Ketua TP PKK Moyudan Berganti, Tekankan Sinergi dan Penguatan Program

Sleman – Kapanewon Moyudan menggelar pisah sambut Panewu sekaligus pelantikan Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kapanewon Moyudan, Selasa (9/6/2026) di Pendapa Kapanewon Moyudan.

Acara diawali dengan serah terima jabatan Ketua TP PKK dari Siti Nurhayati kepada Angelia Dewi Candra. Penandatanganan berita acara disaksikan oleh Panewu Moyudan Muhammad Arif Rahman, jajaran Forkopimkap, perangkat daerah Pemkab Sleman, para lurah se-Moyudan, serta Ketua TP PKK kalurahan.

Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya, menyampaikan apresiasi kepada Siti Nurhayati atas dedikasi selama menjabat.

“Pergantian kepemimpinan itu sunatullah. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Siti Nurhayati atas dedikasi dan kerja kerasnya. Program PKK tidak akan berjalan sukses tanpa komitmen beliau,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pelantikan tersebut menjadi awal tanggung jawab baru bagi Ketua TP PKK terlantik. “TP PKK merupakan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan keluarga sejahtera,” tambahnya.

Kepada Ketua TP PKK terlantik, Angelia Dewi Candra, Parmilah berpesan agar memperkuat komunikasi internal, menyinergikan program kerja, serta turun langsung ke masyarakat.

“Segera jalin komunikasi yang solid dengan pengurus dan TP PKK kalurahan. Kekompakan tim adalah kunci,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinkronisasi program PKK dengan program Kapanewon Moyudan dan Pemkab Sleman, serta fokus pada isu-isu strategis masyarakat.

“Selain itu, lakukan pendekatan langsung ke masyarakat untuk menggali aspirasi serta menghidupkan dasa wisma sebagai ujung tombak gerakan PKK,” imbuhnya.

Parmilah juga meminta Panewu Moyudan selaku pembina TP PKK untuk terus memberikan dukungan dan pembinaan berkelanjutan.

“Selamat bertugas kepada Ibu Angelia Dewi Candra. Semoga TP PKK Moyudan semakin maju dan memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Giek / KIM Moyudan)




FGD Balai Budaya Gambiran Bahas Ketahanan Energi dan Pangan

Sleman – Ketahanan energi dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. Pemanfaatan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan juga menjadi langkah strategis dalam menjaga kelestarian alam di tengah berbagai tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan energi nasional.

Pandangan tersebut disampaikan pegiat pertanian terpadu dari Godean, Sleman, Agus Wibawa, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Balai Budaya Gambiran, Yogyakarta, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, serta pelaku usaha yang memiliki perhatian terhadap isu energi dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Agus Wibawa menjelaskan bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan energi, mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, distribusi, hingga pemasaran. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan energi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pembangunan ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi akibat fluktuasi harga dan keterbatasan sumber daya. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mulai mengembangkan dan memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti energi surya, biogas, biomassa, maupun energi berbasis limbah pertanian.

Agus menuturkan bahwa penerapan energi terbarukan di sektor pertanian tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Limbah peternakan dan pertanian yang selama ini dianggap sebagai masalah dapat diolah menjadi sumber energi produktif yang mendukung kegiatan usaha masyarakat secara berkelanjutan, serta mengatasi krisis energi.

“Krisis energi bukan sekadar listrik padam, itu adalah awal dari krisis pangan, ekonomi, dan sosial. Jika listrik padam selama beberapa hari, maka pompa air berhenti dan jutaan warga tak dapat air bersih. UMKM dan e-commerce lumpuh total karena internet terputus. Distribusi pangan macet sehingga harga kebutuhan pokok melonjak. SPBU terganggu yang mengakibatkan distribusi BBM kacau dan antrean panjang. Yang paling ekstrim yaitu rumah sakit terdampak karena alat medis mati dan nyawa manusia terancam,” jelasnya di hadapan peserta FGD.

Lebih lanjut, Agus menerangkan konsep model desa mandiri energi dan pangan dalam satu kawasan sebagai konsep pembangunan desa yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, energi terbarukan, pengelolaan air, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam sebuah sistem yang saling mendukung. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi masyarakat secara mandiri dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan.

“Dalam model ini, lahan pertanian menjadi pusat produksi pangan, sementara limbah pertanian dan peternakan dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi. Kotoran ternak, misalnya, diolah menjadi biogas untuk kebutuhan memasak, penerangan, atau penggerak mesin pertanian. Sisa olahan biogas berupa slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dikembalikan ke lahan pertanian sehingga tercipta siklus ekonomi sirkular tanpa banyak limbah yang terbuang,” bebernya.

Selain biogas, desa juga dapat mengembangkan energi surya melalui pemasangan panel surya untuk mendukung operasional pompa air, penerangan fasilitas umum, rumah produksi, hingga usaha mikro masyarakat. Dengan demikian, biaya energi dapat ditekan dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil semakin berkurang.

Pengelolaan air menjadi bagian penting dalam model ini. Air hujan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk irigasi, kebutuhan ternak, maupun budidaya ikan. Penggunaan teknologi hemat air dan konservasi lingkungan juga membantu menjaga keberlanjutan sumber daya alam dalam jangka panjang.

Peserta FGD menyambut positif gagasan yang disampaikan Agus Wibawa. Mereka menilai bahwa penguatan literasi energi terbarukan perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin memahami manfaat dan peluang pengembangan energi bersih sebagai bagian dari pembangunan desa dan pemberdayaan ekonomi lokal.

“Konsep ini sejalan dengan prinsip pembangunan hijau dan ekonomi sirkular, di mana seluruh potensi desa dimanfaatkan secara terpadu untuk menghasilkan pangan, energi, dan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan,” tandasnya.

Melalui forum diskusi tersebut, Agus berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan energi terbarukan. Dengan ketahanan energi yang kokoh, ketahanan pangan dapat diperkuat, kemandirian ekonomi masyarakat dapat diwujudkan, serta kelestarian lingkungan tetap terjaga sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Hama Tikus Jadi Salah Satu Ancaman Petani Tempel Jelang Musim Kemarau

Sleman – Menjelang musim kemarau, hama tikus menjadi salah satu ancaman yang dikhawatirkan petani di wilayah Tempel, Sleman. Hal tersebut disampaikan oleh Purwanto, Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), saat ditemui di Padukuhan Karanglo, Pondokrejo, Tempel, Sleman, Senin (8/6/2026).

“Yang saya khawatirkan menjelang musim kemarau ini adalah hama tikus,” kata Purwanto.

Ia menambahkan perlunya sosialisasi metode penanganan hama tikus menggunakan Trapped Barrier System (TBS) agar masyarakat lebih siap menghadapi serangan hama di lapangan.

“Perlu disosialisasikan metode menangkap tikus dengan metode TBS, sehingga andaikata tikus mengganas warga sudah paham caranya,” ujarnya.

Menurutnya, TBS merupakan sistem perangkap tikus yang bekerja dengan cara mengarahkan tikus masuk ke dalam jebakan sehingga tidak dapat keluar. Metode ini dinilai efektif, ramah lingkungan, mudah diterapkan petani, serta memiliki biaya yang relatif ringan.

Peralatan yang digunakan meliputi terpal panjang dengan lebar sekitar satu meter sebagai pengarah pergerakan tikus, sejumlah perangkap tikus, serta lahan sawah dengan tanaman setengah tua yang disukai tikus sebagai umpan.

Lahan umpan yang telah dipilih kemudian dikelilingi terpal yang tidak dapat dipanjat oleh tikus. Seluruh celah ditutup rapat, namun pada beberapa sisi disediakan lubang sebagai jalur masuk yang di bagian dalamnya dipasang perangkap. Tikus yang bergerak di sepanjang terpal akan mencari jalan masuk, hingga akhirnya terperangkap dan tidak dapat keluar.

Perangkap perlu diperiksa setiap pagi untuk memastikan tikus yang tertangkap segera dimusnahkan.

“Bila gangguan sudah reda, peralatan bisa dipindahkan ke tempat lain sampai kondisi benar-benar terkendali,” kata Purwanto. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Pisah Sambut Panewu Moyudan: Kolaborasi Jadi Kunci Pembangunan Wilayah

Sleman – Pendapa Kapanewon Moyudan menjadi saksi estafet kepemimpinan dalam acara pisah sambut Panewu lama dan baru yang digelar pada Selasa (9/6/2026). Agung Dwi Maryoto resmi berpamitan setelah satu tahun menjabat sebagai Panewu Moyudan. Ia kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman.

Tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Muhammad Arif Rahman, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Dinas Kominfo Sleman.

Dalam sambutannya, Agung mengaku masih memiliki keterbatasan dalam masa tugasnya. Namun, ia menegaskan telah berupaya maksimal melalui kolaborasi dengan delapan perguruan tinggi di Yogyakarta dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Hasilnya, angka stunting di Moyudan berhasil turun menjadi 3,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata Kabupaten Sleman sebesar 4,5 persen. Di sektor pengelolaan sampah, ia juga menggandeng Pokja 3 PKK, Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S), serta Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

“Kolaborasi menjadi kunci utama kami,” ujarnya.

Di samping itu, ada dua program unggulan selama masa kepemimpinannya yakni rencana graduasi 65 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH pada Agustus 2026, serta peluncuran layanan MATA BERLIAN (Mari Kita Bersama Lindungi Anak dan Perempuan) sebagai sarana pelaporan dan perlindungan masyarakat.

“Harapan saya, di bawah kepemimpinan Pak Arif, Moyudan semakin maju dan masyarakatnya semakin berdaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Muhammad Arif Rahman resmi menjabat Panewu Moyudan sejak 2 Juni 2026. Ia menyampaikan bahwa amanah yang diembannya cukup besar dan membutuhkan dukungan semua pihak.

“Amanah dari Bupati dan Pemkab Sleman ini berat. Tanpa dukungan Bapak/Ibu Lurah, Kapolsek, Danramil, serta seluruh warga, saya tidak berarti apa-apa. Dengan Bismillah, saya berupaya melanjutkan. Mungkin ada perbedaan gaya, tetapi tujuannya tetap sama, yakni Moyudan yang lebih baik,” katanya.

Kepala Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Agung Darmawan, turut mengapresiasi dedikasi Panewu sebelumnya. Ia juga menyampaikan tiga harapan kepada Panewu baru, yakni memperkuat Kapanewon yang agamis, menguatkan sektor agraris, serta mengembangkan potensi lokal.

“Moyudan dikenal sebagai wilayah religius, sehingga diharapkan masjid-masjid semakin ramai, terutama oleh generasi muda. Selain itu, hamparan sawah yang luas harus menjadi penopang ekonomi warga. Potensi wisata dan UMKM, termasuk lurik Moyudan, juga perlu terus dikembangkan agar mampu menembus pasar nasional bahkan internasional,” pungkasnya. (Giek / KIM Moyudan)




Dedikasi Tanpa Batas Purwanto, Penyuluh Pertanian Tempel Sleman

Sleman – Bagi sebagian orang, jam kerja berakhir ketika kantor tutup. Namun tidak demikian bagi Purwanto (54 tahun), seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas mendampingi petani di Kalurahan Lumbungrejo dan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Sleman.

“Pertanian tidak mengenal hari libur maupun batas waktu”, katanya saat ditemui di sebuah dangau (bangunan sederhana yang biasanya didirikan di sawah) di dusun Karanglo, pada Senin (8/6/2026).

“Pertemuan kelompok tani tidak mengenal hari libur. Sedangkan masalah pertanian bisa muncul setiap saat, karenanya saya harus selalu siap melayani petani 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu,” tandas Purwanto.

Sebagai PPL yang mendapat tugas di Kalurahan Lumbungrejo dan Pondokrejo, Purwanto menjadi ujung tombak pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian. Tugasnya tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menjadi pendamping, penghubung, sekaligus mitra para petani dalam menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Salah satu hal yang kerap dilupakan petani adalah menanam satu jenis tanaman secara terus-menerus karena tergiur hasil yang baik. Oleh karena itu, Purwanto sering mengingatkan petani untuk menerapkan pola tanam bergilir dengan jenis tanaman lain agar siklus hidup hama dapat terputus sehingga serangannya lebih mudah dikendalikan.

Dengan pengalaman luas sejak tahun 2018 sebagai petugas PPL, Purwanto mampu menjelaskan teknik pertanian yang baik, penggunaan bibit unggul yang lebih tahan penyakit, anjuran pemakaian pupuk nonkimia, serta pengendalian hama tanaman yang ramah lingkungan.  

“Yang paling membahagiakan adalah ketika petani mau mencoba apa yang kita sampaikan, lalu hasilnya berhasil dan produksinya meningkat,” ujarnya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)