Revolution Academy Sleman Raih 30 Medali di Kejuaraan Internasional Taekwondo GTI 2026

Sleman – Tim Taekwondo Indonesia Revolution Academy yang bermarkas di Maguwoharjo, Kabupaten Sleman kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih total 30 medali pada ajang Kejuaraan Internasional Gelora Taekwondo Indonesia (GTI) 2026 yang berlangsung di Gedung Olah Raga Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu (21/6/2026).

Kejuaraan berskala internasional tersebut diikuti lebih dari atlet taekwondo dari berbagai daerah di Indonesia serta empat negara, yakni Malaysia, Australia, Timor Leste, dan Brunei Darussalam. Pertandingan berlangsung di delapan arena dengan mempertandingkan berbagai kategori, meliputi Kyorugi (pertarungan) dan Poomsae (rangkaian jurus).

Manajer Tim Taekwondo Revolution Academy Sleman, Rizky Savira Kusuma, menjelaskan bahwa pada hari pertama kompetisi, tim berhasil mengoleksi empat medali yang terdiri atas dua medali perak dan dua medali perunggu.

Medali perak diraih oleh Muhammad Ammar Dirga Sulistyo pada kategori Kyorugi Cadet O-45 Kg Putra, serta Jihan Makaila Wibawa pada kategori Kyorugi Junior U-52 Kg Putri. Sementara itu, medali perunggu dipersembahkan oleh Alvaro Marchcleo Putra Riyadi (Kyorugi Pra Cadet C U-26 kg Putra), dan Muhammad Aydan Arya (Kyorugi Cadet U-45 Kg Putra).

Memasuki hari kedua pertandingan, performa para atlet semakin meningkat. Asisten Pelatih Tim Revolution Academy Sleman, Arjun Uswatun, menyampaikan bahwa pihaknya berhasil menambah lima medali, terdiri atas dua medali perak dan tiga medali perunggu.

“Perolehan tersebut diraih oleh Muhammad Fawwaz Anwar (Poomsae Cadet Taeguk 2 Male), Arsva Nathan Jaswinder Wibowo (Kyorugi Pra Cadet C U-33 Male), Dhafin Julio Shakeil Alfarizky (Kyorugi Pra Cadet B U-42 kg Putra), Swatantri Girindra Wardhani (Kyorugi Pra Cadet C U-42 Female), dan Ghaziya Ainun Mahya di kategori Kyorugi Pra Cadet C U-26 Female,” sebutnya.

Puncak prestasi tim terjadi pada hari ketiga kompetisi. Kepala Pelatih Tim Revolution Academy Sleman, Arif YM, mengungkapkan bahwa para atlet berhasil menyumbangkan 21 medali tambahan, termasuk tiga medali emas yang menjadi kebanggaan tim.

“Capaian prestasi ini sekaligus mengukuhkan posisi Tim Revolution Academy sebagai salah satu klub taekwondo berprestasi di Daerah Istimewa Yogyakarta,” tandasnya.

Adapun tiga medali emas bergengsi berhasil dipersembahkan oleh Muhammad Hafidin di kelas Kyorugi Senior U-58 Kg Putra, Fairuz Ghalia Athaillah (Poomsae Junior Taeguk 6 Putri), serta Rahmania Putri Hapsari (Kyorugi Senior U-67 Kg Putri). Ketiganya tampil impresif dan mampu mengalahkan lawan-lawan tangguh di babak final.

Menurut Arif YM, keberhasilan para atlet meraih medali emas merupakan hasil dari proses latihan yang panjang dan persiapan yang matang. Disebutkan, Muhammad Hafidin sukses menaklukkan atlet dari tim Universitas Teknologi Digital Indonesia pada partai final, sementara Fairuz Ghalia Athaillah mengungguli atlet dari Marunting Batu Aji, Kepulauan Riau. Di kategori lainnya, Rahmania Putri Hapsari berhasil mengalahkan atlet dari tim Taekwondo Universitas Gadjah Mada untuk memastikan gelar juara.

Secara keseluruhan, Tim Revolution Academy Sleman menurunkan 30 atlet yang dibina dari Dojang Revolution Club, SMKN 1 Depok, MAN 2 Sleman, MTsN 3 Sleman, dan MTsN 9 Sleman yang bertanding pada cabang kyorugi dan poomsae. Dari jumlah tersebut, tim berhasil membawa pulang 3 medali emas, 11 medali perak, dan 16 medali perunggu.

Arif YM menilai capaian tersebut menjadi momentum penting bagi kebangkitan tradisi prestasi emas yang selama ini menjadi identitas Tim Taekwondo Revolution Academy Sleman. Sekaligus mengapresiasi kerja keras seluruh atlet, pelatih, serta dukungan orang tua yang terus memberikan motivasi selama proses persiapan hingga pertandingan berlangsung.

“Raihan medali emas ini menjadi bukti bahwa tradisi prestasi Tim Taekwondo Revolution Academy Sleman masih terus terjaga. Harapan ke depan, prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berkembang dan meraih hasil yang lebih baik pada kejuaraan yang akan datang,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Targetkan Juara Umum Kelima Kali, PERCASI Sleman Gelar Seleksi Ketat Atlet Catur Menuju Porda DIY 2027

Sleman – Pengurus Kabupaten Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Sleman bergerak cepat menyusun strategi demi mempertahankan dominasi olahraga di tingkat regional. Guna menjaring talenta-talenta asah otak terbaik, PERCASI Sleman menggelar seleksi maraton bagi para master catur lokal untuk diproyeksikan masuk ke dalam skuat inti Pemusatan Latihan Kabupaten (Pelatkab). Agenda penjaringan atlet ini dipusatkan di Aula Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti langkah awal dan persiapan taktis kontingen Sleman dalam mengamankan medali emas jauh-jauh hari menjelang perhelatan Pekan Olahraga Daerah (Porda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang akan diselenggarakan di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2027 mendatang. Langkah eskalasi kompetisi internal ini sengaja digulirkan lebih awal guna mematangkan mental bertanding para atlet, menyempurnakan kalkulasi taktik, serta memenuhi target besar dari kepala daerah untuk menyabet predikat juara umum Porda untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

Agenda seleksi ini dihadiri dan disaksikan langsung oleh jajaran pemangku kebijakan olahraga daerah, di antaranya Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Turi, Lanang Tanu Prihantoro yang hadir mewakili Panewu Turi, Ketua Percasi Sleman Nuradi Indrawijaya, Sekretaris Percasi Sleman Achmadridlo, Koordinator Pelatkab Sleman Suranto, Koordinator Olahraga Kapanewon Turi Waluyo Jati, serta Bidang Pelatihan Percasi Sleman Ahmad Marlan.

Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Turi, Lanang Tanu Prihantoro, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya wilayah Turi sebagai pusat arena laga para pecatur terbaik Sleman. Ia berharap gelaran kompetisi resmi ini mampu memicu minat anak-anak muda di kawasan lereng Merapi untuk menekuni olahraga catur secara profesional.

“Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih Kapanewon Turi mendapatkan kesempatan dipergunakan sebagai tempat seleksi atlet Catur Pelatkab Sleman. Semoga acara berjalan lancar dan mendapatkan hasil maksimal untuk Kabupaten Sleman agar lahir ketertarikan baru dari warga sekitar terhadap olahraga ini,” ujar Lanang Tanu Prihantoro di lokasi pertandingan.

Senada dengan hal itu, Ketua Percasi Kabupaten Sleman, Nuradi Indrawijaya, menegaskan bahwa ajang ini menerapkan sistem gugur yang sangat kompetitif guna memastikan hanya atlet bermental baja yang lolos ke fase Pelatkab. Komoditas atlet dari cabang olahraga catur dituntut mampu mendongkrak perolehan medali secara signifikan melebihi capaian dalam Porda edisi sebelumnya demi merealisasikan instruksi bupati.

“Seleksi ini merupakan ajang menemukan atlet catur untuk masuk ke Pelatihan Kabupaten cabang catur Kabupaten Sleman yang nantinya sebagai persiapan menjadi tim atlet untuk Porda DIY pada tahun 2027 di Kulon Progo. Sesuai arahan Bupati Sleman bahwa untuk Porda 2027 harapannya Sleman akan kembali mendapatkan juara umum yang ke-5. Dari cabor catur diharapkan mampu menyumbang medali lebih banyak dari Porda sebelumnya,” kata Nuradi Indrawijaya memompa semangat peserta.

Secara teknis, pertempuran di atas papan catur ini diikuti oleh 40 pecatur potensial yang terdiri dari 27 atlet putra yang harus melewati 6 babak pertandingan yang menguras pikiran, serta 13 atlet putri yang bersaing ketat dalam 5 babak pertandingan. Sekretaris Percasi Sleman, Achmadridlo, menjelaskan bahwa nama-nama yang lolos dari fase ini nantinya akan dikombinasikan dengan 15 atlet unggulan (seeded) yang sudah mengantongi tiket khusus lewat jalur prestasi tim penjaringan terdahulu.

“Tentang berapa jumlah serta komposisi atlet yang akan masuk Pelatkab secara definitif akan dirumuskan kemudian oleh jajaran tim pelatih setelah mengevaluasi draf nilai keseluruhan,” tutur Achmadridlo menjelaskan regulasi internalnya.

Berdasarkan hasil rekapitulasi poin akhir pada papan skor, peringkat lima besar untuk kategori atlet putra secara berurutan ditempati oleh Aundra Altafiano Ardhana, Novan Isdwiyanto, Indira Jati, Ammar Daffa Surya Hendrawan, dan Endang Wahyudin. Sementara itu, untuk kategori atlet putri, posisi lima teratas berhasil dikunci oleh Adawiyah Amalia Yusna, Kinara Anindya Atha, Malika Elvina Huwaida, Halimah Nur Hidayah, serta Saholaw Prinzha Harfesa. Para pemenang ini akan segera memasuki pemusatan latihan intensif guna mematangkan taktik pembukaan (opening) dan permainan akhir (endgame) demi kejayaan kontingen Sleman. (Kusnadi/KIM Berbah)




Padukan Tradisi dan Ekonomi Kreatif, Warga Geplakan Sleman Gelar Kirab Budaya Festival Anyam Rasa

Sleman – Komitmen menjaga kelestarian warisan leluhur sekaligus mendongkrak sektor ekonomi kerakyatan terus digaungkan oleh masyarakat di kawasan barat Sleman. Melalui inisiatif swadaya, warga Dusun Geplakan sukses menyelenggarakan Kirab Budaya Festival Anyam Rasa yang berlangsung meriah di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Rangkaian pesta rakyat ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai lintas generasi dan sukses memikat perhatian ribuan penonton dari dalam maupun luar daerah.

Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan integrasi strategis antara pelestarian identitas kebudayaan Jawa dengan hilirisasi produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Penyelenggara menyadari bahwa seni tradisi tidak boleh sekadar menjadi tontonan masa lalu yang statis, melainkan harus dikonversi menjadi motor penggerak ekonomi yang menghidupkan dapur warga. Melalui pengemasan kirab yang estetik dan dipadukan dengan pasar digital rakyat, produk kerajinan tangan serta kuliner khas Banyuraden mendapatkan panggung promosi yang efektif untuk memperluas jaringan pasar hulu ke hilir.

Arak-arakan budaya yang menjadi magnet utama acara ini mengambil titik start dari kawasan Embung Serut Cokrowijayan. Rombongan kirab yang mengusung berbagai kreativitas seni dan potensi alam lokal kemudian bergerak tertib menempuh rute jalan desa menuju panggung utama di Dusun Geplakan. Seluruh peserta kirab tampil anggun mengenakan balutan busana adat Jawa tradisional. Guna menjamin kelancaran mobilitas massal ini, personel Bhabinkamtibmas, Babinsa Banyuraden, satuan Jagawarga, serta jajaran relawan bersinergi melakukan pengamanan ketat di sepanjang jalur perlintasan.

Dukuh Kanoman, Jumakir, menjelaskan bahwa pelaksanaan Festival Anyam Rasa ini menjadi momentum penting untuk melakukan transfer pengetahuan budaya kepada generasi z dan milenial agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi. Menurutnya, keterlibatan aktif anak-anak muda dalam kepanitiaan menjadi bukti otentik masih kuatnya roh gotong royong di Banyuraden.

“Lewat festival ini, generasi muda kami ajak untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat setempat. Keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok usia menunjukkan tingginya kepedulian terhadap keberlangsungan tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan sosial kami,” ujar Jumakir di sela-sela memantau jalannya kirab.

Lebih lanjut, Jumakir memaparkan bahwa festival ini sengaja menyediakan klaster stan khusus yang memfasilitasi puluhan pelaku UMKM untuk memamerkan produk olahan pangan kreatif dan kerajinan anyaman bambu. Langkah intervensi ekonomi ini dinilai ampuh dalam merangsang perputaran uang secara instan di tingkat padukuhan serta meningkatkan daya saing branding komoditas lokal.

“Keberadaan UMKM dalam festival menjadi bagian penting dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui promosi dan interaksi langsung dengan pengunjung, para pelaku usaha memperoleh kesempatan memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis,” sambung Jumakir menambahkan.

Aspek keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung juga berjalan sangat kondusif. Perwakilan aparat keamanan setempat, Suyanto selaku Bhabinkamtibmas Banyuraden bersama Babinsa Heri Prabowo, mengapresiasi tingginya kesadaran warga dalam menjaga ketertiban umum. Mereka mengingatkan bahwa stabilitas keamanan lingkungan adalah pilar mutlak yang harus dirawat bersama agar agenda sosial-ekonomi desa dapat bergulir secara konsisten.

“Situasi kamtibmas yang kondusif merupakan modal utama dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat. Kami sangat mengapresiasi kerukunan warga yang saling menjaga hingga acara ini sukses tanpa kendala,” tandas Suyanto.

Melalui kesuksesan penyelenggaraan Kirab Budaya Festival Anyam Rasa ini, Dusun Geplakan telah menancapkan standar baru dalam pengelolaan festival desa yang mandiri dan berdampak multidimensi. Ke depan, agenda ini diproyeksikan akan dikembangkan menjadi kalender wisata budaya tahunan resmi di Kabupaten Sleman. Langkah berkelanjutan ini diharapkan tidak hanya mampu membentengi eksistensi adat keraton di tingkat akar rumput, tetapi juga menjadi instrumen valid untuk menaikkan kelas UMKM demi kesejahteraan masyarakat yang merata. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pemkab Sleman Gembleng 86 Kader Digital Guna Pacu Penurunan Stunting

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperketat pengawasan dan intervensi pemenuhan gizi buruk pada balita melalui digitalisasi pelaporan administrasi di tingkat desa. Langkah taktis ini diwujudkan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Kabupaten Sleman dengan menggelar kegiatan Pembinaan Kader Pembangunan Manusia (KPM). Agenda pembinaan intensif yang diikuti oleh 86 personel KPM dari seluruh penjuru wilayah Sleman tersebut diselenggarakan di Ruang Pamiranti Hall Lantai IV, Mall Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Sleman, pada Senin (22/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti akselerasi program konvergensi penanganan stunting melalui pemanfaatan instrumen digital terpadu agar data yang dikirimkan dari pelosok dusun bersifat aktual dan bebas dari manipulasi. Pemkab Sleman menilai bahwa keakuratan validasi data di lapangan menjadi penentu utama presisinya penyaluran bantuan gizi makanan dari pemerintah pusat. Melalui penguatan kompetensi operasional teknologi ini, para kader dibekali kecakapan khusus untuk melakukan pelacakan mandiri terhadap kondisi kesehatan ibu hamil, pemantauan pertumbuhan bayi, hingga memitigasi potensi risiko stunting secara instan.

Pertemuan strategis ini menghadirkan kolaborasi narasumber ahli dari lintas instansi kedinasan daerah, di antaranya Sigit Praptono dan Agus Waseso selaku perwakilan teknis dari Dinas PMK Sleman, serta Yuni Hastuti yang bertindak sebagai pemateri makro dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman.

Dalam pemaparan materi pertama, perwakilan Bappeda Sleman, Yuni Hastuti, mengupas tuntas mengenai cetak biru Rencana Aksi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Sleman. Ia menekankan bahwa kerangka kerja daerah wajib mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 yang mengamanatkan penguatan lima pilar strategi utama dan penuntasan delapan aksi konvergensi penanganan stunting secara komprehensif.

“Sinergi lintas sektor adalah kunci utama dalam mendukung upaya penurunan stunting secara terintegrasi dan berkelanjutan. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, karena urusan stunting melibatkan sanitasi lingkungan, ketersediaan air bersih, hingga pola asuh keluarga di rumah,” ujar Yuni Hastuti menjelaskan peta jalan strategi nasional di hadapan para peserta.

Selanjutnya, giliran perwakilan Dinas PMK Sleman, Sigit Praptono, yang membedah urusan teknis mengenai Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Konvergensi Penurunan Stunting di Desa melalui aplikasi eHDW atau electronic Human Development Worker. Aplikasi berbasis gawai pintar ini diposisikan sebagai senjata utama para kader di lapangan untuk melakukan input data secara digital, cepat, dan transparan dari level rukun tetangga.

“Aplikasi eHDW ini merupakan instrumen vital untuk mendukung pendataan, pemantauan, dan pelaporan program di tingkat kalurahan. Tugas KPM di sini adalah memastikan seluruh sasaran penerima manfaat memperoleh paket layanan kesehatan secara lengkap, mendata siklus layanan, serta menyajikan dokumen realitas tersebut sebagai bahan baku utama perencanaan dalam forum rembuk stunting desa,” kata Sigit Praptono menegaskan fungsi krusial para kader jajarannya.

Ia menambahkan bahwa keandalan sistem pelaporan digital ini juga bertumpu pada peran aktif Admin Desa. Perangkat komputer desa tersebut memegang fungsi kontrol mutlak untuk memverifikasi kebenaran draf digital yang diinput oleh kader KPM sebelum diteruskan ke peladen pusat kabupaten. Kolaborasi ganda ini dirancang untuk meminimalkan terjadinya kesalahan input jaminan sosial kesehatan dan memastikan program pembangunan kewilayahan berjalan tepat sasaran.

Melalui penyelenggaraan pembinaan yang interaktif ini, Pemkab Sleman optimistis dapat mencetak para kader pembangunan manusia yang tidak hanya militan di lapangan, melainkan juga cakap digital dalam membaca indikator kesehatan warga. Penguasaan aplikasi eHDW yang merata di seluruh kalurahan diharapkan mampu memotong rantai birokrasi pendataan, sehingga angka stunting di Kabupaten Sleman dapat terus ditekan secara drastis demi mencetak generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Rawat Kerukunan dan Mata Air Purba, Warga Kalasan Sleman Gelar Tradisi Merti Dusun Lintas Agama

Sleman – Kelestarian budaya tradisi dan penguatan toleransi beragama berpadu secara harmonis di lereng timur Kabupaten Sleman. Melalui tradisi tahunan Merti Dusun, masyarakat Tamanan Pabrik, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, menggelar upacara adat unik berupa Kirab Budaya dan Doa Lintas Agama yang dipusatkan di kawasan situs Sendang Randu Alas, pada Minggu (21/6/2026). Agenda kebudayaan berbasis lingkungan ini diarahkan sebagai refleksi rasa syukur kolektif sekaligus benteng pertahanan kohesi sosial di tengah keberagaman keyakinan warga setempat.

Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan bagaimana sebuah ritual adat mampu bertransformasi menjadi ruang pemersatu umat sekaligus instrumen penyelamatan ekologi. Berbeda dengan merti dusun pada umumnya yang didominasi oleh satu unsur religi, warga Tamanan Pabrik yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda secara swadaya bergotong royong melarung sekat perbedaan demi merawat bumi pertiwi. Selain doa bersama, puncak ritual ini ditandai dengan aksi penanaman belasan pohon konservasi guna menjaga debit air di sepuluh titik mata air purba yang mengitari kawasan lembah perbatasan wilayah tersebut.

Lurah Tamanmartani, Gandang Harjanata, mengapresiasi penuh pola gerakan kebudayaan mandiri yang diinisiasi oleh warga Tamanan Pabrik ini. Langkah konkret ini dinilai menjadi dukungan riil bagi program prioritas Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memperkuat pilar ketahanan budaya nasional serta merawat ruang toleransi publik yang inklusif di tingkat desa.

“Masyarakat telah secara berswadaya dan bergotong royong dengan kesadaran murni mempertahankan adat tradisi Merti Dusun ini sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan. Kita diberi alam seisinya, maka kita juga diberi amanah untuk merawat dan menjaga kelestariannya demi kesejahteraan bersama,” ujar Gandang Harjanata yang juga mengaku terpukau oleh penampilan kejutan dari talenta cilik lokal yang membawakan tarian kolosal Wanoro Ciblon di sela-sela acara.

Arak-arakan kirab budaya dimulai dari Balai Padukuhan menuju kawasan Sendang Randu Alas sepanjang kurang lebih satu kilometer. Dukuh Tamanan Pabrik, Sugiyono, menguraikan bahwa seluruh elemen warga tanpa kecuali turut turun ke jalan dengan mengenakan pakaian adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta yang anggun. Mereka mengarak gunungan hasil bumi yang disusun secara kreatif oleh masing-masing rukun tetangga (RT) sebagai simbol kemakmuran agraris wilayah.

“Antusiasme masyarakat dalam melestarikan upacara adat ini sangat tinggi, termasuk merawat tradisi gotong royong dan sambatan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui budaya, kami memperoleh harmonisasi kehidupan masyarakat antara lahir dan batin, dan itulah tujuan utama yang ingin kami pertahankan bersama,” kata Sugiyono menjelaskan esensi kerukunan warganya.

Dampak ekologis dari tradisi ini juga mendapat perhatian khusus dari eksekutif daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, yang hadir langsung di lokasi, memimpin aksi penanaman pohon buah dan konservasi seperti gayam, beringin, sawo, dan apel di sekitar area lembah. Ia menegaskan bahwa kawasan lembah Sendang Bandung yang berada di antara Dusun Tamanan dan Tamanan Pabrik memegang peranan vital sebagai lumbung air yang wajib dikonservasi secara berkelanjutan agar fungsinya tidak mati tergerus zaman.

“Kawasan ini harus selalu dikonservasi agar keberadaan fungsi mata airnya lestari. Kita harus menciptakan keseimbangan hubungan antarmanusia, harmoni dengan alam, dan yang paling penting adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Sang Maha Pencipta,” tutur Abu Bakar sebelum melakukan penanaman pohon bersama Panewu Kalasan, Samino.

Potensi limpahan air yang bersih di kawasan Sendang Randu Alas ini kini mulai dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Maju Mapan Tamanmartani untuk disulap menjadi destinasi wisata minat khusus. Saat ini, pembangunan fisik telah berhasil merampungkan dua kolam pemandian air alami yang sudah bisa diakses oleh masyarakat umum secara gratis, meski fasilitas penunjang lainnya masih dalam tahap penyempurnaan sarana.

Secara historis, kawasan Lembah Sendang Randu Alas memiliki nilai arkeologis yang sangat tinggi karena menyimpan lebih dari sepuluh mata air purba, di mana enam di antaranya telah dirawat menjadi belik terstruktur. Penamaan sendang ini merujuk pada keberadaan pohon randu alas raksasa masa lalu yang menaungi mata air berdebit besar dengan dinding batu candi purba. Situs pertirtaan ini diduga kuat memiliki keterkaitan erat dengan kompleks candi Prambanan dan legenda Bandung Bondowoso, mengingat posisinya yang berada tepat di garis batas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)