Sabet 13 Medali di Porkab Sleman 2026, Pemerintah Kapanewon Gamping Kucurkan Uang Pembinaan Bagi Atlet dan Pelatih

Sleman — Pemerintah Kapanewon Gamping secara resmi memberikan apresiasi tinggi berupa insentif dan uang pembinaan kepada puluhan atlet serta pelatih yang sukses menyumbangkan medali pada ajang Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Sleman 2026. Upacara penyerahan penghargaan yang berlangsung penuh haru dan kebanggaan ini dipusatkan di Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Agenda ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopimcam) Gamping, pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tingkat kapanewon, tim ofisial, serta seluruh pahlawan olahraga daerah. Pemberian reward ini dikonversikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, kedisiplinan, dan militansi para atlet dalam mengamankan posisi tawar wilayah Gamping di kancah olahraga prestasi tingkat kabupaten.

Panewu Gamping, Suyanto, menegaskan bahwa kucuran uang pembinaan ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam mengawal masa depan generasi muda yang telah mengorbankan waktu dan tenaga demi mengharumkan nama daerah. Keberhasilan menembus zona medali dinilai bukan sekadar kemenangan statistik di atas kertas, melainkan sebuah suntikan kebanggaan kolektif bagi seluruh warga Gamping.

“Prestasi gemilang yang diraih oleh para atlet kita merupakan buah manis dari proses latihan yang konsisten, kerja keras yang melelahkan, serta semangat juang yang luar biasa di arena pertandingan. Pemerintah kapanewon tentu memberikan apresiasi setinggi-tingginya sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka. Kami berharap insentif ini tidak dinilai dari nominalnya saja, melainkan dipandang sebagai energi tambahan dan stimulus motivasi agar para atlet terus berkembang, konsisten berlatih, dan mampu mempertahankan dominasi juara pada kompetisi-kompetisi berikutnya,” ujar Suyanto saat memberikan sambutan.

Suyanto menjabarkan, pada rilis klasemen akhir Porkab Sleman 2026, Kontingen Kapanewon Gamping berhasil membawa pulang total 13 medali, dengan rincian 2 medali emas, 8 medali perak, dan 3 medali perunggu dari 8 cabang olahraga yang diikuti. Grafik capaian medali tahun ini menunjukkan indikator peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang menandakan bahwa ekosistem pembinaan olahraga di tingkat basis berjalan ke arah yang benar.

“Keberhasilan mendongkrak perolehan medali tahun ini mutlak tidak lepas dari adanya kerja sama yang sangat solid antara atlet, ketelatenan pelatih, dukungan moral keluarga, serta fasilitasi program dari pemerintah daerah. Kita harus terus mempererat sinergi lintas sektoral ini agar rantai pembinaan atlet potensial tidak terputus di tengah jalan,” kata Suyanto menambahkan.

Rasa bangga dan haru salah satunya diutarakan oleh Zidan Aswangga, atlet andalan dari cabang olahraga atletik yang sukses menyumbangkan 2 medali perak di nomor lari jarak jauh meter dan nomor 800 meter. Ia mengakui bahwa perhatian langsung dari jajaran birokrasi kapanewon memberikan dampak psikologis yang besar bagi mental bertanding para atlet.

“Kami merasa sangat bangga, bersyukur, dan semakin termotivasi atas perhatian nyata yang diberikan oleh pemerintah kapanewon malam ini. Penghargaan ini menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi saya dan teman-teman atlet lainnya untuk terus melahap porsi latihan lebih berat lagi. Ini menjadi bahan bakar kami untuk menargetkan medali emas dan mengharumkan nama Gamping pada ajang olahraga yang lebih tinggi, baik di tingkat kabupaten mendatang maupun di tingkat pekan olahraga provinsi,” kata Zidan Aswangga dengan penuh semangat.

Melalui momentum pemberian penghargaan terstruktur ini, Pemerintah Kapanewon Gamping berharap budaya olahraga prestasi dapat mengakar kuat dan meluas di tengah kehidupan masyarakat harian. Selain diproyeksikan untuk mencetak bibit-bibit juara baru, aktivitas olahraga massal ditargetkan mampu membentuk karakter generasi muda Sleman yang tangguh, tangkas, disiplin, berbadan sehat, serta memiliki daya saing yang tinggi dalam menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Peringati Hari Jadi ke-110 Sleman, PMI Gamping Gelar Aksi Donor Darah Lintas Sektoral

Sleman — Momentum peringatan hari jadi ke-110 Kabupaten Sleman dimanfaatkan oleh jajaran kemanusiaan untuk mempertebal solidaritas sosial dan membantu sesama. Langkah nyata ini diwujudkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Gamping dengan menggelar aksi bakti sosial donor darah massal yang dipusatkan di Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Agenda kemanusiaan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut mengonsolidasikan berbagai elemen strategis, mulai dari aparatur pemerintah kapanewon, jajaran relawan, personel TNI-Polri, hingga warga masyarakat umum. Aksi kolektif ini dioptimalkan sebagai langkah taktis untuk membantu mengamankan ketersediaan stok kantong darah di unit pelayanan transfusi darah PMI Kabupaten Sleman yang kerap mengalami lonjakan permintaan dari sejumlah rumah sakit.

Panewu Gamping, Suyanto, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas besarnya animo dan keterlibatan aktif semua unsur dalam menyukseskan agenda sosial ini. Menurut analisisnya, perayaan hari jadi daerah sudah selayaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung aspek pemenuhan kebutuhan dasar dan keselamatan jiwa masyarakat.

“Kegiatan sosial seperti donor darah ini perlu terus kita galakkan secara masif untuk merawat budaya gotong royong yang menjadi akar filosofis masyarakat kita. Selain berkontribusi langsung dalam menjaga stabilitas pasokan darah di markas PMI, forum kemanusiaan ini menjadi sarana paling efektif untuk membangun kepekaan sosial serta mengikat kembali semangat kebersamaan lintas elemen masyarakat di wilayah Kapanewon Gamping,” ujar Suyanto saat memantau langsung jalannya proses pengambilan darah.

Tingginya antusiasme warga yang mengantre untuk menyumbangkan darahnya menunjukkan indikator positif dari kuatnya sinergi komunal masyarakat Gamping. Pihak otoritas wilayah pun berharap agar kebiasaan mendonorkan darah secara sukarela ini dapat bergeser dari sekadar partisipasi momentum seremonial menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang konsisten dijalankan oleh warga.

Urgensi pemenuhan kuota cadangan darah ini dipertegas oleh Ketua PMI Kapanewon Gamping, Sudarmaji. Ia memaparkan bahwa tingkat ketergantungan pelayanan medis rumah sakit di Sleman terhadap pasokan darah segar harian tergolong sangat tinggi, sehingga pergerakan jemput bola ke wilayah-wilayah dinilai menjadi solusi paling instan untuk memitigasi risiko kelangkaan stok darah.

“Kebutuhan pasokan darah di wilayah Kabupaten Sleman secara akumulatif masih sangat tinggi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, kami di tingkat kapanewon terus berupaya memperbanyak frekuensi pelaksanaan donor darah berkala di tingkat basis. Kami menyadari sepenuhnya bahwa partisipasi dan kerelaan masyarakat adalah faktor penentu paling utama di balik keberhasilan seluruh program kemanusiaan penyelematan jiwa ini,” kata Sudarmaji menjelaskan strategi lembaganya.

Sudarmaji menjamin bahwa seluruh rangkaian proses pengambilan darah dari lengan pendonor telah melewati standardisasi klinis dan prosedur kesehatan yang ketat. Sebelum diizinkan melakukan penyadapan darah, setiap calon pendonor diwajibkan melewati fase skrining awal yang meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kadar hemoglobin, penimbangan berat badan, hingga wawancara mendalam mengenai riwayat kesehatan guna memastikan keamanan medis baik bagi pendonor maupun pasien penerima darah nantinya.

Selain mengusung misi menyelamatkan nyawa orang lain, Sudarmaji juga mengedukasi warga bahwa donor darah yang dilakukan secara rutin setiap dua hingga tiga bulan sekali memiliki dampak linear yang sangat baik bagi kebugaran tubuh pendonor itu sendiri. Aktivitas ini mampu menstimulasi pembentukan sel-sel darah merah baru secara berkala, menjaga kesehatan jantung, serta menjadi deteksi dini kesehatan dasar bagi masyarakat secara gratis.

“Melalui momentum Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman ini, kita ingin mempertegas kembali nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat. Selain membantu menjaga ketersediaan stok darah di unit transfusi, kegiatan ini terbukti efektif memperkuat rasa persaudaraan, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong yang menjadi identitas utama warga Kabupaten Sleman yang humanis dan berbudaya,” pungkas Sudarmaji mengakhiri keterangannya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tekan Risiko Kematian Ibu dan Bayi, Puskesmas Tempel I Sleman Perketat Validasi Data Persalinan

Sleman — Akurasi data dari tingkat basis dinilai menjadi kunci utama dalam melakukan intervensi medis guna menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) secara nasional. Merespons urgensi tersebut, jajaran otoritas kesehatan bersama pemerintah daerah mempercepat pembenahan administrasi kesehatan melalui kegiatan Sosialisasi Pendataan Ibu Bersalin yang berpusat di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Agenda penguatan jaring informasi medis ini mengonsolidasikan ratusan kader kesehatan yang menjadi motor penggerak dari empat wilayah strategis di Sleman, yakni Kalurahan Lumbungrejo, Mororejo, Margorejo, dan Merdikorejo. Pemetaan dini terhadap kondisi ibu hamil dan bersalin ini dioptimalkan sebagai langkah preventif untuk meminimalkan keterlambatan penanganan kedaruratan obstetri di tingkat keluarga.

Mewakili Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kamituwa Margorejo Anwar Insani, menyatakan bahwa militansi para kader di tingkat padukuhan merupakan modal sosiologis terbesar dalam menyukseskan program jaminan mutu kesehatan nasional. Validitas data yang disetorkan oleh para kader secara real-time menjadi fondasi bagi birokrasi dalam menentukan arah kebijakan anggaran dan distribusi fasilitas kesehatan.

“Pendataan terhadap ibu hamil dan ibu bersalin di tingkat RT dan RW ini sangat krusial karena menjadi dasar mutlak bagi kami dalam menentukan langkah pendampingan klinis dan pemenuhan hak pelayanan kesehatan warga. Ketika data lapangan yang kami miliki akurat dan valid, maka penanganan potensi risiko tinggi pada kehamilan bisa dieksekusi lebih cepat, taktis, dan tepat sasaran tanpa terhambat sekat birokrasi,” ujar Anwar Insani saat memberikan pengarahan di hadapan peserta sosialisasi.

Anwar menambahkan, dinamika di lapangan menuntut kader kesehatan tidak sekadar bertindak sebagai pencatat administratif di atas kertas. Mereka memegang peran strategis sebagai jembatan komunikasi persuasif yang mampu mencairkan ketakutan warga terhadap fasilitas layanan kesehatan formal seperti puskesmas dan rumah sakit.

Urgensi teknis mengenai pembaruan data secara berkala dibedah secara mendalam oleh Bidan Puskesmas Tempel I, Iin Purwaningsih. Dalam pemaparannya, ia mengingatkan bahwa fluktuasi kondisi klinis ibu hamil sangat dinamis, sehingga kelalaian dalam memperbarui draf pendataan berisiko fatal pada hilangnya momentum penanganan kegawatdaruratan medis (golden period).

“Data pelaporan yang terstruktur dengan baik akan sangat membantu kami selaku tenaga kesehatan di puskesmas untuk memetakan kondisi riil ibu hamil secara menyeluruh. Lewat instrumen ini, kita bisa mendeteksi dini faktor risiko penyulit persalinan, seperti anemia kronis, hipertensi, atau malnutrisi, sekaligus menentukan formula pendampingan klinis yang diperlukan sebelum hari perkiraan lahir tiba,” kata Iin Purwaningsih menjelaskan fungsi teknis validasi data.

Lebih lanjut, Iin menegaskan bahwa kontribusi kader kesehatan sangat signifikan dalam membangun kesadaran kolektif keluarga, terutama untuk memastikan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara rutin, mengonsumsi suplemen penambah darah, serta menyiapkan jaminan pembiayaan kesehatan sejak awal trimester pertama.

Melalui penguatan kolaborasi tripartit antara jajaran pemerintah kalurahan, unit pelaksana teknis puskesmas, dan kelembagaan kader masyarakat ini, Kapanewon Tempel bertekad mewujudkan ekosistem pelayanan publik yang responsif, inklusif, dan bebas dari kasus kematian ibu. Standardisasi sistem pendataan berbasis wilayah ini diharapkan menjadi role model bagi akselerasi pembangunan sumber daya manusia nasional yang sehat, unggul, dan tangguh sejak di dalam kandungan. (SBD/KIM SENYUM TEMPEL)




Standarisasi BNSP, Belasan Personel PMI Sleman Ikuti Pelatihan Sertifikasi Kompetensi Nasional

Sleman — Upaya peningkatan profesionalisme lembaga kemanusiaan di tingkat daerah terus dipacu melalui standardisasi kompetensi berskala nasional. Guna mencetak instruktur yang andal dan diakui negara, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menggelar Training of Trainer (TOT) dan Sertifikasi Keahlian Khusus yang dibuka secara resmi di Ruang Sindoro Prima SR, Jalan Magelang, Kabupaten Sleman, pada Kamis (28/5/2026).

Agenda strategis ini diikuti oleh 15 personel pilihan yang diproyeksikan menjadi pilar penggerak pendidikan dan pelatihan kemanusiaan yang terstruktur di Sleman. Seluruh peserta akan menjalani program karantina kompetensi intensif ini hingga 7 Juni 2026 mendatang di bawah bimbingan langsung dari Sakirin, fasilitator senior dari Lembaga Pelatih SDM Bangun Negeri yang telah mengantongi lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Ketua Panitia Penyelenggara, Sri Wantini, memaparkan bahwa komposisi belasan peserta tersebut dirancang secara inklusif untuk memperkuat seluruh lini organisasi. Keterlibatan peserta mencakup 4 orang dari unsur pengurus, 1 orang staf markas, 4 orang relawan Tenaga Sukarela (TSR), serta 6 orang personel Korps Sukarela (KSR) Markas PMI Sleman. Langkah ini diambil sebagai implementasi riil dari amanat Tujuan Strategis 4 organisasi untuk membangun kapasitas SDM yang unggul dan adaptif terhadap perubahan iklim kebencanaan.

“Komitmen penguatan kapasitas ini dipertegas melalui capaian target untuk meningkatkan kapabilitas serta kinerja Unit Pelaksana Teknis sebagai pusat unggulan dalam mengelola SDM PMI. Salah satu prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah ketersediaan tenaga pelatih yang kompetensinya diakui secara nasional. Pengakuan legalitas itu hanya dapat diperoleh secara sah melalui mekanisme sertifikasi profesi oleh BNSP selaku otoritas tunggal sertifikasi kompetensi di Indonesia,” ujar Sri Wantini saat menyampaikan laporan berkala kepanitiaan.

Sepanjang pelaksanaan TOT, para peserta wajib menuntaskan tiga fase pengujian yang komprehensif. Tahap pertama diawali dengan pemaparan materi substansial yang disertai dengan sesi bedah kasus dan tanya jawab interaktif. Tahap kedua memasuki fase penugasan mandiri, simulasi praktik mengajar (micro teaching), serta penyusunan dokumen portofolio kerja. Puncaknya, pada tahap ketiga, para peserta akan diuji kemampuannya secara langsung oleh tim asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP guna menentukan kelayakan kelulusan sertifikasi profesi mereka.

Langkah akselerasi ini mendapatkan dukungan penuh dari manajemen tertinggi organisasi. Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menegaskan bahwa kepemilikan sertifikat berlambang Garuda emas dari BNSP bagi para pelatih bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan prasyarat mutlak dalam tata kelola organisasi modern yang akuntabel.

“Saya berpesan agar seluruh peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan ini dengan penuh kesungguhan dan disiplin tinggi. Kesempatan TOT ini harus dijadikan sebagai tonggak sejarah sekaligus modal besar dalam mewujudkan visi PMI Sleman yang Profesional, Bersinergi, dan Berkelanjutan dalam memberikan pelayanan kemanusiaan terbaik kepada masyarakat. Pelatihan bersertifikasi ini sudah kami agendakan sejak pencanangan Visi dan Misi Organisasi periode 2024-2029. Kita harus bergerak menuju arah yang profesional, baik secara tata kelola organisasinya, kapasitas orangnya, pemanfaatan teknologinya, maupun keandalan peralatannya,” kata Mafilindati Nuraini menegaskan arah kebijakan organisasi.

Melalui standarisasi kompetensi yang ketat ini, PMI Kabupaten Sleman bersiap mentransformasi pusat diklatnya menjadi rujukan utama penanganan kedaruratan yang bersesuaian dengan regulasi perundang-undangan di Indonesia. Kelulusan para peserta dari sertifikasi BNSP ini diharapkan dapat menjamin bahwa setiap transfer ilmu keselamatan dan kepalanganmerahan yang diberikan kepada sukarelawan baru di lapangan berada pada standar mutu tertinggi. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




FMIPA UNY Salurkan Daging Kurban Guna Perkuat Solidaritas Sosial Komunitas Kampus

Sleman — Momentum perayaan hari besar keagamaan tidak sekadar dimaknai sebagai ritual ibadah tahunan, melainkan menjadi pemantik bagi institusi pendidikan tinggi untuk memperkokoh tanggung jawab sosial. Memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) menggelar penyembelihan tiga ekor sapi yang dipusatkan di lingkungan kampus pada Jumat (29/5/2026).

Agenda penyembelihan hewan kurban ini dioptimalkan sebagai perwujudan nyata dari kepedulian sosial, penguatan rasa kebersamaan, serta penegasan komitmen seluruh sivitas akademika FMIPA UNY dalam menghadirkan kemaslahatan publik. Penyaluran daging kurban diarahkan untuk menjangkau masyarakat prasejahtera di sekitar lingkungan kampus serta elemen keluarga besar universitas yang berhak menerima.

Dekan FMIPA UNY, Dadan Rosana, menegaskan bahwa ibadah kurban mengemban misi ganda yang sangat mulia, yakni ketakwaan secara vertikal kepada Tuhan sekaligus pembentukan kesalehan sosial secara horizontal di tengah masyarakat. Pesan luhur mengenai pengorbanan dan keikhlasan ini dinilai sangat relevan untuk diadopsi dalam kehidupan sehari-hari guna mengikis sifat egoisme sektoral.

“Ibadah kurban ini mengajarkan kita semua untuk memperkuat tali kebersamaan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Nilai-nilai substantif dari ibadah kurban harus mampu bertransformasi menjadi energi moral bagi seluruh sivitas akademika untuk terus konsisten berbagi, mengabdi, dan menundukkan ego pribadi demi mengutamakan kemaslahatan bersama. Semangat kemanusiaan ini penting untuk terus dirawat secara berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi,” ujar Dadan Rosana di sela-sela memantau jalannya pemotongan hewan kurban.

Dadan memaparkan bahwa pemaknaan kisah historis kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memberikan keteladanan yang kuat mengenai integritas, kesabaran, dan tanggung jawab. Karakteristik mulia tersebut menjadi fondasi penting bagi ekosistem kampus dalam mencetak generasi muda dan ilmuwan yang tidak hanya unggul secara intelektual di ruang laboratorium, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan kepedulian sosial yang tinggi di tengah realitas masyarakat.

Dalam konteks penguatan institusi, iklim Idul Adha ini dimanfaatkan manajemen fakultas sebagai momentum strategis untuk mengikis jarak sosial antar-elemen dan membangun budaya saling peduli. Kampus modern dituntut mampu menyeimbangkan antara pengembangan sains teknologi dengan aksi pengabdian masyarakat yang konkret.

“FMIPA UNY terus mendorong agar semangat pencapaian akademik dapat berjalan seiring dengan penguatan kepedulian sosial. Ilmu pengetahuan yang diproduksi di kampus harus mampu memberi manfaat praktis bagi publik, dan pengabdian harus tertanam menjadi bagian dari jati diri serta budaya kerja kampus kami,” kata Dadan Rosana menambahkan.

Pihak fakultas berharap melalui pendistribusian daging kurban yang dikelola secara higienis ini dapat mempererat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan rasa syukur kolektif, serta memperluas jejaring kebermanfaatan institusi di wilayah Sleman. Melalui spirit Idul Adha, sivitas akademika FMIPA UNY diharapkan semakin totalitas dalam mengemban tugas kependidikan dan semakin tangguh dalam membangun kebersamaan yang inklusif.

“Semoga spirit Idul Adha tahun ini dapat terus mendorong kita semua untuk tanpa lelah menebarkan kebajikan, memperkuat simpul kepedulian sosial, dan menjadikan esensi pengorbanan sebagai jalan utama dalam membangun tatanan kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih baik,” pungkas Dadan Rosana mengakhiri keterangannya. (Athiful/KIM Depok)