Antisipasi Kemarau Kering Akibat El Nino, Petani Wanita di Tempel Sleman Diimbau Alihkan Pola Tanam

Sleman — Ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim ekstrem menuntut langkah mitigasi yang cepat dan terukur dari sektor hulu pertanian perdesaan. Menghadapi draf prediksi cuaca ekstrem yang dirilis otoritas meteorologi, para petani wanita yang bergerak di sektor pertanian domestik diminta segera mengubah strategi pengelolaan air dan pola tanam guna menyelamatkan komoditas pangan dari risiko gagal panen.

Langkah antisipatif tersebut mencuat dalam agenda pertemuan bulanan rutin yang mempertemukan puluhan pelaku usaha tani perempuan di rumah Dukuh Krasakan, Padukuhan Krasakan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026). Dalam forum sirkular tersebut, jajaran pendamping lapangan memberikan draf peringatan dini mengenai datangnya gelombang musim kemarau kering yang diproyeksikan akan melanda sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kalurahan Lumbungrejo, Purwanto, menjelaskan bahwa fenomena iklim El Nino tahun ini diduga kuat akan memicu draf penurunan curah hujan secara drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian jika para petani tetap memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan pasokan air tinggi seperti padi sawah.

“Kami mengimbau dengan sangat agar seluruh anggota wanita tani segera melakukan langkah-langkah darurat, mulai dari optimalisasi penampungan air mandiri, pengetatan penghematan penggunaan air irigasi, hingga draf pengalihan pemilihan jenis tanaman yang jauh lebih tahan terhadap cuaca kering seperti palawija atau hortikultura berumur pendek. Selain masalah pasokan air, kondisi suhu yang panas pada kemarau kering ini sangat berpotensi memicu ledakan populasi hama wereng dan serangan hama tikus. Upaya pencegahan organisme pengganggu tanaman ini wajib dieksekusi secara serentak bersama dengan padukuhan lain melalui koordinasi lapangan yang solid agar penanganannya tidak parsial,” ujar Purwanto di hadapan anggota kelompok tani.

Di sisi lain, penguatan kelembagaan lokal dinilai bertransformasi menjadi draf benteng pertahanan utama dalam menjaga stabilitas pangan keluarga terlepas dari dinamika cuaca. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Lemah Teles, Nurhayati, merespons draf peringatan tersebut dengan mengajak seluruh anggotanya yang berjumlah 25 orang untuk memperketat draf pengawasan kebun produktif mereka melalui penerapan teknologi pertanian modern yang efisien.

Nurhayati memaparkan bahwa selama ini kelompoknya telah dibekali pelbagai pengetahuan praktis dan inovasi agraria hasil kolaborasi sirkular dengan para akademisi perguruan tinggi, mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN), serta pendamping PPL. Selain memaksimalkan draf pemanfaatan pekarangan rumah masing-masing untuk penanaman sayuran organik, KWT Lemah Teles juga aktif mengelola hamparan kebun komunal yang memanfaatkan lahan milik Kas Desa melalui draf fasilitasi bantuan benih, pupuk biologis, dan obat-obatan dari pemerintah.

“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat peran kaum perempuan di sektor domestik agar mampu menjadi draf penyokong utama ketahanan pangan keluarga sekaligus penggerak kesejahteraan ekonomi anggota. Pertemuan rutin setiap tanggal delapan ini bukan sekadar sarana silaturahmi biasa, melainkan wadah pemberdayaan riil untuk meng-upgrade keterampilan bertani kami. Menghadapi tantangan kemarau kering ini, kami akan segera merumuskan draf jadwal piket penyiraman berbasis pupuk organik cair agar kebun komunal maupun tanaman pekarangan warga tetap produktif menghasilkan draf sayuran segar bernilai jual,” kata Nurhayati menegaskan strategi kelompoknya.

Sinergi yang ditunjukkan oleh KWT Lemah Teles di Tempel ini menjadi draf potret nyata mengenai pentingnya keterlibatan gender dalam mitigasi bencana kelaparan dan inflasi komoditas pokok di tingkat daerah. Kemandirian pangan berbasis pekarangan diposisikan sebagai jaring pengaman sosial yang efektif untuk mengamankan draf pasokan nutrisi warga Sleman di tengah fluktuasi iklim global yang kian tidak menentu. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Tekan Kriminalitas Jalanan, Bhabinkamtibmas Condongcatur Sleman Intensifkan Sambang Kamling Bersama Warga

Sleman — Akselerasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat di kawasan urban menuntut pola pendekatan yang lebih interaktif dan humanis dari aparat penegak hukum. Mengantisipasi potensi kerawanan sosial dan tindak kriminalitas malam hari, jajaran Bhabinkamtibmas Kalurahan Condongcatur mengintensifkan draf operasi sambang kamling defensif di wilayah binaannya guna mempertegas fungsi sistem keamanan lingkungan.

Langkah preventif kolektif tersebut direalisasikan melalui kegiatan dialog kamtibmas yang dipusatkan di Joglo Suratno RW 45 Kayen, Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026) malam hingga dini hari. Berbeda dengan aktivitas patroli pos ronda konvensional, agenda sirkular yang diinisiasi oleh Polsek Depok Timur ini sengaja memanfaatkan ruang pertemuan warga yang representatif agar mampu memobilisasi atensi masyarakat secara meluas. Terbukti, sebanyak 29 warga setempat antusias memadati lokasi lesehan pasca-melakukan draf tradisi pengambilan koin jimpitan ronda harian.

Anggota Bhabinkamtibmas Condongcatur, Bastian Sapta Adhy, menegaskan bahwa benteng pertahanan paling kokoh dalam memitigasi draf kejahatan konvensional 3C, yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), berada pada tingkat kepedulian rukun warga. Sinergi sirkular antara pemasangan kamera pengawas (CCTV), optimalisasi lampu penerangan jalan, serta tertib penguncian ganda pada kendaraan bermotor wajib dieksekusi secara disiplin oleh warga domestik.

“Kami menekankan bahwa pemeliharaan keamanan lingkungan yang hakiki sama sekali tidak bisa jika hanya bertumpu pada draf patroli dinas kepolisian yang jumlah personelnya terbatas. Peran aktif masyarakat melalui konsistensi ronda malam, kepekaan terhadap kehadiran orang asing, serta komunikasi sirkular antar-tetangga merupakan kunci utama dalam memutus draf niat dan kesempatan para pelaku kejahatan. Selain itu, kami memberikan perhatian khusus pada draf perlindungan anak demi menekan eskalasi kenakalan remaja dan kejahatan jalanan,” ujar Bastian Sapta Adhy di hadapan kelompok ronda malam.

Terkait maraknya fenomena geng motor dan draf gangguan ketertiban remaja, Bastian meminta para orang tua memperketat draf jam malam anak sesuai dengan mandat Peraturan Bupati Sleman Nomor 45 Tahun 2020 tentang Jam Rumah/Jam Istirahat Anak. Langkah hukum ini juga disinkronisasikan secara ketat dengan Program Gerakan Ibu Memanggil yang diinisiasi langsung oleh Kapolda DIY, di mana seluruh anak berusia di bawah 18 tahun wajib sudah berada di dalam rumah paling lambat pukul WIB guna menghindari draf risiko korban maupun pelaku kriminalitas jalanan.

Di sisi lain, potensi terjadinya gesekan sosial dan tindakan anarkis warga di lapangan saat mengamankan terduga pelaku pidana turut diantisipasi oleh kepolisian. Anggota Bhabinkamtibmas Condongcatur lainnya, Bagiyo, melarang keras adanya aksi persekusi atau penghakiman massa secara sepihak yang kerap mencederai draf penegakan hukum nasional dan berisiko memunculkan tuntutan pidana baru bagi warga.

“Apabila dalam pelaksanaan ronda malam warga mendapati atau berhasil mengamankan seseorang yang tertangkap tangan melakukan draf tindak kejahatan, kami meminta dengan sangat agar jangan sampai terjadi tindakan kekerasan fisik atau penganiayaan. Segera lokalisir pelaku dan langsung hubungi Bhabinkamtibmas, Babinsa, mapolsek terdekat, atau manfaatkan layanan Call Center Polri 110 agar draf penanganan perkara dapat dieksekusi secara cepat dan presisi sesuai prosedur hukum yang berlaku di tanah air,” kata Bagiyo memberikan draf edukasi hukum pidana.

Melalui ruang dialog dua arah yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat setempat, Sukirman, warga secara aktif menguraikan pelbagai draf dinamika kerawanan lokal serta peta jalur pelarian yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan di kawasan Kayen. Penguatan kemitraan sirkular yang ditutup dengan makan malam bersama ini diharapkan mampu mengkonsolidasikan ketahanan lingkungan Condongcatur secara komprehensif, sekaligus menghadirkan ruang publik yang aman, tertib, dan bebas dari ancaman teror kriminalitas demi kenyamanan masyarakat Sleman. (Wasana/KIM Depok)




Kalurahan Sinduadi Sleman Jadi Model Percontohan Nasional Kolaborasi BUMDes dan KDMP

Sleman — Langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi perdesaan melalui integrasi kelembagaan lokal mulai memasuki babak baru di tingkat nasional. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia membidik Pemerintah Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, sebagai lokus rujukan utama dalam penyusunan Naskah Akademik Kebijakan serta Pedoman Kolaborasi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Guna mengeksplorasi ekosistem bisnis hulu-hilir di tingkat tapak tersebut, tim ahli dari Syncore Indonesia selaku lembaga yang ditunjuk resmi oleh kementerian melakukan kunjungan lapangan dan draf diskusi mendalam di kantor kalurahan setempat pada Senin (8/6/2026). Kehadiran tim perumus kebijakan makro ini disambut langsung oleh Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, bersama Carik Sinduadi, Fendy Ramadhan, serta jajaran direksi pelaksana dari Ketua BUMKal Puji Utama dan Ketua KDMP Kliwon Suherman.

Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, mengibaratkan keberadaan BUMDes dan KDMP di wilayahnya seperti dua pilar kembar yang harus terus dibimbing secara beriringan agar mampu melahirkan efek domino yang positif bagi kesejahteraan warga. Sinergi operasional antara entitas milik desa dan badan usaha koperasi dinilai memiliki ruang yang sangat luas, terutama dalam draf pemotongan rantai distribusi logistik dan perluasan pasar produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Kami memandang kedua lembaga ekonomi ini memiliki draf peluang yang sangat besar untuk saling menyokong satu sama lain. Apabila seluruh pelaku UMKM lokal kita diberikan draf akses untuk menyuplai produk unggulannya secara langsung ke jaringan gerai KDMP, tentu hal tersebut akan melahirkan perputaran omzet yang jauh lebih masif bagi perekonomian warga. Di sisi lain, BUMKal Sinduadi saat ini juga mengelola draf unit usaha yang beragam, mulai dari pasar desa, manajemen perparkiran, kompleks greenhouse, Pertashop, hingga lini ritel Warung Kinasih yang semuanya terus dikembangkan demi mendongkrak pendapatan asli kalurahan,” ujar Senen Haryanto saat memaparkan profil bisnis desa di hadapan tim ahli.

Senen menambahkan, draf integrasi ini juga memungkinkan optimalisasi sektor jasa komersial lokal seperti bisnis rumah kos di kawasan urban Sinduadi agar dapat dipromosikan secara digital melalui ekosistem layanan gerai KDMP yang telah memiliki jaringan infrastruktur lengkap. Carik Sinduadi, Fendy Ramadhan, turut menaruh draf harapan besar agar hasil kajian akademis ini lekas disahkan menjadi draf regulasi nasional yang aplikatif sehingga mampu mengakhiri ego sektoral kelembagaan di tingkat desa.

Ketua Tim Syncore Indonesia, Wiratama, memaparkan analisisnya bahwa BUMDes dan Koperasi merupakan dua kekuatan ekonomi determinan yang memegang mandat konstitusi untuk menggerakkan potensi lokal. Kendati memiliki irisan ruang lingkup usaha yang senada pada aspek produksi, distribusi barang, pembiayaan modal, hingga skema pemasaran, dalam realitasnya masih sering dijumpai pelbagai benturan regulasi dan operasional di lapangan.

“Tantangan klasik yang kami temukan di berbagai wilayah tanah air adalah belum tersedianya draf pola kolaborasi yang terstruktur, adanya potensi tumpang tindih jenis usaha yang memicu gesekan, keterbatasan payung hukum regulasi, hingga lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola integrasi rantai nilai ekonomi desa. Oleh sebab itu, draf Naskah Akademik dan Pedoman Kolaborasi ini dirumuskan secara khusus agar menjadi dasar kebijakan nasional yang kuat. Kunjungan ke Sinduadi ini sangat penting untuk menggali draf praktik baik (good practices) dan model pengelolaan unit usaha desa yang sukses agar nantinya dapat direplikasi secara massal oleh ribuan desa lain di Indonesia,” kata Wiratama menjelaskan urgensi riset lapangannya.

Melalui draf diskusi yang berlangsung interaktif tersebut, jajaran pamong kalurahan bersama pengurus BUMKal dan KDMP memberikan pelbagai draf masukan krusial terkait hambatan birokrasi riil yang dihadapi pengelola usaha sirkular desa. Data primer dan draf rekomendasi dari pinggiran Sleman ini diposisikan sebagai instrumen vital dalam penyusunan draf final pedoman kementerian, guna memastikan produk kebijakan yang dilahirkan kelak benar-benar bersifat membumi, adaptif, serta mampu mendorong kemandirian fiskal desa secara komprehensif menuju Indonesia Emas. (Edy/KIM Pijar Mlati)




Garda Terdepan Pengolahan Limbah, Pemuda SESAMA Mandungan Sleman Raih Stimulan Sarpras dari Kalurahan

Sleman — Keterlibatan aktif generasi muda dalam mengurai sengkarut kedaruratan sampah di tingkat tapak terus mendapat draf dukungan stimulus finansial dari jajaran birokrasi perdesaan. Menyadari krusialnya modernisasi fasilitas pengolahan limbah domestik, Pemerintah Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, secara resmi mengucurkan bantuan dana stimulan pengadaan sarana dan prasarana (sarpras) kepada Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) SESAMA atau Sedekah Sampah Mandungan 1.

Langkah taktis intervensi anggaran ini diumumkan langsung di sela-sela agenda Pembinaan dan Pelatihan Pengelolaan Sampah yang berlangsung khidmat di Serambi Masjid Al Hidayah Mandungan I pada Minggu (7/6/2026). Forum edukasi sirkular tersebut dihadiri oleh puluhan pengurus SESAMA yang mayoritas diisi oleh jajaran pemuda progresif, pengurus Kelompok Wanita Tani (KWT), serta Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kalurahan Margoluwih.

Ulu-Ulu Kalurahan Margoluwih, Sutikno, memaparkan bahwa draf kucuran bantuan dana stimulan senilai Rp5 juta tersebut dialokasikan khusus untuk memperkuat infrastruktur hulu pemilahan sampah di area pemukiman warga. Fasilitas penunjang yang memadai dinilai bertransformasi menjadi draf pengungkit semangat bagi para pemuda agar konsisten melakukan pembersihan dan pelestarian lingkungan padukuhan.

“Kami dari pemerintah kalurahan berharap dengan adanya draf stimulan finansial untuk pengadaan sarpras baru ini, kelompok SESAMA semakin bersemangat dan berdaya dalam mengatasi persoalan residu sampah langsung dari sumbernya di Padukuhan Mandungan I. Gerakan pemuda tangguh ini harus mampu bertransformasi menjadi draf percontohan konkret (role model) yang menginspirasi padukuhan dan wilayah lain di Sleman agar tidak lagi membuang sampah sembarangan,” ujar Sutikno saat menyerahkan draf komitmen bantuan secara simbolis.

Kelebihan komposisi kepengurusan SESAMA yang didominasi oleh kelompok pemuda mendapat sorotan positif dari otoritas pendamping lapangan. Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah Kalurahan Margoluwih, Suminah, mendorong kelompok ini agar menjadi motor penggerak migrasi perilaku masyarakat dari pola buang konvensional menuju pola pilah sirkular. Karakteristik pemuda yang adaptif terhadap teknologi dinilai sangat kompatibel untuk menyukseskan program SIOSESTU, yaitu sebuah sistem digitalisasi pendataan volume sampah berbasis platform web.

Melengkapi dimensi teknis pelatihan, Praktisi Pengelolaan Sampah sekaligus P3S Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus Raharjo, hadir mengupas tuntas teknik pemanfaatan limbah sirkular bernilai ekonomi tinggi. Ia memberikan draf penilaian bahwa struktur kelembagaan pengolahan sampah di Mandungan I sudah berada pada jalur yang sangat mapan dan siap naik kelas ke skala semi-industri.

“Kelembagaan SESAMA ini sudah terbentuk dengan draf tata kelola yang mapan, dan ketersediaan sarana prasarananya pun kini semakin memadai pasca-stimulan. Langkah strategis berikutnya adalah bagaimana ke depan kelompok pemuda ini bisa segera mengeksekusi pembangunan Rumpiah atau Rumah Pilah Sampah yang representatif melalui skema hibah dana lanjutan dari kalurahan. Masyarakat juga harus mulai memasifkan metode pengelolaan sampah organik menggunakan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, seperti metode jugangan modern, penanaman lubang biopori, biopot, losida, hingga optimalisasi tabung komposter,” kata Sutarto Agus Raharjo menjabarkan opsi teknis penanganan limbah organik dapur.

Sutarto menegaskan, penyelesaian problem sampah perkotaan maupun perdesaan tidak akan pernah berhasil jika hanya mengandalkan kerja sepihak dari aparatur sipil. Penegasan peran kolektif sirkular antara warga selaku produsen sampah harian dengan instansi vertikal sebagai pembuat kebijakan mutlak diperlukan demi mewujudkan ketahanan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

“Kita semua yang berkumpul hari ini adalah pemangku kepentingan yang memikul tugas besar sebagai fasilitator sekaligus stimulator yang wajib bertindak sebagai agen perubahan perilaku di tengah masyarakat. Kita harus terus bersinergi dan berjalan beriringan dengan jajaran pemerintah yang memegang peran sentral sebagai regulator kebijakan di tingkat daerah,” ucap Sutarto memungkasi wejangannya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Bahaya Kecanduan Gawai Intai Anak Usia Dini, Orang Tua di Condongcatur Sleman Diminta Perketat Pengawasan

Sleman — Ancaman disrupsi teknologi digital terhadap tumbuh kembang anak pada fase usia emas kini menjadi perhatian serius para praktisi pendidikan dan pemangku kebijakan lokal. Menyadari besarnya dampak paparan layar gawai terhadap perkembangan otak dan mental anak, jajaran otoritas Kalurahan Condongcatur berkolaborasi dengan lembaga anak usia dini memperketat draf edukasi pola asuh bagi para orang tua murid.

Komitmen sirkular tersebut mengemuka dalam agenda pelepasan delapan peserta didik Satuan PAUD Sejenis (SPS) Asparagus Kentungan Tahun Ajaran 2025/2026 yang diselenggarakan di Waroeng Makan Mbah Suro, Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026). Acara yang dikonseptualisasikan bersama Kelompok Pertemuan Orang Tua (KPO) ini sengaja didesain bukan sekadar sebagai draf seremonial kelulusan biasa, melainkan dioptimalkan sebagai ruang advokasi pencegahan kecanduan gawai pada anak usia dini.

Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, dalam arahannya mengingatkan para wali murid mengenai bahaya laten pemberian akses gawai yang tidak terkontrol pada anak di bawah lima tahun. Ketergantungan pada layar gawai terbukti secara klinis mampu mereduksi kemampuan interaksi sosial, menghambat perkembangan bahasa, serta memicu keterlambatan motorik anak.

“Para orang tua wajib bersikap bijak dan tegas dalam membatasi serta memberikan akses gawai kepada anak-anak kita. Paparan visual gawai yang berlebihan dan tidak terkendali secara langsung dapat mengganggu fungsional perkembangan otak, menurunkan kemampuan bersosialisasi, menghambat perkembangan bahasa, serta merusak pelbagai aspek tumbuh kembang dasar lainnya. Masa usia dini adalah masa krusial yang sangat fundamental untuk membangun fondasi karakter asli anak, bukan waktunya membiarkan mereka asyik sendiri dengan layar digital,” ujar Al Thouvik Sofisalam di hadapan puluhan orang tua murid yang hadir.

Al Thouvik menekankan bahwa figur ayah dan ibu di dalam rumah bertindak sebagai model percontohan utama yang tindak-tanduknya akan ditiru secara mentah oleh sang anak. Ketika orang tua membiasakan diri menyodorkan gawai hanya demi menenangkan anak yang sedang rewel, maka draf kebiasaan buruk tersebut akan dinilai sebagai suatu hal yang wajar oleh anak. Ia mengajak para orang tua beralih menerapkan metode komunikasi sirkular yang hangat dengan menggunakan bahasa yang lembut dan penuh kasih sayang tanpa menggunakan nada tinggi atau instruksi yang membentak.

Senada dengan hal tersebut, Penilik PAUD Kapanewon Depok, Sih Ngatini, menggarisbawahi bahwa institusi keluarga merupakan draf laboratorium pendidikan pertama dan paling utama bagi anak. Fase pertumbuhan awal ini merupakan masa keemasan yang tidak akan pernah bisa diulang kembali di masa depan, sehingga mutlak membutuhkan atensi dan kehadiran fisik orang tua secara utuh.

“Masa usia dini merupakan golden age yang berjalan sangat singkat dan tidak akan terulang kembali dalam siklus hidup manusia. Pada fase inilah struktur karakter, tingkat kecerdasan emosional, serta ketangkasan sosial anak dibentuk secara permanen. Oleh karena itu, anak-anak kita sangat membutuhkan pendampingan riil, curahan perhatian, serta kasih sayang nyata dari orang tua di rumah, bukan sekadar ditemani oleh draf pengasuh elektronik berupa gawai,” kata Sih Ngatini menjabarkan dimensi psikologi anak.

Di sisi lain, Kepala SPS Asparagus Kentungan, Reni Lestari, memaparkan profil lembaga pendidikan yang dipimpinnya yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km 6,5 Kentungan. Saat ini sekolah tersebut menampung 18 peserta didik aktif, dengan visi besar membangun generasi Indonesia yang berkarakter santun, rukun, mandiri, dan berkebinekaan. Kendati bukan berstatus sebagai sekolah inklusi formal, lembaga ini memiliki komitmen kemanusiaan yang tinggi dengan tetap memberikan ruang layanan pendidikan yang ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Kami selalu berupaya menghadirkan kualitas layanan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada draf capaian akademik atau baca tulis hitung semata, melainkan menitikberatkan pada pembentukan kepribadian, kemandirian personal, dan ketangkasan sosial anak. Sinergi dan dukungan penuh dari orang tua melalui wadah KPO menjadi salah satu pilar kekuatan utama kami dalam mewujudkan draf tujuan mulia tersebut, termasuk dalam menyambut gelombang penerimaan tujuh siswa baru untuk tahun ajaran mendatang yang membuktikan meningkatnya draf kepercayaan publik,” ucap Reni Lestari memungkasi penjelasannya.

Rangkaian acara pelepasan ini ditutup dengan haru melalui pentas seni kreativitas yang menampilkan bakat gerak dan lagu dari para peserta didik, diikuti prosesi penyerahan tanda kelulusan serta sesi dokumentasi bersama. Melalui integrasi pembinaan ini, diharapkan para alumni SPS Asparagus Kentungan siap melanjutkan studi ke jenjang taman kanak-kanak dengan bekal karakter yang kuat, santun, serta memiliki imunitas sosial yang baik dalam menghadapi tantangan zaman. (Wasana/KIM Depok)