Wujudkan Kemandirian Ekonomi Umat, Komunitas TernakMU Gulirkan Gerakan 1.000 Ternak di Turi

Sleman – Guna memacu kemandirian ekonomi berbasis komunitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan warga, Takmir Masjid Sirotul Mustaqim Padukuhan Ngentak sukses menyelenggarakan agenda Safari TernakMU. Acara edukasi peternakan terpadu yang menyedot perhatian lintas daerah ini dilangsungkan secara interaktif di Pendopo Ngentak, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Senin (29/6/2026).

Program strategis yang awalnya diinisiasi oleh Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Turi ini secara khusus memperkenalkan inisiatif Gerakan Ternak bagi masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Agenda ini menghadirkan Ketua TernakMU sekaligus penggerak Komunitas Ternak Warga Muhammadiyah, Akhmad Khairudin, sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Akhmad Khairudin membedah tuntas konsep microfarming dan sistem ternak berjamaah sebagai model peternakan non-kapitalis. Konsep ini menitikberatkan pada semangat gotong royong dan konsolidasi sistematis antarpelaku ternak skala rumahan, sehingga kekuatan ekonomi warga tidak lagi berdiri sendiri melainkan tumbuh sebagai kekuatan jaringan yang solid.

“Sudah saatnya umat tidak terlalu menggantungkan diri pada kebijakan negara dan bantuan-bantuan lainnya. Kita harus cepat bergerak dan mandiri. Melalui Gerakan Ternak ini, kita ingin mendorong kemandirian umat, memperkuat ekonomi jamaah, serta berkontribusi nyata pada upaya swasembada pangan berbasis komunitas,” tegas Akhmad Khairudin di hadapan para peserta.

Daya tarik materi yang dibawakan membuat antusiasme warga meledak. Dari target awal yang hanya mengundang 30 orang, tercatat sebanyak 80 peserta memadati lokasi acara, termasuk rombongan pengurus dan jamaah yang datang jauh-jauh dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Suasana semakin hidup saat memasuki sesi testimoni dari para perajin ternak alumni gelombang (batch) sebelumnya.

Para peternak senior tersebut membagikan ilmu (transfer knowledge) bahwa metode microfarming ayam ini sangat praktis, efisien, dan ramah kantong. Untuk pembesaran 30 ekor anak ayam (day-old chicken/DOC), peternak pemula hanya perlu menyiapkan lahan sempit skala rumah tangga, lampu penerangan listrik di bawah 40 watt, serta pakan starter sebanyak satu sak untuk masa pemeliharaan selama dua bulan.

Ketua Takmir Masjid Sirotul Mustaqim, Bambang Rahmanto, yang akrab disapa Bara, turut membagikan pengalaman pribadinya yang telah merasakan langsung dampak ekonomi dari program ini. Ia menilai pola pembinaan dari TernakMU sangat rasional dan memberikan margin keuntungan yang nyata bagi masyarakat kecil.

“Setelah ikut serta dalam program TernakMU ini, saya merasakan keuntungan yang rasional hanya dengan beternak kurang dari dua bulan untuk mencetak pullet atau ayam siap bertelur jenis ayam Elba. Hasil penjualan dibandingkan biaya yang saya keluarkan memberikan margin yang signifikan. Harapannya, konsep ternak ini perlu kami tularkan dan dikembangkan kepada jamaah dan warga lainnya agar keberkahan ini terus mengalir,” ungkap Bara penuh semangat.

Guna memantik motivasi jamaah agar langsung mempraktikkan ilmu yang didapat, panitia Safari TernakMU juga membagikan berbagai hadiah stimulasi (doorprize). Hadiah yang dibagikan berupa paket DOC ayam ras Elba dan ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB), lengkap beserta unit kandang ayam skala mikro siap pakai agar warga dapat segera memulai langkah kecil mereka menjadi peternak mandiri. (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi)




Bantu Warga Kurang Mampu, PMI Sleman Gelar Bakti Sosial Khitan Massal Metode Modern

Sleman – Guna meningkatkan kualitas pelayanan sosial kesehatan sekaligus membantu mewujudkan generasi muda yang sehat, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menggelar bakti sosial khitanan massal. Agenda kemanusiaan bertajuk “Khitan Ceria Bersama PMI Kabupaten Sleman” ini secara resmi mulai bergulir pada Senin (29/6/2026) di Klinik Pratama PMI Sleman dengan memprioritaskan anak-anak dari keluarga kurang mampu serta yatim piatu.

Untuk menghindari kerumunan dan menjaga kenyamanan psikologis anak, panitia menerapkan sistem kuota harian. Program yang dibuka langsung oleh Ketua PMI Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini ini ditargetkan menyasar sebanyak 25 anak laki-laki. Masa pelaksanaan bakti sosial dijadwalkan berlangsung selama delapan hari, mulai dari Senin (29/6/2026) hingga Sabtu (4/7/2026), dengan kapasitas layanan dibatasi hanya tiga anak per hari.

Kepala Klinik Unit PMI Kabupaten Sleman, Hunik Rismawati, menjelaskan bahwa seluruh proses penanganan medis dalam program ini dilakukan secara profesional oleh para ahli di bidangnya. Klinik Pratama PMI Sleman menerjunkan tiga dokter kompeten, yaitu Raden Hari Ahmad, Muhammad Zufar Raihan, dan Riyan Majdiy, dengan didukung oleh peralatan medis yang mutakhir.

“Khitan modern yang dilaksanakan oleh Klinik Pratama PMI Kabupaten Sleman menggunakan metode Winkelmann serta teknik sunat khusus atau sunat gemuk. Hasil dari metode ini terbukti jauh lebih presisi. Kelebihan lainnya, anak-anak tidak hanya datang untuk disunat, tetapi juga mendapatkan edukasi melalui pendekatan psikologis atau bonding. Melalui komunikasi yang akrab ini, rasa takut dan trauma anak dapat diminimalisir,” ujar Raden Hari Ahmad, salah satu dokter pelaksana, usai menangani pasien.

Melalui pendekatan emosional tersebut, suasana ruang tindakan menjadi lebih tenang. Sebelum proses khitan dimulai, tim dokter juga mengajak anak-anak berbincang mengenai hobi mereka dan ditutup dengan doa bersama, sehingga mental anak menjadi lebih siap dan rileks.

Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua yang telah memercayakan buah hati mereka untuk mengikuti program Khitan Ceria ini. Ia berharap anak-anak yang telah dikhitan dapat tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, serta berbakti kepada keluarga dan masyarakat.

“Kalau zaman dulu, anak yang mau khitan biasanya diantar oleh bapak, paman, atau masnya. Nah, di Khitan Ceria PMI ini yang mengantar dan menunggui mayoritas justru ibunya. Mereka tidak takut dan tidak geli karena prosesnya sudah menggunakan cara modern dan alat terbaru. Alhamdulillah semua ceria, tidak ada yang menangis. Kami di PMI akan terus berkomitmen meningkatkan pelayanan sosial kemanusiaan agar organisasi ini selalu ada di hati masyarakat,” pungkas Mafilindati Nuraini. (Tri Joko S / KIM Kalasan Bersahabat)




Tembus Pasar Belanda, Sentra Kerajinan Blangkon Dusun Beji Sleman Rawat Eksistensi Budaya Jawa

Sleman – Dusun Beji yang terletak di Padukuhan Tinom, Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, terus memperkokoh posisinya sebagai sentra kerajinan blangkon terkemuka. Di tengah gempuran modernisasi, para perajin di dusun ini terbukti konsisten merawat identitas budaya Jawa, bahkan produk penutup kepala tradisional hasil mahakarya mereka kini telah berhasil menembus pasar internasional hingga ke Belanda.

Komoditas seni ini diproduksi secara manual oleh belasan perajin setempat, salah satunya adalah Sunaryo. Pria yang akrab disapa Naryo Blangkon ini telah menekuni profesi tersebut sejak tahun 2008 guna meneruskan usaha rintisan orang tuanya yang ada sejak 1990. Saat ini, dari total 14 perajin di Dusun Beji, terdapat sembilan perajin aktif yang terus berproduksi dan empat di antaranya telah memiliki gerai mandiri, termasuk Naryo yang membuka outlet di rumahnya di wilayah Beji RT 06 RW 09.

Dalam operasional usahanya, Naryo berfokus pada pembuatan blangkon gaya Yogyakarta, khususnya model Mataraman, Senopaten, dan Klewer. Menggunakan bahan baku lembaran kain batik primisima yang dipadukan secara presisi dengan karton, pelapis kain tipis, dakron, serta kain kapas, satu buah blangkon membutuhkan waktu pengerjaan sekitar dua jam demi menjaga kekokohan dan kenyamanan saat dikenakan.

“Kalaupun ada harapan, saya berharap ada penguatan modal untuk pengrajin blangkon dari pemerintah agar kami bisa meningkatkan produksi. Dengan perajin yang masih ada dan rata-rata usianya masih produktif, saya yakin kerajinan blangkon di Beji masih bisa bertahan,” ujar Sunaryo saat memaparkan kondisi usaha dan optimismenya di ruang kerja, Senin (29/6/2026).

Naryo menjelaskan, harga blangkon buatannya sangat bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk model standar. Bahkan, ia pernah menyelesaikan pesanan eksklusif yang harganya mencapai Rp1 juta per buah karena menggunakan material premium berupa kain batik tulis berkualitas tinggi. Pasar komoditas ini pun kian berkembang; selain memenuhi kebutuhan abdi dalem, seniman, wiyaga, dan pelajar, Naryo rutin memasok blangkon untuk sebuah biro perjalanan umrah dan haji di Jepara selama lima tahun terakhir sebagai identitas jamaah.

Eksistensi sentra industri kreatif di Godean ini tetap kokoh berkat kuatnya solidaritas antarpelaku usaha yang bernaung di dalam Paguyuban Rukun Agawe Santosa. Melalui wadah UMKM tersebut, para perajin menerapkan sistem gotong royong dalam berbagi orderan partai besar, sehingga persaingan usaha tidak saling menjatuhkan melainkan menjadi ruang untuk tumbuh sejahtera bersama.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan sejauh ini telah memberikan dukungan berupa pelibatan para perajin dalam berbagai pameran strategis, baik di hotel maupun dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sleman. Melalui sinergi tersebut, blangkon Dusun Beji kini meluas hingga ke Belanda untuk digunakan sebagai pakaian dinas seragam karyawan di sebuah restoran milik warga Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa karya warisan leluhur dari dusun kecil mampu berbicara di panggung dunia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Tata Kelola Pemerintahan, Dua Anggota BPKAL Antar Waktu Caturtunggal Resmi Dilantik

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menyelenggarakan upacara Pengambilan Sumpah dan Peresmian Anggota Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKAL) Caturtunggal Antar Waktu Periode 2020–2028. Agenda krusial ini dilangsungkan secara khidmat di Pendopo Puspadenta Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (29/6/2026).

Langkah penyegaran organisasi ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan fungsi legislasi dan pengawasan kelembagaan BPKAL. Pengisian kekosongan jabatan tersebut sangat penting guna mendukung penyelenggaraan roda pemerintahan kalurahan yang efektif, demokratis, transparan, dan akuntabel.

Dua figur yang secara resmi diambil sumpahnya dalam prosesi tersebut adalah Sudariyanto dan Sri Rochwindrani RK. Prosesi sakral ini dipimpin langsung oleh Panewu Depok dan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pengambilan sumpah, peresmian anggota, serta penyerahan Surat Keputusan (SK) Bupati Sleman sebagai dasar hukum pengangkatan yang sah.

Rangkaian upacara tersebut disaksikan oleh jajaran saksi serta rohaniwan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok. Sejumlah pejabat daerah turut hadir memadati pendopo, di antaranya perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Penjabat Lurah Caturtunggal, jajaran pamong kalurahan, Forkompim Kapanewon Depok, serta perwakilan lembaga kemasyarakatan setempat.

Ketua Tim Kerja Pengembangan Kelembagaan Kalurahan Dinas PMK Sleman, Sri Ningsih, menegaskan bahwa BPKAL mengemban peran yang sangat strategis di tingkat lokal. Lembaga ini merupakan mitra sejajar pemerintah kalurahan yang berfungsi menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta mengawal jalannya pembangunan desa.

“Harapannya Anggota BPKAL yang baru diresmikan dapat segera beradaptasi, menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta membangun sinergi yang harmonis bersama Pemerintah Kalurahan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Caturtunggal,” ujar Sri Ningsih saat memberikan sambutan pengarahan.

Melalui peresmian anggota antar waktu ini, performa kelembagaan BPKAL Caturtunggal diharapkan semakin solid dan responsif dalam merespons dinamika kebutuhan warga. Kehadiran wajah baru di kursi BPKAL ini diproyeksikan mampu menyuntikkan energi positif bagi terciptanya iklim kemitraan yang profesional dan berintegritas bersama pihak eksekutif kalurahan. (Oktaviana/KIM Depok)




Warga Pedukuhan Nasri Sleman Sambut Kunjungan Pelajar Asal Australia

Sleman – Nuansa kehangatan dan nilai toleransi yang tinggi terpancar jelas di wilayah Pedukuhan Nasri III, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Ratusan warga setempat tampak kompak dan antusias menyambut kehadiran rombongan yang terdiri atas 17 pelajar dan dua guru pendamping dari Kyneton High School, Australia, pada Minggu (28/6/2026).

Kunjungan internasional di tingkat akar rumput ini menjadi ruang peleburan budaya yang sangat cair. Sejak menginjakkan kaki di area pedukuhan, para siswa dari Negeri Kanguru tersebut langsung disambut oleh jajaran pemuda-pemudi desa, ibu-ibu pegiat pertanian, hingga warga lokal yang tengah beraktivitas di area persawahan.

Kebekuan komunikasi sama sekali tidak terlihat saat belasan siswa Australia tersebut mulai berbaur dengan 19 remaja lokal Sleman. Mereka saling memperkenalkan diri, bertukar cerita mengenai hobi, dinamika sistem sekolah di masing-masing negara, hingga berswafoto bersama. Atmosfer kebersamaan kian kental saat mereka belajar bersama membungkus tempe tradisional menggunakan daun pisang di bawah bimbingan warga setempat, Kenny Lindiawati.

“Kami senang bisa berbagi keterampilan sederhana ini. Semoga mereka membawa pengalaman yang berkesan tentang budaya Indonesia,” ujar Kenny Lindiawati di sela-sela memandu para siswa asing.

Selain mencicipi pengalaman kuliner tradisional, rombongan juga bergerak menuju lahan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Berseri. Ketua KWT, Nani Trisnaningsih, mendampingi langsung para pelajar untuk praktik menanam bibit cabai dan terong di media polybag sembari mengedukasi mereka tentang rutinitas pertanian harian warga setempat.

“Kami senang mendapat kunjungan murid-murid Australia. Kegiatannya sederhana, tetapi menyenangkan dan mengesankan. Mereka terlihat antusias mencoba menanam sendiri,” tutur Nani Trisnaningsih ramah.

Keramahan khas perdesaan kembali dirasakan rombongan saat menyusuri pematang sawah, di mana para petani lokal menyapa mereka secara hangat dan menerangkan proses pengolahan tanah. Keceriaan hari itu akhirnya mencapai puncak saat para pelajar Australia bergabung dengan remaja Nasri III untuk bertanding bola voli persahabatan di lapangan terbuka.

“Mereka cukup antusias saat bertanding. Semoga ini menjadi pengalaman yang menarik selama mereka berkunjung di pedukuhan kami. Anak-anak kami juga senang dan bersemangat bisa bergaul serta bermain bersama teman-teman dari Australia,” ungkap Pelatih Voli Nasri III, Dedy Theo, pascapertandingan.

Manfaat ganda dari kunjungan edukatif ini juga ditegaskan oleh salah satu remaja Sleman, Naswa Sura Prima Atamaja. Menurutnya, kesamaan usia di jenjang SMA membuat obrolan di antara mereka menjadi sangat nyambung dan menguntungkan kedua belah pihak.

“Kami bisa belajar praktik bahasa Inggris dengan native speakers, mereka saya lihat juga senang praktik bicara di bahasa Indonesia. Jadi saling menguntungkan,” kata Naswa Sura Prima Atamaja.

Kunjungan kultural ini menjadi bukti nyata bahwa sekat perbedaan negara dan bahasa dapat dengan mudah dijembatani melalui olahraga, kuliner, dan keterbukaan sikap. Melalui interaksi sederhana ini, para pelajar Australia tidak sekadar membawa pulang kecakapan berbahasa, melainkan juga memori mendalam tentang nilai gotong royong dan ketulusan masyarakat Indonesia. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)