Gelar Pekan PBB, Padukuhan Kendal Sleman Berhasil Himpun Pajak Rp7,25 Juta dalam Empat Jam

Sleman – Upaya percepatan pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Tahun 2026 di Padukuhan Kendal, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman membuahkan hasil menggembirakan. Melalui inovasi layanan bertajuk Pekan PBB yang digelar pada Jumat (26/6/2026) siang, pemerintah padukuhan setempat berhasil menghimpun pembayaran pajak dari masyarakat sebesar hanya dalam waktu empat jam.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul hingga WIB ini sengaja dihadirkan untuk menjemput bola. Sasaran utamanya adalah para wajib pajak yang memiliki keterbatasan waktu atau belum sempat melakukan pembayaran secara mandiri, baik melalui aplikasi perbankan maupun lewat mekanisme penitipan reguler ke petugas padukuhan.

Antusiasme warga dalam menyukseskan program ini tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data di lapangan, sekitar 40 wajib pajak berbondong-bondong mendatangi lokasi dengan membawa lebih dari 150 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) untuk langsung dilunasi di tempat.

Kepala Padukuhan Kendal, Agus Dwi Subekti, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan Pekan PBB tersebut. Menurutnya, kesadaran tinggi yang ditunjukkan oleh warga menjadi kunci utama kesuksesan agenda penyerapan pajak daerah ini.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Dana yang terkumpul mencapai dan akan langsung disetorkan pada Sabtu, 27 Juni 2026,” ujar Agus Dwi Subekti saat memberikan keterangan di sela-sela acara.

Agus menjelaskan bahwa total ketetapan PBB untuk wilayah Padukuhan Kendal pada tahun 2026 ini berada di angka . Dengan demikian, hasil optimal yang diperoleh melalui gerakan jemput bola ini telah berhasil mengamankan lebih dari seperempat target ketetapan PBB keseluruhan padukuhan hanya dalam satu kali pelaksanaan kegiatan.

“Ini merupakan capaian yang sangat positif. Kami berharap semangat masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakan terus meningkat sehingga target pelunasan PBB tahun ini dapat segera tercapai,” tambah Agus optimis.

Langkah taktis yang dilakukan oleh jajaran pemerintah padukuhan ini juga mendapat perhatian dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Perwakilan dari Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman, Arkha Baligede Haruan Siregar, turut hadir langsung untuk meninjau jalannya proses pembayaran sekaligus memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif lokal dalam mendongkrak kesadaran perpajakan warga.

Selain perwakilan dari BKAD Sleman, kegiatan ini juga dihadiri oleh Lurah Bangunkerto Anas Makruf, Penjabat Kaur Danarta Kalurahan Bangunkerto Reny Kusumastuti, serta beberapa kepala padukuhan tetangga seperti Dukuh Jurugan Walid Turmudzi, Dukuh Gadung Acon Sulaksono, dan Dukuh Ngumbul Nugroho yang datang memberikan dukungan moral.

Di akhir penjelasannya, Agus menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kepedulian kolektif warga yang tersebar di tiga wilayah sub-padukuhan, yakni Kendal, Pandansaren, dan Sidoharjo. Pihak pemerintah padukuhan berharap capaian ini bisa memotivasi sisa wajib pajak lainnya yang belum melunasi kewajiban mereka untuk segera membayar sebelum jatuh tempo demi kelancaran pembangunan daerah (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi).




KUA Depok Sleman Gandeng Remaja Masjid Berprestasi Perkuat Gerakan Ekoteologi Peduli Lingkungan

Sleman – Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, meluncurkan langkah strategis dengan memperkuat gerakan ekoteologi di kalangan generasi muda dan ibu-ibu pengajian. Langkah ini diwujudkan dengan merangkul Remaja Masjid Al-Mukhlasin Pringgolayan, Kalurahan Condongcatur yang merupakan Juara I Gen Z Memakmurkan Masjid Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2026, serta perwakilan majelis taklim se-Kapanewon Depok pada Jumat (26/6/2026).

Gerakan bersama yang berpusat di Depok ini sengaja digelar untuk mendongkrak kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Berbeda dengan kampanye lingkungan pada umumnya, gerakan ini mengedepankan pendekatan nilai-nilai keagamaan agar pesan yang disampaikan dapat menyentuh sisi spiritual masyarakat.

Kepala KUA Depok, Abu Hanifah, menegaskan bahwa ekoteologi merupakan gerakan penting yang mengintegrasikan ajaran agama secara langsung dengan aksi nyata pelestarian lingkungan, sebagaimana yang dipelopori oleh Kementerian Agama. Menurutnya, alam semesta tidak boleh hanya dipandang sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan harus dijaga sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.

“Menjaga bumi merupakan bagian dari ibadah dan wujud nyata keimanan. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, dimulai dari keluarga, masjid, hingga komunitas,” ujar Abu Hanifah saat memberikan pengarahan di hadapan para peserta.

Abu Hanifah menjelaskan lebih lanjut bahwa pendekatan melalui doktrin keagamaan memiliki kekuatan strategis dalam mengubah perilaku masyarakat luas. Nilai-nilai spiritual dinilai jauh lebih mampu menyentuh hati dan menjadi motor penggerak perubahan moral yang mendasar agar manusia lebih menyayangi alam sekitarnya.

“Bahasa agama sangat efektif untuk mengajak masyarakat menjaga lingkungan. Ketika merawat alam dipahami sebagai bagian dari menjalankan perintah agama, maka kesadaran untuk melestarikan lingkungan akan tumbuh dari dalam diri setiap individu secara ikhlas,” tambahnya menekankan urgensi metode tersebut.

Melalui penguatan gerakan ekoteologi ini, pihak KUA Depok menaruh harapan besar agar para remaja masjid berprestasi dan ibu-ibu majelis taklim dapat mengambil peran aktif di garda terdepan. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dan pelopor dalam mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

“Dengan demikian, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Melalui kolaborasi ini, kita ingin mewujudkannya menjadi sebuah gerakan bersama yang masif dan berlandaskan pada nilai-nilai luhur keagamaan,” tandas Abu Hanifah. (Athiful/KIM Depok)




Jaga Sumber Air, Warga Nglahar Gelar Ritual Adat Kuras Tiga Sendang Purba

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, menggelar ritual adat “Kuras Sendang” sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian mata air bagi generasi masa depan. Prosesi sakral yang berpusat di RW 32 ini dilaksanakan mulai Jumat sore (26/6/2026) hingga puncaknya pada Sabtu malam, sebagai respons atas mulainya musim kemarau sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan dan air di wilayah perbatasan.

Arak-arakan budaya dimulai dengan khidmat di bawah kawalan tabuhan kenong dari Bregada Paraga yang mengiringi barisan pembawa kendhi tanah liat serta ubarampe sesaji. Warga berjalan kaki menyusuri jalan dusun menuju tiga titik mata air purba yang selama ratusan tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, yaitu Sendang Soka, Sendang Siputat, dan Sendang Tretes. Ketiga sumber air ini memiliki nilai strategis tinggi karena debit airnya tidak pernah kering meskipun wilayah Yogyakarta kerap dilanda kemarau panjang.

Ritual utama di Sendang Soka diawali dengan pelantunan doa bersama dan tabur bunga di sekitar bibir pusaran air. Selanjutnya, Lurah Sumbersari, Sukadi, maju melakukan prosesi visualisasi budaya menggunakan siwur atau gayung yang terbuat dari tempurung kelapa bermenara bambu. Ia mengambil air dari dasar sendang dan membuangnya ke tanah sebanyak tujuh kali berturut-turut sebagai simbolisasi luhur pembersihan diri dari aura negatif serta penghormatan terhadap bumi. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Carik Sumbersari, Junaidi, beserta para peraga adat lainnya, sebelum akhirnya juru kunci sendang, Eka Endarto, menutup ritual dengan menampung sisa air suci ke dalam kendhi untuk disemayamkan.

Pola laku spiritual yang sama juga diterapkan secara berurutan di Sendang Siputat dan Sendang Tretes. Setelah seluruh kendhi terisi penuh oleh “air kehidupan” dari ketiga lokasi tersebut, draf pusaka air diarak kembali menuju pemukiman warga. Puncak acara yang berlangsung Sabtu malam diisi dengan kirab bersama menuju panggung utama, draf pembacaan doa lintas iman, serta kenduri agung yang melibatkan seluruh tokoh pemerintah daerah dan warga lintas generasi.

Ketua RW 32 Padukuhan Nglahar, Utoyo, menegaskan bahwa ritual tahunan ini merupakan ekspresi teologis dan sosiologis masyarakat agro-kultural yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Upacara ini menjadi ruang pengingat bagi warga urban maupun petani lokal agar tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dan tetap merawat pohon-pohon besar di sekitar zona tangkapan air.

“Kegiatan ini adalah ungkapan rasa syukur kami yang mendalam kepada Allah SWT. Bagi kami, air adalah sumber kehidupan utama sekaligus lambang kesuburan tanah. Alhamdulillah, atas kuasa-Nya, ketiga sendang purba di wilayah kami ini tetap mengalir deras dan jernih, bahkan mampu menghidupi warga walau diterpa kemarau panjang yang melanda DIY belakangan ini,” ujar Utoyo di sela-sela prosesi kenduri.

Urgensi penyelamatan mata air di wilayah Moyudan ini dinilai memiliki dampak sosiologis yang sangat luas. Carik Sumbersari, Junaidi, memaparkan bahwa aliran air dari ketiga sendang ini tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Sleman, melainkan juga mengalir ke hilir dan menghidupi lahan-lahan pertanian serta konsumsi domestik warga di wilayah Kabupaten Kulon Progo yang berbatasan langsung dengan Sungai Progo.

“Pemerintah Kalurahan Sumbersari memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Nglahar atas konsistensi merawat tradisi ini. Upacara adat ini bukan sekadar agenda seremonial atau tontonan wisata tahunan semata. Ada pesan draf ekologis yang sangat penting dan mendasar di sini, yaitu perintah untuk terus menjaga kebersihan saluran air dan menjaga kelestarian lingkungan sendang demi anak cucu kita di masa mendatang. Dari siwur ke kendhi, dari sendang ke panggung, warga Nglahar telah mengajarkan draf nyata bahwa menjaga kelangsungan air berarti menjaga peradaban kehidupan itu sendiri,” kata Junaidi memungkasi penjelasannya. (Giek/KIM Moyudan)




Sambut Muharam 1448 Hijriah, Pemerintah Kapanewon Depok Sleman Serukan Penguatan Dakwah Kebangsaan dan Moderasi Beragama

Sleman – Jajaran birokrasi pemerintahan bersama pemuka agama di wilayah aglomerasi Kabupaten Sleman sepakat memperkokoh benteng moralitas publik dalam menyambut tahun baru Islam. Langkah penguatan draf mentalitas spiritual tersebut ditegaskan oleh Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, yang mengajak seluruh elemen umat muslim menjadikan momentum Muharam 1448 Hijriah sebagai titik balik pembaharuan iman. Seruan taktis mengenai pentingnya menjaga kerukunan dan kepedulian sosial itu disampaikan langsung dalam forum koordinasi keumatan yang digelar di Pendopo Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (26/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti draf transformasi pemaknaan tahun baru Islam, dari yang semula sebatas perayaan seremonial konvensional diubah menjadi gerakan pemberdayaan umat yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan sosial perkotaan. Mengingat Kapanewon Depok merupakan pusat urbanisasi dengan draf heterogenitas penduduk yang sangat tinggi di Sleman, pemerintah setempat menilai penguatan nilai ukhuwah Islamiyah dan dakwah kebangsaan menjadi instrumen vital. Langkah intervensi nilai ini dinilai krusial guna meredam potensi gesekan sosial sekaligus menggerakkan filantropi lokal untuk membantu warga miskin di tingkat akar rumput.

Dalam draf arahannya di hadapan para tokoh agama, Rakhmat Harinawan menggarisbawahi bahwa makna hakiki dari hijrah di era modern adalah perpindahan kolektif dari pola hidup individualistis menuju penguatan solidaritas komunal yang masif.

“Muharam harus menjadi momentum nyata untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, dan membangun semangat hijrah menuju kualitas kehidupan yang jauh lebih baik. Nilai-nilai teologis tersebut tidak boleh berhenti di ruang diskusi, melainkan perlu diwujudkan secara konkret melalui aksi kepedulian sosial, penyaluran bantuan, dan pemeliharaan kebersamaan yang erat dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Rakhmat Harinawan secara lugas di podium.

Lebih lanjut, Rakhmat Harinawan menguraikan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok memegang peran strategis sebagai wadah khidmat integratif yang mempertemukan para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim untuk membimbing draf perilaku beragama warga. Peran sentral tersebut dituntut mewujud nyata dalam program penguatan moral remaja, dakwah kebangsaan yang cinta tanah air, serta pembinaan kehidupan keagamaan yang moderat tanpa draf radikalisme.

Dinas terkait juga mendesak pengurus lembaga keagamaan untuk segera menyusun draf program kerja terpadu yang mampu menyentuh lini kehidupan generasi muda digital secara berkelanjutan. Sinergi yang kokoh antara ulama sebagai pemegang otoritas moral dan umara sebagai pemegang otoritas politik dinilai menjadi kunci utama keberhasilan draf pembangunan daerah.

“Kolaborasi berkelanjutan ini sangat sejalan dengan arah draf kebijakan pembangunan jangka panjang Kabupaten Sleman. Kita menempatkan nilai keagamaan, kebersamaan, dan partisipasi aktif masyarakat sebagai draf kekuatan sosial yang utama guna membangun kehidupan umat yang harmonis, inklusif, serta mampu memberikan manfaat ekonomi maupun spiritual bagi masyarakat luas,” kata Rakhmat Harinawan menandaskan target draf kerjanya. (Athiful/KIM Depok)




Momentum Bulan Muharam, UPZ Kapanewon Depok Sleman Salurkan Santunan untuk 101 Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

Sleman – Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kapanewon Depok mengambil langkah nyata dalam memperkuat jaring pengaman sosial keagamaan di wilayah urban Kabupaten Sleman. Bertepatan dengan momentum sakral bulan Muharam 1448 Hijriah, lembaga amil zakat tersebut menyalurkan paket santunan sosial yang menyasar 101 penerima manfaat dari kalangan anak yatim piatu, kaum dhuafa, hingga mualaf. Agenda penyaluran bantuan yang dikemas dengan nuansa religius ini dipusatkan di Pendopo Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (26/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti draf optimalisasi instrumen zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebagai solusi konkret penanggulangan kemiskinan dan penguatan kohesi sosial di tingkat kecamatan. Melalui pengelolaan dana umat yang transparan, UPZ Kapanewon Depok tidak hanya memberikan bantuan konsumtif, melainkan juga mengintegrasikannya dengan draf pemenuhan sarana spiritual. Langkah intervensi ini didesain secara berkala untuk meringankan beban finansial keluarga prasejahtera, memotivasi draf kelanjutan pendidikan anak yatim, serta meneguhkan pendampingan iman bagi para mualaf yang baru memeluk agama Islam di wilayah setempat.

Paket bantuan yang didistribusikan secara langsung pada hari itu meliputi dana santunan uang saku tunai serta draf paket lengkap perlengkapan ibadah seperti sarung, mukena, dan Al-Qur’an. Penyerahan bantuan dikawal langsung oleh jajaran pengurus UPZ, disaksikan oleh aparatur pemerintah kapanewon, serta para tokoh agama setempat.

Ketua UPZ Kapanewon Depok, Muftikhul Umam, menegaskan bahwa draf penyaluran ini merupakan draf akuntabilitas publik atas amanah keuangan yang dititipkan oleh para muzaki (pembayar zakat). Ia menjamin bahwa draf pendataan para penerima manfaat telah melalui proses verifikasi lapangan yang ketat agar penyaluran dana zakat benar-benar tepat sasaran.

“Melalui santunan ini kami berharap anak-anak yatim, kaum dhuafa, dan mualaf dapat merasakan kebahagiaan bersama. Bantuan yang diberikan diharapkan mampu meringankan kebutuhan hidup mereka sekaligus menjadi penyemangat untuk terus belajar, beribadah, dan menatap masa depan dengan lebih optimistis. Zakat tidak hanya memiliki dimensi ibadah ritual, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat kepedulian sosial dan menghadirkan manfaat nyata bagi draf kesejahteraan masyarakat,” ujar Muftikhul Umam dalam draf sambutan keagamaan di podium.

Lebih lanjut, Muftikhul Umam menyampaikan draf apresiasi tertulis dan ucapan terima kasih kepada seluruh agensi pembayar zakat di wilayah Depok yang secara konsisten menyisihkan sebagian pendapatannya. Menurutnya, kepatuhan para muzaki menjadi draf modal utama bagi UPZ untuk terus memperluas jangkauan draf program pemberdayaan ekonomi umat berbasis syariah ke depan.

“Kami berterima kasih kepada seluruh muzaki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada UPZ Kapanewon Depok. Semoga kepercayaan ini terus terjaga dengan baik. Kami berharap manfaat zakat dapat dirasakan semakin luas sekaligus mendorong tumbuhnya budaya berbagi di tengah masyarakat. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi kewajiban yang ditunaikan secara formal, tetapi juga menjadi sarana membangun solidaritas sosial yang kokoh di tingkat akar rumput,” kata Muftikhul Umam menandaskan draf target jangka panjang lembaganya. (Athiful/KIM Depok)