Gumregah Takbir Rinengga Budaya, Harmoni Syiar Islam dan Kearifan Lokal di Kapanewon Tempel

Sleman — Tradisi malam takbiran di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terus bertransformasi menjadi ruang syiar yang tidak hanya sarat dengan nilai spiritualitas, tetapi juga merefleksikan kekayaan budaya lokal. Manifestasi tersebut teperikan secara nyata dalam festival akbar Tempel Takbiran 2026 yang mengusung tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Agenda kolosal yang dinisiasi oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Tempel bersama berbagai unsur keagamaan ini mengambil titik awal (start) dari Masjid At-Taqwa Sono Kulon, Kalurahan Merdikorejo, dan berakhir (finish) di Lapangan Lumbungrejo. Iring-iringan gema takbir ini memukau ribuan warga yang memadati sepanjang rute berkat atraksi display takbir kreatif, lampion raksasa, hingga keterlibatan puluhan pelaku UMKM lokal yang menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Ketua Panitia Pelaksana, Ilham Syukron, menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut memiliki filosofi mendalam mengenai semangat bangkit mengagungkan kebesaran Tuhan yang dihiasi dan diperkaya oleh keindahan tradisi Nusantara. Pola pendekatan kebudayaan dinilai menjadi instrumen dakwah yang santun, inklusif, dan ampuh dalam merajut ukhuwah serta persatuan antar-warga.

“Melalui tema ini, kami ingin menghadirkan festival takbiran yang bukan hanya mengejar kemeriahan seremonial belaka, melainkan sebuah syiar yang penuh makna spiritual, memperkuat rajutan kebersamaan, serta memberi ruang ekspresi kreativitas bagi generasi muda dalam nuansa Islami. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa, di mana lomba takbir tahun ini diikuti oleh tujuh kontingen terbaik dari Kalurahan Margorejo, Merdikorejo, Sumberrejo, Mororejo, Tambakrejo, serta dua kontingen dari Lumbungrejo. Dengan rata-rata 50 peserta per kelompok, total ada sekitar 350 pendekar takbir yang turun ke jalan, membuktikan bahwa tradisi ini menjadi ruang pemersatu lintas generasi,” ujar Ilham Syukron di sela-sela perlombaan.

Setelah melalui proses kurasi dan penilaian ketat dari dewan juri profesional, Kontingen Lumbungrejo 1 (Sedogan) ditetapkan sebagai juara pertama berkat keunggulan aransemen musik dan harmoni budaya. Posisi Juara 2 diraih oleh Kontingen Lumbungrejo 2 (Krasakan), sedangkan Juara 3 berhasil diamankan oleh kontingen dari Kalurahan Margorejo.

Ilham menambahkan, indikator penilaian tidak hanya bertumpu pada kemegahan properti, melainkan aspek kefasihan makhorijul huruf dalam mengumandangkan takbir, kekompakan barisan, persentase unsur budaya, serta ketertiban di sepanjang jalur pawai. Pihak panitia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta yang telah menampilkan performa terbaik dengan tetap menjaga esensi utama takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Apresiasi senada juga dilontarkan oleh Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, yang ikut memantau langsung jalannya festival dari panggung kehormatan. Pihaknya menilai manajemen kepanitiaan berhasil mengemas acara dengan sangat tertib, aman, sekaligus mampu meredam konotasi negatif malam takbiran yang kerap diwarnai aksi penyalaan petasan atau knalpot brong.

“Pemerintah kapanewon sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini, yang menjadi contoh nyata bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan secara positif, damai, dan membangun dengan budaya lokal. Ini bukan sekadar perayaan menyambut hari raya, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat harmoni sosial dan persatuan masyarakat Tempel. Keberhasilan acara yang luar biasa ini mutlak tidak lepas dari kolaborasi yang sangat solid antara jajaran birokrasi, panitia, organisasi kepemudaan, serta kesadaran warga dalam menjaga ketertiban umum,” kata Rasyid Ratnadi Sosiawan menegaskan.

Guna menjamin kelancaran arus lalu lintas dan sterilisasi jalur protokol, panitia menerapkan sistem pengamanan berlapis dengan mengonsolidasikan ratusan personel gabungan. Pengamanan lapangan tersebut melibatkan unsur Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas), Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pendekar Tapak Suci, jajaran relawan lokal, hingga kelompok Jaga Warga.

Melalui kemasan festival yang tertib dan estetis ini, masyarakat Kapanewon Tempel berhasil mengirimkan pesan kuat ke tingkat nasional bahwa nilai-nilai spiritualitas agama dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Di tengah laju modernisasi, Tempel Takbiran 2026 menjadi bukti autentik bahwa syiar keagamaan yang berbalut seni tradisi mampu bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang membahagiakan sekaligus mempererat kohesi kehidupan berbangsa. (SBD/KIM SENYUM TEMPEL)




Ratusan Aparat dan Warga Gamping Meriahkan Hari Jadi ke-110 Sleman Lewat Senam Massal

Sleman — Kampanye penguatan gaya hidup sehat dan pembentukan ekosistem masyarakat yang bugar terus digelorakan di tingkat kewilayahan. Menyambut momentum peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, ratusan peserta dari berbagai instansi dan elemen warga memadati halaman Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk mengikuti aksi senam massal pada Jumat (29/5/2026).

Agenda olahraga bersama ini mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan di wilayah barat Sleman. Massa yang hadir berbaur menjadi satu, mulai dari pegawai jajaran Pemerintah Kapanewon Gamping, personel Kepolisian Sektor Gamping, anggota Koramil 17/Gamping, serta tenaga medis dari Puskesmas Gamping I dan II. Selain itu, tampak hadir pula perwakilan dari Stasiun Geofisika Sleman, Kantor Urusan Agama (KUA), Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (BPKB), perangkat kalurahan se-Kapanewon Gamping, hingga pengurus Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna yang bergerak lincah mengikuti instruksi pemandu senam.

Panewu Gamping, Suyanto, menegaskan bahwa penuaan usia Kabupaten Sleman harus merefleksikan peningkatan kualitas hidup masyarakatnya, yang salah satunya diukur dari derajat kesehatan harian. Aktivitas fisik yang masif ini sengaja dipilih sebagai instrumen taktis untuk mencairkan sekat birokrasi dan mendekatkan hubungan emosional antarinstansi pelayanan publik dengan warga yang dilayaninya.

“Momentum sakral Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman ini harus kita maknai secara konkret sebagai upaya kolektif untuk membangun tatanan masyarakat yang sehat, produktif, dan harmonis. Melalui senam massal ini, kita tidak hanya membakar kalori secara fisik, tetapi juga mempertebal modal sosial berupa rasa kekeluargaan dan solidaritas lintas sektoral. Kita ingin membumikan kembali kesadaran publik mengenai urgensi investasi kesehatan melalui aktivitas olahraga rutin yang murah dan gembira,” ujar Suyanto dengan penuh semangat di sela-sela kegiatan.

Suyanto memaparkan, penguatan edukasi mengenai pembiasaan gaya hidup aktif menjadi agenda mendesak di tengah ancaman disrupsi penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan diabetes yang kian marak menyerang usia produktif di kawasan urban. Gerakan berolahraga minimal tiga puluh menit sehari diharapkan bertransformasi menjadi kebudayaan baru yang melekat pada sendi kehidupan keluarga.

Pihak otoritas kapanewon menempatkan status kesehatan warga sebagai indikator makro keberhasilan pembangunan daerah. Ketika indeks kesehatan masyarakat berada pada level optimal, maka produktivitas kerja dan daya saing ekonomi wilayah otomatis akan terkerek naik secara linear.

“Kesehatan masyarakat merupakan salah satu fondasi paling utama dan mendasar dalam mendukung kelancaran seluruh roda pembangunan daerah. Dengan modal tubuh yang sehat, jiwa yang prima, serta lingkungan sosial yang kompak dan solid, seluruh elemen masyarakat Gamping dapat berkontribusi secara maksimal dan optimal dalam menggerakkan berbagai sektor pembangunan strategis di wilayah ini,” kata Suyanto menambahkan.

Kemeriahan pesta rakyat dalam bingkai olahraga ini ditutup dengan pembagian ratusan hadiah hiburan (doorprize) menarik serta panggung hiburan musik yang semakin melarutkan suasana kebersamaan. Kehadiran ragam kluster masyarakat dari berbagai latar belakang profesi ini menjadi simbol konkret dari kokohnya semangat gotong royong warga Gamping yang humanis untuk berjalan beriringan mendukung program kerja pemerintah daerah yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Peringati Hari Jadi ke-110 Sleman, Puskesmas Gamping II Fasilitasi Cek Kesehatan dan Skrining Penyakit Gratis

Sleman — Tingginya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di kalangan masyarakat urban memicu otoritas kesehatan untuk memperluas jangkauan deteksi dini. Memanfaatkan momentum peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, Puskesmas Gamping II menggelar aksi pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis berskala makro yang dipusatkan di Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Langkah jemput bola ini dioptimalkan sebagai instrumen preventif guna menyisir potensi gangguan kesehatan kronis di tingkat keluarga. Sejak pagi hari, ratusan warga dari berbagai kluster usia tampak memadati area pendopo untuk mengakses beragam layanan laboratorium dasar, yang meliputi pengukuran tekanan darah, pengecekan kadar gula darah sewaktu, pemeriksaan kolesterol total, konsultasi medis, hingga edukasi gizi seimbang.

Kepala Puskesmas Gamping II, Aris Misyari, menegaskan bahwa perayaan hari jadi daerah harus diorientasikan pada pemenuhan hak-hak dasar publik, salah satunya pemastian derajat kesehatan masyarakat. Program skrining massal tanpa biaya ini dirancang untuk mendobrak sekat psikologis warga yang selama ini cenderung enggan mendatangi fasilitas klinis sebelum keluhan penyakitnya memasuki stadium lanjut.

“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman sudah sepatutnya kita wujudkan melalui aksi nyata yang memberikan kemanfaatan langsung kepada masyarakat luas. Salah satunya melalui program pemeriksaan kesehatan gratis ini, yang bertindak sebagai langkah intervensi hulu untuk menekan angka kesakitan akibat komplikasi penyakit degeneratif. Kami ingin mendorong paradigma sehat di masyarakat, di mana deteksi dini menjadi sebuah kebutuhan harian demi peningkatan kualitas hidup jangka panjang,” ujar Aris Misyari di sela-sela memantau jalannya pemeriksaan.

Di meja layanan konsultasi, tim medis yang bertugas, Indah, secara teliti membedah lembar hasil laboratorium harian para pasien. Indah menjelaskan bahwa indikator angka yang tertera pada lembar hasil pemeriksaan merupakan peta klinis yang sangat krusial sebagai fondasi pengendalian faktor risiko metabolik, seperti gejala awal hipertensi dan diabetes melitus.

“Melalui lembar hasil pemeriksaan laboratoris ini, warga bisa langsung mengidentifikasi batas ambang normal tubuh mereka dan mengetahui faktor risiko penyakit bawaan secara objektif. Kami mengimbau dengan sangat agar warga tidak mengabaikan hasil skrining ini, terutama jika ditemukan indikator yang telah melampaui batas aman. Intervensi dini, baik melalui modifikasi pola makan, pembatasan konsumsi garam dan gula, maupun aktivitas fisik yang teratur, akan jauh lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan pengobatan kuratif di rumah sakit ketika organ tubuh sudah mengalami kerusakan,” kata Indah menjelaskan konsekuensi medis kepada pasien.

Aksi tanggap kesehatan ini disambut antusias oleh para pengunjung yang merasa terbantu secara finansial, mengingat biaya skrining metabolik mandiri di laboratorium komersial relatif tinggi bagi masyarakat menengah ke bawah. Melalui sinergi yang kokoh antara unit pelaksana teknis puskesmas, jajaran kapanewon, dan kader wilayah, momentum ekologis ini diharapkan mampu memperkuat komitmen makro Kabupaten Sleman dalam mencetak generasi yang sehat, mandiri, dan tangguh guna mendukung roda pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Ubah Limbah Jadi Maslahat, Warga Karangploso Sleman Gulirkan Gerakan Sedekah Sampah Ngepos Asri

Sleman — Kedaruratan pengelolaan limbah rumah tangga pasca-penutupan tempat pembuangan akhir terpusat memicu lahirnya berbagai inovasi tata kelola lingkungan berbasis swadaya masyarakat. Komitmen ini ditunjukkan secara nyata oleh warga Padukuhan Karangploso, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, yang konsisten menggulirkan Gerakan Sedekah Sampah Ngepos Asri pada Jumat (29/5/2026).

Aksi lingkungan komunal tersebut dioptimalkan sebagai langkah taktis warga untuk menekan volume timbulan sampah langsung dari sumbernya di tingkat dapur keluarga. Melalui mekanisme pemilahan yang disiplin, masyarakat setempat berhasil mengubah persepsi terhadap barang bekas dari sekadar limbah yang mengotori pemukiman menjadi komoditas sirkular ekonomi yang memiliki nilai kemaslahatan sosial yang tinggi.

Ketua Sedekah Sampah Ngepos Asri, Jubaidi, memaparkan bahwa teknis pelaksanaan gerakan ini bertumpu pada kesadaran warga untuk menyetorkan jenis sampah anorganik yang masih laku dijual dan didaur ulang. Ragam komoditas yang dikumpulkan meliputi botol plastik, kertas bekas, kardus, logam, hingga minyak goreng bekas atau jelantah yang berpotensi mencemari saluran air.

“Gerakan sedekah sampah ini merupakan ikhtiar kolektif kami agar warga tidak lagi menganut paradigma lama yang sekadar membuang sampah begitu saja tanpa dipilah. Kami mengedukasi masyarakat untuk melihat adanya nilai manfaat besar di balik pemilahan sampah anorganik ini. Seluruh draf sampah yang terkumpul ini kami distribusikan ke jaringan pengepul daur ulang, dan seluruh uang hasil penjualannya langsung dialokasikan ke kas sosial untuk membiayai kegiatan keagamaan, bantuan warga sakit, serta operasional pemeliharaan lingkungan kampung,” ujar Jubaidi di sela-sela proses penimbangan sampah warga.

Jubaidi menegaskan bahwa reduksi sampah dari level domestik merupakan solusi paling instan untuk memperpanjang usia pakai tempat pemrosesan akhir sampah di tingkat daerah. Upaya ini sekaligus menjadi instrumen edukasi publik yang efektif guna menanamkan prinsip bahwa kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab moral bersama, bukan semata-mata beban bagi petugas kebersihan pemerintah.

Melalui manajemen yang tertib dan transparan, tumpukan sampah anorganik tersebut berhasil dikonversikan menjadi tabungan sosial penopang ketahanan ekonomi warga di tingkat rukun tetangga. Pola pengumpulan terpadu ini juga terbukti ampuh merekatkan kembali ikatan sosiologis dan budaya gotong royong warga suburban yang sarat akan kesibukan harian.

Kemandirian tata kelola lingkungan ini diharapkan dapat menjadi prototipe bagi padukuhan lain di Sleman agar tidak lagi bergantung pada skema pembuangan konvensional. Warga diajak membiasakan langkah sederhana dari rumah masing-masing, yakni memisahkan karakter zat sampah organik untuk pembuatan pupuk kompos dan menyisihkan draf anorganik untuk disedekahkan.

“Target besar kami ke depan adalah menjadikan perilaku memilah sampah dari rumah ini sebagai kebudayaan harian yang melekat pada setiap individu warga. Dengan sistem pemisahan yang konsisten dari hulu, lingkungan pemukiman otomatis menjadi jauh lebih asri dan higienis, tata kelola sampah lingkungan menjadi lebih mandiri, serta surplus nilai ekonominya dapat dinikmati bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Jubaidi menegaskan.

Langkah kecil yang diinisiasi oleh warga Karangploso ini membuktikan bahwa resolusi krisis iklim dan masalah darurat sampah perkotaan dapat dimulai secara efektif melalui tindakan nyata di tingkat rumah tangga. Sinergi antara pemeliharaan ekosistem dan penguatan solidaritas sosial ini diharapkan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang tidak hanya cerdas mengelola lingkungan, tetapi juga responsif terhadap isu-isu kemanusiaan di sekitarnya. (Athiful/KIM Depok)




Tekan Angka Kerentanan Sosial, Tim Penanggulangan Kemiskinan Gamping Salurkan Bansos dan Santunan

Sleman — Akselerasi program jaring pengaman sosial terus digulirkan secara terpadu demi memperkuat daya beli masyarakat di tingkat akar rumput. Mengantisipasi dampak fluktuasi ekonomi bagi kelompok rentan, Tim Penanggulangan Kemiskinan Kapanewon Gamping menyalurkan paket bantuan sosial (bansos) dan santunan bagi ratusan warga pra-sejahtera yang dipusatkan di Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Pemberian paket stimulan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Panewu Anom Gamping, Kurnia Astuti, sebagai representasi kehadiran birokrasi dalam mengawal perlindungan sosial kemasyarakatan. Agenda ini dirancang sebagai instrumen taktis untuk memitigasi risiko kerentanan sosial sekaligus mengkonsolidasikan kembali komitmen kolektif antara jajaran pemerintah, lembaga donor, dan organisasi sosial dalam menekan kantong-kantong kemiskinan di wilayah Gamping.

Dalam pemaparannya, Kurnia Astuti merinci bahwa bantuan yang disalurkan mencakup santunan tunai bagi 25 anak yatim serta paket sembako dan modal dasar bagi 100 keluarga kurang mampu. Intervensi ini diarahkan untuk meringankan pemenuhan kebutuhan logistik harian warga serta menjaga stabilitas sosial agar tidak terjadi penurunan kualitas hidup yang ekstrem pada kelompok masyarakat bawah.

“Penanganan masalah kemiskinan makro tidak bisa diselesaikan sepihak oleh birokrasi, melainkan memerlukan kerja bersama secara inklusif dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran pemerintah, sektor dunia usaha, organisasi nirlaba, hingga kepedulian swadaya masyarakat itu sendiri. Melalui kolaborasi yang kuat ini, instrumen program sosial dapat berjalan jauh lebih akurat, tepat sasaran, serta memberikan dampak perubahan nyata bagi pemulihan ekonomi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus,” ujar Kurnia Astuti saat memberikan pengarahan kepada para penerima manfaat.

Kurnia menegaskan bahwa dukungan materil dan moral bagi anak-anak yatim merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang yang krusial. Pendampingan ini wajib dilakukan secara konsisten agar anak-anak dari keluarga rentan tetap memelihara motivasi tinggi serta memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh akses pendidikan formal yang layak demi memutus rantai kemiskinan struktural.

Guna mengeliminasi potensi konflik horizontal dan salah sasaran, Tim Penanggulangan Kemiskinan Kapanewon Gamping menerapkan metode validasi data berjenjang dengan melibatkan langsung para pamong di tingkat kalurahan dan dukuh. Rekonsiliasi data kemiskinan berbasis wilayah ini mengacu pada kondisi riil harian para calon penerima manfaat.

“Pendekatan verifikasi faktual dari tingkat bawah ini sengaja kami perketat untuk menjamin asas transparansi, akuntabilitas anggaran, sekaligus mendongkrak efektivitas program penanggulangan kemiskinan di tingkat kapanewon. Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah bantuan yang dikucurkan negara benar-benar mendarat di tangan warga yang secara regulasi berhak menerima,” kata Kurnia Astuti menambahkan.

Aksi cepat tanggap ini disambut positif oleh perwakilan warga yang hadir, yang mengaku sangat terbantu di tengah tingginya harga komoditas pokok di pasar. Melalui stimulus ini, Pemerintah Kapanewon Gamping mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi luhur gotong royong dan kesalehan sosial di lingkungan terkecil masing-masing. Penguatan solidaritas dan jaminan sosial yang berkelanjutan menjadi modal dasar utama bagi Kabupaten Sleman dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang merata, adil, dan humanis. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)