoiri, menegaskan bahwa penulisan narasi ini merupakan instrumen penting bagi deseminasi best practices atau praktik baik dunia kependidikan di Kabupaten Sleman.

Ia menjelaskan, capaian monumental sekolah, seperti Akreditasi A nasional Perpustakaan Hamka, predikat Sekolah Sehat Berkarakter, hingga capaian tertinggi pada integrasi data Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Tahun 2026, menuntut adanya rujukan literatur yang solid bagi publik.

Ia menambahkan bahwa peran strategis KIM dalam mempublikasikan dokumen sejarah ini bertumpu pada kepentingan pemenuhan hak informasi masyarakat di sektor layanan publik.

“Narasi historis yang dibangun secara objektif dinilai mampu menguatkan sinergi serta motivasi kolektif antara jajaran persyarikatan, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam merawat mutu pendidikan,” ungkapnya.

Melalui kodifikasi dokumen biografi dan sejarah ini, diharapkan sistem manajemen berbasis prestasi dan pengasuhan talenta yang adaptif dapat terduplikasi oleh satuan pendidikan lainnya.

“Inisiatif ini sekaligus mempertegas komitmen daerah dalam mewujudkan ekosistem kependidikan yang berkarakter, kompetitif, dan mencerahkan bagi masyarakat Kabupaten Sleman,” pungkasnya. (Giek / KIM Moyudan)




Polsek Gamping Gelar Polisi Sahabat Anak di SD Muhammadiyah 3 Ambarketawang

Sleman – Upaya menanamkan kesadaran hukum, kedisiplinan, serta kedekatan antara kepolisian dengan generasi muda terus dilakukan melalui program Polisi Sahabat Anak. Kegiatan tersebut dipimpin Panit Binmas Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping, Iptu Mamik Susanti, didampingi Aiptu Prastyanto dan Aiptu Ibnu Prastowo di SD Muhammadiyah 3, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan yang diikuti 250 siswa kelas I hingga kelas V tersebut berlangsung dalam suasana edukatif dan penuh keakraban. Melalui pendekatan yang ramah serta interaktif, personel Polsek Gamping menyampaikan berbagai materi yang berkaitan dengan kepolisian, kedisiplinan, keselamatan, dan pentingnya mematuhi aturan dalam kehidupan sehari-hari.

Iptu Mamik Susanti menjelaskan bahwa program Polisi Sahabat Anak merupakan salah satu bentuk pembinaan masyarakat yang menyasar kalangan pelajar usia dini. Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan sejak awal mengenai peran kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat agar tercipta hubungan yang positif antara polisi dan generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai tugas dan fungsi kepolisian, pengenalan berbagai peralatan kepolisian, edukasi rambu-rambu lalu lintas, serta penyuluhan tentang pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Materi keselamatan berlalu lintas juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para siswa diberikan pengetahuan dasar tentang cara menyeberang jalan yang aman, pentingnya menggunakan helm saat berboncengan sepeda motor, serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas sebagai bentuk perlindungan terhadap keselamatan diri.

“Pendidikan karakter dan kesadaran hukum tidak dapat dibangun secara instan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, dan kepolisian untuk membentuk generasi yang disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya,” jelas Iptu Mamik bersemangat.

Lebih lanjut, Aiptu Ibnu Prastowo yang juga menjabat Bhabinkamtibmas Ambarketawang menambahkan bahwa praktik baik ini menjadi sarana untuk menghilangkan rasa takut anak terhadap aparat kepolisian.

“Dengan mengenal polisi secara langsung melalui kegiatan yang menyenangkan, diharapkan anak-anak dapat melihat polisi sebagai sahabat yang siap membantu ketika menghadapi permasalahan atau situasi darurat,” tandasnya.

Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan program tersebut karena memberikan nilai edukasi yang bermanfaat bagi peserta didik. Selain menambah wawasan, kegiatan ini dinilai mampu membangun karakter positif dan menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menjaga ketertiban serta keamanan di lingkungan sekitar.

Melalui program Polisi Sahabat Anak, Unit Binmas Polsek Gamping berharap dapat menumbuhkan kepercayaan, kedekatan, serta pemahaman anak-anak terhadap peran Polisi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sekaligus memahami pentingnya tertib berlalu lintas, serta menjauhi perbuatan bullying. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Jaga Kondusivitas Wilayah, Polsek Gamping Intensifkan Patroli Tempat Ibadah

Sleman – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat terus dilakukan jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping melalui kegiatan patroli sambang di berbagai wilayah. Salah satunya dilaksanakan oleh Unit Samapta Polsek Gamping yang dipimpin Aipda Vavan Dody Suryono di Gereja Impact, Jalan Kabupaten, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan patroli sambang tersebut merupakan bagian dari strategi preventif kepolisian dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif. Kehadiran personel kepolisian di tempat ibadah menjadi bentuk pelayanan kepada masyarakat sekaligus memberikan rasa aman bagi jemaat yang beraktivitas di lingkungan gereja.

Dalam kesempatan itu, Aipda Vavan bersama personel lainnya melakukan pemantauan situasi keamanan di sekitar area gereja, berkoordinasi dengan pengurus, serta memastikan seluruh kegiatan dapat berlangsung dengan tertib dan lancar. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat.

“Patroli sambang memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang baik antara polisi dan masyarakat. Melalui interaksi langsung, aparat kepolisian dapat mengetahui perkembangan situasi di lapangan sekaligus menyerap berbagai informasi yang berkaitan dengan keamanan lingkungan,” tandasnya.

Menurut Aipda Vavan, sinergi antara aparat keamanan dan pengelola tempat ibadah menjadi salah satu kunci dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Dengan komunikasi yang intensif, berbagai potensi permasalahan dapat dideteksi sejak dini sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan.

Selain melakukan pemantauan, petugas kepolisian juga menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada pengurus gereja. Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, menjaga keamanan lingkungan sekitar, serta segera melaporkan kepada polisi apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan.

“Kegiatan ini menegaskan kehadiran negara di tengah masyarakat. Keberadaan polisi secara langsung akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian sekaligus memberikan jaminan bahwa keamanan seluruh warga menjadi perhatian bersama tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan,” tambah Aipda Vavan.

Ia juga menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada Satuan Pengamanan (Satpam) Gereja Impact sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan di lingkungan tempat ibadah. Harapannya, Satpam mampu menjalankan fungsi pengawasan secara optimal, terutama terhadap keluar masuknya tamu, kendaraan, maupun aktivitas yang mencurigakan di sekitar area gereja. Langkah tersebut penting untuk menciptakan situasi yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh jemaat yang melaksanakan kegiatan peribadatan.

Melalui kegiatan patroli sambang yang rutin dan berkelanjutan, Polsek Gamping berharap tercipta lingkungan yang aman, damai, dan harmonis. Langkah preventif tersebut sekaligus menjadi wujud nyata pelayanan kepolisian dalam mendukung kehidupan masyarakat yang rukun serta menjaga kondusivitas wilayah Kabupaten Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pokdakan Tirta Mandiri Gundengan Kidul Kembangkan Budidaya Lele, Terima Bantuan Benih

Sleman – Penantian anggota Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) “Tirta Mandiri” akhirnya terbayar. Pada Kamis (18/6/2026), seusai salat Isya, sebuah kendaraan pikap bak terbuka memasuki area kolam budidaya di Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Kendaraan tersebut membawa sekitar ekor benih ikan lele yang akan dibesarkan di kolam milik kelompok.

Benih ikan berukuran sekitar tiga jari itu langsung menjadi perhatian anggota kelompok yang telah menantikan kedatangannya. Kehadiran benih tersebut menandai dimulainya tahap penting dalam program budidaya lele yang dikelola secara bersama oleh warga RT 06 RW 26 Gundengan Kidul.

Ketua Kelompok Tirta Mandiri, Setyo, menjelaskan bahwa pengiriman benih dilakukan setelah tim pendamping memastikan kondisi kolam telah memenuhi syarat untuk pemeliharaan ikan.

“Bibit ini dikirim setelah kolam dinyatakan layak menerima ikan. Sebelumnya kami bergotong royong memasang paranet untuk menaungi seluruh area kolam serta membuat pagar dari kain bekas spanduk agar lingkungan budidaya lebih aman,” ujarnya.

Saat ini kelompok memiliki tujuh kolam bundar berdiameter sekitar tiga meter yang telah dipersiapkan secara bertahap. Selain itu, berbagai sarana produksi juga telah diterima oleh kelompok.

“Sebelumnya sudah dikirim delapan kuintal pakan dan timbangan,” tambah Setyo.

Bantuan tersebut merupakan dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha perikanan air tawar berbasis kelompok.

Selain benih dan pakan, kelompok juga menerima garam grosok, obat-obatan, tetes tebu (molase), serta mikroorganisme untuk menjaga kualitas air dan kesuburan kolam. Sementara warga turut berkontribusi dengan menyediakan lahan, menyiapkan kolam, serta memastikan ketersediaan air selama masa pemeliharaan.

Budidaya lele dipilih karena memiliki masa pemeliharaan yang relatif singkat, sekitar 2,5 hingga 3 bulan, serta permintaan pasar yang stabil. Dengan pengelolaan yang baik, hasil panen diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Selain menjadi sumber pemasukan kas lingkungan, usaha bersama ini juga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan, memperkuat semangat gotong royong, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gundengan Kidul. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)