Berikan Rasa Aman, Pemkab Sleman Jamin Keselamatan Atlet Pelatkab Lewat BPJS Ketenagakerjaan

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil langkah nyata untuk menjamin keamanan, keselamatan, serta kesejahteraan para atlet yang tengah menempuh pemusatan Pelatihan Atlet Kabupaten (Pelatkab). Upaya perlindungan ini diwujudkan melalui pemberian asuransi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yang diintegrasikan langsung dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Langkah strategis ini diumumkan langsung oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman, Heru Saptono, di sela-sela pembukaan Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Catur Sleman 2026 yang berlangsung di Aula Pangripto Bappeda Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026). Melalui jaminan perlindungan sosial ini, para atlet diharapkan dapat tampil tanpa beban dan sepenuhnya fokus pada program latihan yang sedang dijalani.

“Pemberian program asuransi kesehatan ketenagakerjaan itu bukan hanya bagi atlet saja, namun termasuk pelatih, ofisial, serta semua pihak yang terlibat langsung pada Pelatkab Sleman. Langkah ini memberikan rasa aman serta jaminan bagi kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka,” ujar Heru Saptono saat memberikan pemaparan.

Kebijakan jaminan sosial ini dinilai memberikan dampak psikologis yang sangat positif, tidak hanya bagi internal tim tetapi juga bagi lingkungan keluarga atlet. Dengan diikutkannya para atlet dalam program BPJS Ketenagakerjaan, para orang tua diyakini akan merasa jauh lebih tenang dan mendukung penuh ketika anak-anak mereka mendapatkan panggilan resmi untuk masuk ke pemusatan latihan daerah.

Selain berfokus pada proteksi jaminan kerja, Heru Saptono dalam kesempatan yang sama juga mendorong para siswa mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di wilayah Sleman untuk aktif berolahraga serta menekuni salah satu cabang olahraga pilihan secara serius. Pemerintah daerah terus berkomitmen menstimulasi anak-anak muda agar mampu bertransformasi menjadi atlet-atlet terbaik di masa depan.

Komitmen pemerintah dalam mendukung penuh masa depan para atlet muda ini juga dibuktikan lewat kemudahan akses pendidikan. Heru menjelaskan bahwa dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), pemerintah telah menyediakan kuota khusus melalui jalur apresiasi prestasi olahraga bagi anak-anak berprestasi.

“Jalur apresiasi prestasi olahraga ini hadir sebagai sebuah penghargaan konkret dari pemerintah yang diberikan kepada atlet berprestasi. Semakin tinggi jenjang prestasi yang didapat di lapangan, semakin banyak pula tambahan poin akademik yang diberikan oleh pihak sekolah untuk membantu kelanjutan studi mereka,” pungkas Heru Saptono. (Kusnadi / KIM Berbah)




Tolak Tawaran Perusahaan Air, Warga Nglahar Sleman Komitmen Jaga Kelestarian Sendang Lewat Tradisi Adat

Sleman – Warga RW 32 Padukuhan Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman menunjukkan integritas tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Di tengah gempuran komersialisasi, warga berkomitmen penuh untuk mempertahankan tiga mata air purba di wilayah mereka dari incaran korporasi demi menjamin ketersediaan air bagi anak cucu di masa depan.

Komitmen kuat ini menjadi ruh utama dalam puncak upacara adat Nguras Sendang yang digelar pada Sabtu (27/6/2026). Acara berpusat pada prosesi kirab kendhi yang membawa air suci dari Sendang Soka, Sendang Siputat, dan Sendang Tretes. Air kehidupan tersebut dikirab dari tempat persemayaman (palereman) menuju panggung utama untuk didoakan bersama dalam sebuah kenduri agung yang sakral.

Acara ini dihadiri oleh Esti Listyawati dari Dinas Kebudayaan Sleman, Eko Suhargono dari Dewan Kebudayaan Sleman, Nur Cahyo Prasetyo Budi Utomo dari Kapanewon Moyudan, serta Sukadi dari Pemerintah Kalurahan Sumbersari bersama jajaran pamong dan tokoh masyarakat setempat.

Sebuah fakta mengejutkan diungkapkan oleh Eko Suhargono di sela-sela acara. Ia membeberkan bahwa sumber mata air di Nglahar ini sebenarnya pernah ditawar oleh sebuah perusahaan air minum swasta untuk dikomersialkan, namun warga secara tegas menolak tawaran tersebut.

“Masyarakat tidak boleh membiarkan ini dijual. Mungkin secara ekonomi jangka pendek akan meningkat kalau dijual, tetapi dampaknya warga tidak akan bisa lagi menikmati air sendang ini secara langsung. Solusi terbaik ke depan adalah kolaborasi dengan UMKM, misalnya membuat kolam renang atau ruang usaha ekonomi warga, sehingga kesejahteraan naik tetapi sendang tetap lestari,” tegas Eko Suhargono.

Integritas warga Nglahar dalam mempertahankan mata air demi kemandirian lokal tersebut menuai apresiasi mendalam dari Nur Cahyo Prasetyo Budi Utomo. Sementara itu, Esti Listyawati dari Dinas Kebudayaan Sleman juga mengaku bangga atas kemandirian warga yang sukses menyelenggarakan upacara adat ini secara swadaya tanpa ketergantungan penuh pada bantuan eksternal.

“Alhamdulillah warga Nglahar mandiri menyelenggarakan kegiatan ini. Dinas Kebudayaan berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk nguri-uri (melestarikan) budaya seperti ini. Ke depan, silakan ajukan permohonan dana ke dinas, walaupun anggaran kami terbatas, kami akan berupaya mendukung,” tutur Esti Listyawati.

Menutup rangkaian acara, Sukadi dari Kalurahan Sumbersari kembali mengingatkan esensi mendasar dari pelaksanaan tradisi kuras sendang ini kepada seluruh jemaah dan warga yang hadir. Ia menegaskan bahwa merawat sendang adalah bagian dari merawat peradaban.

“Upacara ini adalah warisan luhur nenek moyang kita. Tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, memohon keselamatan, menghormati leluhur, serta yang terpenting adalah menjaga harmoni dengan alam sekitar. Mari kita jaga bersama dan lestarikan warisan berharga ini untuk generasi mendatang,” pungkas Sukadi. (Giek / KIM Moyudan)




Cetak Bibit Master Masa Depan, 168 Pecatur Ikuti Kejurkab Catur Sleman 2026

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman resmi membuka Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Catur Sleman 2026 yang berlangsung di Aula Pangripto Bappeda Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026). Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sleman, ajang ini digelar sebagai langkah taktis untuk menjaring serta mencetak master-master catur baru di masa depan.

Turnamen tahunan ini dihadiri langsung oleh Kepala Dispora Sleman Heru Saptono, Ketua Percasi Sleman Nuradi Indrawijaya, Wakil Ketua II Tukiman Hariwijaya, perwakilan pengurus Nuning Prasetyaningrum, serta Ketua Panitia Pelaksana Basuki Susilo beserta jajaran ofisial dan atlet. Agenda ini menjadi bukti nyata komitmen daerah dalam membangun sistem pembinaan olahraga asah otak yang berkelanjutan.

Ketua Percasi Sleman, Nuradi Indrawijaya, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman atas kepercayaan dan perhatian yang terus diberikan. Menurutnya, Kejurkab bukan sekadar ajang formalitas untuk berburu gelar juara semata, melainkan instrumen penting untuk memetakan potensi atlet sejak dini.

“Kejurkab Catur adalah wadah untuk upaya pencarian bibit atlet, mengukur hasil pembinaan selama proses pembinaan berjalan, melakukan evaluasi, pendataan atlet, serta pemetaan potensi setiap kelompok usia. Berdasar semua itu akan menjadi dasar penyusunan program pembinaan atlet yang lebih terarah dan berkelanjutan,” ujar Nuradi Indrawijaya saat memberikan sambutan.

Nuradi memaparkan, antusiasme peserta pada Kejurkab tahun ini melonjak drastis mencapai 168 pecatur, meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti oleh 124 atlet. Para peserta tersebut merupakan perwakilan dari 17 kapanewon di seluruh wilayah Sleman yang terbagi dalam kategori junior berdasarkan kelompok umur, kategori senior usia 20 hingga 49 tahun, serta kategori veteran untuk usia di atas 50 tahun.

Membuka acara secara resmi mewakili Bupati Sleman, Kepala Dispora Sleman, Heru Saptono, menyatakan rasa bangganya atas konsistensi dan perkembangan roda organisasi Percasi Sleman. Terlebih, dalam waktu dekat asosiasi ini juga bersiap menyelenggarakan Musyawarah Kerja Kabupaten (Mukerkab) untuk merumuskan program jangka panjang.

“Pemerintah Kabupaten Sleman merasa bangga akan prestasi atlet catur yang mengharumkan nama Kabupaten Sleman. Bukan hanya pada level provinsi, tetapi membawa nama harum Sleman di kancah internasional melalui Keny dan Shafira. Kami berharap ajang ini kembali melahirkan atlet-atlet internasional baru,” kata Heru Saptono membacakan amanat Bupati.

Melalui pembukaan resmi ini, persaingan sengit di atas papan catur dimulai. Pemerintah daerah berharap momentum Kejurkab 2026 ini dapat memotivasi seluruh pecatur muda Sleman untuk terus mengasah kemampuan, melatih mental bertanding, dan bersiap menjadi andalan Indonesia di berbagai kompetisi global mendatang. (Kusnadi / KIM Berbah)




Cegah Komplikasi Diabetes, Prolanis Klinik Citra Asri Sleman Gelar Pemeriksaan Gula Darah Berkala

Sleman – Klinik Citra Asri memperkuat komitmennya dalam mendukung kesehatan masyarakat, khususnya bagi para penyandang Diabetes Melitus (DM). Langkah nyata tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP) yang ditujukan bagi para anggota Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Klinik Citra Asri, Kabupaten Sleman, Sabtu (27/6/2026) pagi.

Aksi pemeriksaan kesehatan gratis yang berlangsung mulai pukul hingga WIB ini diikuti secara antusias oleh puluhan warga yang selama ini aktif dalam program pengelolaan penyakit kronis. Agenda rutin tersebut difokuskan untuk memantau kondisi kesehatan riil para peserta secara berkala, sekaligus membantu menjaga agar kadar gula darah mereka tetap terkontrol dengan baik guna meminimalkan risiko komplikasi berbahaya akibat diabetes.

Sebelum menjalani deteksi medis, para peserta diwajibkan untuk berpuasa terlebih dahulu sejak pukul WIB pada malam harinya, dengan dispensasi hanya diperbolehkan mengonsumsi air putih. Guna memastikan ketertiban administrasi, warga juga diminta membawa kelengkapan data berupa fotokopi kartu BPJS Kesehatan atau KTP saat mendatangi lokasi layanan.

Koordinator Prolanis Klinik Citra Asri, Desi DS, menjelaskan bahwa pemeriksaan gula darah secara berkala merupakan salah satu instrumen paling vital dalam manajemen pengendalian penyakit diabetes. Menurutnya, penyakit kronis seperti diabetes melitus memerlukan penanganan dan pengawasan yang berkesinambungan agar kualitas hidup pasien tidak menurun.

“Pemeriksaan rutin ini menjadi sarana untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan peserta. Dengan pemantauan yang teratur, kadar gula darah dapat dikendalikan sehingga risiko komplikasi dapat ditekan. Kesadaran untuk memeriksakan diri secara rutin merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengendalikan diabetes,” ujar Desi DS di sela-sela memantau jalannya pemeriksaan.

Desi menambahkan bahwa konsumsi obat secara teratur sesuai petunjuk dokter harus diimbangi dengan kedisiplinan mandiri. Pasien sangat disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, mengontrol asupan nutrisi makanan harian, serta menyempatkan diri berolahraga secara proporsional.

Dampak positif dari program jemput bola ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta Prolanis, Yuliati. Ia mengaku sangat terbantu dan merasa lebih tenang dalam mengontrol kondisi fisiknya berkat adanya fasilitas pemeriksaan berkala yang disediakan oleh pihak klinik secara terjadwal.

“Dengan pemeriksaan seperti ini, kami menjadi lebih disiplin menjaga pola makan dan lebih memahami kondisi kesehatan kami sendiri,” kata Yuliati.

Melalui agenda berkala ini, Klinik Citra Asri tidak hanya memberikan layanan medis berupa pengetesan darah, melainkan juga menyisipkan edukasi interaktif mengenai pentingnya menjaga gaya hidup sehat. Melalui langkah preventif yang berkesinambungan ini, para penyandang diabetes di wilayah setempat diharapkan dapat tetap produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Situs Akpol Darurat di Sleman, Rumah Joglo Tua yang Jadi Saksi Lahirnya Kader Polisi pada Masa Revolusi

Sleman – Di balik hamparan sawah yang tenang di Dusun Nanggulan, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, berdiri sebuah rumah joglo tua yang menyimpan kisah besar perjalanan bangsa. Bangunan yang kini dikenal sebagai Situs Akpol Darurat itu bukan sekadar rumah berusia lebih dari satu abad, melainkan saksi bisu lahirnya kader-kader kepolisian Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.

Di atas tanah seluas meter persegi, bangunan seluas sekitar meter persegi yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1885 ini menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Kepolisian Republik Indonesia. Ketika Agresi Militer Belanda II melanda Yogyakarta pada 1948, pendidikan Akademi Kepolisian yang sebelumnya berpindah dari Sukabumi ke Mertoyudan, Magelang, kembali harus mencari tempat yang aman. Dusun Nanggulan dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Akpol Darurat, menjadikannya salah satu titik penting dalam mempertahankan keberlangsungan pendidikan kepolisian di tengah situasi perang.

Nilai sejarah tersebut diakui secara resmi. Pada tahun 2005, pemilik rumah saat itu, Sukapsir, menerima Penghargaan Pelestarian Warisan Budaya dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta atas kepeduliannya menjaga bangunan bersejarah tersebut.

Kini, rumah itu dirawat oleh generasi ketiga keluarga, Oscar Ranyo yang akrab disapa Sinyo. Di usianya yang ke-54 tahun, ia terus menjaga keaslian bangunan yang menjadi tujuan kunjungan pelajar, peneliti, hingga wartawan yang ingin menelusuri jejak sejarah perjuangan bangsa.

Meski berstatus sebagai situs sejarah dan cagar budaya, Sinyo mengaku perawatan bangunan masih mengandalkan kemampuan keluarga. “Meskipun sudah ada yang diganti seperti langit-langit dan ubin, tetapi perabot dan rumah inti tak banyak berubah. Namun karena ini milik pribadi maka pengelolaannya ya, semampu kami,” ungkap Sinyo saat ditemui di lokasi, Minggu (28/6/2026).

Keaslian arsitektur joglo beserta suasana pedesaannya justru menjadi daya tarik lain. Dalam beberapa tahun terakhir, Situs Akpol Darurat berkembang menjadi lokasi favorit pengambilan gambar berbagai film layar lebar, film televisi, hingga sesi foto pra-pernikahan. Melalui nama “Joglo Shooting Minggir”, kawasan ini dikenal luas di kalangan sineas. Sejumlah film nasional seperti Kereta Api Terakhir dan Nyai Ahmad Dahlan pernah mengambil adegan di lokasi ini. Sutradara ternama, termasuk Slamet Rahardjo, juga pernah memanfaatkan keunikan situs tersebut sebagai latar cerita.

Tak hanya menjadi ruang pelestarian sejarah, keberadaan Joglo Shooting Minggir turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran rumah-rumah homestay, keterlibatan warga sebagai figuran film, hingga pemanfaatan lahan seluas sekitar meter persegi dengan sejumlah pohon jati untuk kebutuhan pengambilan gambar luar ruangan menjadi bukti bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Situs Akpol Darurat hanyalah satu dari sekian banyak potensi yang dimiliki wilayah Minggir. Kawasan barat Kabupaten Sleman ini menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan bentang alam pedesaan yang berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata berkarakter, sekaligus memperkuat identitas pariwisata berbasis pertanian dan warisan budaya.

Lebih dari sekadar bangunan tua, Situs Akpol Darurat adalah pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat generasi penerus bangsa ditempa. Di Minggir, sejarah masih hidup, dirawat, dan menunggu untuk diceritakan kepada setiap pengunjung yang datang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)