Panen Raya Jagung di TKD Sukoharjo Hasilkan 6,3 Ton per Hektare

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sukoharjo melaksanakan panen raya jagung di lahan Tanah Kas Desa (TKD) yang berada di Padukuhan Ngebo, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ketahanan Pangan (Ketapang) Kalurahan yang bertujuan meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset desa untuk kegiatan produktif.

Panen raya tersebut dihadiri oleh perwakilan Kapanewon Ngaglik, BPKal, pamong kalurahan, PPL, Polsek, Danramil, kelompok tani, KWT, tokoh masyarakat, petani penggarap lahan TKD, serta berbagai unsur terkait lainnya.

Hamparan tanaman jagung yang tumbuh subur menjadi bukti keberhasilan sinergi antara pemerintah kalurahan dan masyarakat dalam mengelola lahan desa secara produktif. Program serupa di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lurah Sukoharjo, Hadi Subronto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga masa panen.

Menurutnya, pemanfaatan TKD untuk budidaya jagung merupakan langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Ia menambahkan, lahan yang sebelumnya merupakan lahan tidur kini kembali produktif dengan hasil panen mencapai 6,3 ton per hektare dari total luas lahan 1,7 hektare, dan diharapkan dapat meningkat pada musim tanam berikutnya.

“Panen raya ini menjadi bukti bahwa lahan desa dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program ketahanan pangan. Ke depan, kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain mendukung ketersediaan pangan, hasil panen jagung ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani serta mendorong tumbuhnya sektor pertanian yang berkelanjutan di Kalurahan Sukoharjo. Keberhasilan panen ini juga menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi pertanian lokal melalui inovasi dan kerja sama yang kuat.

Melalui program Ketapang, Pemerintah Kalurahan Sukoharjo berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan lahan produktif, meningkatkan produktivitas pertanian, serta memperkuat kemandirian pangan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan.  (Eswe/ KIM Sukoharjo-Ngaglik)




Dolanan Rakyat, Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan untuk Generasi Muda

Sleman – Dolanan rakyat bukan sekadar permainan. Di dalamnya terkandung nilai sosial, budaya, pendidikan, dan kearifan lokal yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Hal tersebut disampaikan Ma’riatus Sholikhah, yang akrab disapa Mara, dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY.

Mara menyampaikan materi bertajuk “Pelestarian Kearifan Lokal Dolanan Rakyat” dalam Bimtek Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional yang digelar KPOTI Sleman, Selasa (16/6/2026) di Ruang Rukuns Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman.

Menurut Mara, dolanan rakyat memiliki lima ciri khas. Pertama, bersifat turun-temurun, yaitu diwariskan dari generasi ke generasi. Kedua, menggunakan alat sederhana yang memanfaatkan lingkungan sekitar, seperti batu, kayu, dan tanah.

“Ketiga, dimainkan secara berkelompok, tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama teman,” imbuhnya.

“Keempat, bermuatan lokal yang tercermin dari logat, aturan, dan cerita khas daerah. Kelima, mengutamakan kebersamaan, menekankan interaksi sosial, bukan sekadar adu kemampuan,” sambungnya.

Mara juga memaparkan berbagai nilai yang terkandung dalam dolanan rakyat. Dilihat dari sisi sosial, permainan ini menumbuhkan kerja sama, solidaritas, dan toleransi. Sedangkan dari sisi pendidikan, dolanan rakyat melatih strategi berpikir, kreativitas, pemecahan masalah, konsentrasi, dan ketelitian.

Sementara dari sisi budaya, dolanan rakyat menjadi identitas lokal sekaligus wujud kearifan tradisional. Adapun dari sisi fisik dan karakter, permainan ini dapat menjaga kebugaran serta mengasah koordinasi motorik, sekaligus membentuk kejujuran, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab.

“Kalau dipandang dari nilai fisik, dolanan rakyat membangkitkan kebugaran dan keterampilan motorik. Dari nilai karakter, anak belajar jujur, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab,” jelasnya.

Mara juga mengakui bahwa dolanan anak saat ini mulai terancam. Hal tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi dan permainan digital, berkurangnya ruang terbuka, perubahan pola interaksi sosial, minimnya pewarisan antargenerasi, serta kurangnya dokumentasi.

Mara memaparkan sejumlah strategi pelestarian yang dapat dilakukan, di antaranya dokumentasi dan publikasi naskah aturan permainan, penyelenggaraan festival dan kompetisi rutin, integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, pewarisan dalam keluarga, revitalisasi melalui komunitas, serta pemanfaatan teknologi seperti pembuatan konten dan video tutorial. Selain itu, penyediaan ruang bermain yang aman juga dinilai penting.

“Urgensi pelestarian ini jelas, yaitu menjaga identitas budaya, mendukung pendidikan karakter, memperkuat kohesi sosial, menjadi rekreasi yang sehat dan murah, serta menjadi sumber inspirasi industri kreatif dan pariwisata budaya,” ungkapnya.

“Dolanan rakyat harus kita hidupkan kembali. Sayang kalau anak-anak kita hanya mengenal Mobile Legends, tetapi tidak mengenal benthik,” pungkas Mara. (Giek / KIM Moyudan)




Lansia Gemawang Antusias Ikuti Edukasi Pengelolaan Stres dari Mahasiswa UMBY

Sleman – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengadakan sosialisasi tentang pengelolaan stres pada lansia di Posyandu Lansia Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Praktikum Intervensi Dasar II: Komunitas dan Kelompok Lansia yang dibimbing oleh dosen pengampu Moordiningsih.

Tim mahasiswa dipimpin oleh Gabriel Alexandro Sangkai selaku ketua kelompok, dengan anggota Maria Irenia Putri Yuko Perdani, Alifah Salsabila Putri, Rahma Hidayanti, Putri Laras Pramesti, dan Auliya Malwa Batrisya Irfan.

Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa memberikan edukasi mengenai cara mengenali gejala stres pada lansia serta langkah-langkah mengatasinya, seperti menjaga pola pikir positif, beraktivitas sosial, berolahraga ringan, menjaga komunikasi dengan keluarga, dan memperkuat kehidupan spiritual.

Suasana sosialisasi berlangsung hangat dan interaktif. Para lansia, baik laki-laki maupun perempuan, tampak antusias mengikuti pemaparan materi serta aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman. Kehadiran mahasiswa juga menambah semangat para peserta posyandu lansia.

Ketua Lansia Padukuhan Gemawang, Nila Nuryaningsih menyampaikan apresiasinya atas kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi ini sangat bermanfaat karena bertepatan dengan kegiatan rutin Posyandu Lansia yang dilaksanakan pada tanggal 16 setiap bulan.

“Setiap tanggal 16 kami mengadakan penimbangan dan kegiatan rutin lansia. Sosialisasi ini sangat baik karena dapat diikuti banyak peserta dan menambah wawasan bagi para lansia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan para lansia semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental selain kesehatan fisik, sehingga dapat menjalani masa lanjut usia dengan lebih sehat, bahagia, dan produktif.

Dalam kegiatan tersebut tampak suasana kebersamaan yang hangat antara mahasiswa dan para lansia. Selain sesi edukasi, kegiatan juga dirangkai dengan pelayanan rutin Posyandu Lansia serta di akhiri dengan foto bersama sebagai wujud kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. (Edy – KIM Pijar Mlati)




Jumlah Balita Stunting Masih Jadi Perhatian, SPPG Margomulyo Seyegan Minta MBG Dikawal Bersama

Sleman – Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Margomulyo, Seyegan, Joni Prasetyo, menanggapi munculnya aksi penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Menurutnya, kritik dan evaluasi terhadap pelaksanaan program merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi, namun tidak seharusnya berujung pada penolakan terhadap program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Joni Prasetyo menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Program ini dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan, pertumbuhan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Program MBG ini adalah komitmen besar untuk masa depan bangsa. Manfaatnya sangat nyata bagi anak-anak penerima manfaat, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi yang lebih baik,” ujar Joni Prasetyo dalam keterangan resmi, Selasa (16/6/2026).

Selain menyasar peserta didik, Program MBG juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan yang dikenal sebagai sasaran 3B, yakni ibu hamil, balita yang belum bersekolah, dan ibu menyusui. Kelompok ini dinilai menjadi prioritas karena berada pada fase penting dalam siklus kehidupan yang menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang generasi mendatang.

Menurut Joni, pemenuhan gizi pada sasaran 3B memiliki peran strategis dalam menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta memastikan tumbuh kembang balita berlangsung secara optimal.

Hal tersebut juga sejalan dengan kondisi di wilayah Seyegan. Dalam forum koordinasi lintas sektor yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, Panewu Seyegan menyampaikan bahwa Kapanewon Seyegan merupakan salah satu wilayah dengan jumlah balita stunting yang masih menjadi perhatian di Kabupaten Sleman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa intervensi pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis sangat dibutuhkan, terutama bagi kelompok rentan yang berisiko mengalami masalah gizi.

“Ketika kita berbicara tentang MBG, yang harus diingat bukan hanya anak sekolah. Ada ibu hamil yang membutuhkan asupan gizi untuk mendukung perkembangan janin, ada balita yang sedang berada pada masa emas pertumbuhan, dan ada ibu menyusui yang membutuhkan nutrisi cukup untuk mendukung kesehatan dirinya maupun bayinya. Mereka adalah kelompok yang sangat membutuhkan program ini,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa apabila ditemukan kekurangan kualitas layanan, kendala distribusi, atau pelanggaran prosedur dalam pelaksanaan program, maka evaluasi harus diarahkan kepada pihak atau oknum yang melakukan kesalahan, bukan kepada program secara keseluruhan.

“Jika ada oknum pengelola yang curang, lalai, atau tidak menjalankan tugas dengan baik, maka yang harus dikritik dan ditindak adalah oknumnya. Jangan sampai hak anak-anak, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui yang membutuhkan program ini justru menjadi korban,” tegas Joni.

SPPG Margomulyo juga menyatakan komitmennya untuk membuka ruang dialog, menerima masukan dari berbagai pihak, serta mendukung pengawasan publik demi meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

“Pengawasan dan kritik yang konstruktif sangat dibutuhkan. Namun yang terpenting adalah memastikan seluruh penerima manfaat, khususnya anak-anak dan kelompok sasaran 3B, tetap mendapatkan haknya atas asupan gizi yang layak,” pungkasnya.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik serta kelompok rentan, termasuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui, sebagai bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. (Jony Prasetyo/KIM Seyegan)




22 Naskah Permainan Tradisional Dibedah dalam Bimtek KPOTI Sleman

Sleman– Agar peraturan permainan rakyat dan olahraga tradisional tidak hilang ditelan zaman, Komite Permainan dan Olahraga Tradisional (KPOTI) Kabupaten Sleman menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (16/6/2026), di Ruang Rukuns Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.

Bimtek ini bertujuan untuk membenahi 22 naskah terbaik hasil lomba penulisan yang masuk ke KPOTI. Harapannya, naskah tersebut layak diterbitkan dan dapat menjadi pedoman baku.

Empat narasumber kompeten dihadirkan untuk mengasah kemampuan para penulis. Bintang Wahyu Putra menyampaikan materi dasar-dasar kepenulisan. Ma’riatus Sholikhah dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY membawakan materi pelestarian kearifan lokal dolanan anak. Kharisma Endah Susanti menyampaikan materi penulisan artikel dan esai, sedangkan Amin Surahmad membahas reviu isi dan bahasa.

Ketua KPOTI Sleman, Syukron Arif Muttaqin, menegaskan bahwa bimtek ini merupakan langkah penting dalam mendokumentasikan permainan rakyat sebagai warisan budaya tak benda.

“Tujuan workshop ini untuk membenahi karya yang sudah diterima agar layak terbit. Untuk mencapai kelayakan, kita membutuhkan keseragaman metodologi, teknik penulisan, dan tata bahasa,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa penerbitan buku bukan hanya menjadi tugas KPOTI, melainkan tanggung jawab bersama. “Pelestarian budaya memerlukan langkah dan strategi yang tepat agar dapat menjadi pedoman. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda Kundha Kabudayan Sleman, Andre Veriangga, mengapresiasi kontribusi KPOTI dan para penulis dalam upaya pelestarian budaya.

“Mendokumentasikan budaya adiluhung adalah langkah strategis. Sejarah dan warisan budaya jika tidak didokumentasikan akan hilang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penulisan sejarah permainan rakyat yang sudah berlangsung lama memang tidak mudah. “Saya yakin para penulis banyak merefleksikan masa kecil atau cerita yang diwariskan dari leluhur,” ujarnya.

Andre juga menyoroti tantangan era digital. “Untuk menangkal arus budaya dari gawai, kita perlu menghidupkan kembali permainan rakyat. Ini bukan sekadar rekreasi fisik, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan,” tegasnya.

Setelah sesi tersebut, Andre Veriangga secara resmi membuka Workshop Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. (Giek / KIM Moyudan)