Sambut Hari Lahir Pancasila, Ratusan Ibu-Ibu PKK Kejora Rejosari Sleman Gelar Senam ‘Sak Obahe’ guna Perkuat Kohesi Sosial

Sleman — Implementasi nilai-nilai luhur Pancasila di era modern tidak terbatas pada forum refleksi formal, melainkan dapat diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang menyehatkan fisik dan memperkuat kerukunan warga. Menyambut Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kejora Padukuhan Rejosari menggelar aksi senam massal bertajuk “Senam Sak Obahe” di halaman rumah Dukuh Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Minggu (31/5/2026).

Agenda olahraga komunal yang berlangsung semarak ini diposisikan sebagai momentum penting untuk membumikan kembali pilar-pilar kebangsaan di tingkat unit sosial terkecil, yakni keluarga. Dengan mengusung tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, gerakan senam bersama ini dimanfaatkan untuk merekatkan tali persaudaraan antar-warga sekaligus mengikis potensi polarisasi sosial di tengah dinamika masyarakat pedesaan.

Dukuh Rejosari, Muhamad Dalis Kurniawan, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas inisiatif mandiri dari pengurus dan anggota PKK Kejora dalam mengemas peringatan hari bersejarah negara dengan kegiatan yang produktif. Menurut analisisnya, esensi dasar dari Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa harus diwujudkan melalui semangat gotong royong untuk membangun daerah sesuai dengan kapasitas dan bidang keahlian masing-masing.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila di era sekarang bukan lagi sekadar pelaksanaan upacara bendera yang bersifat seremonial atau pengibaran bendera merah putih semata. Momentum ini harus menjadi pemicu bagi seluruh komponen bangsa untuk menguatkan kembali falsafah Pancasila dalam realitas kehidupan bermasyarakat harian. Makna terpentingnya adalah bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dengan kemampuan yang ada. Aktivitas olahraga senam ini menjadi ikhtiar nyata untuk menyehatkan bangsa, di mana ibu-ibu PKK bertindak sebagai garda terdepan sekaligus tulang punggung negara yang memegang peran sentral dalam mendidik dan menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter kuat,” ujar Muhamad Dalis Kurniawan di sela-sela pemantauan kegiatan.

Tingginya animo warga terlihat dari padatnya lokasi senam oleh sekitar seratus anggota yang bergerak sinkron mengikuti irama musik di bawah panduan instruktur senam, Ani Wijaya. Gerakan “Sak Obahe” yang ekspresif dan penuh kegembiraan ini berhasil mencairkan suasana dan membangun keakraban lintas usia di padukuhan tersebut.

Ketua PKK Kejora Rejosari, Umi Nasihah, mengaku bangga dengan kekompakan yang ditunjukkan oleh seluruh anggotanya dalam menyukseskan agenda ini. Ia memaparkan bahwa nama “Kejora” yang disematkan pada kelompok PKK tersebut memiliki muatan filosofis persatuan yang kuat, karena merupakan akronim dari gabungan tiga kampung yang berada di bawah rumpun administrasi Padukuhan Rejosari.

“Nama PKK Kejora ini adalah akronim autentik dari tiga wilayah kampung kami, yaitu Kampung Kerten, Jogomangsan, dan Rejosari. Penyatuan ini menjadi bukti konkret bahwa perbedaan latar belakang geografis kampung tidak menjadi penghalang bagi kami untuk bersatu dalam satu wadah yang harmonis. Kami bersyukur kegiatan yang dikoordinasikan oleh ketua kelompok senam kita, Fitri, ini berjalan sukses. Harapannya, melalui kebersamaan di lapangan ini, semangat persatuan Pancasila benar-benar tertanam di hati ibu-ibu dan diimplementasikan dalam pengasuhan anak di rumah,” kata Umi Nasihah menjelaskan latar belakang organisasinya.

Pemerintah padukuhan berharap gerakan hidup sehat berbasis komunitas yang diinisiasi oleh kaum perempuan ini dapat terus digulirkan secara konsisten dan berkelanjutan. Penjagaan kebugaran fisik yang diimbangi dengan solidnya ketahanan sosial warga dinilai menjadi modal pembangunan paling mendasar bagi Kabupaten Sleman dalam mewujudkan wilayah yang aman, sehat, dan berdaya saing dari tingkat tapak. (Kusnadi/KIM Berbah)




Dorong Wisata Edukasi Cangkringan, Kopi Madu Merapi Konsisten Angkat Kesejahteraan Petani Lokal Lereng Sleman

Sleman — Industri pariwisata berbasis masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi terus menunjukkan geliat positif yang linier dengan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif setempat. Salah satu motor penggerak ekonomi yang konsisten mempertahankan eksistensinya adalah Kopi Madu Merapi, sebuah jenama produsen kopi lokal yang sukses mengintegrasikan kualitas produk perkebunan dengan kemajuan destinasi Desa Wisata Pentingsari, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Pemilik Kopi Madu Merapi, Bayu Dwi Setiawan, menuturkan bahwa lini usaha hilirisasi kopi ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2008 silam. Kendati demikian, momentum emas dari usaha mikro ini baru mulai dikenal secara luas oleh publik nasional pada tahun 2017, seiring dengan mencuatnya pamor Desa Wisata Pentingsari sebagai salah satu destinasi wisata pedesaan unggulan di Kabupaten Sleman.

Dalam memperkuat lini produknya, Kopi Madu Merapi mengandalkan dua varietas utama yang tumbuh subur di tanah vulkanis kaya mineral, yakni kopi robusta dan arabika. Guna memenuhi preferensi pasar konsumen modern yang semakin variatif dan spesifik, mereka menghadirkan deretan varian proses pengolahan yang kaya rasa, antara lain Robusta Wine, Peaberry, Black Honey, Arabica Natural, Robusta Yellow Honey, Robusta Red Honey, hingga Kopi Lanang.

“Dalam setiap tahapan pemrosesan biji kopi, fokus utama kami adalah menjaga konsistensi kualitas secara ketat agar para penikmat kopi dapat merasakan cita rasa asli yang khas, kuat, dan berkarakter dari lereng Merapi. Bahan baku kopi yang kami produksi seratus persen berasal dari hasil panen para petani di wilayah Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, dan kawasan sekitar. Pola kemitraan pemanfaatan hasil panen lokal ini sengaja kami bangun sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan para petani kopi di tingkat tapak,” ujar Bayu Dwi Setiawan saat ditemui langsung di kedainya di kawasan Dusun Pentingsari pada Sabtu (30/5/2026).

Bayu memaparkan, guna menjaga mutu agar tidak mengalami degradasi, pihaknya menerapkan standardisasi prosedur operasional (SOP) secara rigid tanpa celah, mulai dari fase budidaya tanaman, teknik pemetikan buah merah saja (red cherry), penanganan pascapanen, penyangraian (roasting), hingga pengemasan akhir. Berkat kepatuhan terhadap standar tersebut, bahan baku biji kopi mentah (green bean) yang mereka kelola memiliki daya simpan optimal hingga sepuluh tahun, sementara untuk produk kopi olahan siap seduh mampu bertahan prima selama dua tahun jika disimpan dalam wadah kedap udara yang tepat.

Uniknya, meski memiliki basis penggemar yang cukup besar dari berbagai daerah, Kopi Madu Merapi hingga kini secara sengaja hanya melayani sistem pembelian secara langsung atau offline di kedai fisik mereka di Dusun Pentingsari. Strategi bisnis ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah taktis untuk menjaga keberlanjutan pasokan produk sekaligus menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi ekosistem Desa Wisata Pentingsari sebagai pusat kunjungan wisata edukasi.

“Kami memang sangat menjaga kontinuitas produksi dan eksklusivitas kualitas produk ini. Keberadaan kedai fisik di dalam lingkungan Pentingsari ini sengaja dipertahankan karena sudah bertransformasi menjadi salah satu magnet dan daya tarik wisata edukasi desa yang harus dirawat bersama. Pemasaran alami lewat getok tular dari mulut ke mulut antar-wisatawan, komunitas pencinta kopi, dan pemandu wisata terbukti jauh lebih efektif membangun loyalitas konsumen,” kata Bayu menegaskan skema pemasarannya.

Peran Kopi Madu Merapi dalam menyokong pariwisata daerah juga diperkuat lewat penyediaan paket edukasi interaktif bagi para pelancong yang singgah. Konsep ini dinilai berhasil memberikan pengalaman baru bagi wisatawan perkotaan yang ingin melepaskan penat dari rutinitas harian.

“Di sini para wisatawan tidak hanya datang untuk sekadar minum kopi lalu pulang, melainkan kami ajak untuk terlibat dan melihat secara langsung bagaimana proses hulu ke hilir berjalan, mulai dari cara budidaya pohon kopi di kebun, metode pengolahan pascapanen yang rumit, hingga proses penyeduhan di bar. Pengunjung bisa mendapatkan edukasi mendalam mengenai bagaimana perbedaan metode pengolahan pascapanen seperti honey atau wine process bisa menghasilkan catatan rasa (taste notes) yang sangat berbeda di lidah,” ujar Eni, istri dari pemilik Kopi Madu Merapi, di sela kesibukannya melayani antrean pembeli yang memadati kedai.

Melalui konsistensi dalam mempertahankan standar mutu produk, pelibatan aktif rantai pasok dari petani lokal, serta komitmen kuat pada konsep pariwisata berkelanjutan, Kopi Madu Merapi kini menjelma menjadi ikon usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal panutan. Langkah integrasi ini membuktikan bahwa sinergi sektor pertanian dan industri pariwisata berbasis komunitas mampu menjadi pilar ekonomi yang tangguh di kawasan lingkar Merapi. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Latih Empati Sejak Dini, Siswa KBTK Khasanah Sleman Beli dan Distribusikan Hewan Kurban dari Uang Infak

Sleman — Penanaman nilai-nilai karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian pada anak usia dini idealnya tidak hanya berhenti sebagai materi tekstual di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui pengalaman empiris yang nyata. Mengonstruksi semangat tersebut, ratusan siswa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) Khasanah menggelar aksi filantropi Islam bertajuk Semarak Dzulhijjah 1447 H di Kompleks KBTK Khasanah, Padukuhan Sribit, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Meskipun secara regulasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Khasanah merupakan dua lembaga yang terpisah secara administratif, keduanya berada di bawah payung yayasan yang sama dan konsisten bersinergi. Unit KB yang dipimpin oleh Titik Rumy Kuntari saat ini mengasuh 29 siswa usia dua hingga empat tahun, sedangkan unit TK yang dinakhodai oleh Tri Utami menaungi 58 siswa usia empat hingga tujuh tahun. Kolaborasi kali ini mengusung tema besar “Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi”.

Rangkaian acara edukatif tersebut diawali dengan simulasi pelaksanaan salat Iduladha berjamaah di halaman sekolah. Praktik ini sengaja didesain untuk mengenalkan struktur dan tata cara peribadatan salat Id yang memiliki karakteristik jumlah takbir berbeda dibandingkan dengan salat fardu lima waktu, sehingga mempermudah pemahaman kognitif anak sejak dini.

Usai pelaksanaan simulasi ibadah, para siswa diajak menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban berupa kambing. Uniknya, pengadaan hewan kurban tersebut bukan berasal dari pungutan wajib ataupun dana anggaran yayasan, melainkan murni bersumber dari akumulasi uang infak sukarela yang disisihkan oleh para siswa setiap hari Jumat.

“Uang infak harian yang dikumpulkan anak-anak setiap hari Jumat memang sengaja kami kelola untuk dua orientasi utama, yakni dana tanggap sosial dan pengadaan hewan kurban ini. Melalui skema ini, anak-anak diajak belajar secara langsung esensi dari berkurban dan bagaimana rasanya membagikan hak milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Nantinya, draf daging kurban ini sebagian langsung didistribusikan kepada warga sekitar yang membutuhkan, dan sebagian lagi kami masak bersama di sekolah untuk dinikmati oleh para siswa dan guru pengasuh guna mempererat kebersamaan,” ujar Kepala Sekolah TK Khasanah, Tri Utami, saat menjelaskan mekanisme program di lapangan.

Teknis pendistribusian kantong daging kurban pun dikemas sebagai media pembelajaran sosial yang interaktif. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu dengan didampingi guru pengasuh, mereka berjalan kaki menyusuri permukiman di sekitar Padukuhan Sribit untuk menyerahkan langsung paket daging kepada masyarakat.

“Kami berharap melalui tindakan taktis bersosialisasi langsung dengan lingkungan sekitar ini, benih-benih empati dan kepedulian sosial akan tertanam secara permanen dalam memori emosional anak, sehingga karakter mulia tersebut dapat terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa kelak menjadi bagian dari masyarakat,” kata Tri Utami menambahkan.

Salah satu guru pengasuh KBTK Khasanah, Anisa Wulandari, atau yang akrab disapa Bunda Icha, mengutarakan bahwa aksi nyata ini selaras dengan visi besar lembaga yang mengusung slogan Islamic Entrepreneur Preschool. Sekolah bertekad kuat untuk mencetak generasi Islami yang tidak hanya unggul secara spiritual dan akademik, tetapi juga memiliki mentalitas mandiri yang kokoh sejak bangku prasekolah.

“Implementasi dari pelatihan kemandirian anak di KBTK Khasanah dapat diidentifikasi dari pola kegiatan kami, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, yang secara sengaja meminimalkan keterlibatan langsung wali murid. Kami membiasakan para siswa untuk berani melakukan aktivitas mandiri tanpa harus ditemani orang tua mereka, seperti saat agenda outing class, kunjungan edukasi luar sekolah, pengenalan lingkungan sekitar, hingga program pesantren kilat atau Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Keterlibatan ekstra dari orang tua baru akan kami buka pada momen-momen spesifik tertentu, misalnya saat perlombaan besar yang membutuhkan pengawasan ketat serta pada prosesi seremoni perpisahan sekolah,” ujar Anisa Wulandari memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Peran Perempuan dalam Kampanye Hidup Sehat, Perwosi Kapanewon Depok Bentuk Kepengurusan Baru

Sleman — Upaya penguatan status kesehatan keluarga melalui peran strategis kaum perempuan terus diintensifkan di tingkat kewilayahan. Guna mengonsolidasikan gerakan olahraga rekreasi dan pembudayaan gaya hidup aktif, Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Kapanewon Depok resmi membentuk struktur kepengurusan baru masa bakti 2026-2030 di Gedung Anglocita Tama, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (30/5/2026).

Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas perlunya wadah formal yang mampu mengintegrasikan berbagai kelompok olahraga perempuan di kawasan urban Sleman. Kehadiran struktur kepengurusan yang solid dinilai menjadi instrumen penting untuk menggerakkan potensi perempuan, khususnya dalam menekan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) melalui aktivitas fisik yang teratur dan terukur.

Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, menekankan bahwa perempuan memegang peran sentral sebagai agen perubahan dalam lingkup domestik maupun sosial. Organisasi Perwosi dirancang bukan sekadar untuk menggelar kegiatan seremonial, melainkan menjadi motor penggerak Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang menyasar kluster keluarga di tiga kalurahan, yakni Caturtunggal, Condongcatur, dan Maguwoharjo.

“Perwosi merupakan wadah instansional yang sangat penting untuk membina olahraga wanita secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan. Kita ingin perempuan di wilayah Kapanewon Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil di depan untuk menjaga kebugaran tubuh mereka sendiri sekaligus menularkan kebiasaan positif tersebut kepada anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, produktivitas domestik maupun kontribusi sosial perempuan dalam pembangunan daerah akan meningkat secara eksponensial,” ujar Rakhmat Harinawan saat memberikan pengarahan.

Dalam forum tersebut, susunan kepengurusan inti Perwosi Kapanewon Depok disepakati dengan menempatkan jajaran struktural birokrasi sebagai pilar pembina. Posisi pelindung dijabat oleh Panewu, disusul Panewu Anom sebagai penasihat, dan Kepala Jawatan Sosial bertindak selaku pengarah. Guna memastikan roda organisasi berjalan laras, posisi ketua diamanahkan kepada istri Panewu, didampingi istri Panewu Anom selaku wakil ketua. Jabatan sekretaris diisi oleh staf Jawatan Sosial bersama Resmi Widayati, sementara pos bendahara dikelola oleh Bendahara Gaji Kapanewon Depok bersama staf Jawatan Kemakmuran.

Struktur ini diperkuat oleh enam bidang kerja strategis yang melibatkan lintas sektor. Bidang Humas digawangi oleh Kasubbag Umum dan Kepegawaian, sementara Bidang SDM dikoordinasikan oleh istri Lurah Caturtunggal dibantu Ganep Sri Lestari dan Murniwati. Untuk Bidang Organisasi dipercayakan kepada istri Lurah Condongcatur bersama Retnaningsih dan Sri Rejeki. Pada sektor teknis, Bidang Keolahragaan dipimpin oleh Sri Sulistyowati dibantu Yashinta Sulistyo dan Ratna Handayani. Adapun Bidang Dana Usaha dikoordinasikan oleh istri Lurah Maguwoharjo bersama Nunung dan Rubiyani, serta Bidang Publikasi dikawal oleh staf Jawatan Sosial bersama Titik Yuliati dan Sussilityaningsih.

Rakhmat menambahkan, salah satu target jangka pendek yang harus dieksekusi oleh pengurus baru ini adalah melakukan pemetaan dan mencetak instruktur olahraga lokal, khususnya untuk cabang senam kreasi baru. Langkah pembibitan ini krusial untuk memastikan proses regenerasi pelatih di tingkat akar rumput berjalan dengan baik tanpa hambatan baku.

“Pembinaan kader dan instruktur senam tingkat kapanewon ini sangat mendesak untuk menjaga keberlanjutan program jangka panjang. Kita harus memastikan Depok selalu siap, baik secara kualitas fisik maupun kesiapan organisasi, saat harus mendelegasikan perwakilan dalam ajang kompetisi olahraga wanita di tingkat kabupaten maupun di level Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain aspek kompetisi, ruang ini juga harus dioptimalkan untuk memperkuat integrasi dengan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita agar olahraga rekreasi seperti yoga, jalan sehat, dan bulutangkis semakin inklusif diakses oleh semua lapisan masyarakat,” kata Rakhmat menambahkan komitmennya.

Melalui legalitas kepengurusan yang baru ini, Perwosi Kapanewon Depok diharapkan mampu mengikis ego sektoral dengan membangun kemitraan yang kokoh bersama Dinas Pemuda dan Olahraga serta kader kesehatan desa. Sinergitas yang terjalin erat ini ditargetkan mampu melahirkan regulasi aktivitas fisik yang rutin, terstruktur, dan berdampak nyata pada penurunan angka kesakitan massal di wilayah Depok. (Athiful/KIM Depok)




FK-KMK UGM Latih Kesiapsiagaan Darurat Medis Berbasis Keluarga di Tempel

Sleman — Penguatan ketahanan kesehatan nasional dinilai tidak dapat lagi bertumpu sepenuhnya pada ketersediaan fasilitas medis formal, melainkan harus dimulai dari kemandirian unit terkecil, yakni keluarga. Guna mewujudkan pilar tersebut, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diseminasi program intervensi kesehatan bertajuk Community and Family Health Care–Interprofessional Education (CFHC-IPE) yang kini sukses memasuki pelaksanaan tahun kedua.

Agenda pemaparan hasil pendampingan yang mengusung tema spesifik “Family Health and Emergency” tersebut dipusatkan di Joglo Kadisono, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (30/5/2026). Forum strategis ini mempertemukan dosen pembimbing lapangan, jajaran birokrasi kalurahan, puluhan kader kesehatan, serta perwakilan masyarakat untuk membedah peta temuan klinis dan rekomendasi tindak lanjut penanganan risiko penyakit di tingkat domestik.

Program CFHC-IPE merupakan model inovasi pembelajaran berbasis komunitas jangka panjang yang mengintegrasikan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, keperawatan, dan gizi kesehatan. Melalui skema kolaboratif ini, para calon tenaga kesehatan dilatih keluar dari zona teori ruang kuliah untuk bersentuhan langsung dengan dinamika sosiologis, psikologis, dan faktor lingkungan yang memengaruhi status kesehatan sebuah keluarga.

Mewakili Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kamituwa Margorejo Anwar Insani, mengapresiasi tinggi konsistensi para mahasiswa UGM yang berkomitmen melakukan pendampingan secara kontinu selama dua tahun berturut-turut di wilayahnya. Kehadiran para mahasiswa dinilai efektif mendobrak kebiasaan buruk masyarakat dalam mengabaikan gejala penyakit kronis.

“Keberadaan para mahasiswa UGM di tengah-tengah pemukiman warga Margorejo memberikan kemanfaatan yang sangat nyata dan terukur. Selain berhasil mendongkrak literasi kesehatan warga mengenai mitigasi penyakit, kegiatan ini juga ampuh membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan dan keselamatan tubuh merupakan tanggung jawab penuh setiap anggota keluarga, bukan hanya tugas bidan desa. Kami berharap sinergi lintas sektor antara perguruan tinggi dan pemerintah kalurahan ini terus dirawat agar program yang sudah dirintis mampu memicu dampak jangka panjang bagi peningkatan indeks pembangunan manusia di desa kami,” ujar Anwar Insani saat memberikan sambutan.

Dosen pembimbing lapangan sekaligus narasumber kegiatan, Purwanto, menjelaskan bahwa jika fokus tahun pertama berpusat pada pemetaan demografi dan identifikasi masalah, maka target tahun kedua ini ditekankan pada penguatan kapasitas kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kesehatan (emergency). Keluarga wajib diposisikan sebagai lini pertama yang cakap mengeksekusi pertolongan pertama sebelum bantuan medis tiba di lokasi.

“Banyak kasus kegawatdaruratan domestik, seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan rumah tangga, yang membutuhkan respons cepat sekian menit dari anggota keluarga atau tetangga terdekat demi menyelamatkan nyawa pasien. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis masyarakat di akar rumput mengenai tindakan penyelamatan awal menjadi hal yang sangat krusial. Melalui pendekatan kolaborasi profesi ini, mahasiswa juga kami latih untuk melihat sebuah persoalan kesehatan secara holistik, tidak hanya mendiagnosis dari aspek klinis kedokteran saja, melainkan juga membedah faktor perilaku dan lingkungan sosialnya,” kata Purwanto menjabarkan esensi edukasi.

Melalui diseminasi data lapangan yang dikumpulkan oleh Angkatan 2024 ini, pemerintah kalurahan kini mengantongi draf rekomendasi akurat untuk mengarahkan kebijakan anggaran kesehatan desa secara lebih efektif. Langkah taktis ini diharapkan menjadi role model nasional mengenai bagaimana kolaborasi institusi pendidikan dan komunitas lokal mampu melahirkan masyarakat yang mandiri, responsif, dan tangguh dalam menangani isu kesehatan secara swadaya sejak dari dalam rumah. (SBD/KIM Senyum Tempel)