Kalurahan Caturtunggal Gelar Pelatihan Pengelolaan Limbah untuk Bank Sampah

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal melalui Program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan Kalurahan Caturtunggal Tahun 2026 menyelenggarakan pelatihan pengelolaan sampah/limbah, pada Rabu (17/6/2026) di Balai Padukuhan Karanggayam, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Bank Sampah dari masing-masing padukuhan se-Kalurahan Caturtunggal.

Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola bank sampah dalam mengelola limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai ekonomi. Selain sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong berkembangnya usaha kreatif berbasis pengelolaan limbah di tingkat masyarakat.

Acara dibuka oleh Ulu-Ulu Kalurahan Caturtunggal, Andi Suwarno. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa persoalan sampah dan limbah rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan peran aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk Bank Sampah yang selama ini menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di tingkat padukuhan.

Menurutnya, pengelolaan limbah tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat apabila dikelola secara tepat.

“Kami berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan dan keterampilan para pengelola Bank Sampah sehingga mampu mengembangkan inovasi pengelolaan limbah di wilayahnya masing-masing. Ilmu yang diperoleh hari ini diharapkan dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” ujar Andi.

Hadir sebagai narasumber, Bernadetha Pudyas Minarsih dari Sanggar Rajut dan Kerajinan JPSM Sehati Sleman yang menyampaikan materi mengenai pengelolaan minyak jelantah menjadi produk bernilai tambah. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa minyak jelantah yang sering dianggap sebagai limbah masih memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan apabila melalui proses pengolahan yang benar.

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan karakteristik minyak jelantah, dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan, teknik penjernihan minyak jelantah, hingga proses pengolahannya menjadi lilin aromaterapi dan sabun.

Peserta juga memperoleh kesempatan mengikuti praktik langsung sehingga dapat memahami setiap tahapan produksi mulai dari persiapan bahan hingga menghasilkan produk siap pakai.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait teknik pengolahan, kualitas produk, hingga peluang pemasaran hasil olahan minyak jelantah sebagai salah satu alternatif usaha yang dapat dikembangkan oleh Bank Sampah di masing-masing padukuhan.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berharap seluruh Bank Sampah di wilayah Caturtunggal dapat menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat serta pengembangan inovasi produk berbasis limbah yang memiliki nilai ekonomi. (Oktaviana /KIM DEPOK)




FORKOM UMKM Agung Ngrembaka Margoagung Resmi Dikukuhkan, Siap Perkuat Ekonomi Lokal

 Sleman – Lurah Margoagung, Djarwo Suharto mengukuhkan Pengurus FORKOM UMKM Agung Ngrembaka periode 2026 -2029, di Aula Kalurahan Margoagung, Seyegan, pada Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Panewu Seyegan, Ketua FORKOM UMKM Kapanewon Seyegan, Ulu-ulu Margoagung dan Ketua FORKOM UMKM Kalurahan Margodadi.

Lurah Margoagung, Djarwo Suharto menyampaikan bahwa pengukuhan pengurus menandai pengakuan resmi pemerintah kalurahan terhadap keberadaan FORKOM UMKM “Agung Ngrembaka”.  Pemerintah Kalurahan Margoagung pun berkomitmen mendukung perkembangan forum tersebut sesuai anggaran yang ada.

“Banyaknya UMKM Margoagung, baik dalam bidang kuliner berupa industri tahu, makanan tradisional, industri kerajinan bambu serta lainnya bisa sinergi dan kolaborasi saling menguatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Panewu Seyegan, Agung Endarto mengatakan bahwa UMKM merupakan soko guru kekuatan ekonomi bangsa. Di masa krisis ekonomi dan masa covid, UMKM telah membuktikan kekuatannya dengan mampu bertahan dan berkembang.

“Pengukuhan pengurus FORKOM UMKM ini merupakan langkah penting dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha maupun swasta dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

“Bisa menjadi fasilitator untuk mendapatkan akses program dari pemerintah Kabupaten Sleman dan pusat. Bisa juga mengusulkan program-program pelatihan yang dibutuhkan masyarakat,” sambung Agung.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan SK Lurah Margoagung Nomor 02.1/. MA/2026 tentang susunan pengurus Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah “Agung Ngrembaka Ngrembaka” Kalurahan Margoagung oleh Ulu-ulu Margoagung, Yoga Arif Purnama. Dilanjutkan penyerahan SK oleh Lurah Margoagung disaksikan Panewu Seyegan.

Dalam kesempatan itu, Ketua FORKOM UMKM Agung Ngrembaka terlantik, Sulistyono menyampaikan terima atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk kembali memimpin forum tersebut.

“Kekompakan seluruh elemen adalah kunci keberhasilan. Untuk itu kami selalu terbuka menerima dorongan, usulan, kritik dan solusi untuk kebaikan bersama,” tuturnya.

Ia menyampaikan sebagian program yang akan dilakukan tiga tahun kedepan, di antaranya melanjutkan proses pendataan dan inventarisasi secara detail dan menyeluruh seluruh UMKM se-Kalurahan Margoagung, pelatihan wirausaha muda, penciptaan souvernir dan oleh-oleh khas Margoagung, digitalisasi UMKM, pelatihan-pelatihan usaha, festival tahu, pengurusan merk kolektif tahu, NIB, halal, dan lain-lain. (Sulistyono KIM Seyegan)




Usung Tema “More Than a Race”, Mandiri Jogja Marathon 2026 Siap Diramaikan 10.200 Pelari dari 17 Negara

Sleman – Bank Mandiri kembali menggelar Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 pada Minggu, 21 Juni 2026, di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Mengusung tema “More Than a Race”, ajang sport tourism unggulan Bank Mandiri ini memadukan kompetisi lari berstandar internasional dengan pengalaman wisata, perayaan budaya, dampak sosial, dan perjalanan menyusuri Yogyakarta dalam satu rangkaian aktivitas yang terintegrasi.

MJM 2026 diikuti pelari dari 17 negara, menjadikannya gelaran dengan peserta terbesar sepanjang penyelenggaraan sejak 2017. Lomba menghadirkan empat kategori, yakni Marathon (42,195 kilometer), Half Marathon (21,097 kilometer), 10K, dan 5K Fun Run, dengan lintasan yang telah tersertifikasi AIMS. Setiap peserta memperoleh racepack berisi nomor BIB, jersey, hingga medali finisher, sementara kategori Half Marathon dan Marathon mendapat tambahan finisher tee.

Tema “More Than a Race” dijabarkan ke dalam empat ekspresi, yakni pengalaman lari ikonik (Experience), perayaan budaya (Celebration), perjalanan wisata ke Yogyakarta (Trip to Jogja), serta dampak sosial dan ekonomi (Impact). Keempatnya dirangkai untuk membangun kesadaran, antusiasme, hingga partisipasi publik selama pekan penyelenggaraan.

Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista, menegaskan MJM 2026 menjadi panggung penguatan ekosistem ekonomi kerakyatan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian daerah. Sebagai mitra strategis pemerintah, bank berlogo pita emas ini memposisikan MJM sebagai model sport tourism nasional yang membawa nilai sosial, budaya, dan ekonomi sekaligus.

“MJM adalah wujud sinergi yang terintegrasi antara Bank Mandiri, komunitas, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah. Kami ingin setiap langkah pelari berdampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga MJM benar-benar hadir sebagai More Than a Race,” ujar Adhika dalam Konferensi Pers MJM 2026 di Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).

Kepala Dinas Pariwisata D.I Yogyakarta, Imam Pratanadi, menilai MJM mengukuhkan posisi Yogyakarta sebagai destinasi sport tourism unggulan di Asia Tenggara. Menurutnya, ajang ini mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, memperpanjang masa tinggal, dan menggerakkan sirkulasi ekonomi daerah.

“MJM membuktikan olahraga, budaya, dan pariwisata dapat bersinergi menggerakkan ekonomi daerah. Yogyakarta diuntungkan dari lonjakan okupansi hotel, kuliner, hingga transportasi setiap kali ajang ini digelar,” kata Imam.

Berdasarkan riset Mandiri Institute, penyelenggaraan MJM terbukti konsisten mendorong daya beli masyarakat selama tiga tahun berturut-turut. Pada gelaran MJM 2025 misalnya, pertumbuhan belanja di Provinsi D.I. Yogyakarta selama minggu pelaksanaan tercatat sebesar 11,6 persen secara mingguan, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan mingguan normal sebesar 0,8 persen. Secara bulanan, Yogyakarta membukukan pertumbuhan belanja 7 persen di bulan penyelenggaraan MJM, tertinggi di antara seluruh provinsi yang dipantau dan tiga kali lipat rata-rata bulan biasa.

Peningkatan tersebut mengalir langsung ke sektor pariwisata dan turunannya. Pada hasil riset di MJM tahun 2025, sektor transportasi mencatat pertumbuhan 21,9 persen, restoran dan kuliner tumbuh 10,1 persen, perhotelan meningkat 6,4 persen, dan belanja perjalanan naik 5,6 persen di pekan perayaan tahun lalu. Realisasi ini menegaskan MJM sebagai penggerak ekonomi pariwisata D.I Yogyakarta secara konsisten.

Rekor keikutsertaan pelari MJM 2026 pun menjadi sinyal kuat bahwa dampak ekonomi yang tercipta tahun ini akan lebih besar, tidak hanya bagi sektor pariwisata dan perhotelan, melainkan hingga ke lapisan ekonomi kerakyatan seperti pedagang lokal, pelaku UMKM, penyedia jasa transportasi, dan masyarakat di sekitar jalur lomba yang turut merasakan langsung manfaat perhelatan ini.

Pada kesempatan yang sama, Race Director MJM 2026 dari iSport, Pandu Bagus Buntaran, menjelaskan lintasan dirancang melintasi lanskap budaya khas Yogyakarta, termasuk Candi Plaosan, Monumen Taruna, dan sejumlah desa tradisional. Desain medali finisher tahun ini mengangkat Panggung Krapyak, salah satu penanda Sumbu Filosofis Yogyakarta yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2023.

“Setiap kilometer di MJM 2026 adalah perjalanan menyusuri Sumbu Filosofis, garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih. Pelari menempuh jarak sekaligus menapaki narasi peradaban Yogyakarta,” ujar Pandu.

Sejalan dengan komitmen untuk menghadirkan pengalaman berlari yang aman dan nyaman, Bank Mandiri juga bekerja sama dengan PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) dalam menyediakan perlindungan asuransi kecelakaan diri bagi seluruh peserta MJM 2026. Melalui kolaborasi tersebut, sekitar peserta memperoleh manfaat perlindungan dengan total nilai pertanggungan mencapai Rp100 miliar, termasuk manfaat santunan harian apabila terjadi kecelakaan selama perlombaan berlangsung.

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Bank Mandiri dalam memastikan setiap peserta dapat mengikuti MJM 2026 dengan rasa aman, sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan ajang sport tourism berstandar internasional yang mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan peserta.

Lebih lanjut, Adhika menyampaikan, selaras dengan semangat “More Than a Race”, Bank Mandiri turut menghadirkan berbagai program spesial untuk melengkapi pengalaman pelari dan masyarakat selama berada di Yogyakarta.

Nasabah maupun calon nasabah Bank Mandiri dapat menikmati potongan harga hingga 50 persen serta tambahan 30 Livin’poin selama periode 1-30 Juni 2026.

Berbagai penawaran tersebut dapat dimanfaatkan di lebih dari merchant yang tersebar di kawasan Yogyakarta, termasuk yang berada di titik transportasi seperti bandara dan stasiun, serta sejumlah destinasi dan pusat kuliner ikonik.

Kehadiran program ini diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem sport tourism yang tumbuh bersama pelaku usaha dan masyarakat di Yogyakarta. Informasi lengkap mengenai program dan promo MJM 2026 dapat diakses melalui

Corporate Communications Visa Indonesia Astri Abyanti menambahkan, sebagai mitra transaksi, MJM 2026, Visa turut menghadirkan berbagai program dan penawaran spesial bagi peserta maupun pengunjung, mulai dari akses fast track untuk Race Pack Collection bagi pemegang kartu debit dan kredit Mandiri Visa, hingga pengalaman eksklusif di Visa Lounge yang menawarkan berbagai aktivitas seperti wellness dan recovery pasca-lari, refreshments, serta photo booth yang dapat dinikmati cukup dengan melakukan tap menggunakan kartu Mandiri Visa. Inisiatif ini turut mendukung pengembangan sport tourism dengan mendorong keterlibatan komunitas lokal serta memperkaya pengalaman pelari dan pengunjung selama berada di Yogyakarta.

“Ajang seperti Mandiri Jogja Marathon menunjukkan bagaimana sport tourism tidak hanya menarik kunjungan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di tingkat lokal, mulai dari UMKM hingga sektor pariwisata,” ujar Astri.

“Di sini, peran Visa adalah memastikan setiap interaksi tersebut dapat berlangsung secara seamless, aman, dan terhubung, sekaligus memperkuat ekosistem pembayaran yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini sejalan dengan fokus kami pada passion pillar olahraga dalam menghadirkan pengalaman yang relevan dan berdampak,” tambahnya.

Keberlanjutan, Pemberdayaan, dan Rangkaian Program Menuju Race Day MJM 2026 dirancang melampaui pengalaman berlari dan perayaan budaya, dengan mengedepankan keberlanjutan dan pemberdayaan yang menjangkau seluruh siklus penyelenggaraan, dari pre-event hingga post-race.

Di sisi lingkungan, aksi keberlanjutan dimulai sejak registrasi melalui program One Ticket One Climate Action yaitu setiap pendaftaran menyumbangkan untuk pembelian Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) di Livin’ Planet. Peserta juga dapat menghitung dan mengimbangi jejak karbon perjalanan maupun aktivitas larinya melalui fitur Livin’ Planet yang terintegrasi dengan layanan offsetting berbasis SPE-GRK.

Jelang race day, komitmen keberlanjutan diwujudkan melalui penyediaan race pack berbahan tekstil daur ulang sebagai bagian dari program Mandiri Looping for Life. Inisiatif ini berhasil menyerap lebih dari 1,25 ton pakaian tak terpakai untuk dimanfaatkan kembali menjadi material baru, sehingga berkontribusi terhadap penghematan lebih dari 13,7 juta liter air dan pengurangan emisi karbon sebesar 68 ton CO₂e. Adapun produksi race pack tersebut melibatkan belasan penenun dan 100 lebih penjahit lokal, sehingga turut mendorong praktik konsumsi tekstil yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis sirkular.

Tidak berhenti sampai di situ, aksi keberlanjutan turut diimplementasikan melalui pengelolaan kawasan berbasis zero waste to landfill, kampanye daur ulang pakaian, serta pengimbangan emisi karbon pascalomba.

Di sisi sosial, Bank Mandiri menjalankan Program Mandiri Sahabat Desa yang menjangkau 28 desa di sekitar Prambanan, mencakup perbaikan akses jalan desa, pembangunan batas desa, gotong royong kebersihan, serta penyaluran paket sembako kepada masyarakat pra-sejahtera dan pekerja rentan. Perseroan juga melanjutkan Program Mandiri Bakti Kesehatan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Puro Pakualaman, dan Puralaya Imogiri melalui layanan Mini General Check-Up (GCU) serta khitanan massal bagi keluarga dan kerabat penggiat budaya setempat. Rangkaian program sosial tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bank Mandiri ke-28.

“MJM 2026 memperluas jangkauan sosial Bank Mandiri hingga ke 28 desa di sekitar Prambanan. Kami ingin setiap komunitas yang menjadi bagian dari perjalanan MJM merasakan manfaat nyata, dari perbaikan infrastruktur jalan hingga layanan kesehatan bagi para penggiat budaya yang menjaga warisan Yogyakarta,” ujar Adhika.

Pada aspek pemberdayaan ekonomi, Bank Mandiri menghadirkan program literasi keuangan digital bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah penyelenggaraan untuk mendorong adopsi layanan transaksi digital dan memperkuat kapasitas usaha lokal. Penguatan ini dilengkapi program Mandiri LAKU LOKAL (mLaku Lokal) di Race Village kawasan Candi Prambanan, yang menampilkan 27 brand lokal dan 70 tenant UMKM sebagai panggung bagi pelaku usaha kuliner dan kreatif Yogyakarta. Race Village sekaligus menjadi ruang interaksi pelari, komunitas, dan publik melalui panggung hiburan dan aktivitas keluarga.

Sebelumnya, sebagai bagian dari mendorong perekonomian lokal, Bank Mandiri telah menggelar kegiatan literasi keuangan digital dan perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM di sekitar Prambanan pada 14 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, Bank Mandiri melibatkan 60 pelaku UMKM sektor makanan dan minuman.

Tak hanya itu, antusiasme menuju race day dibangun lewat rangkaian Road to MJM 2026 berupa lari pemanasan lintas daerah. Sejak tahap registrasi, bank berkode emiten BMRI ini menawarkan Livin’ Special Presale bagi nasabah serta paket bundling tiket dan akomodasi melalui Travel Fair di Jakarta dan Surabaya. Pembelian dilakukan via fitur Sukha di Livin’ by Mandiri, dengan cashback hingga dan cicilan 0 persen hingga enam bulan untuk transaksi Mandiri Kartu Kredit.

“Melalui pendekatan yang memadukan olahraga, budaya, keberlanjutan, dan pemberdayaan ekonomi, Bank Mandiri menargetkan MJM 2026 menjadi tolok ukur sport tourism nasional sekaligus perayaan kota yang hidup dan berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat Yogyakarta,” pungkas Adhika.




Pastikan Tepat Sasaran, BBPPKS Yogyakarta dan Pemerintah Kapanewon Depok Gelar Validasi Program Sekolah Rakyat

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok bersama Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta Kementerian Sosial Republik Indonesia melaksanakan validasi akhir calon peserta didik Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 di Padukuhan Nologaten, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan calon penerima program pendidikan gratis benar-benar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pemerintah.

Perwakilan BBPPKS Yogyakarta, Fenny Kristian mengatakan bahwa validasi akhir merupakan tahapan penting untuk memastikan program Sekolah Rakyat menjangkau anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan. Proses tersebut meliputi penjangkauan, verifikasi lapangan, hingga pemeriksaan kesehatan calon peserta didik.

“Kami memastikan program pendidikan tepat sasaran, sehingga bantuan benar-benar diterima oleh anak dari keluarga yang paling membutuhkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, validasi dilakukan dengan mencocokkan data yang dimiliki Kementerian Sosial, termasuk Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan kondisi nyata di lapangan.

“Tim melakukan kunjungan langsung dari rumah ke rumah guna memastikan kesesuaian data calon peserta didik dan keluarganya,” kata Fenny.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menjaring calon siswa yang memenuhi kriteria objektif untuk memperoleh layanan pendidikan gratis dari pemerintah. Melalui proses verifikasi yang menyeluruh, diharapkan penetapan peserta didik Sekolah Rakyat dapat berlangsung secara transparan, akurat, dan tepat sasaran.

Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Dengan validasi yang dilakukan secara langsung di lapangan, pemerintah dapat memastikan bantuan pendidikan diberikan kepada penerima yang benar-benar berhak,” tandas Fenny.

Sementara Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menambahkan bahwa pemerintah kapanewon terus mendukung pelaksanaan program tersebut melalui pendampingan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Menurutnya, validasi lapangan menjadi langkah penting untuk memastikan tidak terjadi kesalahan sasaran dalam penetapan peserta didik.

“Melalui proses verifikasi yang cermat, kami berharap anak-anak yang benar-benar membutuhkan dapat memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik melalui Sekolah Rakyat. Program ini diharapkan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat melalui akses pendidikan yang setara,” kata Subekti.

Kegiatan ini diharapkan mendukung terwujudnya pemerataan akses pendidikan serta meningkatkan kesempatan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Depok Sosialisasikan Program Sleman Pintar Lewat Pertemuan PKH

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok bersama Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melaksanakan pertemuan kelompok dan kegiatan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) bagi keluarga penerima manfaat di wilayah Sambilegi, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (17/6/2026).

Kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk menyosialisasikan Program Sleman Pintar serta berbagai program Pemerintah Kabupaten Sleman bagi keluarga kurang mampu.

Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, mengatakan bahwa kegiatan pendampingan melalui pertemuan kelompok dan P2K2 menjadi bagian penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai program bantuan dan layanan sosial yang disediakan pemerintah.

“Melalui pertemuan kelompok dan P2K2, kami bersama Pendamping PKH memberikan informasi mengenai Program Sleman Pintar dan berbagai program Pemerintah Kabupaten Sleman bagi keluarga kurang mampu. Dengan sosialisasi yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat semakin memahami berbagai layanan yang tersedia dan dapat memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan P2K2 tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi program bantuan sosial, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas keluarga penerima manfaat agar semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak mereka.

“Program Sleman Pintar merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendukung keberlangsungan pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Melalui sosialisasi yang dilakukan secara langsung, kami berharap masyarakat yang memenuhi syarat dapat mengakses program tersebut dan memanfaatkannya secara optimal untuk mendukung pendidikan putra-putrinya,” kata Subekti.

Selain penyampaian materi P2K2, peserta juga memperoleh informasi mengenai Program Sleman Pintar yang bertujuan mendukung akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sosialisasi dilakukan agar masyarakat memahami persyaratan, mekanisme, dan manfaat program sehingga bantuan dapat diterima oleh sasaran yang tepat.

Menurut Subekti, pertemuan kelompok menjadi media efektif untuk membangun komunikasi antara pemerintah, pendamping sosial, dan masyarakat. Melalui forum tersebut, berbagai informasi terkait pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan keluarga dapat disampaikan secara langsung.

Pemerintah Kapanewon Depok terus mendorong penguatan pendampingan kepada keluarga penerima manfaat agar tidak hanya menerima bantuan sosial, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang mendukung peningkatan kualitas hidup keluarga. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu mendorong terwujudnya keluarga yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas akses informasi masyarakat terhadap program-program pemerintah serta mendukung upaya peningkatan kesejahteraan keluarga kurang mampu di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)