Pementasan di Ruang Publik, Fondasi Kuat Lahirnya Seniman Muda

Sleman – Pementasan dan uji kompetensi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di Sanggar Banyu Bening Sleman. Kegiatan yang secara konsisten diselenggarakan setiap tahun tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan kemampuan seni para peserta didik, tetapi juga menjadi tolok ukur perkembangan kompetensi, karakter, serta kepercayaan diri anak dalam bidang seni pertunjukan.

Berdasar keterangan dari Ketua Sanggar Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, sejak tahun 2020 hingga 2026, pihaknya telah melaksanakan sebanyak 10 kali pementasan dan uji kompetensi dengan mengangkat tema yang berbeda pada setiap penyelenggaraannya. Konsistensi tersebut menunjukkan komitmen sanggar dalam membangun sistem pendidikan seni yang berkelanjutan, terarah, dan mampu mengikuti perkembangan kreativitas anak didik sekaligus menjawab tantangan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.

Menurut Wahyuningsih, setiap pementasan dirancang sebagai bentuk evaluasi pembelajaran yang komprehensif. Anak didik tidak hanya dinilai dari kemampuan menghafal koreografi, melainkan juga penguasaan teknik gerak, ekspresi, penghayatan karakter, kedisiplinan, kekompakan, hingga kesiapan mental saat tampil di hadapan publik. Dengan demikian, proses uji kompetensi menjadi sarana pembelajaran nyata yang melatih kemampuan artistik sekaligus membentuk karakter peserta didik.

“Berbeda dengan ujian di dalam ruang kelas, pementasan memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak untuk menghadapi tantangan sesungguhnya sebagai seorang seniman. Mereka belajar mengelola rasa gugup, menjaga konsentrasi, bekerja sama dalam sebuah pertunjukan, serta bertanggung jawab terhadap peran yang diemban. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membangun rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi di berbagai situasi,” tandasnya.

Selain itu, keberagaman tema yang diangkat dalam setiap penyelenggaraan juga menjadi kekuatan tersendiri. Melalui tema-tema yang terus diperbarui, peserta didik diajak mengeksplorasi berbagai nilai budaya, filosofi kehidupan, kepedulian terhadap lingkungan, hingga pesan-pesan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Pendekatan tersebut membuat pembelajaran seni tidak berhenti pada aspek estetika, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai luhur,” sambung Wahyuningsih sambil menyaksikan penampilan anak didiknya di Atrium Shinta Sleman City Hall, Minggu (28/6/2026)

Pelaksanaan pementasan secara berkesinambungan selama enam tahun terakhir turut mencerminkan keseriusan Sanggar Banyu Bening Sleman dalam menjaga kualitas pembinaan. Setiap hasil evaluasi dari uji kompetensi menjadi bahan perbaikan proses pembelajaran berikutnya, sehingga perkembangan kemampuan masing-masing peserta dapat dipantau secara sistematis. Pola pembinaan seperti ini memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk terus bertumbuh sesuai potensi yang dimilikinya.

Wahyuningsih menambahkan, selain menjadi ruang evaluasi internal, pementasan juga berfungsi sebagai media apresiasi antara peserta didik, orang tua, pelatih, dan masyarakat. Dukungan yang diberikan para orang tua saat menyaksikan penampilan anak-anak menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas penampilannya. Sinergi tersebut memperkuat ekosistem pendidikan seni yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Keberhasilan menyelenggarakan 10 kali pementasan dan uji kompetensi dengan tema yang berbeda menjadi bukti bahwa pembinaan seni memerlukan konsistensi, inovasi, dan komitmen jangka panjang. Setiap penyelenggaraan bukan sekadar menghasilkan pertunjukan yang menarik, melainkan juga melahirkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap budaya, kreativitas yang terus berkembang, serta karakter yang tangguh dan disiplin.

Melalui penyelenggaraan pementasan dan uji kompetensi secara rutin, Sanggar Banyu Bening Sleman terus menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan seni yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pada pembentukan insan yang berbudaya, berintegritas, dan siap menjadi generasi penerus pelestari seni tradisi Indonesia. Konsistensi yang telah terbangun sejak 2020 hingga 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat bagi lahirnya seniman-seniman muda yang mampu mengembangkan warisan budaya bangsa sekaligus beradaptasi dengan dinamika zaman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Gandeng Petani Muda, Kalurahan Sumberrahayu Sleman Sukses Kelola Green House Hidroponik Skala Besar

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, sukses menelurkan inovasi baru dalam mengoptimalkan sektor ketahanan pangan di wilayahnya. Melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Rahayu, pihak pemkal memanfaatkan alokasi 20 persen Dana Desa Tahun Anggaran 2025 untuk mengembangkan budidaya sayuran dan buah hidroponik menggunakan sistem Green House (GH) di Padukuhan Kembangan 2.

Proyek ketahanan pangan ramah lingkungan ini sengaja dirancang untuk menjaga stabilitas pasokan pangan swasembada di tingkat lokal sekaligus memodernisasi sektor pertanian desa. Hingga pertengahan tahun ini, infrastruktur pertanian modern tersebut telah beroperasi penuh dan bersiap memasuki masa panen raya secara berkala.

Pelaksana Program Ketahanan Pangan Sumberrahayu, Rudy, menjelaskan bahwa saat ini terdapat tiga unit Green House yang telah diproduksikan secara aktif. Dua unit dialokasikan khusus untuk komoditas sayuran, sementara satu unit sisanya difokuskan untuk budidaya buah melon premium.

“Untuk jenis sayuran adalah selada dan sawi, yang bisa dipanen kurang lebih dua minggu. Sedangkan untuk melon kurang lebih 70 hari dari awal tanam. Kami memilih sistem hidroponik karena jauh lebih hemat air dan penyerapan nutrisinya lebih merata. Keberadaan green house juga sangat vital untuk menjaga suhu udara yang dibutuhkan, sehingga tanaman cepat tumbuh sekaligus efektif mencegah serangan hama tanaman,” ujar Rudy saat memaparkan teknis operasional di lapangan, Senin (29/6/2026).

Potensi ekonomi dari sektor ini pun dinilai sangat menjanjikan. Direktur BUMKal Rahayu, Sutopo Sugihartono, mengungkapkan bahwa di dalam dua unit GH sayuran saat ini telah tertanam sebanyak bibit yang diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1,2 ton sayuran segar siap konsumsi pada setiap masa panen.

Sementara itu, untuk klaster hortikultura, GH buah telah ditanami 900 pohon melon varietas unggulan jenis lavender dan intonan dengan estimasi hasil mencapai 1,4 ton sekali panen. Komoditas melon premium ini memiliki nilai jual tinggi di pasaran, yakni berkisar antara hingga per kilogram. Sutopo menambahkan, sistem hidroponik ini akan terus berjalan secara berkelanjutan melalui skema perputaran bibit baru yang terjadwal, sehingga proses produksi dan panen bisa terus mengalir sepanjang tahun tanpa terikat musim.

Inovasi taktis yang berbasis di Padukuhan Kembangan 2 ini mendapat dukungan penuh dan apresiasi dari Lurah Sumberrahayu, Sigit Tri Susanto. Pihaknya sangat mengapresiasi kinerja BUMKal Rahayu yang jeli membangun kolaborasi aktif bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) serta kelompok petani muda setempat.

“Kegiatan tersebut merupakan sebuah upaya nyata mendukung program ketahanan pangan swasembada. Selain itu, program ini juga menjadi instrumen penting sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes). Ke depan, kami memproyeksikan kawasan ketahanan pangan sayur dan buah ini bisa membuka unit usaha baru yang prospektif, yakni destinasi wisata edukasi petik sayur dan buah langsung dari pohonnya,” kata Sigit Tri Susanto optimistis (Giek / KIM Moyudan).




Filosofi ‘Sampahmu Cermin Dirimu’, Cara DLH Sleman Dorong Inovasi Pengelolaan Limbah Berbasis Digital

Sleman – Urusan pengelolaan sampah di tingkat daerah kini tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan cara konvensional seperti sekadar mengangkut lalu membuangnya ke tempat pemrosesan akhir. Menghadapi dinamika tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman terus menelurkan sejumlah inovasi taktis guna mengubah perilaku masyarakat sekaligus mempercepat target swasembada pengelolaan limbah di tingkat lokal.

Langkah progresif ini dimotori oleh Kepala Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Sleman, Fitasari Ayu Wardani. Melalui prinsip kerja bertajuk “Sampahmu cermin dirimu”, ia menekankan bahwa cara seseorang memperlakukan sisa konsumsinya merupakan cerminan dari bagaimana individu tersebut menghargai lingkungan dan masa depan generasi penerus.

Di bawah kendalinya, DLH Sleman meluncurkan program Rumpi-ah atau Rumah Pilah Sampah. Fasilitas ini dirancang khusus untuk mengumpulkan dan mengonsolidasikan botol plastik sekali pakai agar tidak tercecer di ruang publik maupun perkantoran sebelum masuk ke rantai daur ulang. Inovasi ini diperkuat dengan skema Teratai (Terpilah Rapi Tambah Nilai Integrasi) dan Kopiah (Kotak Pilah Sampah) guna mengintervensi budaya pemilahan sampah langsung dari sumber domestik.

“Menekan penggunaan dan pembuangan botol plastik sekali pakai yang sulit terurai di ruang publik dan perkantoran sekaligus memastikan sampah dikelola secara tertib dan bernilai guna,” ujar Fitasari Ayu Wardani saat memaparkan cetak biru program tersebut di ruang kerjanya.

Selain mengandalkan fasilitas fisik, Fitasari yang merupakan alumni Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) dan magister dari Ritsumeikan University Jepang ini juga menyuntikkan aspek teknologi modern ke dalam sistem birokrasi daerah. DLH Sleman resmi memperkenalkan SIOSESTU atau Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu, sebuah platform digital berbasis web yang berfungsi memodernisasi administrasi pengelolaan limbah menuju gerakan “Sleman Tuntas Sampah.”

Fitasari menggarisbawahi bahwa penambahan armada pengangkut atau pembukaan lahan pembuangan baru bukan solusi jangka panjang yang ideal. Kunci utama penyelesaian krisis lingkungan ini bertumpu pada keberhasilan mengubah peta perilaku dan psikologi masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Guna memastikan edukasi berjalan konsisten di lapangan, dibentuk pula Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) yang disebar secara masif di tingkat kalurahan, kapanewon, hingga kawasan padat penduduk. Kehadiran personel P3S ini menjadi ujung tombak dalam mengawal kelembagaan warga agar aktivitas pemilahan sampah bertransformasi menjadi kultur dan kebiasaan sehari-hari.

Dalam mengeksplorasi strategi tersebut, DLH Sleman menerapkan skema pendekatan Pentahelix dengan merangkul unsur akademisi, dunia usaha, komunitas peduli lingkungan, instansi pemerintah, dan media massa. Kolaborasi multipihak ini diyakini mampu menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus menumbuhkan iklim ekonomi sirkular, di mana residu produksi dapat diputar kembali menjadi komoditas baru yang bernilai ekonomis tinggi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Penuhi Kebutuhan Stok Darah, Pemkab Sleman Beri Penghargaan Ratusan Pendonor Sukarela

Sleman – Kebutuhan darah yang tinggi di wilayah Kabupaten Sleman terus diantisipasi melalui penguatan sinergi kemanusiaan. Sebagai bentuk apresiasi nyata atas ketulusan para pejuang kemanusiaan, Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan penghargaan kepada ratusan Pendonor Darah Sukarela (PDS) dalam rangka peringatan Hari Donor Darah Sedunia (HDDS) Tahun 2026 di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Minggu (28/6/2026).

Agenda rutin tahunan yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, Ketua PMI DIY Prabukusumo, serta Ketua PMI Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini. Apresiasi ini diberikan mengingat grafik permintaan pasokan darah dari berbagai rumah sakit di Sleman masih menunjukkan angka yang cukup tinggi.

Dalam prosesi tersebut, PMI DIY menyerahkan penghargaan kepada 112 pendonor aktif yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 50 kali. Sementara itu, PMI Kabupaten Sleman memberikan penghargaan fisik kepada 34 pendonor yang telah menyumbangkan darah sebanyak 25 kali, sebagai perwakilan dari total 606 pendonor yang masuk kriteria. Adapun 572 pendonor lainnya menerima apresiasi berupa e-piagam resmi.

Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, memaparkan bahwa hingga Juni 2026, jumlah pendonor yang terdaftar di database PMI Sleman telah mencapai orang. Berdasarkan evaluasi performa tahun 2025, produksi darah lokal berada di angka kantong, sementara volume distribusi ke pasien menembus kantong. Ketimpangan data ini menjadi alasan kuat mengapa penambahan basis pendonor aktif baru harus terus dipacu.

“Melalui peringatan Hari Donor Darah Sedunia ini kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi pendonor darah sukarela secara rutin. Satu kali donor darah dapat memberikan harapan hidup bagi sesama yang membutuhkan. Gerakan donor darah yang kuat dimulai dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar kita,” ujar Mafilindati Nuraini saat menyampaikan laporan perkembangannya.

Gayung bersambut, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada para pemilik golongan darah yang konsisten bersedekah hidup. Menurutnya, konsistensi para pendonor merupakan perwujudan konkret dari falsafah luhur tanah Jawa.

“Panjenengan semua adalah contoh nyata insan yang mengamalkan nilai memayu hayuning bawana, memperindah dan memperbaiki kehidupan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama. Kami meyakini setiap tetes darah adalah bentuk harapan kehidupan bagi penerimanya. Dengan semangat tulung tinulung dan kepedulian sosial yang tinggi, kebutuhan darah masyarakat dapat terus terpenuhi dengan baik,” tutur Harda Kiswaya dalam sambutannya.

Harda menegaskan bahwa Pemkab Sleman berkomitmen penuh menyokong operasional kemanusiaan PMI. Salah satu bentuk dukungan nyata dari pemerintah daerah adalah lewat optimalisasi program Lada Manis atau Layanan Darah di Sleman Gratis, yang dirancang untuk memangkas birokrasi dan biaya distribusi darah bagi seluruh warga Sleman yang membutuhkan. (Humas Sleman)




Ambisi Pertahankan Juara Umum, Pemkab Sleman Resmi Canangkan Pelatkab Porda DIY 2027

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sleman resmi memulai Pemusatan Latihan Kabupaten (Pelatkab) tahap pertama menuju Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIY XVIII Tahun 2027. Agenda akbar yang menjadi tolok ukur kesiapan kontingen Sleman ini dilangsungkan di Lapangan Tenis Pemkab Sleman, Minggu (28/6/2026).

Prosesi pencanangan Pelatkab ditandai dengan pemukulan gong secara simbolis oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, didampingi Ketua Umum KONI Sleman Haris Sutarta dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Sleman Makwan. Program kepelatihan tahap pertama ini dijadwalkan bergulir selama enam bulan, mulai Juli hingga Desember 2026, sebagai fondasi awal menyongsong kompetisi yang akan digelar di Kabupaten Kulon Progo mendatang.

Ketua Umum KONI Sleman, Haris Sutarta, memaparkan bahwa Pelatkab kali ini melibatkan total peserta yang terdiri atas atlet putra-putri terbaik Sleman serta 134 pelatih. Haris menegaskan bahwa program ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan langkah awal yang dirancang secara intensif, terstruktur, dan terukur untuk melahirkan mental pemenang.

“Target besar KONI Sleman pada Porda DIY 2027 di Kulon Progo sangat jelas, yaitu meningkatkan perolehan medali emas serta mempertahankan gelar Juara Umum untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Untuk itu, kami meminta para pelatih dan tim ofisial menerapkan metode kepelatihan modern berbasis sport science serta mengawal performa atlet secara objektif,” ujar Haris Sutarta saat memberikan laporan.

Guna menjamin keamanan dan kenyamanan selama masa pemusatan latihan, Haris menambahkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama taktis dengan BPJS Ketenagakerjaan. Seluruh atlet, pelatih, dan ofisial yang terlibat dalam Pelatkab dipastikan akan mendapatkan jaminan perlindungan sosial Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) terhitung mulai bulan Juli 2026.

Langkah senyap dan persiapan matang KONI Sleman tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Danang mengingatkan kepada seluruh kontingen bahwa sebuah prestasi besar di bidang olahraga tidak pernah lahir dari proses yang instan, melainkan dari tempaan yang konsisten.

“Jangan lengah dan jangan cepat berpuas diri dengan capaian tahun lalu. Prestasi sejati lahir dari konsistensi, kedisiplinan latihan, dan pengorbanan. Jadikan Pelatkab ini sebagai kesempatan emas bagi para atlet untuk meningkatkan kemampuan fisik, taktik, teknik, serta memperkuat mental bertanding dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas,” pungkas Danang Maharsa (Humas Sleman).