Targetkan Kawinkan Gelar Juara, Bupati Harda Lepas Ratusan Pegiat FORDA II DIY Asal Sleman

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menargetkan torehan prestasi tertinggi dalam ajang kompetisi olahraga rekreasi tingkat provinsi. Bupati Sleman Harda Kiswaya secara resmi melepas kontingen yang terdiri atas 303 pegiat olahraga untuk berlaga dalam Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) II Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara pelepasan ini dilangsungkan secara meriah di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Kamis (2/7/2026).

Ratusan pegiat olahraga rekreasi tersebut dijadwalkan akan bertanding memperebutkan medali pada akhir pekan ini, tepatnya mulai Sabtu (4/7/2026) hingga Minggu (5/7/2026). Kehadiran delegasi dalam jumlah besar ini diharapkan mampu memperkuat dominasi prestasi olahraga Kabupaten Sleman di tingkat regional.

Dalam sambutan arahannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengutarakan rasa bangga yang mendalam atas dedikasi dan antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh para atlet masyarakat tersebut. Ia berpesan agar seluruh anggota kontingen dapat bertanding dengan determinasi tinggi, disiplin, namun tetap mengedepankan etika sportivitas di atas lapangan.

“Raihlah prestasi terbaik, namun yang tidak kalah penting adalah membangun persahabatan, memperluas jejaring, serta menjadi teladan dalam membudayakan gaya hidup sehat di masyarakat. Karena kemarin PORDA dan PEPARDA kita alhamdulillah bisa jadi juara umum, semoga pada FORDA ini seluruh pegiat juga bisa memberikan hasil yang terbaik. Saya juga berharap semoga seluruh pegiat senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kelancaran,” ujar Harda Kiswaya di hadapan ratusan atlet.

Optimisme bupati untuk mengawinkan gelar juara umum di berbagai sektor olahraga ini bukan tanpa alasan. Rekam jejak menunjukkan bahwa performa kontingen Sleman sangat dominan setelah sukses menyabet predikat juara umum pada perhelatan Pekan Olahraga Daerah (PORDA) DIY dan Pekan Paralimpik Daerah (PEPARDA) DIY pada tahun lalu.

Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Sleman, Suparman, memaparkan secara rinci mengenai kekuatan armada kontingen yang dikirimkan tahun ini. Ia memastikan bahwa seluruh atlet yang dilepas telah menjalani masa persiapan dan pemusatan latihan yang matang.

“Kabupaten Sleman mengirimkan 303 pegiat yang akan berlaga pada 17 Cabang Organisasi Olahraga Masyarakat atau COOM. Kami sangat optimis seluruh pegiat telah siap berkompetisi dan mampu memberikan performa terbaik sehingga dapat berkontribusi maksimal dalam meraih prestasi tertinggi bagi Kabupaten Sleman,” kata Suparman menegaskan kesiapan timnya.




Lurik Tenun Moyudan Jadi Magnet Pameran Konferensi Pendidikan Indonesia 2026

Sleman – Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dipadati peserta Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026 yang berlangsung pada 1–2 Juli 2026. Di tengah semarak pameran, Stan Kapanewon Moyudan tampil mencuri perhatian dengan mengusung tema “Jalinan Lurik Moyudan, Merajut Karakter, Menenun Masa Depan Pendidikan.”

Melalui tema tersebut, Moyudan menghadirkan identitas daerah dengan menampilkan lurik tenun asli hasil karya para perajin lokal. Tema tersebut bukan sekadar slogan. Setiap helai benang lurik yang dipamerkan merepresentasikan kerja keras para perajin sekaligus mengandung filosofi tentang pentingnya merajut karakter sebagai fondasi dalam membangun masa depan pendidikan.

Antusiasme pengunjung sangat tinggi. Memasuki hari kedua penyelenggaraan KPI, bahkan sebelum acara resmi ditutup, seluruh produk lurik tenun yang dipamerkan di stan Kapanewon Moyudan telah terjual habis. Stan tersebut juga terus dipadati pengunjung yang ingin melihat sekaligus membeli produk unggulan lokal.

Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Moyudan, Nur Cahyo Prasetyo Budi Utomo, mengatakan tingginya minat pengunjung menunjukkan bahwa kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman yang mengimbau Aparatur Sipil Negara (ASN) mengenakan lurik produk lokal memberikan dampak positif bagi para perajin.

“Imbauan Bupati Sleman agar ASN mengenakan lurik produk lokal terbukti efektif. Bahkan Bapak Susianto dari BPMP membeli dua potong lurik,” ujarnya di sela-sela kegiatan KPI, Kamis (2/7/2026).

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa lurik Moyudan bukan sekadar kain tradisional, melainkan identitas budaya yang sarat nilai, simbol pembentukan karakter, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Ketika pendidikan dipadukan dengan kearifan lokal, manfaat yang dihasilkan tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat UMKM dan meningkatkan kebanggaan terhadap produk daerah.  (Giek / KIM Moyudan)




Kapanewon Turi Raih Juara III Stand Terbaik pada Pameran KPI 2026

 Sleman – Kapanewon Turi menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara III Stand Terbaik dalam Pameran Sleman Sembada Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman pada rangkaian Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu-Kamis (1-2/7/2026).

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada”, sebuah gerakan bersama untuk mendorong transformasi pendidikan Indonesia melalui kolaborasi berbagai pihak.

Stand Kapanewon Turi tampil dengan mengangkat tema “Turi Nyawiji Sembada Mandhegani”, yang menggambarkan semangat persatuan dan gotong royong seluruh elemen masyarakat dalam memajukan pendidikan.

Berbagai inovasi dan praktik baik di bidang pendidikan dipamerkan, mulai dari kolaborasi sekolah, komunitas, hingga peran masyarakat dalam mendukung pendidikan inklusif dan berkelanjutan.

“Keberhasilan Kapanewon Turi meraih Juara III dalam pameran pendidikan menjadi bukti bahwa kolaborasi dan inovasi di tingkat wilayah mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendidikan di Kabupaten Sleman khususnya di Kapanewon Turi,” tutur salah satu tenaga pendidik TK ABA Sidoharjo Turi, Siti Nurjanah, Kamis (2/7/2026).

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan di Turi untuk terus menghadirkan program-program pendidikan yang berpihak pada anak, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.

Prestasi Kapanewon Turi di ajang ini menjadi bukti bahwa semangat “Nyawiji Sembada Mandhegani” bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata dalam membangun ekosistem pendidikan yang maju, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




‎ FKPM Donoharjo Raih Juara II Lomba FKPM Tingkat Polresta Sleman

Sleman – Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Donoharjo kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara II dalam Lomba FKPM Tingkat Polresta Sleman yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, Rabu (1/7/2026).

‎ Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi FKPM Donoharjo karena merupakan pencapaian kedua di ajang lomba yang diselenggarakan kepolisian. Sebelumnya, FKPM Donoharjo juga berhasil meraih Juara II Lomba FKPM Tingkat Polda DIY pada tahun 2023.

‎Wakapolresta Sleman, AKBP Sudarmawan usai penyerahan hadiah menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, khususnya para anggota FKPM yang selama ini aktif melakukan kegiatan preventif guna mencegah terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

‎Menurutnya, situasi yang kondusif di Kabupaten Sleman saat ini tidak terlepas dari peran serta masyarakat dan FKPM dalam menjaga keamanan lingkungan.

‎Ia menegaskan bahwa gangguan kamtibmas tidak akan terjadi apabila masyarakat memiliki kepatuhan terhadap hukum, baik hukum tertulis maupun norma yang hidup di masyarakat, serta memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitarnya.

“Kami berharap tidak hanya FKPM, tetapi seluruh masyarakat dapat menjadi polisi bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi tetangganya, dan bagi lingkungan yang lebih luas. Jika prinsip itu dimiliki bersama, saya yakin Sleman akan semakin aman,” ujarnya.

‎AKBP Sudarman juga menekankan pentingnya peran FKPM dalam melakukan problem solving atau penyelesaian masalah di tingkat masyarakat. Menurutnya, FKPM bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, aparat Polri dan TNI perlu duduk bersama untuk mencari akar permasalahan sehingga dapat diselesaikan sejak dini.

‎”Apabila suatu persoalan berada di luar kewenangan FKPM maupun aparat setempat, forum tersebut dapat memberikan rekomendasi kepada instansi atau dinas terkait yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya,” tandas AKBP Sudarman.

‎Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendekatan pencegahan harus dilakukan sebelum permasalahan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

‎”Gejala-gejala kenakalan remaja, potensi tawuran, maupun persoalan sosial lainnya perlu segera dibahas bersama untuk menemukan solusi yang tepat,” pungkasnya.

‎”Kalau semua unsur masyarakat, mulai dari FKPM, RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga aparat terlibat aktif, maka situasi yang aman dan nyaman akan terus terjaga. Dampaknya, perekonomian meningkat dan kesejahteraan masyarakat juga akan semakin baik,” sambung AKBP Sudarman.

‎Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini. Ia berharap sinergi antara masyarakat dan kepolisian terus diperkuat sehingga pelayanan kepolisian kepada masyarakat dapat semakin profesional dan optimal.

‎Sementara itu menurut Bendahara FKPM Donoharjo, Suratmi perolehan Juara II tersebut merupakan simbol angka di tingkat Polresta.

“Menurut saya, juara II itu sebagai simbol angka urutan di tingkat Polresta Sleman.  Namun yang lebih penting FKPM bisa menjadi juara di hati masyarakat Donoharjo, khususnya dikala dibutuhkan masyarakat kami bisa hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman. FKPM tidak kemana mana tapi FKPM ada di mana-mana,” tutur Suratmi. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)