Pasbuja Kawi Merapi dan Disbud Sleman Gelar Sarasehan Sastra dan Media

Sleman – Paguyuban Budaya dan Sastra (Pasbuja) Kawi Merapi bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman akan menyelenggarakan Sarasehan Sastra dan Media. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (10/6/2026) di Ruang Rukun, Kantor Dinas Kebudayaan Sleman.

Sarasehan Sastra dan Media ini merupakan upaya untuk memperkuat peran pengarang atau penulis sastra, khususnya sastra Jawa, agar karya yang dihasilkan memiliki ruang ekspresi yang mampu menjangkau pembaca lebih luas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pendataan (database) karya sastra yang dihasilkan para penulis.

Sebaran karya melalui berbagai media diharapkan dapat menjadi penanda produktivitas pengarang sekaligus kualitas karya yang dihasilkan. Kemudahan akses melalui media juga memungkinkan karya sastra menjadi objek kajian kritik sastra, baik secara formal (akademik) maupun informal.

“Sarasehan ini merupakan suatu privilege bagi anggota Pasbuja sebagai kontributor penulisan buku antologi cerkak Taru dalam program penerbitan Pasbuja,” jelas Wiwien Widyawati Rahayu, dosen FIB UGM sekaligus Litbang Pasbuja, melalui sambungan telepon, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan sarasehan tersebut akan diikuti 25 penggiat literasi yang terdiri atas penulis, sastrawan, dan budayawan anggota Pasbuja Kawi Merapi. Sejumlah tokoh Pasbuja yang dijadwalkan hadir antara lain Ketua Pasbuja Sutopo, Wiwien Widyawati Rahayu, Budisarjono (Budsar), R. Toto Sugiharto, Ki Jenggot Kucir, Bu Ngatilah, Eti Daniati, Achyadi, dan lainnya.

Dua narasumber dalam kegiatan ini, yakni Fadmi Sustiwi dan Suhindriyo, juga merupakan anggota Pasbuja Kawi Merapi yang dikenal sebagai sastrawan senior di bidangnya.

Fadmi Sustiwi, yang akrab disapa Niniek, merupakan wartawan senior Harian Kedaulatan Rakyat. Selain berprofesi sebagai jurnalis, ia juga produktif menghasilkan karya sastra, baik secara mandiri maupun kolaboratif. Salah satu karya antologinya adalah Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas.

Sementara itu, Suhindriyo merupakan penulis dan redaktur senior Djaka Lodang. Ia telah menghasilkan berbagai karya berupa cerita cekak (cerkak), cerita bersambung, serta buku-buku yang didominasi sastra Jawa. Beberapa karyanya bahkan menjadi bahan kajian akademisi, di antaranya Mandor Pasar Tandhasedana dan Lurung.

Menariknya, peserta Sarasehan Sastra dan Media juga akan mendapatkan door prize berupa buku yang telah disiapkan oleh tokoh Pasbuja, Achyadi. (Kusnadi KIM Berbah)




Perkuat Kamling, Satpol PP dan Polresta Sleman Gelar Pembinaan Trantibum Linmas di Depok

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman bersama Polresta Sleman menggelar Pembinaan Keamanan Lingkungan Tahun 2026 di Joglo Suratno RW 45 Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 120 peserta dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan ketenteraman lingkungan melalui optimalisasi kegiatan kamling dan penguatan peran masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan program Pokok Pikiran (Pokir) Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sleman, Galuh Saraswati Laksono, yang menghadirkan unsur Jaga Warga Kayen, Jaga Warga Kolombo Padukuhan Joho, Satlinmas, kader Posyandu, awak ronda, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

perwakilan Satpol PP Kabupaten Sleman, Indra Darmawan selaku narasumber menyampaikan materi mengenai Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat (Trantibum Linmas).

Dalam paparannya, Indra memperkenalkan konsep “Empat Jaga” sebagai fondasi membangun lingkungan yang aman dan tertib, yaitu Jaga Diri, Jaga Keluarga, Jaga Warga, dan Jaga Negara.

Menurutnya, keamanan lingkungan tidak dapat diwujudkan hanya oleh pemerintah atau aparat keamanan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

“Ketika masyarakat mampu menjaga diri, keluarga, dan lingkungannya, maka secara tidak langsung turut menjaga stabilitas dan keamanan negara,” ujarnya

Selanjutnya, perwakilan Satuan Binmas Polresta Sleman, Ipda Asmiul Rohmandari menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan melalui kegiatan Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling). Ia mengingatkan bahwa berbagai bentuk kenakalan remaja yang berkembang saat ini memerlukan perhatian dan pengawasan bersama dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

“Kita harus bersama-sama mengawasi dan menjaga anak-anak agar tidak terlibat dalam kenakalan remaja yang saat ini semakin beragam bentuknya. Peran RT, RW, Linmas, tokoh masyarakat, dan keluarga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi generasi muda,” jelasnya.

Pada sesi berikutnya, Kasi Pembinaan Trantib Sat Pol PP Kabupaten Sleman, Surono menjelaskan Peraturan Bupati Sleman Nomor 45 Tahun 2020 tentang Jam Istirahat Anak. Ia menegaskan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak, khususnya pada malam hari.

Menurut Surono, anak-anak sebaiknya tidak berada di luar rumah tanpa tujuan yang jelas pada malam hari demi mendukung tumbuh kembang yang sehat, aman, dan sesuai dengan harkat serta martabat anak.

“Pengawasan orang tua merupakan bagian penting dalam perlindungan anak. Lingkungan yang aman dan perhatian keluarga akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” katanya.

Sementara itu, Galuh Saraswati Laksono menyampaikan harapannya agar hasil pembinaan tersebut dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan

“Kami berharap hasil sosialisasi ini dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan kamling. Dengan keterlibatan seluruh elemen warga, sistem keamanan lingkungan dapat berjalan lebih optimal sehingga potensi gangguan keamanan, ketertiban, maupun permasalahan sosial lainnya dapat dicegah sejak dini. Semoga semangat kebersamaan yang telah terbangun dapat terus dijaga demi terwujudnya lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.

Melalui kegiatan pembinaan ini, Satpol PP Kabupaten Sleman bersama Polresta Sleman berharap sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat semakin kuat dalam mewujudkan lingkungan yang aman, tertib, nyaman, serta mendukung perlindungan terhadap generasi muda dari berbagai potensi permasalahan sosial. (Wasana / KIM Depok)




SD Muhammadiyah Sidoarum Gelar Pelepasan Siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026

Sleman – SD Muhammadiyah Sidoarum, Kapanewon Godean, menggelar acara Pelepasan dan Tutup Tahun Pelajaran 2025/2026. Kegiatan berlangsung di Rocket Convention Hall Sidomoyo, Godean, Kamis (4/6/2026).

Acara tersebut dihadiri Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Majelis Dikdasmen Sleman, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Korwil Godean, Pengawas PAI, Pengawas SD, Pimpinan Aisyiyah Cabang Godean, serta seluruh wali murid kelas VI.

Ketua PDM Sleman, Harjaka memberikan apresiasi atas capaian TKA-TKAD siswa SD Muhammadiyah Sidoarum. Dalam sambutannya, ia menekankan dua pesan utama dari Surat Luqman kepada orang tua.

“Yā bunayya lā tusyrik billāh (Hai anakku, janganlah menyekutukan Allah). Tauhid menjadi pondasi utama. Yā bunayya aqimiṣ-ṣalāh (Hai anakku, tegakkanlah salat). Salat menjadi tiang agama dan pembentuk karakter,” ujarnya.

Menurutnya, dua hal tersebut merupakan modal dasar pendidikan karakter. “Untuk mencetak anak cerdas dan berakhlakul karimah, sekolah Muhammadiyah adalah tempatnya,” tegas Harjaka.

Ia juga mengimbau para wali murid agar menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai pilihan utama. “Sekolahkan putra-putri Bapak/Ibu ke sekolah Muhammadiyah sebagai pilihan utama, sekolah negeri menjadi pilihan kedua,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Rita Meutea, mengapresiasi prestasi SD Muhammadiyah Sidoarum. Ia menyebut capaian TKA-TKAD sekolah tersebut menempati peringkat 2 se-Kapanewon Godean. Sementara Kapanewon Godean sendiri meraih peringkat 1 tingkat Kabupaten Sleman dan DIY.

“Hasil ini merupakan kolaborasi semua pihak. Sekolah memberikan pendidikan terbaik, orang tua membimbing di rumah, dan anak belajar dengan optimal,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan komposisi kecerdasan anak, yakni 60 persen intelektual, 20 persen spiritual, dan 20 persen emosional. Untuk memperkuat karakter, Dinas Pendidikan Sleman menerapkan pendidikan religius.

“Anak SD muslim wajib bisa membaca Al-Qur’an. Dengan ilmu hidup menjadi mulia, dengan agama hidup menjadi teratur, dengan seni hidup menjadi indah,” pungkasnya.

Plt Kepala SD Muhammadiyah Sidoarum, Yuni Puspitasari dalam laporannya menyampaikan bahwa tahun ini sekolah meluluskan 55 siswa dari kelas Umar dan Abu Bakar. Selama enam tahun, sekolah telah membekali siswa dengan ilmu pengetahuan, kecerdasan, serta pendidikan karakter.

“Cerdas tanpa akhlakul karimah akan sia-sia. Sukses bukan karena tidak pernah gagal. Di manapun berada, jadilah kader Muhammadiyah,” pesannya.

Dengan mengusung slogan ICU (Islami, Cerdas, Unggul), SD Muhammadiyah Sidoarum berhasil meraih rata-rata nilai TKA-TKAD sebesar 80,24 di tingkat Kapanewon.

“Untuk sekolah swasta, ini menempati peringkat 1,” tandas Yuni.

Dalam kesempatan tersebut, sekolah juga memberikan penghargaan kepada lima siswa dengan nilai tertinggi. Peringkat pertama diraih Muhammad Yusuf Wirawan dengan rata-rata nilai 97,78. Peringkat kedua Yusra Labibah Al Aufa dengan nilai 95,56. Peringkat ketiga Alya Almira Rahmawati dengan nilai 94,44. Peringkat keempat Selena Alodya Hakim dengan nilai 93,33. Sementara peringkat kelima Gendhis Arrumaisha Putri dengan nilai 92,22. (Giek/ KIM Moyudan)




Petani Tempel Kembangkan Cabe Jawa, Rempah Bernilai Ekspor yang Tumbuh di Halaman Rumah

Sleman – Di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas di Dusun Domban, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Kamis (4/6/2026), petani Imam Suhadi menunjukkan tanaman cabe jawa yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat.

Batangnya merambat pada pohon inang. Buahnya sekilas mirip cabai, namun berkulit kasar dan tumbuh tegak ke atas. Saat masih muda, buah berwarna kuning cerah seperti jarum, kemudian berubah hijau gelap, merah kehijauan saat matang, dan akhirnya menghitam ketika tua.

Sekilas tampak sederhana, namun tanaman ini menjadi sumber penghasilan yang terus mengalir. Di pasar internasional, tanaman dari keluarga sirih-sirihan (Piperaceae) ini dikenal sebagai Java Long Pepper, dengan nama ilmiah Piper retrofractum. Bunganya berukuran kecil, berwarna kekuningan, dan tumbuh dengan tangkai pendek di ketiak daun.

“Kalau saya bilang, ini seperti punya ATM di halaman,” ujar Imam Suhadi sambil tersenyum.

Ia menjelaskan, cabe jawa dapat dipanen setiap minggu sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Dari halaman depan seluas sekitar 150 meter persegi, Imam menanam sekitar 25 batang cabe jawa. Dari lahan kecil tersebut, ia mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram cabe jawa kering setiap bulan dengan harga berkisar hingga per kilogram.

Di samping itu, perawatan tanaman ini tergolong sangat sederhana. Pasalnya tanaman tersebut tidak disemprot pestisida, tidak diberi obat-obatan, dan pemupukan pun hampir tidak dilakukan. Bahkan, rumput liar yang tumbuh di bawah tanaman dibiarkan karena berfungsi sebagai penutup tanah yang menjaga kelembapan serta meredam panas matahari.

“Semakin alami semakin baik. Pengelolaan organik lebih disukai oleh pembeli dari Jerman,” jelasnya.

Potensi pasar cabe jawa juga ini tergolong menjanjikan. Sebab permintaan dari Jerman dan Spanyol jauh melampaui suplai yang mampu dihasilkan oleh para petani.

Cabe jawa bukan sekadar bumbu dapur. Rempah ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan pengobatan tradisional karena sifatnya yang menghangatkan tubuh. Dalam industri herbal modern, ekstraknya juga digunakan sebagai bahan pendukung berbagai produk kesehatan dan kesuburan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Anjangsana PP PAUD Sleman di Kalasan Perkuat Komitmen Penguatan Layanan PAUD

Sleman – Anjangsana bukan sekadar kunjungan, melainkan menjadi sarana penguatan komitmen dan penyamaan langkah dalam memajukan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Sleman.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PP PAUD) Kabupaten Sleman, Parmila Harda Kiswaya, dalam pertemuan yang berlangsung di Aula Sumanggem Kapanewon Kalasan, Rabu (3/6/2026).

Pada kesempatan itu, Parmila Harda Kiswaya yang juga menjabat sebagai Ibu PAUD Kabupaten Sleman menegaskan bahwa kegiatan anjangsana sekaligus menjadi momentum Sambang Pantau serta sosialisasi Wajib Belajar 13 Tahun Plus.

Mengignat, pemerintah terus mendorong pelaksanaan program Wajib Belajar 13 Tahun sebagai upaya memastikan setiap anak memperoleh layanan PAUD yang bermutu sebelum memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kebijakan tersebut dinilai penting karena PAUD tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga sebagai fondasi awal tumbuh kembang anak, meliputi pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, kemampuan sosial, serta kecintaan terhadap proses belajar.

Sementara itu, Panewu Kalasan, Samino menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dilaksanakan PP PAUD Kapanewon Kalasan. Ia berharap para penyelenggara dan pendidik PAUD dapat memberikan layanan yang baik dan penuh tanggung jawab.

“Kualitas layanan pendidikan akan menjadi tumpuan dan rujukan bagi para orang tua. Jika prosesnya baik, lingkungan sehat, insya Allah Gerakan 1 Tahun Pra Sekolah akan berhasil,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa di Kapanewon Kalasan terdapat 84 lembaga PAUD formal dan nonformal yang siap menerima pembinaan serta sosialisasi.

Ketua PP PAUD Kapanewon Kalasan, Amilatul Fadhilah, selaku penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa selain anjangsana, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi Wajib Belajar 14 Tahun dan 1 Tahun Pra Sekolah oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Yogyakarta, serta materi bertema “Dari PAUD yang Kuat Lahir Generasi Hebat” dari DPC PP PAUD Sleman.

Kegiatan tersebut diikuti oleh unsur Ibu PAUD dari empat kalurahan, PP PAUD Kapanewon, Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA), Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA), Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI), Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI), serta para kepala satuan PAUD se-Kapanewon Kalasan. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)