Kisah Pemuda Tempel Sleman, Sukses Buka Praktik Terapi Cedera Olahraga Berbekal Ilmu Magister UNY

Sleman – Di tengah minimnya minat generasi muda untuk menekuni profesi terapis secara profesional, seorang pemuda asal Sleman justru berhasil membuktikan bahwa keahlian ini memiliki masa depan cerah jika ditopang dengan latar belakang akademis yang kuat. Muhammad Tri Fauzi, pemuda berusia 30 tahun asal Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, sukses mengembangkan praktik mandiri Terapi Cedera Olahraga di kampung halamannya. Langkah pengabdian ini ia rintis sejak tahun 2024 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan tinggi di bidang keolahragaan.
Fokus dari peristiwa ini menyoroti potret inspiratif seorang pemuda daerah yang memilih pulang kampung untuk menjawab tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan rehabilitasi fisik yang ilmiah dan bersertifikat. Mengombinasikan ilmu sport science modern dengan pendekatan terapi konvensional, ia berhasil mematahkan stigma lama tentang profesi tukang pijat. Langkah ini sekaligus memperluas akses layanan kesehatan komplementer yang aman bagi para atlet lokal maupun pekerja umum yang mengalami gangguan otot dan sendi akibat aktivitas harian.
Muhammad Tri Fauzi merupakan lulusan S-1 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2017 dengan konsentrasi terapi olahraga. Selepas lulus, ia sempat mendirikan Health Sport Center (HSC) untuk melayani kalangan mahasiswa. Tak puas sampai di situ, ia melanjutkan studi hingga meraih gelar Magister Olahraga dari kampus yang sama demi mematangkan modal keilmuannya sebelum akhirnya memutuskan membuka klinik mandiri di rumahnya.
Kini dalam waktu relatif singkat, kliniknya kebanjiran puluhan pasien setiap bulan. Kasus yang paling dominan ditangani di ruang praktiknya meliputi cedera pergelangan kaki akibat terkilir saat berolahraga, nyeri pinggang akut, cedera pergelangan tangan, nyeri bahu, hingga kelelahan otot kronis akibat salah posisi anatomi saat bekerja.
“Kebanyakan pasien datang karena terkilir pada pergelangan kaki, nyeri pinggang, cedera pergelangan tangan, atau bahu. Keluhan otot dan sendi seperti ini memang sering terjadi akibat aktivitas kerja sehari-hari yang mengabaikan posisi ergonomis tubuh,” ujar Muhammad Tri Fauzi saat ditemui di ruang praktiknya pada Sabtu (20/6/2026).
Saat diwawancarai, ia sedang memberikan tindakan medis berupa terapi panas menggunakan lampu inframerah kepada seorang pasien yang mengeluhkan nyeri pinggang pasca-mengangkat beban berat. Penggunaan teknologi ini menjadi salah satu pembeda layanannya dengan pengobatan alternatif jalanan karena didasarkan pada perhitungan medis yang terukur.
“Sinar inframerah ini membantu menghangatkan jaringan tubuh sehingga otot yang tegang menjadi lebih rileks dan terapi dapat berjalan lebih efektif. Selain terapi cedera olahraga dan pijat anatomi, kami juga menyediakan layanan terapi bekam bagi warga yang membutuhkan metode pengobatan komplementer,” kata Muhammad Tri Fauzi menjelaskan fungsi alatnya.
Berkat reputasi akademis dan sertifikat profesi resmi yang dikantonginya, popularitas klinik pemuda Tempel ini terus meroket tajam. Berdasarkan catatan buku tamu miliknya, persebaran pasien yang datang berobat kini tidak hanya didominasi oleh warga Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah saja, melainkan sudah meluas hingga menjangkau pasien dari Jawa Barat, Kalimantan Barat, bahkan beberapa kali sempat menangani warga negara asing.
Bagi pemuda yang aktif dalam berbagai tim kesehatan olahraga ini, orientasi utamanya mendirikan klinik di desa bukan sekadar mengejar profit atau popularitas materiil semata. Ia menegaskan bahwa kepuasan batin tertinggi sebagai seorang akademisi adalah ketika formula ilmu yang didapatkan di bangku kuliah dapat langsung diaplikasikan dan dirasakan manfaatnya secara instan oleh tetangga sekitar dan masyarakat luas agar mereka bisa kembali hidup sehat, aktif, dan produktif. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)



