KORMI Depok Bentuk Kepengurusan Baru Masa Bakti 2026–2029

Sleman – Kapanewon Depok, Sleman, menggelar musyawarah pembentukan pengurus baru Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) masa bakti 2026–2029, Rabu (10/6/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Anglocita, Kantor Kapanewon Depok.

Musyawarah tersebut dihadiri Panewu Depok, jajaran Forkopimka (Danramil dan Kapolsek), lurah se-Kapanewon Depok, serta pengurus induk organisasi olahraga (Inorga), komunitas, dan pegiat olahraga masyarakat.

Ketua KORMI Kabupaten Sleman, Suparman menyampaikan bahwa pembentukan kepengurusan di tingkat kapanewon merupakan langkah strategis untuk memperkuat organisasi serta memperluas gerakan olahraga masyarakat hingga tingkat kalurahan.

“KORMI hadir sebagai wadah yang mempersatukan berbagai komunitas dan pegiat olahraga masyarakat. Tujuan kita adalah mendorong masyarakat gemar bergerak, hidup sehat, bugar, dan bahagia. Olahraga masyarakat bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga membangun persaudaraan dan kualitas hidup,” ujarnya.

Melalui musyawarah tersebut, ditetapkan susunan Pengurus KORMI Kapanewon Depok masa bakti 2026–2029.  Adapun struktur organisasinya terdiri atas Dewan Pelindung yang dijabat oleh Panewu Depok, Danramil Depok, dan Kapolsek Depok, Dewan Penasehat oleh Pj Lurah Caturtunggal, Pj Lurah Maguwoharjo, dan Lurah Condongcatur, serta Pengurus Harian.

Pengurus Harian terdiri atas Ketua Panom Depok, Wakil Ketua Kepala Jawatan Sosial, Sekretaris Wisnu Aji, dan Bendahara Subekti Handayani. Sementara itu, bidang dan komisi diisi oleh unsur perangkat kapanewon dan komunitas, di antaranya Kamituwa Condongcatur untuk Bidang Organisasi, Siti Meijatun untuk Bidang Perencanaan Anggaran, Muhammad Ilhami Baihaqi dan Miftah Imazu untuk Bidang Media dan Humas, Hany Purnomo untuk Komisi Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya (OTKB), Dani Sumaniyah dan Heni Sulistyowati untuk Komisi Olahraga Kesehatan dan Kebugaran (OKK), serta Danramil Depok dan Kapolsek Depok untuk Komisi Olahraga Tantangan dan Petualangan (OTP).

Suparman menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perkembangan KORMI di Sleman, termasuk Panewu, Forkopimka, para lurah, komunitas olahraga masyarakat, dan seluruh pegiat olahraga.

“Dukungan dan kebersamaan ini menjadi kekuatan utama dalam memajukan olahraga masyarakat,” ujarnya.

Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, diharapkan KORMI Kapanewon Depok dapat menjadi wadah besar yang menggerakkan masyarakat untuk hidup sehat, bugar, gembira, dan produktif dalam mendukung terwujudnya Sleman Sembada. (Tri Suhartati KIM Depok)




Teguhkan Kemitraan TNI-Polri, Kapolsek Gamping Sambangi Koramil 17 Gamping

Sleman – Upaya memperkuat sinergitas dan kemitraan antara TNI dan Polri terus dilakukan di tingkat teritorial. Hal itu ditunjukkan Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo beserta jajarannya melalui kegiatan sambang silaturahmi ke Markas Komando Koramil 17/Gamping pada Selasa (9/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam mempererat koordinasi, menjaga stabilitas keamanan, serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Kapanewon Gamping.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan sebagai ajang mempererat sinergitas dan koordinasi antara Kepolisian Sektor Gamping dengan Koramil 17/Gamping yang selama ini telah berjalan dengan baik. Berbagai isu terkait kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat, serta dinamika kewilayahan di Kapanewon Gamping turut menjadi topik pembahasan dalam dialog yang berlangsung akrab.

Dalam kunjungannya, AKP Bowo Susilo menyampaikan ucapan selamat kepada Kapten Inf. Bambang Subyantoro atas penugasan barunya sebagai Komandan Koramil 17/Gamping. Selain sebagai bentuk penghormatan dan dukungan, silaturahmi itu menjadi forum strategis untuk memperkokoh kerjasama dan komunikasi lintas institusi dalam mendukung pemeliharaan kondusivitas wilayah.

Dalam dialog yang berlangsung, kedua institusi saling berbagi informasi mengenai kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat, potensi gangguan keamanan, serta dinamika kewilayahan yang berkembang di Kapanewon Gamping.

“Komunikasi yang intensif dan kerjasama yang berkesinambungan antara TNI dan Polri merupakan kunci dalam menciptakan situasi wilayah yang aman dan kondusif,” tandas AKP Bowo.

Sementara itu, Kapten Inf Bambang Subyantoro menegaskan bahwa Koramil 17/Gamping siap untuk memperkuat koordinasi, komunikasi, dan bekerjasama dengan Polsek Gamping dalam menghadapi berbagai tantangan tugas di lapangan. Menurutnya, hubungan yang harmonis antara kedua institusi menjadi modal penting dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif bagi masyarakat.

“Kami menyambut baik sambang silaturahmi ini karena sangat penting untuk mempererat kebersamaan dan memperkuat sinergi antara TNI dan Polri. Dengan komunikasi yang baik dan koordinasi yang solid, kami optimistis dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Gamping,” ujar Kapten Bambang.

Lebih lanjut, ia berharap hubungan kemitraan yang telah terjalin selama ini dapat terus dipelihara dan ditingkatkan melalui berbagai kegiatan bersama, baik dalam bidang keamanan, sosial kemasyarakatan, maupun pendampingan program pembangunan di wilayah Kapanewon Gamping. Menurutnya, kekompakan TNI-Polri merupakan kunci utama dalam mewujudkan ketahanan wilayah dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Sastra Jawa Jadi Media Pelestarian Nilai Kejogjaan

Sleman – Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya tercermin dari Malioboro, keraton, atau kuliner gudeg yang melegenda, tetapi juga melalui nilai-nilai kehidupan masyarakat yang diwariskan lewat sastra Jawa sebagai bentuk kearifan lokal.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif Pendapa Pro 4 106.6 FM RRI Yogyakarta bertajuk “Kejogjaan dalam Sastra Jawa”, Selasa (9/6/2026). Dialog yang dipandu Sugiman Dwi Nurseto ini menghadirkan dua narasumber dari Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman, yakni Sugiyanto dan Ngatilah (Bunga). Sugiyanto juga aktif di Bidang Seni, Pendidikan, Budaya, dan Pariwisata Forum KIM DIY.

Dalam kesempatan itu, Sugiyanto menjelaskan terdapat tujuh nilai utama yang menjadi identitas masyarakat Yogyakarta dan terus diwariskan melalui sastra Jawa.

Nilai pertama adalah andhap asor atau rendah hati, yang dalam sastra Jawa diajarkan melalui berbagai tembang dan ungkapan seperti ajining diri gumantung saka lathi, ajining raga gumantung saka busana.

Nilai kedua adalah memayu hayuning bawana, yakni menjaga harmoni kehidupan di dunia. Nilai ketiga adalah tata krama yang tercermin dalam penggunaan tingkatan bahasa Jawa, mulai dari Ngoko, Krama, hingga Krama Inggil. “Unggah-ungguh sangat diutamakan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama,” ujarnya.

Nilai keempat adalah nrima ing pandum, yakni sikap menerima dan bersyukur atas apa yang diperoleh dalam kehidupan. Nilai kelima adalah gotong royong sebagai wujud solidaritas sosial.

Adapun nilai keenam adalah hamemayu hayuning diri, yaitu upaya memperbaiki kualitas diri. Sedangkan nilai ketujuh adalah falsafah alon-alon waton kelakon atau gliyak-gliyak waton tumindak yang mengajarkan ketekunan dan kehati-hatian dalam mencapai tujuan.

Sementara itu, Ngatilah menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan teladan, terutama melalui tindak tutur dan tata krama sehari-hari. Ia juga mendorong pembelajaran budaya Jawa melalui pelatihan seperti MC berbahasa Jawa serta penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan karakter pertama bagi anak.

“Rumah merupakan tempat pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai karakter dan budaya Kejogjaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi tidak menjadi penghalang dalam pelestarian nilai-nilai Kejogjaan, justru dapat menjadi sarana untuk menyebarluaskan nilai budaya kepada generasi muda yang akrab dengan dunia digital.

Dialog interaktif tersebut mendapat respons positif dari pendengar, yang aktif menyampaikan tanggapan dan pertanyaan melalui WhatsApp maupun sambungan telepon langsung. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pelestarian sastra dan budaya Jawa.

Melalui sastra Jawa, nilai-nilai luhur Kejogjaan diharapkan tidak hanya dikenang, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Wiwaha Purna Siswa SMPN 4 Gamping, Jaga Budaya Luhur Mengukir Prestasi

Sleman – Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak mulia, menghormati orang tua dan guru, memiliki kepedulian sosial, serta mencintai budaya bangsa.

Gagasan tersebut diungkapkan Kepala SMP Negeri 4 Gamping, Ernawati, dalam acara Wiwaha Purna Siswa Tahun Pelajaran 2025/2026 di hadapan Panewu Gamping, Pengawas Sekolah, para guru, orangtua siswa, serta perwakilan Koramil 17/Gamping dan Kepolisian Sektor Gamping di Aula Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Ngugemi Budaya Luhur Anggugah Prestasi Pinunjul” tersebut menjadi momentum pelepasan 192 siswa kelas IX yang telah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di bangku SMP.

“Wiwaha Purna Siswa bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan bentuk apresiasi atas perjuangan, kerja keras, dan pencapaian para siswa selama menempuh pendidikan, sekaligus penanda awal perjalanan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi” tandas Ernawati.

Menurutnya, tema “Ngugemi Budaya Luhur Anggugah Prestasi Pinunjul” dipilih sebagai pengingat bahwa keberhasilan akademik perlu berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin pesat, generasi muda diharapkan tetap menjunjung tinggi etika, sopan santun, serta kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa Indonesia.

“Pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari capaian akademik semata, namun juga dari kemampuan siswa dalam mengembangkan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tegas Ernawati.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa “Ngugemi Budaya Luhur Anggugah Prestasi Pinunjul” mengandung makna yang mendalam bagi para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 4 Gamping. Dalam bahasa Jawa, ngugemi berarti memegang teguh atau menjunjung tinggi, budaya luhur berarti nilai-nilai budaya yang mulia, anggugah berarti membangkitkan atau menggerakkan, sedangkan prestasi pinunjul berarti prestasi yang unggul atau membanggakan.

“Secara keseluruhan, tema ini mengandung pesan bahwa keberhasilan dan prestasi yang tinggi harus dibangun di atas fondasi karakter, etika, dan nilai-nilai budaya yang baik,” terang Ernawati.

Para lulusan diharapkan mampu membawa identitas dan karakter positif yang telah ditanamkan selama belajar di sekolah. Dengan tetap memegang teguh budaya luhur, mereka diharapkan dapat meraih prestasi yang lebih tinggi, menjadi generasi yang berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara tanpa kehilangan jati diri sebagai insan yang berbudaya.

Acara dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni dan budaya yang ditampilkan oleh para siswa. Penampilan tersebut menjadi wujud nyata implementasi tema kegiatan sekaligus menunjukkan bahwa sekolah mengembangkan kemampuan akademik, sekaligus memberikan ruang bagi penguatan bakat, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Melalui kegiatan Wiwaha Purna Siswa Tahun Pelajaran 2025/2026, SMP Negeri 4 Gamping berharap para lulusan mampu menjadi generasi yang berkarakter, berbudaya, dan berprestasi. Semangat untuk menjaga budaya luhur serta terus mengukir prestasi diharapkan dapat menjadi bekal dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, masyarakat, maupun bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Polda DIY Gelar Pembinaan FKPM di Donoharjo, Tekankan Peran Mediasi dan Pencegahan Konflik

Sleman – Direktorat Binmas Polda DIY menggelar kegiatan Pembinaan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) serta silaturahmi kamtibmas di Aula Kalurahan Donoharjo, Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini menegaskan pentingnya peran FKPM sebagai wadah penyelesaian masalah dan pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat lokal.

Acara tersebut diikuti unsur pemerintah kalurahan, FKPM, Destana, Relawan Donoharjo, Jaga Warga, Linmas, PKK, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Kasat Binmas Polresta Sleman, AKP Sugiyanto, menjelaskan bahwa FKPM memiliki dua fungsi utama, yakni problem solving dan penyelesaian perkara. Problem solving dilakukan sebelum suatu persoalan berkembang menjadi perkara hukum, sedangkan penyelesaian perkara dilakukan setelah terjadi konflik di masyarakat.

“Untuk memecahkan masalah, kita harus memahami situasi yang ada. Misalnya pada musim kemarau, air sering menjadi sumber persoalan di kalangan petani. Agar tidak terjadi perebutan air, perlu ada pengaturan atau jadwal penggunaan yang disepakati bersama,” ujarnya.

Apabila suatu persoalan tidak dapat diselesaikan di tingkat masyarakat, maka dapat diteruskan secara berjenjang melalui perangkat yang ada. Misalnya, persoalan penerangan lingkungan dapat disampaikan terlebih dahulu kepada ketua RT untuk kemudian dicarikan solusi bersama.

Bhabinkamtibmas dapat membantu proses mediasi untuk perkara ringan, yakni dengan ancaman hukuman di bawah tiga bulan atau kerugian materi di bawah Rp2,5 juta. Namun, penyelesaian melalui mediasi harus menghasilkan kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak.

AKP Sugiyanto juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat melalui kegiatan patroli lingkungan. Salah satu kunci patroli adalah memperhatikan perubahan dari kondisi atau kebiasaan yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Jika ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, maka hal tersebut perlu diwaspadai dan menjadi perhatian bersama,” katanya.

Sementara itu, Direktur Binmas Polda DIY, Kombes Pol Bagiyo Hadi Kurnianto, mengajak keluarga untuk lebih aktif dalam mengawasi dan membimbing anak-anak. Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Perhatian dan pengawasan keluarga sangat penting. Keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk karakter anak sekaligus benteng utama dalam mencegah berbagai permasalahan sosial,” ujarnya.

Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai perubahan sosial yang cepat menuntut pemerintah kalurahan dan masyarakat untuk terus beradaptasi dalam menjaga ketertiban umum.

Ia berharap pengetahuan dan pengalaman dari pembinaan FKPM dapat diterapkan di masyarakat, sehingga visi Donoharjo sebagai “Sri Taman Sri Gunung” dapat terwujud melalui sinergi antara pemerintah, kepolisian, dan warga. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)