Budayawan Joko Elisanto: Pentingnya Memahami Karakter Wong Jawa melalui Literasi Aksara Jawa

Sleman – Pemahaman terhadap karakter dan perilaku wong Jawa tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca serta memahami aksara Jawa. Pesan tersebut disampaikan budayawan Joko Elisanto di hadapan 30 peserta Pawiyatan Aksara Jawa yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Ruang Sasana Wicara Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (23/6/2026).

Dalam pemaparannya, Joko Elisanto menjelaskan bahwa aksara Jawa bukan sekadar sistem tulisan yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada masa lampau. Di balik setiap bentuk huruf dan tata penulisannya, tersimpan nilai-nilai filosofis yang mencerminkan cara berpikir, sikap hidup, serta karakter masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keselarasan dan tata krama.

Menurutnya, pemahaman terhadap aksara Jawa dapat membantu masyarakat mengenali berbagai konsep hidup yang diwariskan para leluhur. Banyak ajaran moral, etika, hingga pandangan hidup yang terdokumentasikan dalam naskah-naskah beraksara Jawa dan masih relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan modern saat ini.

Joko menuturkan bahwa karakter wong Jawa selama ini dikenal dengan sifat andhap asor, tepa selira, gotong royong, serta mengedepankan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan maupun tulisan, termasuk melalui aksara Jawa.

“Ketika belajar aksara Jawa dan tata tulisnya, sesungguhnya tanpa disadari otak bawah sadar kita ditata dengan berbagai pondasi perilaku untuk membentuk karakter halus, indah dan luwes yang disebabkan oleh bentuk dan cara menuliskan aksaranya. Selain itu, menjadikan seorang pendengar yang baik dan selalu berhati-hati karena dalam tata tulis aksara Jawa terdapat tanda-tanda vokal (taling) yang harus ditulis terlebih dulu sebelum aksaranya dan juga ada aksara pasangan. Maka, kita harus mendengarkan kalimat yang utuh dulu agar kita bisa menuliskan penempatan sandhangan dan pasangannya yang tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan membaca aksara Jawa memungkinkan generasi muda untuk memahami makna asli dari berbagai karya sastra dan naskah kuno. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal budaya Jawa dari permukaan, tetapi juga dapat menggali pesan-pesan mendalam yang terkandung di dalamnya.

“Ketika kita mempelajari aksara Jawa, sesungguhnya kita sedang mempelajari cara pandang orang Jawa terhadap kehidupan. Dari sana kita bisa memahami mengapa masyarakat Jawa memiliki karakter tertentu dalam berinteraksi, bermusyawarah, maupun menjaga hubungan sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joko mengatakan, saat mempelajari aksara Jawa akan menjadikan orang yang bijak dalam bersikap karena mengajarkan untuk selalu melihat sesuatu dalam konteks yang utuh, sebagaimana tulisan aksara Jawa yang bersambung (scriptio continua) dalam satu kalimat utuh. Sehingga terbiasa melihat sebuah masalah dalam konteks yang utuh, tidak sepotong-potong, bahkan diajarkan menjadi orang yang sukar ditebak karena menyimpan gejolak rasa, dan pintar bersandhi menggunakan sanepan maupun pasemon.

“Masih banyak lagi sebenarnya perilaku Jawa yang bisa kita dulang dalam tata tulis aksara Jawa agar tidak menjadi Wong Jawa Sing Ilang Jawane. Maka belajar aksara Jawa menjadi sarana untuk mangasah mingising budi serta sumber perilaku Jawa,” terangnya.

Melalui kegiatan Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026 ini, Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman berharap masyarakat semakin menyadari bahwa aksara Jawa bukan hanya warisan budaya berupa tulisan, melainkan juga pintu untuk memahami nilai-nilai luhur, karakter, dan perilaku wong Jawa yang menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Rembug Stunting Margomulyo Susun Strategi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026

Sleman – Kalurahan Margomulyo menggelar Rembug Stunting dalam rangka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Gedung Serbaguna Margomulyo, Selasa (23/6/2026). Kegiatan ini menjadi forum evaluasi sekaligus penyusunan langkah strategis percepatan penanganan stunting di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

Rakor menghadirkan Ketua TPPS beserta pengurus, Pamong Kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Pendamping Desa, PLKB Seyegan, perwakilan BPKal, Ketua KIM, Tim Penggerak PKK Margomulyo, serta sekitar 60 peserta dari unsur kader dan para dukuh.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto menegaskan bahwa program percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas pemerintah meskipun kondisi keuangan sedang mengalami efisiensi.

“Program penurunan stunting merupakan amanat pemerintah sekaligus program kesehatan yang wajib dilaksanakan. Walaupun saat ini ada efisiensi anggaran, kegiatan percepatan penurunan stunting tetap masuk skala prioritas,” tegas Eko di hadapan peserta rakor.

Menurutnya, kegiatan rembug stunting tidak hanya menjadi sarana evaluasi program tahun sebelumnya, tetapi juga wadah menyusun intervensi prioritas yang tepat sasaran untuk tahun mendatang.

“Melalui rembug stunting ini kita evaluasi kegiatan tahun 2025 sekaligus merencanakan langkah prioritas penanganan kasus stunting. Implementasinya memang tidak mudah, sehingga perlu terobosan kegiatan yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Eko menambahkan, faktor determinan menjadi kunci dalam menentukan bentuk intervensi agar program yang dijalankan lebih efektif dan tepat sasaran.

Penanggung Jawab Program Gizi Puskesmas Seyegan, Beti Nur Utami memaparkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita Tahun 2025. Pemantauan dilakukan terhadap balita dengan berbagai indikator status gizi seperti BB/U, OB/U, TB/U, BB/PB, dan BB/TB.

Dalam paparannya, Beti juga menampilkan tren masalah gizi di wilayah Puskesmas Seyegan yang meliputi underweight, stunting, dan wasting. Berdasarkan data tahun 2026, Kapanewon Seyegan menempati peringkat ketiga prevalensi stunting di Kabupaten Sleman.

Adapun data balita usia 0–59 bulan di wilayah Puskesmas Seyegan tahun 2025 menunjukkan dari 621 balita yang dipantau terdapat 38 balita kategori stunted dan 35 balita stunting dengan prevalensi mencapai 5,64 persen. Secara keseluruhan, jumlah balita stunting di Kapanewon Seyegan mencapai 139 balita dengan prevalensi 6 persen.

Beti menjelaskan, faktor determinan stunting masih didominasi oleh asupan gizi yang tidak adekuat, paparan asap rokok, serta kehamilan yang tidak direncanakan.

Untuk itu, pihaknya menyiapkan sejumlah Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL), di antaranya pemantauan status gizi balita, validasi data balita, pemberian vitamin A, pemantauan ASI dan MP ASI, pemberian PMT, hingga pendampingan pertumbuhan balita di posyandu.

Di akhir pemaparannya, Beti mengajak seluruh peserta untuk mendukung gerakan “Cegah Stunting itu Penting” melalui langkah nyata ABCDE, yakni Aktif minum tablet tambah darah, Bumil teratur memeriksakan kehamilan, Cukup konsumsi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, dan Eksklusif ASI 6 bulan.

“Pencegahan stunting harus dilakukan bersama-sama melalui tindakan nyata dan konsisten. ABCDE menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah stunting sejak dini,” pungkas Beti. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Ketua Dewan Kebudayaan Sleman: Pentingnya Aksara Jawa dalam Ekosistem Digital

Sleman – Keberadaan aksara Jawa di era transformasi digital dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Jawa di tengah arus globalisasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kebudayaan Sleman, Ki Abeje Janoko saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026, yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Aula Wacana Loka Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (23/6/2026).

Dalam paparannya, Ki Abeje Janoko menegaskan bahwa aksara Jawa tidak hanya dipandang sebagai peninggalan budaya masa lalu, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Menurutnya, pemanfaatan aksara Jawa dalam berbagai platform digital menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan keberadaannya tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

“Di era digital yang terus berkembang pesat, aksara jawa tidak boleh tertinggal. Mendorong integrasi aksara ke dalam ekosistem digital merupakan strategi kunci agar warisan ini tetap hidup dan digunakan oleh generasi masa kini,” terangnya.

Ia pun menjelaskan pentingnya standarisasi unicode artinya aksara Jawa telah tercatat dalam standar unicode internasional. Pemanfaatan ini perlu didorong agar aksara dapat diketik, dibagikan, dan diakses secara global di berbagai perangkat digital. Selain itu, perlu adanya relevansi platform digital untuk mendorong penggunaan aksara Jawa di media sosial, website resmi pemerintah, dan platform komunikasi modern sebagai wujud nyata kehadiran aksara dalam kehidupan digital masyarakat.

“Ketika aksara Jawa hadir dalam ruang digital, baik melalui aplikasi, media sosial, situs web, maupun berbagai platform teknologi lainnya, maka aksara tersebut memiliki peluang lebih besar untuk dikenal, dipelajari, dan digunakan oleh generasi muda,” ujar Ki Abeje.

Menurutnya, digitalisasi aksara Jawa merupakan bentuk inovasi kebudayaan yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisional dengan perkembangan zaman. Kehadiran font, Unicode, perangkat lunak pembelajaran, hingga konten kreatif berbasis aksara Jawa menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat berkembang seiring kemajuan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem digital yang ramah terhadap aksara Jawa. Kreativitas anak muda dalam menciptakan konten edukatif, desain grafis, karya multimedia, maupun aplikasi berbasis budaya dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan aksara Jawa kepada khalayak yang lebih luas.

“Pelestarian aksara Jawa merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, pelaku teknologi, serta masyarakat perlu membangun kolaborasi yang kuat agar penggunaan aksara Jawa semakin berkembang dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di ruang digital,” tandas Ki Abeje di hadapan 30 peserta pawiyatan.

Melalui gladhi ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejarah, filosofi, tata tulis, serta peluang pengembangan aksara Jawa di era digital. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman dalam meningkatkan literasi budaya sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya daerah.

Ki Abeje Janoko berharap aksara Jawa tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Dengan dukungan teknologi dan partisipasi generasi muda, aksara Jawa diyakini mampu tetap hidup, berkembang, serta menjadi identitas budaya yang membanggakan dalam ekosistem digital masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pawiyatan Aksara Jawa Perkuat Pelestarian Warisan Budaya dan Literasi Generasi Muda

Sleman – Upaya pelestarian budaya Jawa terus dilakukan melalui berbagai program edukasi yang menyasar masyarakat lintas generasi. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Aula Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan aksara Jawa sebagai salah satu warisan budaya adiluhung yang memiliki nilai historis, filosofis, dan identitas kultural masyarakat Jawa. Pawiyatan ini diikuti oleh pelajar SMA dan SMK serta berbagai unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan dan pelestarian budaya daerah.

Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Joko Dwi Haryadi, dalam sambutan pembukanya menyampaikan bahwa Pawiyatan Aksara Jawa merupakan salah satu upaya strategis dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Jawa.

“Aksara Jawa tidak hanya berfungsi sebagai sistem tulisan, tetapi juga menjadi media yang merekam nilai-nilai, pengetahuan, sejarah, serta kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur,” ucapnya.

Lebih lanjut, Joko Dwi Haryadi menjelaskan bahwa perkembangan zaman dan kemajuan teknologi menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelestarian aksara Jawa. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata melalui pendidikan, pelatihan, dan berbagai kegiatan kebudayaan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tetap mengenal, memahami, dan mampu menggunakan aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Pawiyatan Aksara Jawa ini, pihaknya berharap peserta mampu membaca dan menulis aksara Jawa dengan baik, sekaligus memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, pelestarian aksara Jawa merupakan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya daerah sekaligus memperkuat karakter bangsa.

“Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman akan terus mendorong berbagai program pemajuan kebudayaan yang berfokus pada pelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, aksara Jawa diharapkan tetap lestari, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan era digital tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya,” tambah Joko.

Sementara itu, Ita Kurniawati selaku Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman menilai keberadaan aksara Jawa saat ini menghadapi tantangan yang cukup besar seiring berkembangnya teknologi digital dan dominasi penggunaan huruf latin dalam berbagai aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk meningkatkan minat masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mempelajari dan menggunakan aksara Jawa.

Selain sebagai sarana pembelajaran, Pawiyatan Aksara Jawa juga menjadi ruang transfer pengetahuan antargenerasi. Para peserta dapat bertukar pengalaman dan pemahaman mengenai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam aksara Jawa, sehingga proses pelestarian tidak hanya berhenti pada aspek teknis penulisan, namun juga pemaknaan budaya yang menyertainya.

“Di era transformasi digital, pemanfaatan teknologi dapat dijadikan sarana efektif untuk memperkenalkan aksara Jawa kepada masyarakat yang lebih luas. Berbagai platform digital, media sosial, hingga aplikasi pembelajaran dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi yang menarik dan mudah diakses oleh generasi muda,” ungkap Ita.

Melalui penyelenggaraan Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026, Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman berharap tumbuhnya kesadaran masyarakat yang semakin kuat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan aksara Jawa sebagai bagian dari identitas budaya daerah, serta berkomitmen untuk merawat, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Jawa kepada generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




MUSKAL Condongcatur Sepakati Arah Penyusunan RKPKal 2027, Perkuat Sinergi Pembangunan di Tengah Tantangan Efisiensi Anggaran

Sleman – BPKal Condongcatur bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyelenggarakan Musyawarah Kalurahan (Muskal) Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Tahun Anggaran 2027, di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyusun arah pembangunan tahunan secara partisipatif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan. Sebanyak 134 peserta undangan hadir, terdiri atas unsur Pemerintah Kalurahan, BPKal, Kapanewon Depok, DPRD Kabupaten Sleman, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK), lembaga kemasyarakatan, dukuh, ketua RW dan RT, PKK, Karang Taruna, Posyandu, Satlinmas, Kelompok Wanita Tani (KWT), kelompok peternak, Forum TPA, Forum Anak, Destana, unsur disabilitas, BUMKal Nyawiji, KDMP, hingga pendamping desa.

Ketua BPKal Condongcatur, Sunarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa Muskal merupakan wadah resmi untuk menyepakati kebijakan strategis pembangunan kalurahan secara demokratis antara BPKal, pemerintah kalurahan, dan masyarakat.

“Musyawarah Kalurahan adalah forum strategis yang diselenggarakan BPKal untuk menyepakati hal-hal penting bagi arah pembangunan. Melalui keterlibatan seluruh unsur masyarakat, keputusan yang dihasilkan diharapkan benar-benar mencerminkan kebutuhan warga dan menjadi landasan pembangunan yang partisipatif,” ujarnya.

Sunarto menjelaskan bahwa pelaksanaan Muskal mengacu pada surat Dinas PMK Kabupaten Sleman Nomor tanggal 19 Mei 2026 mengenai pedoman penyelenggaraan Muskal RKPKal Tahun Anggaran 2027. Setelah melalui koordinasi antara BPKal dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur, forum tersebut dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Sunarto juga menyoroti tantangan pembiayaan pembangunan akibat berkurangnya alokasi Dana Desa dari pemerintah pusat. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada kemampuan pembiayaan sejumlah program pembangunan sehingga diperlukan penyesuaian skala prioritas serta penguatan sinergi dengan berbagai sumber pendanaan lain.

Sementara itu, Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto menyampaikan bahwa Muskal RKPKal merupakan kelanjutan dari rangkaian Musyawarah Padukuhan (Musduk) yang telah dilaksanakan secara maraton di 18 padukuhan pada awal tahun 2026.

“Seluruh usulan pembangunan fisik maupun nonfisik yang dibahas malam ini merupakan aspirasi masyarakat yang telah dihimpun dari tingkat padukuhan. Pemerintah kalurahan berkomitmen melanjutkan program prioritas yang telah direncanakan dengan tetap menyesuaikan kemampuan keuangan kalurahan,” ungkapnya.

Menurut Budi, ikon pembangunan berbasis RW yang selama ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat akan tetap menjadi perhatian dengan mempertimbangkan rasionalisasi anggaran akibat efisiensi fiskal.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Sleman, Ali Imron menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan pemerintah kalurahan dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat.

“Kami siap menyerap aspirasi masyarakat dan berkolaborasi agar program-program prioritas yang belum dapat dibiayai APBKal dapat diupayakan melalui skema bantuan keuangan maupun dukungan pemerintah daerah,” tegasnya.

Sebagai penutup, seluruh unsur perwakilan menandatangani berita acara Muskal sebagai bentuk pengesahan hasil musyawarah sekaligus penegasan bahwa proses penyusunan RKPKal Tahun Anggaran 2027 dilaksanakan secara partisipatif, transparan, dan demokratis.

Melalui Muskal ini, Kalurahan Condongcatur menegaskan komitmennya untuk mewujudkan perencanaan pembangunan yang akuntabel, berbasis aspirasi masyarakat, serta adaptif terhadap dinamika kemampuan keuangan daerah demi mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan dan menyejahterakan masyarakat (Wasana / KIM Depok)