Perkuat Mitigasi, Penyandang Disabilitas Sleman Dibekali Pengetahuan Siaga Bencana Mandiri

Sleman – Penyandang disabilitas dituntut memiliki tingkat kesiapsiagaan yang tinggi serta memahami tata cara penyelamatan diri yang adaptif saat menghadapi situasi darurat. Guna mewujudkan hal tersebut, Kelompok Difabel Donoharjo Kalurahan Istimewa Donoharjo (KDK KALISDO) menggelar kelas edukasi kebencanaan khusus dalam pertemuan rutin yang berlangsung di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu (4/7/2026).

Edukasi inklusif ini dihadirkan untuk menyuntikkan pemahaman taktis mengenai manajemen risiko bencana berbasis komunitas. Pengurus Kelompok Difabel Donoharjo, Kuni Fathonah, yang bertindak sebagai pemateri utama, menegaskan bahwa keselamatan kelompok rentan tidak melulu ditentukan oleh faktor kecepatan mobilitas fisik, melainkan dari ketepatan pengetahuan dan kesiapan mental saat mengeksekusi langkah penyelamatan.

Materi mitigasi yang diberikan mencakup simulasi penanganan multidarurat, mulai dari ancaman erupsi gunung api, kebakaran permukiman, banjir bandang, angin puting beliung, hingga bencana gempa bumi. Kuni mengingatkan agar para difabel tidak panik dan segera mencari titik lindung paling logis yang berada di sekitar jangkauan mereka.

“Jika terjadi gempa bumi, seperti saya yang tidak bisa berlari, maka harus melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh atau di bawah tempat tidur. Jangan berlari, jangan saling mendorong, jangan berteriak, dan jangan kembali memasuki bangunan yang masih berpotensi membahayakan,” ujar Kuni Fathonah saat memperagakan teknik perlindungan mandiri di hadapan peserta.

Kuni menguraikan, refleksi dari peristiwa historis gempa tektonik Yogyakarta tahun 2006 silam membuktikan bahwa mayoritas korban jiwa dan luka timbul akibat tertimpa material bangunan saat berdesakan lari keluar rumah. Atas dasar itu, bagi penyandang disabilitas daksa maupun paraplegia, berdiam diri di titik aman dalam ruangan (drop, cover, and hold on) jauh lebih direkomendasikan.

Untuk jenis bencana lain seperti kebakaran dalam ruangan, peserta diajarkan teknik merangkak guna menghindari kepulan gas monoksida yang mengumpul di langit-langit atap. Sementara dalam mengantisipasi angin puting beliung, warga berkebutuhan khusus yang berada di luar ruangan diinstruksikan segera tiarap guna meminimalisir hantaman material yang beterbangan.

Selain membekali diri dengan aspek teknis, para penyandang disabilitas juga didorong untuk mulai menyusun skenario rencana darurat bersama keluarga terdekat di rumah. Langkah mandiri ini meliputi pembuatan Tas Siaga Bencana (TSB) yang berisi obat-obatan khusus, salinan dokumen kependudukan, serta penunjukan satu orang tetangga terdekat yang bertindak sebagai pendamping evakuasi utama jika alarm dini berbunyi.

Melalui program berkelanjutan ini, KDK KALISDO berharap paradigma disabilitas sebagai objek pasrah saat bencana dapat terkikis. Dengan pembekalan literasi yang matang, kelompok difabel di Sleman diharapkan mampu bertransformasi menjadi subjek mandiri yang berdaya, tangguh, dan siap menyelamatkan diri secara berstruktur di tengah ancaman anomali alam. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Cetak Generasi Qurani, 300 Santri Bersaing dalam FASI XIII Kapanewon Gamping

Sleman – Ratusan santri dari berbagai wilayah di Kapanewon Gamping saling unjuk kebolehan dalam menguji kelancaran membaca Al-Qur’an dan kreativitas seni Islami. Badan Koordinasi (Badko) Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Rayon Kapanewon Gamping menggelar Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII di Gedung SMP Negeri 4 Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (5/7/2026).

Selain menjadi wadah pembinaan mental bagi santri, agenda akbar ini sekaligus berfungsi sebagai ajang seleksi ketat untuk menentukan duta santri terbaik. Para pemenang nantinya akan diproyeksikan masuk ke dalam kontingen resmi yang mewakili Kapanewon Gamping pada ajang FASI tingkat Kabupaten Sleman.

Tercatat sebanyak 300 peserta yang berasal dari 28 unit TPA se-Kapanewon Gamping ambil bagian dalam kompetisi ini. Mereka bersaing dalam 22 cabang perlombaan yang disesuaikan dengan jenjang usia santri, mulai dari tilawah Al-Qur’an, tartil, tahfidz, adzan, praktik salat, mewarnai Islami, hingga seni kaligrafi.

Ketua Badko TKA-TPA Rayon Kapanewon Gamping, Sargino, menegaskan bahwa FASI bukan sekadar panggung untuk berburu piala. Agenda berjenjang ini merupakan bagian dari cetak biru pembinaan generasi Qurani secara berkelanjutan guna mengukur efektivitas kurikulum pembelajaran mengaji di tingkat akar rumput.

“Festival Anak Sholeh Indonesia merupakan wadah untuk menumbuhkan semangat belajar, melatih keberanian tampil di depan umum, sekaligus membangun karakter anak-anak agar mencintai Al-Qur’an dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Prestasi memang penting, tetapi yang lebih utama adalah proses pembinaan yang berkesinambungan,” ujar Sargino di sela-sela peninjauan lomba.

Guna menjaga kualitas kompetisi, Sargino menambahkan bahwa proses penjurian dilakukan secara profesional oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Langkah objektif ini penting agar delegasi yang terpilih ke tingkat kabupaten benar-benar memiliki kapasitas mental dan teknis yang mumpuni.

Pandangan senada diutarakan oleh Ketua Panitia FASI XIII Kapanewon Gamping, Luqman Johannudin. Dirinya berharap keterlibatan ratusan santri ini mampu mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi ruang evaluasi bagi para guru mengaji dalam mengembangkan metode pembelajaran yang adaptif.

“Lewat kegiatan ini, semoga terjalin silaturahmi dan sinergi antarlembaga pendidikan Al-Qur’an di wilayah Kapanewon Gamping. Para ustaz, ustazah, orang tua, serta pengurus TKA dan TPA dapat saling berbagi pengalaman dalam membina santri sehingga tercipta semangat bersama untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran Al-Qur’an yang inovatif dan menyenangkan,” kata Luqman Johannudin menerangkan.

Apresiasi tinggi juga datang dari jajaran birokrasi setempat. Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Gamping, Ummul Chusnah, memuji konsistensi para pendidik keagamaan yang terus konsisten membangun sumber daya manusia unggul sejak usia dini melalui jalur syiar Islam. Ia berpesan agar nilai-nilai kejujuran dan sportivitas selama perlombaan tetap dijaga sebagai fondasi utama pembentukan akhlak santri (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping).




Jaga Kualitas Industri Hulu-Hilir, P4S Kopi Merapi Cangkringan Konsisten Terapkan Standar Pascapanen Ketat

Sleman – Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kopi Merapi terus konsisten mengawal kualitas mutu kopi lokal dari kawasan lereng Gunung Merapi. Pengawalan mutu yang ketat ini diterapkan mulai dari pemilihan bahan baku pascapanen di tingkat kebun hingga siap saji ke cangkir konsumen di Dusun Petung, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (5/7/2026).

Langkah standarisasi hilirisasi komoditas perkebunan ini diambil guna mengamankan nilai tawar kopi lokal di pasar nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani mitra. Salah satu pengelola P4S Kopi Merapi, Paryadi, menjelaskan bahwa kunci utama dari kualitas rasa kopi yang mantap terletak pada disiplin pemetikan buah kopi yang wajib berwarna merah penuh atau cherry.

“Kalau di tingkat petani, harga kopi cherry merah saat ini berkisar 15 ribu rupiah sampai 16 ribu rupiah per kilogram. Setelah dipanen, buah tersebut langsung kami kupas menggunakan mesin pulper dengan bantuan aliran air agar proses pemisahan kulit luarnya berlangsung lebih mudah dan bersih,” ujar Paryadi saat ditemui di rumah produksi setempat.

Paryadi menguraikan bahwa limbah kulit kopi hasil pengupasan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali sebagai pupuk organik guna menyuburkan kebun kopi milik warga. Setelah dikupas, biji kopi masuk ke tahap penjemuran alami selama satu pekan penuh di bawah terik matahari hingga mengeras sempurna sebagai indikator kadar air telah menurun drastis.

Proses krusial selanjutnya bergeser pada tahapan penyangraian (roasting). P4S Kopi Merapi mengandalkan mesin sangrai modern berkapasitas tiga kilogram dengan setelan suhu khusus berkisar antara 195 hingga 200 derajat Celsius untuk varietas robusta. Proses pemanggangan ini memakan waktu sekitar 15 hingga 20 menit per satu kali putaran sangrai.

“Setelah disangrai, biji kopi tidak langsung digiling menjadi bubuk. Kopi perlu diistirahatkan atau masuk fase resting selama sekitar dua hari agar kandungan gas karbon dioksida yang masih tersimpan di dalam biji kopi berkurang. Kalau terlalu cepat digiling, rasa kopinya belum maksimal dan bagi sebagian orang bisa membuat perut tidak nyaman,” kata Paryadi memaparkan detail teknis pengolahan.

Selesai melewati masa penuaan gas tersebut, biji kopi baru digiling dan dikemas secara higienis untuk menyuplai kebutuhan harian Warung Kopi Merapi maupun pesanan luar daerah. Untuk produk kemasan ukuran 500 gram, varietas arabika dibanderol seharga 180 ribu rupiah, sedangkan varietas robusta dijual dengan harga 100 ribu rupiah.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, P4S Kopi Merapi memperluas jangkauan serapan pasar dengan membeli hasil panen dari para petani di lingkar Cangkringan, Boyolali, hingga Kapanewon Tempel. Geliat budidaya tanaman kopi di lereng Merapi ini justru tercatat tumbuh masif secara signifikan pasca-erupsi besar Merapi tahun 2010 silam. Masyarakat setempat mulai memandang tanaman kopi sebagai komoditas sabuk hijau yang bernilai ekonomi tinggi serta tangguh menghadapi dinamika cuaca pegunungan (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri).




Wadah Karakter Religius, 230 Santri Bersaing dalam FASI XIII Kapanewon Sleman

Sleman – Ratusan santri dari berbagai wilayah di Kapanewon Sleman saling unjuk kemampuan dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan seni Islami. Badan Koordinasi Taman Kanak-kanak Al Qur’an – Taman Pendidikan Al Qur’an (Badko TKA-TPA) Kapanewon Sleman resmi menyelenggarakan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tahun 2026 yang dipusatkan di kompleks SMP Muhammadiyah 1 Sleman dan SD Muhammadiyah Domban 4 Sleman, Kabupaten Sleman, Minggu (5/7/2026).

Mengusung tema “Anak hebat, hebat prestasi, hebat mengaji dan berakhlaqul karimah”, agenda tahunan ini diikuti oleh 230 peserta yang merupakan representasi dari 20 unit TKA/TPA se-Kapanewon Sleman. Para peserta bersaing ketat untuk memperebutkan total 96 trofi juara dari 16 cabang perlombaan yang disediakan oleh panitia penyeleksi.

Ketua Panitia FASI XIII Kapanewon Sleman, Muryadi, menjelaskan bahwa festival ini didesain sebagai benteng moral untuk membentuk karakter generasi muslim yang mulia sejak dini. Melalui penyaluran energi positif ke dalam aktivitas keagamaan, anak-anak diharapkan terhindar dari dampak negatif pergaulan digital yang kurang mengedukasi.

“Tujuan utamanya adalah menanamkan nilai religius dengan akhlak dan ibadah berdasarkan Al-Qur’an, serta mengembangkan bakat dan minat dalam berbagai bidang keagamaan. Meskipun jumlah peserta tahun ini mengalami penurunan tipis dibanding tahun lalu, fenomena serupa ternyata juga terjadi di kapanewon-kapanewon lainnya,” ujar Muryadi saat memaparkan laporan operasional kegiatan.

Ketua Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman, Mujiyono, menyampaikan apresiasi mendalam atas kegigihan panitia lokal yang sukses mengonsolidasikan ratusan santri beserta ustadz pendamping. Dirinya mengingatkan bahwa esensi utama dari FASI adalah menjaga keceriaan anak-anak dalam membumikan syiar Islam.

“Para santri yang berhasil keluar sebagai Juara 1 dalam ajang ini nantinya akan menjadi duta resmi Kapanewon Sleman untuk maju ke tingkat Kabupaten pada bulan Oktober mendatang. Berjenjang setelah itu, pemenang di tingkat kabupaten akan melaju ke tingkat provinsi pada November, dan puncaknya akan mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat Nasional pada tahun 2027,” kata Mujiyono memetakan tahapan kompetisi.

Apresiasi senada dilayangkan oleh Panewu Sleman, Rahmiyanto. Menurutnya, Pemerintah Kapanewon Sleman mendukung penuh penguatan literasi keagamaan ini karena terbukti efektif melatih mental, meningkatkan kepercayaan diri, serta memicu keberanian anak-anak untuk tampil berbicara di hadapan publik. Agenda ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi yang merekatkan sinergi antara jajaran pemerintah, ormas keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU, para ulama, serta elemen masyarakat luas.

Mengenai teknis kompetisi, Ketua Badko TKA-TPA Kapanewon Sleman, Mahmudi Kusuma, menjabarkan bahwa FASI XIII dibagi ke dalam tiga klaster bidang lomba, yakni Bidang Al-Qur’an dan Hafalan (Tartil, Tilawah, Tahfiz), Bidang Agama dan Akademik (Cerdas Cermat Al-Qur’an, Ceramah Agama, Peragaan Salat, Adzan), serta Bidang Seni dan Kreativitas (Mewarnai, Menggambar, Kaligrafi, Ikrar/Puitisasi Al-Qur’an, Nasyid Islami).

“Seluruh cabang perlombaan tersebut dibagi lagi ke dalam tiga tingkatan usia, yaitu kategori TKA untuk rentang usia 4 hingga 6 tahun, kategori TPA untuk usia 7 hingga 12 tahun, dan kategori TQA untuk remaja usia 12 hingga 15 tahun yang dipisah antara kelompok putra dan putri,” tutur Mahmudi Kusuma.

Rangkaian perlombaan yang berjalan simultan di beberapa ruang kelas tersebut berlangsung meriah dengan pengawalan ketat dari dewan juri independen. Festival keagamaan ini diakhiri secara tertib dengan pembacaan surat keputusan pemenang dan penyerahan piala, di mana sebaran gelar juara tahun ini tercatat merata di setiap unit TKA/TPA di Kapanewon Sleman. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




Wujudkan Generasi Shalih, 62 Anak Ikuti Khitan Ceria Milad ke-114 Muhammadiyah di Berbah Sleman

Sleman – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah menggelar aksi sosial bertajuk Khitan Ceria dalam rangka menyongsong Milad ke-114 Muhammadiyah. Agenda massal ini bertepatan dengan 20 Muharram 1448 Hijriah dan dilaksanakan di SD Muhammadiyah Bulu, Kampung Caren, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Minggu (5/7/2026).

Kegiatan kemanusiaan yang mengusung tema “Mewujudkan Generasi Shalih, Sehat, dan Berakhlak Mulia” ini dihadiri oleh Lurah Jogotirto Mitha Mayasari, Ketua PCA Berbah Isrodah, Ketua Lazismu Berbah Ardi Sehami, serta staf KUA Berbah Muhammad Darum. Guna menjamin standar operasional medis, PCM Berbah bekerja sama dengan tim kesehatan dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping sebagai tenaga medis pelaksana khitan dan perawatan pasca-tindakan.

Ketua Panitia Pelaksana, Siswanto, mengonfirmasi bahwa khitanan massal ini merupakan agenda tahunan yang digerakkan oleh PCM Berbah dengan sokongan pendanaan dari Lazismu Berbah dan berbagai badan otonom Muhammadiyah lainnya. Layanan ini diberikan secara gratis tanpa membatasi latar belakang ekonomi peserta.

“Peserta khitan kali ini ada 66 pendaftar, namun yang bisa hadir dan dikhitan ada 62 anak. Jangkauan pelayanan Khitan Ceria bukan hanya untuk warga Berbah, bahkan sampai Kabupaten Gunungkidul dan Bantul. Selain mendapatkan pelayanan khitan secara gratis, mereka juga mendapatkan bingkisan berupa peci, sarung, sertifikat, dan uang santunan,” ujar Siswanto saat memberikan laporan teknis di lapangan.

Ketua PCM Berbah, Achmad Muhajir Hanafi, menyampaikan apresiasi atas kedermawanan para donatur yang menyalurkan bantuannya lewat Lazismu. Dirinya menguraikan bahwa khitan massal ini didesain sebagai ruang silaturahmi inklusif sekaligus pemenuhan syariat agama dan standar kesehatan medis bagi anak-anak laki-laki di kawasan Sleman timur dan sekitarnya.

“Semoga amal baik tersebut mendapatkan balasan pahala dari Allah. Kegiatan ini disamping membantu keluarga yang membutuhkan, juga bisa sebagai ajang silaturahmi. Diharapkan dengan berkhitan bisa lebih terjaga dari najis sehingga shalat kita lebih terjaga,” kata Achmad Muhajir Hanafi menjabarkan esensi spiritual kegiatan tersebut.

Secara historis, program khitanan massal berkala ini memiliki rekam jejak yang panjang di wilayah Berbah. Staf KUA Berbah, Muhammad Darum, yang juga mantan Ketua Lazismu Berbah, mengonfirmasi bahwa gerakan ini pertama kali diinisiasi olehnya pada tahun 2021 bertempat di SMP Muhammadiyah 1 Berbah. Keberlanjutan program yang telah berjalan selama lima tahun ini dibenarkan pula oleh Kepala Kantor Lazismu Berbah, Saifu Rijal, sebagai bukti nyata konsistensi dakwah sosial Muhammadiyah di tingkat akar rumput. (Kusnadi/KIM Berbah)