Gerakan Pengendalian Hama Serentak Dinilai Jadi Kunci Menjaga Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani

Sleman — Upaya menjaga produktivitas pertanian nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan benih unggul dan irigasi yang memadai, tetapi juga pada kemampuan petani mengendalikan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sejak dini. Kesadaran tersebut mendorong petani di berbagai daerah untuk memperkuat langkah pencegahan melalui gerakan pengendalian hama dan penyakit tanaman secara serentak.

Semangat itu terlihat dalam kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT yang dilaksanakan Kelompok Tani Murakabi di Padukuhan Karanglo, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Rabu (3/6/2026). Sejak pagi hari, petani bergotong royong melakukan penyemprotan dan pemantauan tanaman padi sebagai langkah antisipatif menghadapi berbagai ancaman hama maupun penyakit yang berpotensi menurunkan hasil panen.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Pondokrejo, Purwanta, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan sekaligus penanganan dini terhadap berbagai jenis OPT yang sering menyerang tanaman pangan, khususnya padi.

“Pengendalian dilakukan untuk mencegah dan mengobati serangan Organisme Pengganggu Tanaman pada lahan pertanian. Dengan penanganan yang dilakukan secara bersama-sama, hasilnya akan lebih efektif dibandingkan jika dilakukan secara sendiri-sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, pengendalian yang dilakukan secara serentak menjadi salah satu strategi penting dalam menekan penyebaran hama dan penyakit. Selain melindungi tanaman pada fase pertumbuhan, langkah tersebut juga membantu menjaga stabilitas produksi pangan di tingkat petani.

Dukuh Karanglo, Luvi Hendriyani, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme petani yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana produksi, tetapi juga oleh kekompakan masyarakat dalam menjaga kesehatan tanaman.

“Dengan pengendalian OPT yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama, kami berharap hasil panen dapat lebih melimpah karena tanaman terhindar dari serangan penyakit. Pada akhirnya, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani juga ikut terangkat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kapanewon Tempel, Theresia Nastiti Larasati, mengingatkan pentingnya penerapan pengendalian yang ramah lingkungan. Ia mendorong petani untuk lebih memanfaatkan agen hayati dan pestisida biologis sebagai alternatif dibandingkan penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

“Obat hayati lebih ramah lingkungan, relatif aman, dan biayanya juga lebih terjangkau. Sementara penggunaan pestisida kimia yang tidak sesuai dosis dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan serta mengganggu keseimbangan ekosistem pertanian,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan pertanian berkelanjutan kini menjadi kebutuhan penting di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko serangan hama. Karena itu, edukasi kepada petani mengenai penggunaan pestisida yang tepat serta pengembangan pengendalian hayati perlu terus diperkuat.

Kegiatan Gerdal OPT di Karanglo menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional sesungguhnya dibangun dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten di tingkat lapangan. Melalui kolaborasi antara petani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, dan petugas teknis, upaya menjaga produktivitas pertanian dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, semangat gotong royong yang ditunjukkan para petani menjadi modal sosial yang sangat berharga. Tidak hanya membantu melindungi tanaman dari ancaman hama dan penyakit, tetapi juga memperkuat optimisme bahwa pertanian Indonesia mampu terus tumbuh sebagai penopang ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




KIM Berperan Strategis Majukan Budaya dan Pariwisata Berbasis Nilai Kejogjaan

Sleman – Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) memegang peran strategis dalam memajukan sektor budaya dan pariwisata sekaligus menghidupkan nilai-nilai Kejogjaan. Hal tersebut disampaikan Ketua KIM Sumber Biwara Moyudan, Sugiyanto saat menjadi narasumber dalam program interaktif NGOBRAS (Obrolan Komunitas) RRI Pro 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026), bersama host Dina Febriana.

Menurut Sugiyanto, KIM tidak hanya berperan sebagai pengelola informasi desa, tetapi juga motor penggerak yang menginternalisasikan nilai budaya lokal kepada masyarakat maupun wisatawan.

Ada lima peran strategis KIM dalam ekosistem budaya dan pariwisata. Pertama, KIM sebagai kurator budaya yang mendokumentasikan tradisi, sejarah, dan ritual adat agar tidak punah. Kedua, sebagai juru cerita (storyteller) yang mengemas potensi wisata melalui media sosial dengan narasi yang menarik agar wisatawan memahami cerita di balik destinasi.

Ketiga, KIM berperan sebagai jembatan informasi yang menghubungkan aspirasi masyarakat dengan pemerintah maupun pihak swasta terkait pengembangan sektor wisata.

Keempat, sebagai penggerak Sapta Pesona dengan mengedukasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan berkesan. Kelima, sebagai penangkal hoaks dengan memberikan klarifikasi cepat terhadap informasi yang tidak benar, khususnya terkait kegiatan budaya.

Sugiyanto juga menegaskan bahwa nilai-nilai Kejogjaan seperti unggah-ungguh, tepa selira, dan gotong royong tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diimplementasikan dalam berbagai aspek pariwisata.

Terdapat lima aspek penerapan nilai tersebut dalam pengembangan pariwisata. Pertama, penyajian budaya seperti pertunjukan seni yang tetap menjaga pakem dan makna filosofisnya. Kedua, pelayanan wisata dengan menerapkan keramahan dan sapaan khas seperti “monggo” dalam interaksi dengan pengunjung.

Ketiga, pengelolaan destinasi wisata berbasis gotong royong dan musyawarah warga, termasuk dalam penataan kampung wisata dan situs sejarah. Keempat, pengembangan produk kreatif UMKM yang mengangkat narasi budaya lokal. Kelima, edukasi wisatawan agar menghormati tata krama, terutama saat berada di kawasan sakral.

“KIM adalah kendaraan utamanya. Melalui konten kreatif seperti etika berkunjung atau makna filosofi tradisi, KIM menyebarkan nilai Kejogjaan sekaligus memperkuat daya tarik wisata,” ujar Sugiyanto yang juga menjabat di Bidang Litbang Forum KIM Sembada Sleman serta Bidang Pendidikan, Seni, Budaya, dan Pariwisata Forum KIM DIY.

Sugiyanto pun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya dan pariwisata.

“Budaya adalah jati diri, pariwisata adalah jembatannya. Dengan menjaga kearifan lokal, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga membuka ruang bagi dunia untuk merasakan kehangatan Jogja yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Condongcatur Lanjutkan Program Ketahanan Pangan, Tata 1.500 Baglog Jamur di Pringwulung

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama BUMKal Nyawiji melaksanakan penataan baglog jamur ke dalam kumbung yang telah disiapkan di kawasan Kebun KWT Sumber Rejeki, Padukuhan Pringwulung, pada Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program ketahanan pangan yang telah dilaksanakan sejak tahun 2025 dan kini memasuki tahun kedua pelaksanaan.

Program tersebut menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan ketersediaan pangan bergizi, memperkuat ekonomi keluarga, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan secara produktif. Jamur dipilih sebagai komoditas unggulan karena memiliki nilai gizi tinggi, masa panen relatif cepat, serta dapat dibudidayakan pada lahan terbatas.

Melalui program tersebut, anggota KWT mendapatkan pendampingan mulai dari persiapan dan sterilisasi kumbung, penataan baglog, perawatan media tanam, hingga teknik panen dan pascapanen yang higienis. Selain itu, para anggota juga dibekali penguatan kapasitas dalam pengelolaan kelompok serta strategi pemasaran hasil panen agar produk jamur memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Antusiasme anggota KWT terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, hasil panen jamur juga berpotensi dipasarkan kepada warga sekitar, pelaku UMKM kuliner, maupun pasar lokal sebagai bahan baku berbagai olahan pangan.

Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan BUMKal Nyawiji dalam pengembangan budidaya jamur di wilayahnya.

“Kami berharap program budidaya jamur ini dapat menjadi contoh nyata penguatan ketahanan pangan berbasis masyarakat di tingkat padukuhan. Selain mendukung pemenuhan gizi keluarga, kegiatan ini juga diharapkan mampu menambah pendapatan anggota KWT serta menumbuhkan semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi warga,” ujarnya.

“Semoga hasil budidaya tahun ini lebih baik, produktivitas meningkat, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Pringwulung,” sambung Sahid.

Setelah penataan baglog selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan koordinasi dan ramah tamah. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui makan bersama yang disajikan secara tradisional menggunakan alas daun pisang sebagai wujud syukur dan penguatan silaturahmi antaranggota KWT, pengurus BUMKal, dan Pemerintah Kalurahan.

Program ketahanan pangan berbasis KWT ini sejalan dengan visi Kalurahan Condongcatur dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, mandiri, dan berdaya saing melalui pemberdayaan ekonomi dari tingkat keluarga hingga padukuhan. Dengan dukungan berbagai pihak, budidaya jamur di Pringwulung diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sentra pangan produktif yang berkelanjutan di Kalurahan Condongcatur. (Wasana / KIM Depok)




BNNK Sleman Hadirkan Layanan MERAPAT di Condongcatur, Permudah Akses SKHPN bagi Masyarakat

Sleman – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman kembali menghadirkan layanan MERAPAT (Melayani di Masyarakat Setempat) di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Selasa (2/6/2026).

Program ini merupakan upaya BNNK Sleman untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Petugas BNNK Sleman, Lisa Nur Widiastuti, yang hadir bersama dua petugas lainnya, Rezza Umami Fuadiah dan Kusmartono, menjelaskan bahwa pada pelaksanaan layanan MERAPAT kali ini terdapat dua masyarakat yang mengakses layanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) 7 parameter.

“Kedua pemohon mengajukan penerbitan SKHPN sebagai salah satu persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM),” jelasnya.

Lisa menerangkan bahwa masyarakat yang akan mengakses layanan SKHPN terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara daring melalui website BOSS BNN. Setelah mengisi formulir pendaftaran, data pemohon diverifikasi oleh petugas. Selanjutnya, pemohon akan menerima kode billing untuk melakukan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah proses administrasi selesai, pemohon menjalani wawancara menggunakan formulir Drug Abuse Screening Test (DAST-10), pemeriksaan kesehatan, serta pemeriksaan urin 7 parameter. Sampel urin kemudian langsung diperiksa oleh petugas BNNK Sleman.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang menunjukkan hasil negatif terhadap penyalahgunaan narkotika, petugas kemudian menerbitkan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) dan menyerahkannya kepada masing-masing pemohon. Dokumen tersebut digunakan sebagai salah satu persyaratan administrasi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lisa menjelaskan bahwa layanan MERAPAT dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa pukul – WIB di Kalurahan Condongcatur sebagai bentuk komitmen BNNK Sleman dalam memberikan pelayanan yang mudah dijangkau masyarakat.

Selain melalui layanan MERAPAT di Condongcatur, masyarakat juga dapat mengakses layanan penerbitan SKHPN di Klinik Pratama Sembada Bersinar BNNK Sleman yang beralamat di Jl. KRT Pringgodiningrat No. 3, Beran, Tridadi, Sleman.

Melalui kegiatan ini, BNNK Sleman berharap masyarakat semakin memahami bahaya penyalahgunaan narkoba dan berperan aktif dalam upaya pencegahan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Melalui layanan MERAPAT, masyarakat tidak hanya dapat mengurus penerbitan SKHPN, tetapi juga memperoleh berbagai layanan lainnya yang disediakan oleh BNNK Sleman. Kami berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya narkoba dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan narkoba,” ujar Lisa.

Adapun layanan yang tersedia dalam program MERAPAT meliputi konsultasi dan edukasi bahaya narkoba, penerbitan SKHPN, konsultasi rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba, permohonan narasumber kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), pemeriksaan urin bagi instansi, permohonan Tim Asesmen Terpadu (TAT), penerimaan mahasiswa magang, serta layanan pengaduan masyarakat terkait dugaan peredaran gelap narkoba.

Melalui inovasi pelayanan publik ini, BNNK Sleman terus berupaya menghadirkan layanan yang lebih dekat, cepat, dan mudah diakses masyarakat guna mendukung terwujudnya Sleman Sembada Bersinar (Bersih dari Narkoba). (Wasana / KIM Depok)




TPS3R Makmur Mandiri Kembangkan Tungku Biomasa Tiga Ruang untuk Kurangi Residu Sampah

Sleman – Berbagai inovasi bermunculan untuk mengurangi volume residu sampah di Sleman. Salah satunya melalui penggunaan tungku pembakaran yang dirancang untuk meminimalkan dampak pencemaran lingkungan.

Upaya tersebut dilakukan oleh TPS3R Makmur Mandiri Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah. Kelompok pengelola sampah ini mengembangkan Tungku Pembakaran Biomasa Tiga Ruang atau Three Chamber Furnace (TCF) untuk mengolah residu sampah.

“Dengan penggunaan tungku TCF, proses pembakaran menjadi lebih sempurna dan asap yang dihasilkan lebih bersih,” ujar Agus Hitami, pembuat tungku tiga ruang, saat ditemui di TPS3R Makmur Mandiri Sendangtirto, Senin (1/6/2026).

Agus menjelaskan, tungku biomasa tersebut dibangun menggunakan konstruksi bata dua lapis. Lapisan bagian dalam menggunakan batu bata yang disusun dengan perekat tanah liat. Material ini dipilih karena mampu menahan dan meratakan panas selama proses pembakaran sehingga suhu di dalam tungku dapat terjaga secara optimal.

Selain itu, penggunaan tanah liat juga membantu mengurangi risiko retak akibat paparan suhu tinggi. Sementara itu, lapisan bagian luar diperkuat menggunakan campuran semen dan pasir yang diplester secara merata guna meningkatkan kekuatan konstruksi tungku.

Menurut Agus, proses pembakaran tidak memerlukan bahan bakar tambahan karena panas dihasilkan dari sampah yang dibakar. Setelah suhu tungku mencapai kondisi ideal dan dinding ruang pembakaran telah membara, berbagai jenis sampah residu dapat dimasukkan secara bertahap.

Meski demikian, ia menyarankan agar sampah berbahan kain atau gombal serta styrofoam tidak dibakar karena dapat menghasilkan asap berwarna hitam dan meningkatkan potensi pencemaran udara.

“Dua jenis sampah itu bisa membuat asap menjadi hitam dan kotor,” jelasnya.

Dalam satu hari, tungku biomasa tiga ruang tersebut mampu membakar hingga sekitar tiga ton sampah residu kering. Menurut Agus, pembakaran sampah memang bukan solusi yang ideal dalam pengelolaan sampah. Namun hingga saat ini, teknologi tersebut dinilai masih menjadi salah satu alternatif yang relatif terjangkau untuk mengurangi volume residu yang sulit ditangani.

“Kami menyadari bahwa membakar sampah bukan pilihan yang paling baik. Namun dengan menggunakan tungku bersuhu tinggi ini, kami berupaya menekan risiko dampak lingkungan yang ditimbulkan,” tuturnya. (Kusnadi KIM Berbah)