Atasi Krisis Air Bersih, SAH Banyu Bening Sleman Pasang Instalasi Lumbung Air Hujan di Pesantren Bogor

Sleman — Masalah keterbatasan akses air bersih dan air minum sehat di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan berskala besar terus memicu lahirnya kolaborasi taktis lintas provinsi. Guna menyudahi krisis sanitasi yang berdampak pada kesehatan para santri, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggandeng Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk menerapkan sistem kemandirian air berbasis pemanenan air hujan.

Langkah yang dilakukan oleh lembaga nirlaba asal Sleman ini menyasar pada pemanfaatan potensi air hujan yang selama ini terbuang percuma melalui atap-atap gedung asrama pesantren yang luas. Sebagai bentuk penyelesaian masalah secara langsung, tim teknis memelopori pemasangan inovasi teknologi terbarukan tahun 2026, yakni teknologi ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan yang dipadukan dengan mesin elektrolisa air di dalam kompleks pondok.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa intervensi teknologi tepat guna ini dilatarbelakangi oleh kondisi riil di lapangan di mana ratusan penghuni pesantren mengalami kendala pemenuhan hak dasar atas air. Minimnya pasokan air bersih yang higienis memicu munculnya gangguan kesehatan kulit dan masalah hidrasi tubuh yang mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar.

“Masalah utama di Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah yang menampung sekitar 500 santri dan 100 pengajar ini adalah akses air bersih, terutama untuk pemenuhan kebutuhan air minum harian yang layak konsumsi. Keterbatasan akses air bersih inilah yang selama ini menjadi kendala utama kesehatan para santri, sehingga mereka kerap mengalami dehidrasi dan penyakit gatal-gatal pada kulit. Air hujan merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dengan pengelolaan sains yang tepat, air hujan bisa menjadi alternatif utama sumber air bersih bahkan air minum massal,” ujar Sri Wahyuningsih saat memberikan keterangan pers di markasnya, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Kamis (4/6/2026).

Sri Wahyuningsih yang akrab disapa Mbak Ning ini menerangkan, teknologi ISLAH bekerja secara terintegrasi mulai dari menangkap curahan air hujan dari atap, menyaring partikel mikro secara bertingkat, menyimpan ke dalam tumpuan lumbung raksasa, hingga mengolahnya melalui proses elektrolisa. Mekanisme elektrolisa tersebut memisahkan molekul air menggunakan arus listrik guna menghasilkan air minum berkualitas tinggi yang aman, sehat, serta bebas dari bakteri patogen.

Sistem pemanenan air terstruktur ini sengaja didesain dengan biaya operasional yang sangat rendah dan metode perawatan yang sederhana agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh para santri. Pola desentralisasi air ini dinilai menjadi jawaban paling rasional di tengah tantangan perubahan iklim global dan pencemaran lingkungan yang terus menggerus kualitas serta kuantitas cadangan air tanah konvensional.

“Pesantren memiliki potensi spasial yang sangat besar dalam penerapan teknologi ISLAH karena umumnya didukung oleh bentangan area atap bangunan yang luas sebagai media penangkap air alami. Melalui dukungan sistem lumbung ini, air hujan yang melimpah tidak akan lagi memicu banjir, melainkan diamankan untuk memenuhi kebutuhan domestik santri maupun pengelola pesantren. Kami juga ingin membangun kesadaran kolektif mengenai konservasi air sejak dini, di mana pesantren bertindak sebagai pusat edukasi lingkungan yang efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli ekologi,” kata Wahyuningsih menambahkan.

Aksi nyata berupa pemasangan instalasi fisik dan transfer teknologi ini mendapat apresiasi serta respons positif dari jajaran pengurus Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah. Langkah mitigasi ini diharapkan menjadi cetak biru nasional mengenai bagaimana dunia pesantren mampu membangun kemandirian sarana vital secara swadaya tanpa harus bergantung penuh pada pasokan air komersial atau sumur dalam yang ketersediaannya kian tidak stabil sepanjang tahun. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sarasehan PADAS Bahas Teknik Melawak dan Upaya Pelestarian Budaya Dagelan

Sleman – Pekerjaan sebagai pelawak atau dhagelan bukanlah profesi yang mudah. Dibutuhkan kemampuan, kepekaan, dan proses belajar yang panjang agar seorang pelawak mampu menghibur sekaligus diterima oleh penonton.

Hal tersebut disampaikan salah satu seniman, KRT. Stefanus Prigel Siswanto atau yang akrab sapa Dalijo Angkring, selaku pembicara dalam Sarasehan Induk Organisasi Paguyuban Dagelan Sleman (PADAS), Kamis (4/6/2026), di Aula Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.

“Melawak itu pekerjaan yang ringkih. Tidak jarang orang mencoba tampil melawak, tetapi tidak berhasil. Sebagai contoh, jika melawak di pinggir jalan raya, suara kendaraan dan klakson bisa lebih dominan sehingga lawakannya kalah,” ujarnya.

Dalijo menekankan pentingnya seorang pelawak untuk terus belajar dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan, audiens, serta situasi dan waktu. Kepekaan sangat dibutuhkan untuk menarik perhatian penonton saat tampil. Materi, lelucon, ekspresi, maupun waktu penyampaian harus mampu disesuaikan dengan kondisi audiens tanpa meninggalkan ciri khas masing-masing pelawak.

“Ciri khas itu penting karena merupakan jati diri seorang pelawak. Melucu boleh, tetapi jangan sampai menyakiti. Hindari body shaming, menghina fisik, simbol negara, maupun hal-hal yang berkaitan dengan SARA,” tegasnya.

Selain Dalijo Angkring, kegiatan juga menghadirkan seniman dagelan, Wisben Antoro sebagai narasumber. Pada kesempatan itu, Wisben menyampaikan pentingnya membangun rasa percaya diri bagi seorang pelawak.

Ia menjelaskan bahwa bahan lawakan dapat diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman pribadi, pengalaman keluarga, kebiasaan sehari-hari, hingga pengalaman kegagalan hidup.

“Bahkan kesombongan, kesulitan hidup, maupun kegagalan bisa menjadi bahan lawakan. Yang terpenting adalah bagaimana mengemasnya menjadi hiburan yang sehat, etis, dan menghibur,” katanya.

Terkait program organisasi ke depan, Ketua PADAS, Suparno menyampaikan bahwa pihaknya berencana menyusun program pembinaan melalui penyelenggaraan lomba dagelan antarkapanewon di Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan seniman dan seniwati muda, yang mampu meneruskan tradisi dagelan sebagai budaya daerah.

“Dengan demikian, komitmen untuk mewariskan, menjaga, dan mengembangkan budaya dagelan sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Sleman dapat terus terwujud,” ujar Suparno. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




Ratusan Pohon Pepaya di Tempel Terserang Uret, Tanaman Gagal Berbuah

Sleman – Empat ratus tanaman pepaya milik Tri Supatno di Desa Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman, yang sebelumnya tumbuh subur dan berbuah lebat, kini mengalami kerusakan. Tanaman tampak merana, kurus, pertumbuhannya terhambat, dan tidak lagi berbuah. Di lokasi lain di Dusun Domban, tanaman talas miliknya juga dilaporkan mengalami kerusakan total.

Kondisi tersebut diduga akibat serangan hama uret yang hidup di dalam tanah. Hama ini berbentuk larva melengkung menyerupai huruf “C”. Larva tersebut diketahui merupakan fase perkembangan dari sejenis kumbang, meskipun petani mengaku belum pernah menemukan bentuk kepompongnya di lapangan.

“Bukan kebun saya saja, warga lain juga mengalami hal serupa,” kata Tri sambil menunjukkan tanaman pepaya yang nyaris tinggal batangnya akibat akarnya habis dimakan uret, Kamis (4/6/2026).

Ia telah melakukan berbagai upaya pengendalian menggunakan obat pembasmi hama, namun belum ada yang mampu mengatasi serangan tersebut secara tuntas.

“Saya sudah mencoba berbagai obat pembasmi hama, tetapi belum ada yang benar-benar berhasil,” ujarnya.

Untuk itu, cara yang selama ini cukup efektif digunakan oleh Tri adalah memancing uret dengan menanam batang singkong di sekitar tanaman. Batang singkong yang baru ditanam biasanya dalam waktu singkat langsung dipenuhi uret.

“Singkong yang ditancapkan hari ini, besok sudah dikerubuti uret. Bahkan uret-uret itu masih menempel saat batangnya dicabut,” jelasnya.

Tri menduga meningkatnya serangan hama uret berkaitan dengan meluasnya penggunaan herbisida untuk membasmi rumput liar dan gulma. Menurutnya, semak dan tanaman liar yang selama ini tumbuh di sekitar kebun diduga berfungsi sebagai refugia atau tempat berlindung alami bagi keseimbangan ekosistem hama.

Ia menilai, hilangnya vegetasi tersebut dapat menyebabkan perubahan perilaku hama yang kemudian beralih menyerang tanaman budidaya.

Untuk itu ia mencoba membiarkan semak belukar tumbuh dikebunnya dan menunggu apakah percobaannya kali ini bisa berhasil. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Gelar Rakordasi, Puskesmas Depok II Bahas Evaluasi Program dan Kewaspadaan Isu Kesehatan Masyarakat

Sleman – Puskesmas Depok II menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Evaluasi (Rakordasi) Kesehatan, pada Kamis (4/6/2026) di Aula Puskesmas Depok II. Kegiatan ini dipandu oleh Pramija Ujiana, selaku Pengelola Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Depok II dan diikuti oleh para kader kesehatan serta perwakilan wilayah binaan.

Rakordasi dilaksanakan sebagai sarana koordinasi program kesehatan yang akan dilaksanakan selama satu bulan ke depan sekaligus mengevaluasi berbagai kegiatan yang telah berjalan pada periode sebelumnya. Melalui pertemuan ini, diharapkan seluruh pihak dapat menyamakan persepsi dan memperkuat sinergi dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Depok II.

Dalam arahannya, Pramija menegaskan bahwa sejumlah permasalahan kesehatan masih memerlukan perhatian dan kewaspadaan bersama. Menurutnya, kasus stunting, leptospirosis, dan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi isu kesehatan yang perlu terus dipantau dan dicegah melalui peran aktif masyarakat serta kader kesehatan.

“Kewaspadaan terhadap kasus stunting, leptospirosis, dan DBD masih menjadi perhatian kita bersama. Diperlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini di lingkungan masing-masing,” ungkap Pramija.

Pada kesempatan yang sama, Bernardeta Dewantari selaku Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Depok II menyampaikan pentingnya dukungan sosial bagi Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP). Ia mengajak kader dan masyarakat untuk memberikan perhatian, pendampingan, serta kepedulian kepada ODDP yang berada di wilayah padukuhan.

Bernardeta menjelaskan bahwa ODDP yang ada di wilayah dapat dilibatkan dalam kegiatan Self Help Group (SHG) Kak Dewa, sebagai wadah untuk saling mendukung, meningkatkan kemandirian, dan memperkuat kesehatan mental.

“ODDP masih membutuhkan sentuhan, perhatian, dan kepedulian dari kita semua. Apabila terdapat ODDP di wilayah padukuhan, dapat diajak mengikuti kegiatan SHG Kak Dewa sebagai sarana pendampingan dan pemberdayaan,” jelasnya.

Melalui Rakordasi ini, Puskesmas Depok II berharap koordinasi lintas program dan peran aktif kader kesehatan dapat semakin optimal dalam mendukung upaya promotif dan preventif, sehingga berbagai permasalahan kesehatan di masyarakat dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan. (Tri Suhartati KIM Depok)




KUA Tempel Perkuat Kapasitas Rois melalui Pengajian Pembinaan di Margorejo

Sleman — Peran tokoh keagamaan di tingkat akar rumput terus menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat nilai-nilai kemasyarakatan, serta mendampingi warga dalam berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, upaya pembinaan dan peningkatan kapasitas para rois atau petugas pelayanan keagamaan di masyarakat dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengajian Pembinaan Rois se-Kalurahan Margorejo Rutin Jumat Pon yang diselenggarakan pada Kamis (4/6/2026) bertempat di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Kegiatan yang diikuti para rois se-kalurahan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kompetensi keagamaan sekaligus membangun kesiapan mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan itu, para peserta mendapatkan materi mengenai tata cara pengurusan jenazah (ngrukti jenazah), termasuk pembahasan tentang penyelesaian utang yang masih menjadi tanggungan seseorang setelah meninggal dunia.

Materi tersebut dinilai penting karena sering kali dihadapi masyarakat dan membutuhkan pemahaman yang tepat agar pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan agama.

Penyuluh Agama dari Kantor Urusan Agama (KUA) Tempel, H. Subagyo menegaskan bahwa rois memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan di lingkungan masyarakat.

“Rois bukan hanya hadir ketika ada peristiwa kematian, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai persoalan keagamaan. Karena itu, kapasitas dan pemahaman mereka harus terus diperkuat agar mampu memberikan pelayanan yang benar, menenangkan, dan bermanfaat bagi warga,” ujarnya.

Menurut Subagyo, pemahaman mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan jenazah, termasuk penyelesaian utang almarhum, menjadi bagian penting dalam edukasi keagamaan masyarakat. Ia berharap para rois dapat menjadi penyambung informasi yang tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam praktik di lapangan.

Selain membahas aspek pelayanan keagamaan, kegiatan tersebut juga mengangkat tema mengenai peran generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat. Topik ini menjadi perhatian karena regenerasi kepemimpinan sosial dan keagamaan dinilai menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.

Ketua Paguyuban Rois, H. Abdul Aziz mengatakan bahwa keterlibatan pemuda dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan harus terus didorong agar nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong tetap terjaga.

“Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan semangat yang besar. Mereka perlu diberikan ruang untuk berkontribusi dan mengambil peran nyata di tengah masyarakat. Regenerasi tidak bisa ditunda karena masa depan pelayanan sosial dan keagamaan juga berada di tangan generasi muda,” katanya.

Menurut Abdul Aziz, kolaborasi antara tokoh senior dan generasi muda akan menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi pelayanan masyarakat yang selama ini telah berjalan baik.

Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula pengukuran seragam bagi anggota paguyuban. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas kelembagaan sekaligus meningkatkan profesionalitas dan kepercayaan diri para rois saat menjalankan tugas pelayanan di tengah masyarakat.

Kegiatan pembinaan semacam ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas tokoh masyarakat tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga menyentuh pembangunan karakter, kepemimpinan, dan regenerasi sosial.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, keberadaan rois yang kompeten serta keterlibatan aktif generasi muda menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan sosial, memperkuat solidaritas warga, dan memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup dalam kehidupan bermasyarakat. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)