Bentengi Anak dari Ketergantungan Gawai, KPOTI Sleman Gelar Festival Olahraga Tradisional Massal

Sleman – Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan generasi muda dari dampak buruk kecanduan gawai dan permainan digital. Upaya pelestarian warisan budaya takbenda ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Egrang, Gobak Sodor, dan Bakiak secara massal. Agenda kebudayaan tersebut dipusatkan di Lapangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada Sabtu (20/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti strategi revitalisasi permainan rakyat sebagai media pendidikan karakter dan motor penggerak keaktifan fisik anak di luar ruangan. KPOTI Sleman menilai bahwa dominasi gawai di era modern telah mengikis interaksi sosial langsung serta menurunkan kebugaran motorik anak-anak usia sekolah. Melalui kompetisi tradisional yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan, nilai-nilai luhur kepemimpinan serta ketangkasan fisik dicoba ditanamkan kembali sejak dini.

Animo peserta dalam festival ini tergolong sangat masif, dengan melibatkan sedikitnya 306 siswa yang menjadi perwakilan resmi dari 18 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Sleman. Kehadiran ratusan pelajar ini mengubah atmosfer Lapangan Pemda Sleman menjadi panggung kegembiraan kolektif yang sarat dengan nilai sportivitas.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, mengapresiasi penuh terobosan budaya yang diinisiasi oleh KPOTI ini. Menurutnya, pemerintah daerah berkomitmen mendukung ruang-ruang kreasi serupa agar anak-anak Sleman tidak kehilangan jati diri dan akar budayanya di tengah gempuran modernisasi.

“Pelestarian budaya harus ditanamkan sejak dini. Permainan tradisional bukan sekadar warisan leluhur, tetapi merupakan media pendidikan karakter yang relevan bagi anak-anak kita saat ini,” ujar Abu Bakar secara tegas saat memberikan pengarahan di lokasi acara.

Senada dengan hal itu, Ketua KPOTI Sleman yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Sleman, Syukron Arif Muttaqin, mengaku bangga melihat keceriaan dan ketangkasan para peserta saat bertanding. Ia optimistis bahwa eksistensi dolanan anak tidak akan punah selama semua elemen masyarakat bersedia memberikan panggung yang konsisten.

“Anak-anak ternyata masih semangat mengikuti permainan ini. Ini membuktikan budaya lokal tetap menarik ketika diberi ruang. Kita tetap menjadi generasi modern, tetapi tetap mengenal akar budayanya. Permainan rakyat mengajarkan kerja sama, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab,” urai Syukron Arif Muttaqin membedah esensi filosofis permainan tradisional.

Ketua Panitia Pelaksana, Beni Kusumah, menjabarkan bahwa pemilihan tiga jenis olahraga tradisional dalam festival tahun ini didasarkan pada kekuatan nilai filosofi sosial yang terkandung di dalamnya. Olahraga egrang difungsikan untuk melatih fokus dan keseimbangan diri, gobak sodor untuk mengasah strategi taktis dan kerja sama tim, sedangkan bakiak komunal untuk menguji kekompakan gerak langkah dalam satu ritme kelompok.

“Festival ini kami harapkan menjadi langkah awal untuk memantik kembali permainan tradisional di sekolah-sekolah agar diadopsi menjadi kegiatan ekstrakurikuler formal,” kata Beni Kusumah memungkasi jalannya kompetisi. (Giek/KIM Moyudan)




Lestarikan Sumber Air, Warga Nglahar Sleman Kemas Tradisi Kuras Sendang Jadi Festival Budaya Lintas Provinsi

Sleman – Masyarakat RW 32 Padukuhan Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, sukses merevitalisasi upacara adat tradisional menjadi sebuah festival rakyat yang meriah. Warga setempat memadukan ritual sakral Kuras Sendang Soka, Sendang Tretes, dan Sendang Siputat dengan berbagai kegiatan modern berbasis kesehatan, penyaluran bakat anak, serta pemberdayaan ekonomi warga. Rangkaian acara kebudayaan ini resmi dibuka dengan geliat lomba seni anak-anak dan pasar rakyat pada Minggu (21/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti strategi cerdas komunitas adat dalam merawat kelestarian mata air (sendang) purba di tengah ancaman krisis ekologi global. Penyelenggara menyadari bahwa esensi ritual pembersihan sendang tidak boleh berhenti pada dimensi mistis semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga kebersihan lingkungan hulu. Melalui penambahan konsep festival pop—seperti senam massal, perlombaan edukatif, dan bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)—generasi muda dan anak-anak dapat ditarik minatnya untuk ikut peduli pada warisan air leluhur mereka.

Ketua Panitia, Eka Endarta, menjelaskan bahwa pengemasan acara tahun ini sengaja dibuat berbeda demi membangun ekosistem pariwisata berbasis masyarakat. Langkah kolaboratif tersebut terbukti ampuh mendongkrak omzet pedagang lokal serta meluaskan gaung tradisi Nglahar hingga ke luar daerah.

“Dalam upacara adat kuras sendang kali ini kami padukan dengan konsep sehat, bakat, dan olahan rakyat. Kami ingin tradisi luhur ini tidak hanya menjadi milik generasi tua, tetapi juga dicintai oleh anak-anak melalui ruang kreasi yang menyenangkan,” ujar Eka Endarta saat meninjau jalannya agenda lomba di lokasi.

Daya tarik acara ini terbukti mampu menyedot animo publik secara masif. Peserta lomba mewarnai misalnya, tidak hanya didominasi oleh anak-anak lokal Sleman, melainkan diikuti oleh perwakilan dari seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Bantul dan Kulon Progo, bahkan mampu menjaring peserta dari luar provinsi seperti Kabupaten Boyolali dan Magelang, Jawa Tengah.

Koordinator Lomba, Tamto Hadmoko, memerinci bahwa total peserta yang turun berkompetisi mencapai 80 anak. Komposisi tersebut terbagi ke dalam empat klaster usia yang ketat, yakni kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 18 peserta, Taman Kanak-Kanak (TK) A sebanyak 22 anak, TK B sebanyak 15 anak, dan jenjang Sekolah Dasar (SD) sebanyak 33 anak.

Eka Endarta menguraikan bahwa setelah kemeriahan lomba anak usai, panitia akan langsung mematangkan persiapan menuju puncak ritual inti pembersihan air yang dijadwalkan pada Jumat (27/6/2026) mendatang. Prosesi ini bertumpu pada filosofi penghormatan terhadap alam yang menghidupi pertanian desa.

“Dalam prosesi kuras sendang nanti, kami mengambil sampel air suci dari tiga titik mata air, yaitu Sendang Soka, Sendang Siputat, dan Sendang Tretes. Air tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah kendi khusus untuk disemayamkan atau disucikan di tempat khusus selama satu malam,” terangnya menjabarkan tata cara ritual.

Siklus upacara adat akan ditutup pada Sabtu malam (28/6/2026) melalui prosesi agung kirab budaya. Air suci di dalam kendi tersebut akan diarak oleh ratusan warga berbaju adat bersama gunungan ubarampe hasil bumi menuju panggung utama dusun, yang kemudian diakhiri dengan prosesi doa lintas iman, kenduri massal, serta pagelaran pentas seni tradisi lokal.

Melalui inovasi kemitraan budaya ini, Padukuhan Nglahar berhasil membuktikan bahwa pelestarian adat dan penguatan ekonomi kerakyatan dapat berjalan beriringan. Langkah konkret ini diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa wisata lain di Kabupaten Sleman dalam mengelola situs warisan sejarah dan sumber daya air sebagai aset masa depan yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan. (Giek / KIM Moyudan)




Gerakan Suling Naga Jaga Akidah dan Makmurkan Masjid di Ngaglik Sleman

Sleman – Gerakan Subuh Keliling Ngaglik Jaga Aqidah atau yang populer dengan sebutan Suling Naga terus bergulir konsisten menjadi motor penggerak religiusitas masyarakat di Kabupaten Sleman. Langkah syiar Islam ini kembali diwujudkan dalam aksi berjamaah yang dipusatkan di Masjid Sholihin, Gandok Tambakan, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Agenda subuh bersama tersebut diarahkan untuk membangkitkan kesadaran rohani umat sekaligus mempererat tali silaturahmi antarsesama warga di tingkat akar rumput.

Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan taktik pemanfaatan ibadah ritual keagamaan sebagai basis perumusan forum koordinasi sosial dan pemetaan kesejahteraan warga. Penyelenggara menilai bahwa menggerakkan warga untuk memakmurkan masjid di waktu fajar memiliki dimensi tantangan spiritual yang sangat tinggi. Ketika konsistensi subuh berjamaah ini berhasil dirawat, maka ego sektoral antarorganisasi keagamaan di wilayah Ngaglik dapat diredam, sehingga masjid mampu kembali pada fungsi hakikinya sebagai pusat pembinaan umat dan penggerak ekonomi syariah melalui zakat, infak, dan sedekah.

Sosok inisiator gerakan Suling Naga yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman sekaligus mantan Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, menjelaskan bahwa gerakan moral ini sengaja membidik waktu subuh karena merupakan rukun ibadah harian yang paling menantang kedisiplinan manusia. Dari fondasi kedisiplinan spiritual inilah karakter masyarakat yang tangguh dan peduli lingkungan bakal terbentuk.

“Yang ingin dibangkitkan di Ngaglik adalah semangat memulai dari yang paling sulit, yaitu shalat Subuh berjamaah. Dari sini diharapkan lahir dinamika kebersamaan dan forum koordinasi masyarakat Ngaglik. Kegiatan subuh keliling juga menjadi sarana untuk memetakan kondisi masjid dan jamaah yang masih memerlukan perhatian dan pendampingan. Dengan demikian, upaya pembinaan umat dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran,” ujar Wawan Widiantoro menjabarkan peta jalan gerakannya.

Guna mempertebal kualitas keimanan para jemaah fajar, agenda ini juga diisi dengan penyampaian tausiyah oleh pengasuh Pondok Pesantren Inayatullah, Chamdani Yusuf Khumaidi. Dalam uraian teologisnya, ia mengingatkan para pencari takwa mengenai pentingnya menyeimbangkan orientasi hidup agar tidak terjebak dalam pemburuan materiil duniawi yang bersifat semu dan sementara.

“Manusia sering kali mengejar kemuliaan dunia yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Sebaliknya, kemuliaan akhirat merupakan tujuan yang seharusnya menjadi orientasi utama kehidupan seorang muslim. Kalimat tauhid merupakan pintu masuk surga, namun seorang muslim tidak cukup hanya mengucapkannya, melainkan harus membuktikannya melalui amal saleh dan ketaatan kepada Allah,” tutur Chamdani Yusuf Khumaidi di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Ia juga menyitir nasihat sufi termasyhur Ibrahim bin Adham mengenai karakteristik manusia utama yang meletakkan ibadah sebagai prioritas mutlak, selalu menebar kemaslahatan bagi lingkungan, mengikis penyakit hati berupa iri dengki, serta memiliki kesadaran eksistensial bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Menurutnya, indikator kecerdasan intelektual yang hakiki dalam pandangan Islam diukur dari seberapa tangguh seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menyiapkan bekal pasca-kematian.

Melalui keberlanjutan estafet program Suling Naga yang bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya ini, para tokoh agama dan birokrat di Kapanewon Ngaglik optimistis dapat merawat benteng akidah masyarakat di era modern. Sinergi kolektif ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem sosial yang ramah, humanis, religius, serta responsif terhadap penderitaan warga miskin di sekitar lingkungan masjid. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Dongkrak Ekonomi Kreatif, Warga Kampung Bambu Sleman Sukses Nyulap Rebung Jadi Kuliner Bacang

Sleman – Dusun Jetis yang terletak di Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, terus mempertegas posisinya sebagai pusat inovasi berbasis kearifan lokal. Setelah sukses dikenal luas sebagai “Kampung Bambu” berkat kelestarian kebun koleksi vegetasi bambu nasional dan mancanegara serta industri kerajinan anyamannya, kini kreativitas warga setempat mulai merambah ke sektor industri pangan. Fenomena ini ditandai dengan lahirnya inovasi kuliner unik berupa bacang rebung, sebuah penganan tradisional berbahan dasar beras ketan yang memanfaatkan tunas bambu muda sebagai substitusi bahan isian utama, yang diperkenalkan secara luas pada Minggu (21/6/2026).

Fokus dari peristiwa ini menyoroti strategi diversifikasi produk berbasis potensi alam lokal guna meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian daerah. Selama ini, melimpahnya produksi rebung di Dusun Jetis hanya diolah menjadi sayur lodeh atau isi lumpia yang bernilai jual rendah. Melalui sentuhan inovasi kuliner, bahan pangan yang kaya serat ini bertransformasi menjadi hidangan premium berkarakter unik, yang tidak hanya memperkuat identitas pariwisata Dusun Jetis, tetapi juga berpeluang membuka lapangan kerja baru bagi ibu-ibu rumah tangga di wilayah Tempel.

Sosok kreatif di balik terciptanya formula bacang inovatif ini adalah Siti Fikki, seorang ibu rumah tangga yang juga menekuni usaha katering rumahan. Di tangan dinginnya, rebung yang kerap dianggap sebagai bahan makanan kelas dua berhasil disulap menjadi isian bacang yang memiliki kelezatan tekstur mirip dengan potongan daging cincang premium.

“Proses mengolah rebung menjadi isian bacang memang cukup rumit. Rebung yang digunakan terlebih dahulu diiris tipis dan dijemur hingga kering di bawah sinar matahari. Setelah itu, rebung kering direndam kembali hingga mengembang dan lunak. Tahap berikutnya adalah mengirisnya lebih halus lalu memasaknya bersama suwiran ayam dan bumbu pilihan hingga meresap,” ujar Siti Fikki saat membagikan rahasia dapurnya di kediamannya.

Ia menambahkan bahwa selain ketelatenan dalam mengeksekusi struktur rebung, pemilihan bahan baku luar juga memegang peranan vital dalam menentukan kualitas akhir produk. Siti Fikki sangat selektif dalam memilih varietas beras ketan yang akan digunakan, di mana hanya beras ketan kualitas super bertekstur pulen yang ia pakai agar mampu mengunci rasa gurih adonan bumbu secara maksimal saat melalui proses pengukusan panjang menggunakan bungkus daun bambu.

Sensasi unik dari bacang ini langsung terasa saat gigitan pertama, di mana irisan rebung kering yang telah dibumbui menyatu secara presisi dengan serat suwiran daging ayam. Teksturnya yang renyah sekaligus empuk memberikan impresi rasa yang kaya dan sulit dibedakan dari komposisi daging utuh. Keunggulan ekonomis dari produk ini juga menjadi daya tarik tersendiri, karena harga jualnya mampu ditekan hingga hanya sekitar 60 persen dari harga pasar bacang daging tradisional pada umumnya.

Mengingat daya beli pasar jajanan harian di tingkat pedesaan Tempel yang masih terbatas untuk kategori kue basah premium, Siti Fikki saat ini menerapkan sistem produksi berdasarkan pesanan (pre-order). Pangsa pasar potensial yang dibidiknya sejauh ini berfokus pada pemenuhan konsumsi untuk acara hajatan keluarga, rapat kedinasan, pertemuan korporasi, hingga paket hantaran khusus (hampers) kebudayaan.

Terobosan kuliner bacang rebung dari Dusun Jetis ini menjadi bukti otentik bahwa hilirisasi potensi desa dapat digerakkan dari skala dapur keluarga. Jika lini usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini terus mendapatkan pendampingan manajemen kemasan dan perluasan jaringan pemasaran digital dari dinas terkait, produk ini diproyeksikan mampu naik kelas menjadi oleh-oleh kuliner ikonik baru yang memperkaya khazanah gastro-diplomasi dan pangan lokal Kabupaten Sleman. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Jaga Harmoni Akar Rumput, Forum Rois Condongcatur Sleman Pertegas Peran Pelayanan Keagamaan 24 Jam

Sleman – Peran tokoh agama di tingkat terkecil birokrasi terus diperkuat guna memastikan pelayanan spiritual dan sosial kemasyarakatan berjalan optimal. Guna mewujudkan misi tersebut, Forum Rois Kalurahan Condongcatur kembali menggelar pertemuan rutin dan kajian keagamaan yang dipusatkan di Masjid Ar Rahman, Jalan Wahid Hasyim, Widoro, Padukuhan Ngropoh, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (20/6/2026).

Fokus peristiwa ini menekankan pada urgensi revitalisasi kompetensi para rois atau kaum yang bertindak sebagai rujukan moral sekaligus pelayan adat-keagamaan di tengah masyarakat. Di era modern, tantangan sosial yang dihadapi warga semakin kompleks, sehingga para rois dituntut untuk terus memperbarui khazanah keilmuan fikih praktisnya. Langkah penyeragaman pemahaman ini penting agar bimbingan ibadah yang diberikan kepada umat tetap seraras, menyejukkan, dan mampu meredam potensi gesekan sosial.

Agenda rutin yang berlangsung dari pukul hingga WIB ini dihadiri oleh puluhan perwakilan rois dari berbagai padukuhan se-Condongcatur serta pengurus takmir masjid setempat. Pertemuan kali ini diisi dengan pembedahan kitab Safinatun Najah, sebuah literatur fikih dasar klasik, yang dipandu langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Sultan Agung Babadan Baru, Zaenal Fatta.

Mewakili pimpinan organisasi, Nur Mukhlis menjelaskan bahwa forum berkala ini merupakan instrumen wajib untuk mengupgrade kapasitas literasi keagamaan para anggotanya. Secara kultural, pertemuan luhur ini biasanya digelar secara bergilir dari rumah ke rumah setiap 35 hari sekali, tepatnya pada hari Sabtu Legi dalam kalender penanggalan Jawa.

“Pertemuan rutin ini menjadi sarana memperdalam ilmu agama agar dapat kami sampaikan kembali kepada jamaah dan masyarakat di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, rois dapat terus memberikan bimbingan yang benar dan menyejukkan bagi umat,” ujar Nur Mukhlis saat memberikan sambutan organisasi.

Urgensi dedikasi profesi ini juga diamini oleh salah satu peserta, Mustholih, yang menjabat sebagai Rois RW 36 Soropadan. Ia mengungkapkan bahwa seorang rois memikul tanggung jawab moral yang sangat berat karena dituntut siaga penuh oleh warga tanpa adanya batasan jam kerja birokrasi formal.

“Tugas rois adalah melayani masyarakat selama 24 jam. Ketika ada warga meninggal dunia, memimpin doa, mendampingi prosesi keagamaan, maupun kebutuhan spiritual lainnya, rois harus siap hadir. Amanah ini merupakan tugas mulia yang membutuhkan keikhlasan dan dedikasi,” kata Mustholih menerangkan ritme pengabdiannya.

Guna menunjang performa komunikasi di lapangan, Forum Rois Condongcatur meluncurkan terobosan baru berupa program pelatihan eksternal pembelajaran Bahasa Jawa ragam krama inggil. Penguasaan bahasa ibu yang halus ini dinilai sangat vital sebagai media dakwah kultural agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam upacara adat, pernikahan, maupun takziah dapat tersampaikan secara santun, menyentuh, dan selaras dengan kearifan lokal Yogyakarta.

Sinergi berkelanjutan ini membuktikan bahwa eksistensi rois bukan sekadar pelengkap pranata sosial masa lalu. Melalui komitmen peningkatan kompetensi yang humanis dan adaptif, para rois di wilayah Condongcatur siap bertindak sebagai jangkar perdamaian yang menjaga kohesi sosial, merawat toleransi, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tingkat akar rumput secara profesional. (Wasana/KIM Depok)