Edukasi dan Budaya, Belasan Pelajar Australia Turun ke Sawah dan Belajar Bahasa di Sleman

Sleman – Sebanyak 17 pelajar beserta dua guru pendamping dari Kyneton High School, Australia, menggelar kunjungan edukasi dan budaya di Pedukuhan Nasri III, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Minggu (28/6/2026). Kunjungan ini dirancang sebagai ruang interaksi langsung bagi para siswa asal Negeri Kanguru tersebut untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia sekaligus mendalami kultur agraris di wilayah perdesaan Sleman.
Rangkaian petualangan budaya ini diawali dengan mengunjungi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Berseri. Di lokasi tersebut, Ketua KWT Nani Trisnaningsih menyambut hangat rombongan dan langsung mengajak para siswa untuk mempraktikkan metode pertanian sekunder, mulai dari cara menanam bibit cabai dan terong di dalam media polybag, hingga melihat peternakan ayam petelur lokal untuk memanen telur secara langsung dari kandangnya.
Setelah itu, para pelajar diajak menyusuri pematang sawah hijau guna menyaksikan fase pertumbuhan padi, mulai dari pembibitan, padi yang menguning, hingga lahan yang siap tanam. Rute perjalanan menyusuri kampung tersebut berakhir di Joglo Jetis, tempat rombongan diterima oleh Dukuh Nasri III, Zamzuri Latif, yang memaparkan fungsi sosial arsitektur rumah tradisional Jawa sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan, kesehatan, dan keagamaan warga.
Guru pendamping Kyneton High School, Deryn, menjelaskan bahwa interaksi langsung dengan penutur asli (native speaker) menjadi target utama dari program luar ruangan ini. Untuk memaksimalkan percakapan intensif, para murid Australia sengaja dibagi menjadi empat kelompok kecil untuk berbaur dengan 19 remaja lokal Sleman, terutama saat momen makan siang bersama.
“Para murid dibagi menjadi empat kelompok bersama 19 remaja Indonesia. Setiap murid wajib berbicara, dan kami sengaja mendudukkan mereka berdampingan agar terjadi percakapan intens, terutama saat makan siang. Ini tantangan bagi mereka, tapi kami lihat mereka cukup interaktif, bahkan ada yang bertukar nomor ponsel,” ujar Deryn yang fasih berbahasa Indonesia, didampingi asisten guru, Sam.
Meski awalnya sempat diwarnai kecanggungan, kebekuan komunikasi segera mencair saat para remaja dua negara tersebut mulai saling melempar cerita seputar hobi, makanan favorit, kegiatan sekolah, hingga tren teknologi informasi. Antusiasme para pelajar asing makin memuncak saat mereka memasuki sesi praktik pembuatan kuliner lokal, yakni belajar membungkus tempe tradisional menggunakan media daun pisang.
Praktik pembuatan tempe tersebut dipandu langsung oleh salah satu tokoh ibu rumah tangga setempat, Kenny Lindiawati. Dalam kelas kilat itu, para siswa dibagi ke dalam tiga tim berbeda dan saling berlomba untuk menghasilkan bungkusan tempe yang paling rapi dan proporsional sesuai standar lokal.
“Ini tempe tradisional, banyak orang suka karena lebih sehat,” kata Kenny Lindiawati saat mengajari para siswa mengunci lipatan daun pisang.
Menjelang sore hari, seluruh rangkaian kunjungan ditutup dengan agenda olahraga persahabatan berupa pertandingan bola voli bersama anak-anak kampung di lapangan terbuka. Melalui pendekatan eduwisata yang menyatu dengan urat nadi kehidupan masyarakat, kunjungan para pelajar Australia di Kapanewon Moyudan ini sukses membangun jembatan diplomasi budaya yang hangat dan berkesan bagi kedua belah pihak. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan).



