Tembus Pasar Dunia, Kerajinan Anyaman Bambu Dusun Brajan Sleman Jaga Eksistensi Tradisi

Sleman – Dusun Brajan yang terletak di Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, sukses membuktikan bahwa produk lokal dari wilayah pedesaan mampu bersaing di panggung internasional. Melalui ketekunan warganya, karya-karya anyaman bambu ramah lingkungan dari dusun kecil ini kini telah berhasil menembus pasar mancanegara dan menghiasi berbagai rumah, hotel, hingga kafe di Malaysia, Belanda, Australia, dan Dubai.

Komoditas ekspor ini lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat Dusun Brajan yang memang telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu sekaligus desa wisata edukatif di Kabupaten Sleman. Sekitar 90 persen warga setempat menggantungkan hidupnya sebagai perajin dengan memproduksi lebih dari 200 jenis anyaman dekoratif bernilai seni tinggi, mulai dari besek, tempat tisu, keranjang, hingga kap lampu hias.

Transformasi kerajinan ini tidak lepas dari peran generasi muda yang memilih bertahan untuk merawat warisan leluhur. Salah satunya adalah Wahyu Dinanta, penerus Kios Kerajinan Bambu Sunar di RT 02 RW 17 Dusun Brajan, yang kini bertindak sebagai motor penggerak sekaligus pengepul bagi sekitar 20 perajin rumahan di lingkungannya.

Bersama istrinya, Wahyu mengelola rantai produksi mulai dari penyediaan bahan baku bambu apus, proses pemutihan (bleaching), pengawasan mutu (quality control), hingga ekspansi pasar lewat platform digital. Namun, ia tidak menampik bahwa mempertahankan bisnis kerajinan tradisional di era modern ini menghadapi tantangan yang cukup berat, terutama terkait pasang surut dukungan dari pemangku kebijakan.

“Kalau sekarang sudah tidak pernah lagi ada pembinaan. Dulu kami sering mendapat pelatihan, sarasehan, sampai dipercaya menjadi narasumber berbagai kegiatan tentang kerajinan bambu. Sekarang justru pendampingan lebih sering datang dari mahasiswa KKN yang membantu pemasaran secara online,” ujar Wahyu Dinanta saat menceritakan kondisi riil para perajin di lapangan, Minggu (28/6/2026).

Selain masalah minimnya pembinaan berkala dan faktor cuaca ekstrem yang sering mengganggu proses pengeringan bahan baku, ancaman terbesar bagi keberlanjutan sentra industri ini adalah masalah regenerasi. Banyak generasi muda di luar wilayahnya yang mulai enggan mempelajari seni menganyam, padahal permintaan pasar global terhadap produk pemanis interior seperti kap lampu tetap mengalir deras.

Kendati dihadapkan pada kendala tersebut, Wahyu tetap menaruh rasa optimis yang besar terhadap masa depan Dusun Brajan sejak wilayah ini diresmikan sebagai Desa Wisata Kerajinan Bambu pada 2006. Baginya, bambu bukan lagi sekadar komoditas ekonomi keluarga, melainkan sudah menjadi identitas dan jati diri daerah yang wajib dipertahankan eksistensinya.

“Harapan saya, Dusun Brajan semakin berkembang sebagai desa wisata. Orang datang tidak hanya membeli oleh-oleh, tetapi juga belajar membuat kerajinan bambu. Yang paling penting, regenerasi pengrajin jangan sampai terputus,” tutur Wahyu menyampaikan asanya untuk masa depan dusun.

Melalui konsistensi yang ditunjukkan oleh para perajin lokal tersebut, Dusun Brajan menjadi bukti nyata bahwa produk berbasis kearifan lokal tetap memiliki posisi tawar yang kuat di pasar global. Estafet keterampilan menganyam ini diharapkan dapat terus terjaga agar warisan budaya luhur milik bangsa tidak punah digilas oleh arus modernisasi (Sutarto Agus / KIM Seyegan).




Peringati Hari Jadi ke-78, Ribuan Warga Padati Gelaran Sinduadi Fun Walk di Sleman

Sleman – Ribuan warga memadati halaman TVRI Yogyakarta sejak Minggu (28/6/2026) pagi untuk menyemarakkan agenda “Sinduadi Fun Walk”. Kegiatan jalan sehat massal ini digelar oleh Pemerintah Kalurahan Sinduadi sebagai salah satu rangkaian acara utama dalam rangka memperingati Hari Jadi Kalurahan Sinduadi ke-78.

Kemeriahan acara dimulai sejak pukul WIB dengan pelaksanaan senam massal yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan penuh energi. Setelah itu, para peserta dilepas untuk mengikuti jalan gembira menempuh rute sepanjang kurang lebih 3 kilometer menyusuri jalan-jalan pedesaan, dengan titik start dan finis kembali di halaman TVRI Yogyakarta.

Tidak hanya fokus pada olahraga massal, pihak panitia juga mengemas acara ini secara multiguna dengan menghadirkan bazar UMKM lokal, lomba mewarnai untuk anak jenjang PAUD, hiburan musik, hingga kontes foto Strava. Selain itu, dihadirkan pula stan pelayanan administrasi kependudukan terpadu seperti perekaman KTP, pembaruan Kartu Keluarga (KK), serta aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) guna memberikan manfaat langsung bagi warga.

Agenda akbar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, di antaranya Bupati Sleman Harda Kiswaya, Kepala Dinas PMK Kabupaten Sleman Alhalik, Panewu Mlati Dyah Purwanti, Anggota DPRD DIY Sri Muslimatun, serta jajaran Polsek dan Koramil Mlati.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi dan mengucapkan selamat Hari Jadi ke-78 kepada Pemerintah Kalurahan Sinduadi beserta seluruh masyarakatnya. Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah demi kelancaran pembangunan daerah.

“Selamat Hari Jadi ke-78 untuk Kalurahan Sinduadi. Kami berharap Sinduadi dapat semakin maju, masyarakatnya hidup damai, rukun, dan terus konsisten menjaga semangat kebersamaan serta gotong royong sebagai modal utama dalam membangun kalurahan yang sejahtera,” ujar Harda Kiswaya di hadapan ribuan peserta.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua Panitia, Nurbatin Kuncoro. Pria yang juga menjabat sebagai Dukuh Pogung Lor ini berterima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, sponsor, dan sukarelawan yang telah berkolaborasi sehingga acara dapat berjalan dengan aman dan tertib. Langkah kolaboratif ini pun dipertegas oleh Lurah Sinduadi yang mengajak warganya untuk menjadikan momentum hari jadi ini sebagai pemacu semangat gotong royong dalam mendukung program pembangunan kalurahan ke depan.

Puncak kemeriahan acara ditutup dengan pengundian aneka hadiah doorprize menarik, mulai dari kompor gas, televisi, kulkas, hingga sepeda kayuh. Suasana halaman TVRI Yogyakarta semakin bergemuruh saat pengumuman dua hadiah utama berupa sepeda listrik dilakukan.

Dua unit sepeda listrik tersebut berhasil dibawa pulang oleh Edy Setyoharjo, warga asal Padukuhan Gemawang, serta Gendro Kuncoro yang merupakan warga Perumahan Mranggen. Antusiasme dan kegembiraan yang terpancar dari ribuan peserta hingga akhir acara menjadi bukti nyata kuatnya tali persatuan warga di wilayah Sinduadi. (Edy – KIM Pijar Mlati)




Cegah Banjir dan Pencemaran, Warga Nayan Sleman Kompak Gelar Aksi Bersih Kali Gandekan

Sleman – Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem perairan ditunjukkan oleh ratusan warga Padukuhan Nayan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Guna mengantisipasi potensi penyumbatan dan pencemaran air, warga setempat turun langsung menyusuri sungai untuk melaksanakan Program Kali Bersih (Prokasih) di sepanjang aliran Kali Gandekan, Minggu (29/6/2026).

Aksi gotong royong massal yang dimulai sejak pagi hari ini difokuskan pada pembersihan tumpukan sampah domestik, pemangkasan rumput liar yang rimbun di sempadan sungai, serta pengerukan sedimentasi lumpur ringan. Langkah taktis ini diambil untuk memastikan kelancaran arus air sekaligus mengembalikan fungsi optimal sungai sebagai bagian dari mitigasi bencana lingkungan di kawasan pemukiman.

Ketua RW 24 Nayan, Triyono, menjelaskan bahwa Prokasih telah disepakati untuk menjadi agenda rutin warga setempat. Selain bertujuan utama menjaga kesehatan ekosistem air, gerakan fisik ini dinilai sangat efektif untuk memperkuat kembali kultur gotong royong dan merawat kepedulian sosial yang mulai mengikis di era modern.

“Melalui Prokasih, kami mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan serta merawat lingkungan secara bersama-sama. Sungai yang bersih akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mengurangi potensi pencemaran maupun banjir,” ujar Triyono di sela-sela memimpin jalannya aksi bersih-bersih.

Triyono menegaskan bahwa lingkungan pemukiman yang sehat dan bebas dari ancaman luapan air hanya bisa diwujudkan lewat komitmen kolektif seluruh lapisan warga tanpa terkecuali. Pihaknya tidak ingin aksi ini hanya menjadi kegiatan seremonial sesaat, melainkan harus bertransformasi menjadi sebuah gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, jajaran pengurus RW berharap konsistensi gerakan Prokasih ini mampu mengedukasi generasi muda di Padukuhan Nayan agar memiliki kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan. Dengan menjaga kebersihan Kali Gandekan secara swadaya dari hulu hingga hilir, warga optimis manfaat lingkungan yang asri, aman, dan bebas dari sarang penyakit dapat diwariskan serta dirasakan dalam jangka panjang oleh anak cucu mereka. (Athiful/KIM Depok)




Rawat Tradisi Nusantara, Ratusan Jamaah Ahad Pon Sleman Gelar Ziarah Wali di Jalur Pantai Utara

Sleman – Tradisi ziarah wali hingga kini terus menjadi pilar penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Muslim Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama penyebar Islam sekaligus ruang memperkuat tali persaudaraan, Pengurus Lapangan Zaroh Auliya’ binaan almarhum Ashari ZA Kerisan Tempel yang tergabung dalam Jamaah Pengajian “Ahad Pon” kembali menggelar perjalanan religi ke sejumlah makam suci di Pulau Jawa pada Sabtu hingga Ahad, 27-28 Juni 2026.

Perjalanan spiritual yang bertepatan dengan momentum bulan mulia 11-12 Muharram 1448 Hijriah ini mengambil titik kumpul keberangkatan di wilayah Kemusuh, Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman pada Sabtu sore. Rombongan secara estetika bergerak menyusuri jejak sejarah Islam Nusantara di kawasan pedalaman hingga jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Rangkaian rute ziarah diawali dengan mendatangi makam Habib Ali Bafaqih di Kemusuh, kemudian dilanjutkan ke makam tokoh besar Nahdlatul Ulama KH Chudlori di Tegalrejo, Magelang. Perjalanan lalu mengarah ke utara menuju makam jajaran Walisongo meliputi Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus, Sunan Muria, hingga makam ulama legendaris Ahmad Mutamakkin di Kajen, Pati. Di Pati, rombongan juga berkesempatan sowan ke kediaman Mu’ad Thoiri yang merupakan keturunan langsung dari Ahmad Mutamakkin.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalam Kerisan Banyurejo sekaligus penanggung jawab kegiatan, Muhammad Lutfi, menjelaskan bahwa agenda rutin ini bukan sekadar perjalanan wisata religi biasa. Kegiatan ini dikonsep sebagai media pembinaan keagamaan luar ruangan agar masyarakat bisa meneladani metode dakwah para wali yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan sarat akan nilai kultural.

“Kami ingin mengajak peserta mengambil hikmah dari perjuangan para wali dan ulama. Ziarah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki diri, memperkuat keimanan, serta mempererat persaudaraan antarsesama,” ujar Muhammad Lutfi, yang akrab disapa Gus Lutfi, di sela-sela memimpin rombongan.

Lutfi menambahkan, tradisi ziarah massal ini mengemban misi edukasi yang sangat kuat, terutama dalam mengenalkan akar sejarah Islam Nusantara kepada generasi muda. Pola pendekatan dakwah kultural para pendahulu dinilai masih sangat relevan untuk diadopsi dalam menjawab tantangan zaman modern yang membutuhkan sikap toleransi, harmoni sosial, dan etos gotong royong.

Manfaat ganda dari perjalanan jarak jauh ini juga dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Nur Mufidz. Ia mengaku selalu menjadwalkan diri untuk ikut dalam rombongan ini karena kombinasi muatan spiritual dan wawasan sejarah yang didapatkan dinilai sangat mendalam.

“Setiap ziarah selalu memberikan pengalaman batin yang berbeda. Kami belajar tentang perjuangan para ulama sekaligus mempererat persaudaraan dengan sesama jamaah. Semoga nilai-nilai yang diwariskan para wali dapat terus menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Nur Mufidz.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, eksistensi kegiatan ziarah wali yang digerakkan oleh jamaah akar rumput di Sleman ini membuktikan bahwa keterikatan emosional masyarakat terhadap sejarah dan keteladanan para ulama terdahulu tetap kokoh, sekaligus menjadi instrumen efektif dalam merawat persatuan umat. (SBD/KIM Tempel)




Gabungkan Pelestarian Tradisi dan Ekonomi, Kalurahan Margorejo Sleman Siap Gelar Pentas Budaya Rutin

Sleman – Upaya melestarikan seni tradisi sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat terus digencarkan lewat inovasi di tingkat akar rumput. Komitmen tersebut diwujudkan oleh Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman yang mengumumkan kesiapannya untuk menyelenggarakan Gelar Seni Budaya secara berkesinambungan mulai September 2026 mendatang.

Program jangka panjang ini dirancang sebagai ruang komunal bersama untuk menampilkan kekayaan seni tradisi asli daerah, sekaligus memperluas jangkauan pasar dan peluang promosi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Seluruh kelompok kesenian yang eksis di wilayah Kalurahan Margorejo dijadwalkan akan mendapatkan panggung pertunjukan secara bergiliran.

Lurah Margorejo, Abdul Aziz Muh Ridwan, menegaskan bahwa merawat warisan leluhur tidak cukup jika hanya berhenti pada aspek dokumentasi historis semata. Pelestarian yang nyata harus diwujudkan dengan memberikan ruang ekspresi yang konsisten bagi para pelaku seni agar regenerasi budaya tidak terputus.

“Kesenian tradisional merupakan identitas yang harus terus dijaga. Melalui gelaran rutin ini kami ingin memberikan panggung bagi seluruh kelompok seni di Margorejo, sekaligus menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM,” ujar Abdul Aziz Muh Ridwan saat memberikan sambutan resmi.

Abdul Aziz menambahkan, kehadiran stan-stan UMKM lokal di setiap perhelatan budaya menjadi instrumen penting untuk menciptakan perputaran ekonomi yang intens. Sinergi ini memastikan bahwa kegiatan seni budaya tidak hanya berhenti sebagai tontonan atau hiburan visual semata, melainkan mampu menghadirkan dampak kesejahteraan finansial yang dirasakan langsung oleh warga sekitar.

Skema pembangunan desa berbasis kebudayaan ini dinilai sangat efektif untuk memperkuat identitas lokal, menarik minat generasi muda, serta membuka peluang industri kreatif yang berkelanjutan. Langkah awal dari program besar ini telah diawali dengan peluncuran pra-acara yang berlangsung meriah di halaman kantor kalurahan setempat pada Minggu (28/6/2026).

Suasana pembukaan tersebut sukses memukau ratusan warga yang hadir berkat penampilan energik dari kelompok kesenian Jathilan Cipto Wiloho asal Padukuhan Kadisono. Kelompok tari rakyat khas Jawa ini dikenal memiliki konsistensi tinggi dalam menjaga eksistensi seni pertunjukan tradisional di tengah era modernisasi.

Melalui manajemen pelaksanaan yang terstruktur dan rutin, Gelar Seni Budaya Kalurahan Margorejo diproyeksikan mampu mempertebal rasa bangga masyarakat terhadap warisan leluhur. Selain itu, program kolaboratif ini diharapkan menjadi role model bagi wilayah lain dalam mengoptimalkan potensi kebudayaan sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berdaya, kreatif, dan mandiri (SBD/KIM Senyum Tempel)