Dinsos Sleman Sebut WKSBM Gotong Royong Modern, Administrasi dan Dana Jadi Urat Nadi Organisasi

Sleman – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman menggelar pembinaan intensif bagi pengurus Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Paramartha di Joglo Ledok, Padukuhan Tegal, Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Sabtu (27/6/2026). Langkah ini dilakukan guna memastikan lembaga sosial di tingkat akar rumput tersebut tetap hidup, mandiri, dan kuat dalam membantu sesama.
Agenda pembinaan ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kalurahan Sidoarum, Dukuh Tegal, pengurus RT dan RW, perwakilan karang taruna, serta seluruh pengurus WKSBM Paramartha. Pertemuan ini difokuskan untuk memperkuat kelembagaan sosial agar mampu merespons berbagai dinamika kemiskinan dan masalah sosial di lingkungan terdekat secara cepat.
Ketua Tim Kerja Kelembagaan Dinsos Sleman, Sri Handayani, menegaskan bahwa di tengah tekanan ekonomi saat ini, WKSBM dituntut untuk hadir menjadi solusi konkret bagi warga sekitar. Konsep WKSBM sejatinya mengadopsi nilai luhur yang sudah lama mengakar kuat di dalam kebudayaan masyarakat Jawa.
“WKSBM itu dari masyarakat, untuk masyarakat, oleh masyarakat. Prinsip dasarnya sudah ada di orang Jawa, yaitu gotong royong dan kepedulian sosial. Ini adalah wujud gotong royong modern yang terlembaga dengan baik,” ujar Sri Handayani, yang akrab disapa Handa, saat memberikan arahan.
Dalam kesempatan tersebut, Dinsos Sleman turut memberikan apresiasi tinggi kepada kelompok karang taruna setempat yang telah hampir sepuluh tahun konsisten menjadi motor penggerak utama WKSBM Paramartha. Handa menjelaskan, fungsi utama dari lembaga ini adalah membantu Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dan warga kurang mampu demi menguatkan ketahanan sosial di wilayah.
“Perkuat jaringan dan kemitran, pasti bisa tangani PPKS di wilayah. Kami juga berharap Pemerintah Kalurahan ikut merasa handarbeni (memiliki) dengan menerbitkan SK untuk pengurus, serta mendukung alokasi anggaran sesuai kemampuan kalurahan. WKSBM hendaknya terus berkolaborasi dengan Dinsos dalam penanganan masalah sosial,” tambah Handa.
Urusan manajerial internal organisasi menjadi sorotan utama dalam materi yang disampaikan oleh perwakilan Forum WKSBM Kabupaten Sleman, Lilia Ciptaningsih. Ia mengupas tuntas aspek keorganisasian dengan menitikberatkan pada kerapian administrasi sebagai tolok ukur profesionalitas lembaga sosial.
“Administrasi itu tulang punggung organisasi. Harus ada buku notula, daftar hadir, buku keuangan, buku tamu, hingga daftar PPKS yang valid. Jangan lupa buat laporan tertulis sebagai bentuk akuntabilitas kepada publik dan donatur,” tandas Lilia Ciptaningsih.
Melengkapi materi keorganisasian, narasumber lainnya, Sukarjono, memaparkan strategi taktis mengenai penggalangan dana mandiri. Menurutnya, aspek finansial merupakan aspek krusial yang menentukan keberlanjutan program kerja sosial di tingkat padukuhan.
“Dana ibarat akar yang menopang organisasi. Tanpa alokasi dan pengelolaan yang tepat, rencana besar cuma akan jadi mimpi. Pengurus bisa memanfaatkan usaha persewaan barang, melibatkan donatur lingkungan, mengumpulkan barang bekas layak jual, bekerja sama dengan pengumpul zakat, hingga menghidupkan kembali tradisi jimpitan,” jelas Sukarjono memberikan solusi kreatif.
Melalui pembinaan di Joglo Ledok ini, sebuah pesan penting berhasil dirumuskan bersama bahwa kekuatan WKSBM di era modern sangat bergantung pada tertibnya administrasi dan kreativitas pengurus dalam menggali sumber pendanaan local. (Giek/KIM Moyudan)



