GERUDUK Pringwulung Disambut Antusias, 128 Layanan Adminduk Terselesaikan dalam Jemput Bola Kalurahan Condongcatur

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama Kapanewon Depok kembali menghadirkan pelayanan administrasi kependudukan secara jemput bola melalui program GERUDUK (Gerakan Update Adminduk) di Gedung Serbaguna Padukuhan Pringwulung, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang memanfaatkan berbagai layanan kependudukan secara langsung di lingkungan padukuhan.

Program GERUDUK merupakan inovasi pelayanan yang bertujuan mendekatkan akses administrasi kependudukan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya data kependudukan yang akurat, mutakhir, dan tertib. Layanan utama yang diberikan meliputi aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), sedangkan layanan tambahan mencakup pengurusan KTP rusak atau hilang serta pembaruan data Kartu Keluarga (KK).

Berdasarkan rekapitulasi pelayanan pada kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 63 aktivasi IKD, 37 layanan KTP, 25 layanan Kartu Keluarga (KK), dan 3 layanan Kartu Identitas Anak (KIA) berhasil dilayani. Capaian ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk memperbarui data kependudukan sekaligus memanfaatkan transformasi layanan digital yang disediakan pemerintah.

Kegiatan dihadiri oleh Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Benjamin Dalung, beserta jajaran, Kaur Tata Laksana Kalurahan Condongcatur Andree Setiawan beserta staf, Dukuh Pringwulung Sahid Fahrudin, serta para kader Jakadara (Jaringan Kader Adminduk Depok Agar Tertib dan Tertata) Padukuhan Pringwulung yang turut mendampingi dan membantu proses pelayanan kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Benjamin Dalung menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam menghadirkan inovasi pelayanan administrasi kependudukan yang langsung menjangkau masyarakat di tingkat padukuhan.

“Program jemput bola seperti ini sangat baik untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran warga dalam tertib administrasi kependudukan,” ujarnya.

“Kalurahan Condongcatur memiliki inovasi GERUDUK, sementara Kapanewon Depok memiliki program JEBOL TARGET. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan layanan adminduk dengan turun langsung ke masyarakat hingga tingkat padukuhan,” sambung Benjamin.

Sementara itu, Kaur Tata Laksana Kalurahan Condongcatur, Andree Setiawan, berharap keberadaan GERUDUK dapat semakin mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan administrasi kependudukan.

“Kami berharap program GERUDUK mampu mendekatkan pelayanan kepada warga sehingga mereka semakin mudah mengakses layanan adminduk. Selain itu, masyarakat diharapkan semakin sadar untuk selalu memperbarui data kependudukan agar tetap valid dan sesuai kondisi yang sebenarnya,” jelasnya.

Andree menambahkan bahwa program GERUDUK akan terus dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah Kalurahan Condongcatur. Setelah pelaksanaan di Pringwulung, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Padukuhan Manukan pada 25 Juni 2026 dan selanjutnya diperluas ke padukuhan lainnya sebagai bagian dari upaya mewujudkan tertib administrasi kependudukan

Di sisi lain, Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, serta para kader Jakadara atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini sangat membantu masyarakat karena layanan administrasi kependudukan dapat diakses lebih dekat, lebih cepat, dan lebih mudah tanpa harus datang jauh ke kantor pelayanan. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada warga,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, dan para kader Jakadara, program GERUDUK diharapkan menjadi salah satu motor penggerak peningkatan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat budaya tertib administrasi kependudukan di tengah masyarakat. Dengan data yang akurat dan selalu diperbarui, pelayanan publik dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran (Wasana / KIM Depok)




Usaha Ayam Goreng Gerobak Tetap Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku

Sleman – “Tidak mungkin gara-gara penjual ayam seperti kami membuat restoran cepat saji besar rugi ratusan miliar rupiah, Pak,” ujar Riyanto saat ditemui di gerobak ayam goreng miliknya di Perempatan Merdikorejo–Turi, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (23/6/2026).

Menurut Riyanto, usaha ayam goreng gerobak yang dijalankannya memiliki segmen pasar yang berbeda dengan restoran cepat saji berskala nasional maupun internasional.  Meski berada di tengah persaingan yang semakin ketat, usaha kecil seperti miliknya tetap memiliki keunggulan tersendiri.

Seluruh proses pengolahan ayam dilakukan secara mandiri, mulai dari penyembelihan hingga penggorengan. Setiap hari Riyanto membeli tiga ekor ayam hidup dari pemasok di wilayah Turi. Ayam tersebut kemudian disembelih sesuai syariat Islam, dipotong menjadi sekitar 40 bagian, dibumbui, lalu digoreng untuk dijual kepada pelanggan.

Layaknya ayam goreng tepung modern, potongan ayam dibalut tepung dua kali sehingga menghasilkan tekstur yang renyah. Selain bagian paha dan dada, Riyanto juga menjual kepala, ceker, usus, serta bagian lainnya yang masih banyak diminati masyarakat.

Menurutnya, proses pengolahan yang dilakukan setiap hari membuat ayam yang dijual selalu dalam kondisi segar. Faktor kesegaran dan kepastian kehalalan menjadi alasan mengapa sebagian pelanggan tetap setia membeli di gerobaknya.

Selain ayam goreng, Riyanto juga menjajakan lele goreng tepung dan tahu goreng tepung. Aroma gurih dari penggorengan besar di samping gerobaknya kerap menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di perempatan yang cukup ramai tersebut.

Setiap hari ia mulai berjualan sekitar pukul WIB hingga pukul WIB. Sebagian besar pembelinya merupakan warga sekitar serta pengguna jalan yang singgah untuk membeli lauk siap santap.

Namun, menjalankan usaha kecil di tengah kondisi ekonomi saat ini bukan perkara mudah. Kenaikan harga berbagai bahan baku menjadi tantangan yang terus dihadapi.

“Jumlah pembeli menurun, sementara harga semua bahan naik, Pak. Minyak goreng naik, tepung naik, bahkan plastik pembungkus juga naik,” keluhnya.

Ia mengaku sempat berupaya mempertahankan harga jual. Namun, kenaikan biaya produksi yang terus terjadi membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.

“Di sekitar sini ada beberapa penjual ayam goreng. Saya sudah berusaha bertahan, tetapi akhirnya tidak mampu lagi menahan kenaikan biaya. Bulan lalu terpaksa menaikkan harga. Ya, kalau tidak habis terjual, biasanya saya makan sendiri, Pak,” katanya sambil tersenyum.  (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Siswa MAN 4 Sleman Dibekali Peran Pramuka sebagai Agen Perubahan Lingkungan

Sleman – Di tengah semilir angin pagi yang menyapa Bumi Perkemahan Jaka Garong, Turi, Sleman, suasana berbeda terasa pada hari kedua Perkemahan Siswa MAN 4 Sleman, Selasa (23/6/2026). Bukan sekadar kegiatan berkemah, para siswa mendapatkan pembekalan bertajuk “Pramuka Agent of Change dan Membentuk Jiwa Tangguh melalui Pengabdian dan Alam”.

Materi tersebut disampaikan oleh Riski Mario Pamungkas, selaku perwakilan Saka Kalpataru Sleman sekaligus pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman. Pada momen itu, Riski mengajak para siswa untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan saat ini.

Ia menegaskan bahwa setiap generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan, dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan penuh kesadaran.

“Menjadi agen perubahan bukan berarti harus melakukan hal besar. Cukup mulai dari membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, dan mencintai alam sekitar. Dari hal-hal kecil itulah revolusi karakter lingkungan dimulai,” ujarnya.

Riski pun menjelaskan berbagai persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, seperti perubahan iklim ekstrem, pencemaran sungai dan udara, berkurangnya habitat satwa liar, hingga meningkatnya volume sampah plastik. Menurutnya, generasi muda, khususnya anggota Pramuka, memiliki posisi strategis sebagai penggerak kesadaran kolektif. Dengan jiwa kepanduan yang tangguh dan kepedulian terhadap alam, mereka diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Selain itu, Riski juga memberikan pemahaman mengenai tata letak tenda yang ideal di area perkemahan. Materi tersebut mencakup penempatan dapur darurat yang aman dan tidak mencemari sumber air, penyimpanan perlengkapan secara rapi, serta pengaturan ruang dalam tenda agar tetap nyaman dan sehat.

Ia bahkan memperkenalkan prinsip Leave No Trace, yaitu filosofi yang mengajarkan setiap pengunjung alam untuk meninggalkan lokasi perkemahan dalam kondisi tetap bersih, utuh, dan lestari. Prinsip ini menekankan agar tidak ada sampah maupun kerusakan lingkungan yang ditinggalkan setelah kegiatan berakhir.

Melalui pembekalan ini, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan serta mampu menerapkan nilai-nilai kepedulian terhadap alam dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam setiap kegiatan kepramukaan. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Transformasi 6 SPM, Posyandu di Sleman Kini Layani Seluruh Siklus Hidup

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus mematangkan transformasi pelayanan kesehatan masyarakat melalui Pertemuan Advokasi dan Koordinasi Tim Penggerak (TP) Posyandu Bidang Kesehatan Kabupaten Sleman. Acara yang berlangsung di Hyatt Regency pada Rabu (24/6/2026) ini fokus membahas perluasan fungsi Posyandu yang kini tidak lagi hanya identik dengan pelayanan balita, melainkan mencakup seluruh siklus kehidupan manusia.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Seruni Angreni Susila, menjelaskan bahwa transformasi ini merujuk pada pengembangan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2024. Melalui konsep ini, Posyandu diperluas menjadi pusat layanan terpadu yang mencakup enam bidang pemenuhan hak dasar masyarakat, yaitu bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat (trantibumlinmas).

Untuk mendukung transformasi tersebut, Seruni menekankan pentingnya pemetaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Saat ini, dari total Posyandu aktif yang tersebar di 86 Kalurahan dan Padukuhan di Kabupaten Sleman, sebagian besar atau sebanyak di antaranya telah berhasil bertransformasi menjadi Posyandu Siklus Kehidupan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, memaparkan bahwa Posyandu saat ini memegang peran krusial dalam melayani berbagai aspek. Layanan tersebut mulai dari kesehatan ibu, anak, keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi, pengendalian penyakit, hingga penggerakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Untuk mencapai tujuan tersebut, penguatan kapasitas kader menjadi hal yang mutlak. Saat ini Kabupaten Sleman memiliki kader, dengan di antaranya telah mendapatkan pelatihan keterampilan dasar posyandu siklus hidup. Keterampilan tersebut meliputi pengelolaan posyandu, layanan bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, usia sekolah dan remaja, serta usia dewasa dan lansia.

“Posyandu saat ini juga wajib memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas, terutama dalam skrining penyakit dari awal pemeriksaan hingga pelaporan. Hal ini penting agar masyarakat yang membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut bisa segera ditindaklanjuti,” tegas Cahya Purnama.

Cahya optimistis dengan penerapan Posyandu 6 SPM, kualitas pelayanan akan lebih meningkat dan berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan membuat kader semakin berdaya, termotivasi, dan berkomitmen, sehingga bermuara pada masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.

Meski menunjukkan tren positif, transformasi Posyandu di Sleman masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.

“Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah minimnya angka kunjungan dari kelompok usia produktif, di mana persentasenya saat ini masih berada di bawah 50 persen,” tegas Cahya.

Selain itu, lanjutnya, masalah regenerasi kader juga menjadi sorotan tajam karena mayoritas kader yang aktif saat ini didominasi oleh usia lanjut.

“Faktor usia ini berdampak langsung pada munculnya keterbatasan dalam melakukan digitalisasi data serta pengelolaan laporan berbasis teknologi,” imbuhnya.

Menutup keterangannya, Cahya menegaskan bahwa regenerasi kader yang lebih muda dan adaptif terhadap teknologi menjadi agenda mendesak yang harus segera diselesaikan. Langkah ini dinilai sangat krusial agar pelayanan Posyandu dapat berjalan maksimal demi mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.




Sinergi Aparat dan Pemerintah Diperkuat, Kewaspadaan Keamanan hingga Kesiapsiagaan Bencana Jadi Fokus Koordinasi Daerah

Sleman – Penguatan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan pemerintah kalurahan dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas wilayah sekaligus menghadapi berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.

Mulai dari ancaman kejahatan siber, keamanan lingkungan, kesiapsiagaan bencana, hingga penguatan pembangunan berbasis data menjadi isu yang mengemuka dalam Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon Tempel yang digelar di Pendopo Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (23/6/2026).

Forum tersebut menjadi wadah penyamaan persepsi antarinstansi sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mendorong percepatan pembangunan di tingkat wilayah.

Mewakili Polsek Tempel, AKP Purnomo menyampaikan bahwa situasi keamanan secara umum masih kondusif, namun masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk tindak kriminal yang terus berkembang.

“Beberapa waktu terakhir kami menangani kasus pencurian di sebuah toko perhiasan serta penipuan melalui media online. Modus kejahatan semakin beragam sehingga masyarakat harus lebih berhati-hati dalam setiap aktivitas, terutama di ruang digital,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa jajaran kepolisian terus mengintensifkan patroli rutin mulai malam hingga menjelang subuh dengan fokus pada titik-titik yang dinilai rawan terjadi gangguan keamanan.

Menurutnya, keberhasilan menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

“Kejahatan biasanya muncul karena adanya niat dan kesempatan. Karena itu mari bersama-sama mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” tegas AKP Purnomo

Ia juga memastikan bahwa program PIWELING (Ngopi Sareng Warga lan Siskamling) masih terus berjalan sebagai media komunikasi langsung antara kepolisian dan masyarakat dalam memperkuat sistem keamanan lingkungan.

Sementara itu, mewakili Koramil 04/Tempel Kodim 0732/Sleman, Batituud Peltu Sumaryono menyampaikan sejumlah perkembangan kegiatan teritorial yang sedang dan akan dilaksanakan TNI di wilayah.

Ia melaporkan pelaksanaan TMMD Sengkuyung di wilayah Berbah, kegiatan karya bakti di Padukuhan Pokoh, Kalurahan Banyurejo, hingga berbagai program pembinaan yang menyentuh masyarakat secara langsung.

“Kami juga terus mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim kemarau yang berpotensi memunculkan berbagai bencana. Upaya mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampaknya dapat diminimalkan,” katanya.

Selain itu, Peltu Sumaryono menyampaikan perkembangan informasi organisasi TNI terkait rencana pembentukan Kodam XII/Mataram yang berkedudukan di Godean, sekaligus melaporkan berbagai kegiatan pembinaan mental dan karakter bagi pelajar di wilayah Tempel.

Ia juga menyoroti perkembangan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di wilayah Tempel serta menyampaikan laporan mengenai sejumlah kondisi jembatan yang memerlukan perhatian karena dinilai memiliki tingkat kerawanan dan perlu segera ditindaklanjuti demi keselamatan masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Lurah Margorejo Abdul Aziz Muh Ridwan mengajak seluruh pemerintah kalurahan untuk mendukung penuh pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 sebagai upaya menghadirkan data pembangunan yang semakin akurat.

“Keberhasilan sensus sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Data yang lengkap dan valid akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Kalurahan Margorejo mendapat kesempatan berbagi pengalaman melalui siaran Jogja TV sebagai narasumber mengenai program Desa Cantik (Desa Cinta Statistik), sebuah program yang mendorong peningkatan literasi statistik dan pemanfaatan data desa dalam proses perencanaan pembangunan.

Forum koordinasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan daerah saat ini tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keamanan, ketahanan sosial, kesiapsiagaan menghadapi bencana, hingga pentingnya pengelolaan data yang berkualitas.

Melalui komunikasi dan kolaborasi yang terus diperkuat, pemerintah bersama TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan wilayah yang aman, tangguh, serta adaptif terhadap berbagai perubahan. (SBD KIMSENYUM TEMPEL)