Lestarikan Warisan Budaya, KPOTI Sleman Gelar Pelatihan Wasit Olahraga Tradisional

Sleman – Komite Olahraga dan Permainan Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan aset budaya bangsa dari kepunahan digital. Bekerja sama dengan Badan Pelestari Kebudayaan, KPOTI Sleman menyelenggarakan Pelatihan Wasit Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Agenda yang berfokus pada standardisasi aturan dan penegakan sportivitas ini dibuka secara resmi di Gedung Youth Center Sleman pada Sabtu (13/6/2026).
Pelatihan intensif yang berlangsung selama dua hari hingga Minggu (14/6/2026) ini diikuti oleh 54 peserta yang memiliki latar belakang beragam, mulai dari guru, dosen, pegiat kebudayaan, hingga masyarakat umum. Pembukaan acara dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Sleman, Cholis Noor Mutaslimah, yang hadir mewakili Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.
Dalam sambutan tertulisnya, Danang Maharsa menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh kekayaan non-benda asli Indonesia di era modernisasi. Menurutnya, dominasi gawai dan ekosistem hiburan digital telah menggeser eksistensi permainan fisik yang sarat akan nilai-nilai luhur.
“Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, permainan tradisional menghadapi tantangan tidak ringan. Generasi muda lebih banyak berinteraksi dengan hiburan digital, sehingga bakiak atau terompah panjang, hadang, dan egrang makin jarang dimainkan,” ujar Danang Maharsa dalam pidato tertulisnya yang dibacakan oleh Cholis Noor Mutaslimah.
Lebih lanjut, Danang Maharsa menegaskan bahwa urusan pelestarian ini bukan sekadar bernostalgia dengan masa lalu, melainkan bagian dari investasi pembentukan karakter bangsa. Permainan rakyat dinilai kaya akan falsafah kehidupan yang mengajarkan arti kerja sama kelompok, kedisiplinan, kejujuran, serta ketangguhan mental sejak usia dini.
Oleh karena itu, kehadiran korps wasit yang bersertifikat dan kompeten menjadi instrumen mutlak agar olahraga tradisional dapat naik kelas menjadi kompetisi yang profesional tanpa kehilangan marwah aslinya. Wasit dituntut memiliki integritas tinggi agar jalannya pertandingan dapat dinikmati secara adil dan aman.
“Wasit bukan sekadar pemimpin pertandingan. Wasit adalah garda terdepan agar lomba berjalan tertib, adil, aman, dan menjunjung sportivitas. Jadilah agen pelestarian budaya di lingkungan masing-masing,” tandas Danang Maharsa.
Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Panitia Kegiatan, Beni Kusuma, memaparkan bahwa pelatihan ini sengaja dirancang untuk menyatukan persepsi mengenai aturan main olahraga tradisional yang selama ini sering kali memiliki ragam versi di setiap daerah. Penyamaan regulasi pertandingan ini dinilai penting agar kompetisi tradisional dapat dipertandingkan secara berjenjang hingga tingkat nasional.
“Tujuannya melestarikan budaya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menyatukan persepsi aturan permainan. Para peserta tidak hanya menerima teori di dalam kelas, tetapi juga langsung dibekali bimbingan teknis serta praktik lapangan bersama narasumber yang ahli di bidangnya,” jelas Beni Kusuma saat menyampaikan laporan kegiatan.
Pemerintah Kabupaten Sleman pun menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang-ruang publik dan institusi pendidikan agar secara berkala menggelar festival olahraga tradisional. Dengan lahirnya puluhan wasit baru yang profesional dari pelatihan ini, diharapkan permainan rakyat dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. (Giek/KIM Moyudan)



