Lestarikan Warisan UNESCO, Pegiat Budaya Sleman Gelar Workshop Jamasan Pusaka Keris untuk Generasi Muda

Sleman – Pengakuan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak tahun 2005 menjadi alarm penting bahwa senjata tradisional ini bukan sekadar benda kuno murni, melainkan mahakarya budaya yang memadukan seni, teknologi tempa, dan filosofi mendalam. Guna menjaga kelestariannya dari korosi waktu, Pemerintah Kalurahan Margorejo menggelar Workshop Jamasan Pusaka di Joglo Singodikoro, Situs Cagar Budaya Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Minggu (28/6/2026).
Agenda edukatif ini dihadiri langsung oleh Lurah Margorejo Abdul Aziz Muh Ridwan, perwakilan Satria Tama Kabupaten Magelang Projo Wijoyo, serta puluhan pencinta keris, pemerhati sejarah, dan masyarakat umum. Kegiatan ini sengaja difokuskan untuk mengikis stigma mistis dan mendekatkan nilai luhur pusaka nusantara kepada generasi muda melalui pendekatan sains yang logis.
Narasumber utama workshop, Hari Wibowo, menjelaskan secara rinci bahwa sebilah keris secara ilmiah tersusun dari material besi dan baja yang rentan mengalami proses oksidasi atau pengaratan. Tanpa adanya teknik perawatan yang presisi dan rutin, karat tersebut lambat laun akan merusak detail bilah dan melenyapkan nilai historis yang terkandung di dalamnya.
“Keris adalah hasil kerja keras seorang empu. Bilahnya besi telah melalui proses tempa berulang-ulang, dengan melipat logam berkali-kali hingga menghasilkan struktur yang kuat sekaligus indah. Pada beberapa keris kuno, digunakan campuran batu meteor yang mengandung nikel sehingga membentuk pamor, yaitu motif alami tanpa diukir pada permukaan bilah yang menjadi ciri khas setiap keris,” ujar Hari Wibowo di hadapan para peserta.
Hari juga mengajak masyarakat, terutama generasi Z dan milenial, untuk membedah anatomi keris menggunakan kacamata fisika dan metalurgi. Proses penempaan lipat yang dilakukan para empu zaman dahulu membuktikan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menguasai rekayasa material, kontrol suhu tinggi, dan penguatan logam jauh sebelum teknologi modern masuk. Pendekatan rasional inilah yang dinilai lebih mudah diterima oleh anak muda, dan ia mengaku bangga karena saat ini mulai banyak remaja yang berani mengoleksi keris sebagai benda seni tinggi.
Dalam sesi inti, para peserta diajak menyaksikan langsung demonstrasi prosesi jamasan atau pembersihan keris secara runut. Tahap pertama dimulai dengan merendam bilah keris ke dalam air kelapa hijau guna melunakkan kerak karat yang membandel. Setelah disikat bersih hingga logam kembali berwarna putih keperakan, bilah tersebut diolesi cairan warangan (arsenik) agar guratan motif pamor nikel muncul secara kontras. Prosesi ditutup dengan pengolesan minyak alami wangi untuk mengunci pori-pori besi dari kelembapan udara.
Tidak hanya diajarkan formula merawat fisik logam, para peserta juga dibekali pemahaman mengenai tata krama (unggah-ungguh) memperlakukan pusaka, mulai dari teknik memegang, menghunus dari warangka, hingga cara menyandang keris di pinggang pada waktu dan tempat tertentu. Edukasi etika ini dinilai menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal agar generasi penerus memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap peradaban leluhurnya sendiri. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)



